Mysterious Gus

Mysterious Gus
#65. Awal Masalah


__ADS_3

..."Kukira masalahnya sudah dimulai sejak awal, ternyata yang awal bukanlah apa-apa,"...


...♡My Gus is Bad Boy♡...


Fisha baru tiba di rumah. Seharusnya ia menginap di rumah sakit untuk menemani Nika yang sedang kelelahan dan butuh istirahat, tapi sang Mama menelponnya untuk meminta ia pulang. Fisha pun akhirnya memutuskan pulang bersama Tiam, Ley, Nia dan Zira.


"Mobil siapa, tuh?" Tanya Nia saat menemukan satu mobil yang tak dikenalinya.


"Gak tau, ada tamu kayaknya,"


"Assalamu'alaikum," ucap mereka masuk ke rumah, membuat semua yang sedang berkumpul di ruang tamu langsung menoleh.


"Wa'alaikumussalam,"


"Waaahh!! Ada Nia dan Zira juga," Layla menyambut hangat kedua adik Farel itu.


"Tante apa kabar? Kangen deh,"


"Alhamdulillah Tante baik. Tante juga kangen banget sama kalian. Nginep, ya?" Layla membawa mereka duduk.


"Tanpa Tante suruh, kita pasti bakal nginep," kekeh Nia.


"Kak Gibran?" Heran Fisha saat melihat sosok Gibran. Tak hanya itu, ada sepasang manusia paruh baya yang Fisha yakini adalah orang tua Gibran.


Gibran tersenyum sambil mengangguk, "Iya,"


Fisha menatap Amar dengan tatapan bertanya tentang kehadiran mereka, tapi Amar hanya mengangkat bahunya.


"Jadi ini yang namanya Fisha?" Ibu Gibran bertanya yang dijawab anggukan oleh Fisha.


"Cantik,"


"Terima kasih, Tante," Fisha agak risih, tapi berusaha sesopan mungkin.


"Kenalin, Om ayahnya Gibran, Wahyu. Perempuan ini Jesi, ibunya Gibran," pria paruh baya bernama Wahyu memulai pembicaraan.


"Kedatangan kami memang terlalu mendadak. Tapi maksud baik hendaknya segera dilaksanakan. Untuk maksud baik itu sendiri, Gibran yang akan menyampaikannya,"


Amar dan yang lain langsung mengerti dengan masuk keluarga Gibran. Apa lagi kalau bukan perihal melamar?


"Saya berniat untuk mengenal Fisha lebih jauh. Fisha menarik perhatian saya saat kami bertemu pertama kali," ujar Gibran memberanikan diri.


Sungguh, Fisha ingin mengamuk rasanya sekarang. Tangannya sudah berkedut ingin menonjok Gibran. Baru kenal tapi sudah seberani itu.


Padahal, Gibran tidak salah. Justru yang dilakukan Gibran adalah benar, karena tidak mau terjadi hal yang buruk.


Tapi kembali lagi pada Fisha, hatinya sudah dipenuhi oleh Farel hingga ia tak menyukai pria lain yang mendekatinya dan melibatkan sebuah perasaan.


"Saya berterima kasih atas maksud baik Nak Gibran beserta keluarga. Tapi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya tidak bisa menerima tawaran Nak Gibran. Putri saya sudah saya jodohkan," ungkap Amar membuat Fisha tenang. Untung saja papa-nya mengerti.


"Maaf, apa dengan pria yang bernama Farel? Atau yang bernama Asz?" Gibran memberanikan diri.


"Itu bukan urusan anda! Farel atau Asz tidak akan merugikanmu! Seharusnya kau sudah tahu hari itu, tapi dengan bodohnya kamu mengajukan diri ke mari," Tiam buka suara dengan tenangnya. Tak peduli ia akan dicap tidak sopan oleh keluarga Fisha.


"Maaf atas kelancangan putra kami. Dan terima kasih atas sambutan Pak Amar sekeluarga,"


"Maaf juga kalau kami ada kelancangan,"


"Kalau begitu, kami permisi. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"

__ADS_1


Amar dan Layla pun mengantarkan keluarga Gibran sampai depan pintu. Membiarkan Fisha menggerutu.


"Sok banget tuh, cowok!" Kesal Fisha untuk kesekian kalinya.


"Baru kuliah berapa hari, udah ngepincut anak orang aja kamu ya, Sha," goda Amar pada putri tunggalnya.


"Apa sih, Pa?! Fisha kesel, nih,"


Amar terkekeh sambil mengusap kepala Fisha, "Jangan kesel terus, Papa gemes jadinya, pengen buang ke laut,"


Fisha semakin kesal dibuat Amar. Papa-nya memang sering kali membuatnya kesal kuadrat.


"Tiam dan Ley menginap juga, kan?" Layla mengalihkan pembicaraan.


"Boleh?" Ley tampak antusias.


"Tentu,"


"Okey, kita menginap,"


"Siapa yang bilang kalian akan menginap?" Amar menatap dua pria itu misterius.


"Jadi?"


"Kalian ikut Om ronda,"


"***--" Tiam langsung melihat panggilan masuk yang merusak pembicaraan mereka.


