
..."Apapun yang telah kamu alami, kamu harus tetap kuat. Pergilah sejauh yang kamu inginkan, tapi jangan lupa untuk kembali,"...
...Fisha...
Mobil mewah Ley berjalan di jalanan setapak. Pemandangan kiri kanan hanya ada pohon-pohon hijau yang nampak sangat terawat, bahkan ada beberapa air pancuran.
Semakin jauh mobil Ley menyusuri setapak itu, semakin terlihat ada sebuah bangunan yang teramat megah menanti Ley dan Fisha. Bangunan itu layaknya istana, besar, tinggi, bercat putih namun agaknya tampak menyeramkan untuk Fisha.
"Kita di mana?" Akhirnya Fisha menyuarakan kebingungannya.
"Sebentar lagi kamu akan tau," jawab Ley misterius.
Gerbang hitam menjulang tinggi terbuka otomatis seakan-akan memang menunggu untuk menyambut kehadiran mereka. Masuk lebih dalam, Fisha melihat beberapa laki-laki berbadan besar pakaian serba hitam yang menunduk hormat saat mobil mereka melintas. Bangunan yang sedari tadi mencuri perhatiannya pun sudah nampak jelas, menambah kekaguman seorang Fisha.
"Ayo turun! Atau aku harus membukakanmu pintu?" Tawar Ley.
"Aku turun sendiri," tolak Fisha halus dan keluar lebih dulu, sedangkan Ley terkekeh melihat tingkah Fisha yang masih canggung terhadapnya.
"Tuan Ley, syukurlah Tuan datang hari ini," seorang wanita paruh baya menghampiri Ley tergesa-gesa.
"Hm? Kenapa? Apa ada masalah?"
"Tuan Tiam dari kemarin malam di rumah pohon. Dia tidak mau makan dan minum, beranjak sedikit pun tidak. Wajahnya tampak kacau dan pucat. Saya khawatir Tuan Tiam akan sakit," jelas wanita itu dengan sirat khawatir.
Terdengar helaan napas berat dari Ley, "Siapkan makanan untuknya dan bawakan ke rumah pohon,"
"Makanannya sudah saya siapkan dari tadi. Tuan mau makan juga?"
"Tidak, kau mau makan, Fisha?"
"Gak perlu, aku udah sarapan,"
"Minum?"
"Air putih aja,"
"Bawakan air putih dan dua cola,"
"Baik, Tuan,"
"Aku ke rumah pohon duluan,"
"Baik, tapi Tuan--"
"Ada masalah lagi? Kau bisa katakan padaku,"
"Tadi malam Tuan Tiam mengambil bir dan beberapa minuman dari ruang bawah. Saya tidak ta--"
Tanpa menunggu wanita paruh baya itu selesai bicara, Ley langsung berlari pergi entah ke mana. Bahkan pria itu meninggalkan Fisha yang sangat canggung.
"Hallo, Nona! Saya Kim, pengurus mansion ini,"
"Saya Fisha, teman Ley,"
"Ohh, teman Tuan Ley, saya pikir kekasihnya," ungkap Kim yang membuat Fisha semakin canggung.
"Saya akan mengambil pesanan Tuan Ley tadi dan akan mengantarkan Nona untuk menyusul. Tidak keberatan kan kalau saya ambil makanannya dulu?"
"Ah, iya, gak masalah," gagu Fisha.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Ley terus berlari menuju halaman belakang mansion megah itu. Keringat mengucur di dahinya, untung keringat itu semakin menambah kadar ketampanannya.
"Si*l, kenapa Ayah harus punya mansion sebesar ini?!" Umpat Ley geram.
Berhasil keluar dari mansion dan berikutnya Ley disambut dengan tanah luas berumput hijau dengan satu pohon besar di tengah luasnya tanah itu. Terdapat rumah pohon di pohon tersebut.
"Aku harus meminta Ayah memikirkan cara bagaimana aku tidak kelelahan lagi mengelilingi mansion ini! Tiam sia*an!" Ley terus mengumpat kasar meski dirinya berlari kencang.
Setelah penuh perjuangan, akhirnya Ley sampai di pohon besar itu. Kakinya langsung bergerak menaiki tangga gantung yang sudah tersedia.
"TIAM!!" Murka Ley saat melihat sebotol bir di tangan Tiam. Tanpa pikir panjang Ley langsung merebut botol itu dan membuangnya ke bawah, terdengar pecahan botol tersebut.
"Apa kau gila, hah?! Di mana akal sehatmu?! Kau mau mati, huh?!" Geram Ley.
Tiam mendongak dan mengerutkan dahi tidak suka, "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan di sini sepanjang malam dengan bir dan alkohol ini, huh?!"
"Tidak ada. Aku hanya ingin di sini. Bir dan alkohol ini hanya menjadi teman. Aku tidak meminumnya meskipun aku sangat ingin," jawab Liam dingin.
Ley langsung mengendus bau tubuh Liam, memastikan bahwa ucapan pria itu benar bahwa ia tidak meminum-minuman haram tersebut.
"Syukurlah," lega Ley kemudian mengambil posisi duduk di samping Tiam.
"Apa yang kau sedihkan? Kau pasti tau di mana Asz sekarang," ucap Ley memulai percakapan.
"Tau pun tidak akan ada gunanya,"
"Memangnya sekarang dia di mana?"
"Kau tidak perlu tau,"
"Kenapa kau ke sini? Bukannya semalam kau sudah kemari? Tidak biasa kau datang berturut-turut,"
"Hm, aku membawa Fi-- eh, aku melupakan Fisha," Ley baru teringat bahwa ia datang tidak sendiri.
