
..."Dan hari di mana aku dipaksa untuk melepasmu pun tiba!"...
...Fisha...
...***...
Hari H menuju pernikahan Fisha dan Aiden tidak sampai lagi dalam hitungan 24 jam. Fisha was-was sendiri dibuatnya. Bukan karena deg-degan, tapi jujur, dia tidak ingin menikah dengan Aiden. Tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Fisha hanya berharap semoga Aiden lari dari acara pernikahan mereka. Fisha sungguh sudah membayangkan hal indah itu.
Malam ini, menuju hari pernikahannya yang akan diadakan besok, Fisha tidur bersama para komplotan gadis. Yaps, sebelum melepas masa gadis, Fisha ingin menghabiskan satu malam bersama komplotannya.
"Sha, kamu yakin sama Aiden?" Pertanyaan itu sudah Hawa berikan tak terhitung lagi jumlahnya.
Fisha terkekeh dan menggenggam tangan Hawa, "InsyaAllah aku yakin, Wa. Kalian gak perlu khawatir,"
"Kita gak khawatir, lebih tepatnya kita tuh gak rela!" Sinis Zulaikha. Di antara para sahabat, memang Zulaikha lah yang paling kentara menentang pernikahan Fisha dan Aiden.
"Bener, tuh! Lo tuh udah lima tahun, Sha! Lima tahun nungguin Bang Farel pulang dengan air mata!" Gantian Nika yang berujar sinis.
"Biarin Fisha bahagia sama pilihannya. Abang gue udah terlalu banyak buat Fisha nangis. Mungkin Aiden lebih bisa jaga air mata Fisha," Nia melerai mereka. Kentara gadis itu tidak rela Fisha menikah dengan Aiden. Tapi ia sadar diri, abangnya sudah terlalu banyak menumpahkan air mata Fisha.
"Gak papa, Nia. Jangan sedih gitu," Fisha memberikan senyuman terbaiknya meski hatinya merasakan kesakitan yang amat sakit.
"Ck, gue mau tidur aja," Nika memposisikan dirinya memunggungi yang lain. Ia memang berada di paling ujung.
"Selamat malam semua!!" Ucap Fisha sambil mengeratkan pelukannya pada Zira, berharap kesedihan gadis itu bisa berkurang. Sejak kabar Fisha akan menikah dengan Aiden, Zira memang menjadi lebih pendiam.
"Malam!"
"Zira sayang Kak Fisha," lirih Zira membuat Fisha tersenyum sendu tanpa ada yang menyadarinya.
"Kak Fisha juga sayang sama Zira,"
"Ya Allah, Fisha pasrah,"
***
"Para gadis-gadis, ayo bangun! Sudah waktu subuh," Layla tanpa mau repot-repot membangunkan para gadis, ia lebih memilih langsung menyipratkan air pada mereka.
"Astaghfirullah, kaget tauk, Tan!" Kesal Nika.
"Biar gak habisin suara bangunin kalian! Pada sholat subuh, geh!"
"Iya, Ma,"
Layla tersenyum dengan kepala menggeleng melihat tingkah ketujuh gadis itu. Fisha yang sudah bangun menarik-narik tangan yang lainnya untuk bangun.
"Kenapa sih, paginya cepet banget?! Aku belum siap liat Fisha nikah," Milea menggerutu sambil memasuki kamar mandi.
"Aku berharap banget sama kalian, tolong ikut bahagia dengan pernikahan aku. Jangan mengeluh dan merutuki pernikahanku lagi. Aku sedih dengarnya,"
__ADS_1
Setelah sholat, Fisha yang tadi jadi imam berbalik menatap sahabat-sahabatnya.
"Tapi kita ragu sama pernikahan lo, Sha! Gak mungkin secepat itu lo bisa nerima sosok Aiden di hidup lo, sedangkan posisinya waktu itu kita tahu jelas, di hati lo ada Bang Farel,"
"Aku yakin sama pilihanku. Aiden itu orang baik, dia bisa kasih apa yang gak bisa aku dapat dari Gus,"
"Tapi dia juga gak bisa kasih apa yang udah kamu dapat dari Gus, Sha!" Milea ikutan kesal.
"Kalian bisa gak sih, gak usah bahas ini lagi?! Biarin Fisha sama pilihannya! Kita memang sahabat Fisha, tapi kita gak bisa maksa kehendak kita! Kita gak bisa menghalangi kebahagiaan Fisha! Kita gak berhak! Kita cuma berhak untuk mendukung semua pilihan Fisha!" Nia berujar lantang dan penuh kekesalan.
"Makasih, Nia," Fisha membawa Nia dalam pelukannya.
"Sorry, Sha! Pasti lo tertekan sama keluhan kita," dan berakhirlah mereka dengan pelukan hangat dan saling menguatkan.