"Saya terima telpon dulu," Tiam langsung keluar saat melihat nama Jong yang tertera sebagai penelpon.


"Ada apa?" Tanya Tiam tanpa basa-basi.


"Tuan Asz tadi diserang bersama Nona Karaya dan Hyeon. Tuan Asz terkena luka tusukan di dekat dadanya. Sekarang sedang diperiksa,"


"Jimmie, dia pernah meminta Tuan Asz membunuh musuhnya, tapi Tuan Asz menolak karena musuh Jimmie tidak bersalah. Jadi Jimmie ingin balas dendam karena merasa ditolak dan diremehkan,"


"Karaya dan Hyeon bagaimana?"


"Mereka baik-baik saja. Tapi Nona Karaya menangis terus. Saya tidak bisa menenangkannya,"


"Aku segera menyusul. Jaga Karaya dan terus beri kabar terbaru Tuan Asz!"


"Baik, Tuan,"


Tiam memutuskan panggilannya sambil menghela napas. Rasa khawatir memenuhi pikirannya. Ini adalah pertama kalinya Farel terluka dengan mudahnya. Tiam tidak akan tinggal diam setelahnya, terlebih jika terjadi sesuatu pada Farel.


Baru kakinya hendak kembali masuk, ponselnya kembali bergetar tanda menerima panggilan.


"Ada apa, Ermira?" Seperti biasa, Tiam selalu to the point.


"Kamu di m-mana?" Ermira sesenggukan di sebrang sana.


"Kenapa menangis?" Tiam balik bertanya.


"Aku butuh kamu,"


"Aku ke Jakarta sekarang," Tiam langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu balasan Ermira.


"Kenapa?" Tanya Fisha saat melihat raut khawatir pada Tiam.


"Ermira memintaku menemuinya. Aku harus kembali ke Jakarta sekarang,"

__ADS_1


"Tidak istirahat dulu?"


"Tidak perlu. Maaf, aku tidak bisa ikut ronda,"


"Gak masalah, kekasih lebih penting," Amar membawa santai, tak mau membuat Tiam semakin tidak enak hati.


"Aku pulang dulu. Kalau Ley menyusahkan, tinggalkan saja dia! Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


"Hati-hati, hari sudah malam,"


"Iya," Tiam tanpa banyak bicara lagi langsung bergegas menemui Ermira yang ada di Jakarta.


***


Dua jam lebih adalah waktu yang Tiam butuhkan untuk sampai di Jakarta dan mendatangi apartement Ermira. Gadis itu memang tinggal sendiri di apartement karena orang tuanya yang sibuk bekerja.


Tanpa menekan bel, Tiam langsung masuk karena ia tahu pin apartement Ermira.


Tiam mencari Ermira ke seluruh penjuru apartement dan menemukan gadis itu menangis di balkon.


"Kenapa?" Tanya Liam saat sudah berdiri di belakang Ermira.


Ermira berbalik dan tanpa aba-aba langsung menubruk tubuh Tiam hingga tubuh tegap itu hampir kehilangan keseimbangannya.


Tiam dengan ragu membalas pelukan Ermira. Selalu begitu, tahu itu salah, tapi tetap melakukannya.


"Aku gak mau ke Jepang ikut Papi Mami!" Ermira memulai ceritanya.


"Kenapa gak mau ikut?"


"Aku mau sama kamu!"


Tiam melepaskan pelukan mereka, tangannya berada di pundak Ermira. Mata mereka bertatapan.


"Saya tidak selamanya bisa bersama kamu, atau bahkan saya selamanya memang tidak bisa bersama kamu,"


"Maksud kamu apa?!"


"Kita gak bisa sama-sama terus, Ermira. Kehidupan saya terlalu berbahaya untuk kamu. Saya tidak bisa selalu melindungi kamu. Prioritas saya bukan kamu,"


"Jadi siapa prioritas kamu?! Fisha?! Iya?!" Ermira mulai marah.


"Hidup Fisha lebih berarti dibanding hidup saya sendiri. Kamu tidak paham, Ermira. Tuhan hanya mempertemukan kita, tapi tidak untuk menyatukan kita. Sekarang adalah saatnya untuk mengakhiri ini semua,"


"Kamu?"


"Iya, akhiri ini semua! Kita sudah salah dari awal, Ermira! Tidak seharusnya kamu mencintai saya! Agama kita melarang kita untuk melakukan hal ini!"


"Kamu bohong! Sebenarnya dari awal kamu memang gak pernah serius sama aku!"


Tiam tersenyum, "Kehadiran saya hanya akan menyulitkanmu. Ikutlah bersama orang tuamu! Saya permisi, assalamu'alaikum,"


Dengan langkah tergesa dan tanpa peduli, Tiam langsung meninggalkan Ermira yang sudah terduduk menangis histeris.


Tiam tak berniat untuk menenangkannya. Keadaan Farel dan Karaya lebih penting untuknya.


Tiam sangat khawatir, terlebih saat mendapat pesan dalam perjalanan tadi, bahwa Farel kehilangan banyak darah. Bagi Tiam, tak ada yang lebih penting dari Farel sekarang.


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2