Saat hendak kembali menemui Fisha, Ley sudah melihat Fisha bersama Kim dari jauh menuju ke rumah pohon. Niatnya untuk menyusul Fisha pun ia urungkan dan kembali duduk di samping Tiam.
"Kenapa kau membawanya?"
"Aku melihatnya seperti gelandangan tadi di pinggir jalan. Jadi aku membawanya ke sini. Tampaknya, dia sedang menyembunyikan rasa sedihnya atas kepergian Asz,"
"Tuan, ini makanan anda," Kim berseru dari bawah.
Ley menurunkan sebuah tampah gantung agar Kim bisa meletakkan makanan itu di tampah dan dia menarik ke atas tampah itu.
"Terima kasih, Nyonya Kim,"
"Sama-sama Tuan. Bagaimana dengan Nona ini?"
"Fisha, naiklah! Aku jamin semuanya baik-baik saja,"
Fisha tampak berpikir namun tetap menuruti perkataan Ley setelah melihat anggukan Kim yang meyakinkannya.
"Ini?" Fisha terdiam saat melihat isi rumah pohon itu. Tampak sangat luas, terdapat satu kasur, nakas kecil dan beberapa foto di rumah pohon itu. Juga jangan lupakan botol bir dan alkohol milik Liam.
"Ini rumah pohon Asz. Minuman itu kau hiraukan saja! Kami tidak meminumnya karena Asz melarang. Itu hanya pajangan sesaat milik Tiam saja," jelas Ley.
"Ouuhh," hanya itu lah respon Fisha dan memberanikan duduk di hadapan kedua pria itu.
__ADS_1
"Makanlah! Aku tidak mau kau mati, itu akan merepotkanku," ujar Ley memberikan makanan Liam.
"Aku tidak akan mati hanya karena tidak makan,"
"Tapi kau akan sakit. Jika kau sakit, kau punya peluang lebih besar untuk mati! Makanlah sebelum aku yang menyuapimu,"
Tiam menghela napasnya dan mau tidak mau mulai melahap makanan tersebut.
"Ini mansion Om Xander dan Tante Mayang?" Tanya Fisha.
"Lebih tepatnya mansion Ayah. Ibu tidak tau keberadaan mansion ini. Mansion ini khusus untuk kami. Tidak sembarangan orang bisa datang. Jadi seharusnya kau merasa beruntung,"
"Tidak takut aku bilang ke Ibu Mayang?"
"Aku membawamu karena aku percaya, aku harap kau mengerti maksudku,"
"Gue Farel juga sering ke sini?" Tanya Fisha dengan pandangan yang mulai menjamahi sekeliling.
"Dia selalu ke sini saat suasana hatinya sedang sangat bahagia dan sangat kacau. Terakhir dia ke sini saat Ayah dan Ibu menikah. Dia bilang, dia sangat bahagia melihat Ayah yang sudah menikah, terlebih lagi menikahnya dengan Ibu yang statusnya dulu adalah pengasuhnya," jelas Ley dengan terbuka tanpa menutup-nutupi dari Fisha.
"Ohh, begitu,"
"Sebenarnya kalian siapa? Apa hubungan kalian sama Gus Farel?" Tanya Fisha ragu-ragu.
"Sebenarnya, hubungan kami sedikit rumit untuk dijelaskan. Singkatnya, suatu hari Asz pernah datang ke tempat ini melalui halaman belakang yang tempatnya agak rahasia. Entah bagaimana dia bisa menemukan tempat ini, Ayah pun kaget saat itu. Terlebih melihat Asz yang katanya sedang mengukir di pohon ini. Sejak itulah hubungan antara Ayah dan Asz terjalin. Bahkan Ayah memberikan nama sendiri yang sah secara negara untuk Asz,"
"Namanya Asz?"
"Tepatnya Laszlo Atmaja,"
Fisha mengangguk paham, "Kalau kamu dan Tiam?"
"Aku anak yatim piatu yang beruntung karena dipertemukan mereka. Sebenarnya, aku kelahiran Korea, tepatnya Seoul. Saat itu sedang musim salju dan orang tuaku meninggal dalam keadaan mengenaskan karena dibunuh. Aku terlahir dari keluarga miskin yang banyak hutang. Namun, tepat saat hari itu, aku dipertemukan oleh Ayah dan Asz. Mereka layaknya orang tua untukku. Membesarkanku, mendidikku dan menyayangiku. Ayah pun tak pernah membedakan antara aku dan Asz,"
"Maaf, aku gak bermaksud buat kamu semakin sedih," ujar Fisha tak enak hati.
"Bukan masalah besar, aku juga sudah baik-baik saja,"
Fisha mengangguk dan tersenyum, kemudian matanya tertuju pada Tiam yang hanya asyik dengan kegiatan makannya.
"Apa? Kau juga mau tau siapa aku?" Tanya Tiam akhirnya bersuara, sedangkan Fisha hanya diam yang artinya dia sangat ingin tahu.
"Singkat saja, Asz yang menyelamatkan aku dari pembunuhan berantai juga dari ibu tiriku," jelas Liam singkat.
"Pembunuhan berantai?" Kaget Fisha.
"Hm. Terlahir dari keluarga gila memang menyebalkan,"
"Maksudnya?"
"Keluargaku hanya boleh melahirkan satu keturunan laki-laki, sedangkan aku keturunan ke-empat. Keturunan pertama hidup bahagia, yang ke-dua dan ke-tiga sudah meninggal. Hanya tersisa aku yang saat itu berusaha lari dari peraturan bodoh mereka,"
"Kalian adalah orang hebat," hanya itu yang mampu Fisha ucapkan.
"Hidup Farel lebih sulit dibanding kami,"
"Maksudnya?"
Tbc...
__ADS_1
^^^#as.zey^^^