"It's okay. Aku tau kalian lakuin itu karena kalian sayang sama aku. Maafin aku yang gak bisa teguh sama keinginan kalian.
"Anak-anak, ayo sarapan! Setelah itu kita siap-siap!" Layla menghentikan aksi pelukan mereka.
"Iya, Ma!"
"Siap, Tante!!"
***
Sekarang Fisha sudah cantik dengan gaun akadnya. Wajah yang dipoles natural, gaun yang mewah dan mahkota kecil di kepalanya membuat kesan cantik seorang Fisha bertambah.
"Ini bukan diriku! Ya Allah, Fisha gak mau nikah sama Aiden!" Fisha hanya membatin, menyuarakan hatinya dan memohon pada Allah.
"Sudah siap, Sha?" Layla masuk ke kamar putrinya. Hari ini Layla pun tak kalah cantiknya. Wanita itu terlihat masih sangat segar dan awet muda.
Fisha menoleh sambil tersenyum manis, "InsyaAllah, Ma,"
Layla tersenyum yang mampu menenangkan hati Fisha. Terlebih saat tangan yang sudah membesarkannya itu menangkup wajah cantiknya.
"Anak Mama cepat banget besarnya. Udah mau jadi istri orang aja," Layla menatap sendu putra tunggalnya.
"Fisha tetap anak Mama, Ma,"
"Tentu. Apa kamu yakin sama pilihan kamu? Kamu yakin sama Aiden, Sha? Kamu rela dengan penantian kamu?"
Fisha terdiam cukup lama. Ia hanya menatap dalam netra ibunya, berharap sang mama mengerti dengan arti tatapannya.
"Mama adalah mama kamu, yang membesarkan kamu dengan tangan Mama sendiri. Mama tau kamu, Sha. Kamu bukan orang yang mudah menyerah begitu saja,"
Layla memang ibu yang hebat. Ia mengerti maksud tatapan Fisha meskipun tidak mendapat penjelasan lebih langsung, ia hanya tahu bahwa putrinya tidak baik-baik saja.
"Masih ada waktu untuk semuanya, Sayang. Ini belum terlambat,"
Fisha menggeleng lirih, "Fisha gak bisa, Ma. Fisha harus menikah dengan Aiden,"
__ADS_1
"Sebenarnya, apa yang kamu sembunyikan dari Mama, Sha?"
"Gak ada, Ma. Mama tenang aja,"
"Fisha, Layla, Aiden dan rombongannya sudah datang," Raima masuk dan ikut bergabung dengan mereka.
Raima yang berstatus ibu Farel itu langsung memeluk Fisha. Menangis lirih dalam pelukan gadis yang sangat ia damba untuk menjadi menantunya.
"Umma selalu mendoakan kebahagiaan untuk kamu, Sha. Semoga kamu bahagia sama pilihan kamu," ujar Raima.
"Makasih, Umma. Maafin Fisha,"
"Kamu gak salah, Sayang. Kamu berhak memilih,"
"Sha, ijab kabul mau dimulai. Kamu sudah siap?" Amar masuk menghampiri putrinya.
Fisha menarik napas dan menghembuskannya perlahan, "InsyaAllah, Pa,"
Tangan Amar tergerak mengusap kepala putrinya, "Jujur, Papa berat melepaskanmu,"
"Fisha akan baik-baik aja, Pa. Percaya sama Fisha,"
Napas Amar terdengar amat berat dan sesak, "Ya udah, kita mulai akadnya. Kamu di sini dulu sama Mama dan Umma Raima. Nanti kalau sudah sah, Aiden akan jemput kamu," ujar Amir yang diangguki Fisha.
"Saudara Aiden, apa anda sudah siap?" Tanya penguhulu pada Aiden yang duduk di hadapan Amir.
"Siap!" Tak ada sedikitpun keraguan pada Aiden.
Tangan Amar terulur dan langsung disambut oleh Aiden. Ia sudah menghapal kalimat qabul selama seminggu ini.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Aiden Aslen bin Aslen dengan putri kandung saya yang bernama Nafisha Almair Zalsa dengan maskawinnya berupa uang 1 M dan sebuah mobil, dibayar TUNAI!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Nafisha Almair Zalsa binti Muhammad Amar dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!"
"Bagaimana saksi?" Pak penghulu mengedarkan pandangannya meminta jawaban para saksi dan semua yang hadir.
"SAH!!"
"Alhamdulillah!!"
"Gue gak ridho," lirih Dylan lesu di pojokan.
"Amar! Mas Tama! Fisha pingsan!!"
Tbc...
Yeay!! Meski berat buat Fisha, tapi dia pasti kuat. Kan ada aku🙄
^^^#as.zey^^^
__ADS_1