Mysterious Gus

Mysterious Gus
#34. Fisha Bolos


__ADS_3

..."Kamu perlu mengungkapan kesedihan itu meski harus berderai air mata dan berakhir dengan matamu yang membengkak,"...


... Fisha...


Hari yang dinanti Ae Ri telah tiba, yaitu hari keberangkatannya ke Paris bersama Farel dan pelukis idolanya, Baek Hyeon. Bahkan Ae Ri dengan semangat mengemasi barang-barangnya sendiri, tidak seperti biasanya yang dibantu pelayan saat dia hendak pergi.


Kini gadis manis itu sedang menghadap cermin memperhatikan tampilannya yang sederhana namun tampak menawan dengan rok selutut dan hoodie kebesarannya, ditambah rambut tergerai yang tertutupi topi.


"Kau tampak bahagia," Farel tiba-tiba masuk ke kamar Ae Ri dan berkomentar demikian.


"Tentu saja, aku tidak pernah berpikir kalau hal ini akan terjadi padaku," Ae Ri menjawab dengan hanya menatap Farel lewat pantulan kaca, sebab pria itu berdiri di belakangnya.


"Kau sudah berusaha, kau pantas mendapatkannya," puji Farel mengusap kepala gadis itu hingga tatanan topi dan rambutnya rusak.


"Oppa! Kau merusak rambutku!" Rengek Ae Ri yang membuat Farel terkekeh.


"Kenapa berdandan begitu cantik, hm? Kau berdandan untuk idolamu itu?"


"Tentu saja tidak. Aku kan akan pergi bersama Oppaku, jadi aku harus terlihat menawan agar tidak memalukanmu,"


"Kau tidak memalukan, bagaimana pun penampilanmu,"


"Jangan berkata seperti itu, Oppa! Aku tidak akan mengganti pakaianku,"


Farel terkekeh mendengarnya, ternyata Ae Ri mengerti kodenya bahwa dia ingin Ae Ri berganti pakaian.


"Baiklah baiklah, Oppa tidak melarangmu,"


"Tapi wajahmu seperti tidak rela?" Sinis Ae Ri berbalik menghadap Farel.


"Sebenarnya aku tidak rela, tapi aku tidak mau menyulitkanmu," ujar Farel memeluk Ae Ri.


"Aku sangat tersanjung untuk itu," Ae Ri membalas pelukan Farel.


"Berikan aku satu ciuman untuk kekuatan nanti. Membayangkan naik pesawat selalu membuatku mabuk," manja Ae Ri.


"Modusmu berlebihan, gadis nakal. Tanpa kau minta, aku akan memberikan ciuman untukmu,"


Benar saja, Farel menciumi wajah gadis manis bernama Ae Ri itu secara bertubi-tubi. Bahkan pipi gadis itu menjadi sedikit lembap.


"Oppa! Aku hanya minta satu ciuman! Riasan wajahku rusak karena ciuman bertubi-tubi darimu,"


Farel tertawa dan tangannya tergerak untuk menangkup pipi Ae Ri, "Kau akan tetap cantik tanpa riasan. Kita harus berangkat sekarang. Kau tidak mau membuat idolamu menunggu lama bukan?"


"Tentu saja aku tidak mau! Tapi aku harus memperbaiki ria--"


"Tidak perlu! Kau gadis yang sangat lama saat berdandan. Aku saja sudah hampir satu jam tadi menunggu," sela Farel dan langsung merangkul Ae Ri, membawa gadis itu keluar kamar.


"Kau terlalu berlebihan hanya karena menungguku berdandan, Oppa,"


"Tapi begitulah kenyataannya,"


"Oppa sangat menyebalkan,"


"Aku juga menyayangimu,"


"Aku tidak mengatakan kalau aku sayang Oppa,"


"Aku juga menyayangi Ae Riku,"

__ADS_1


"Terserah Oppa saja!"


***


Di waktu yang sama, namun di tempat yang berbeda, dengan jarak yang tak terhingga. Tepatnya Indonesia.


Pagi ini, suasana di kediaman Hutama terasa sangat suram, seakan tak ada kehidupan. Penghuninya banyak, namun semua asik dalam keterdiaman. Tentu saja karena itu ulah Farel yang pergi begitu saja dan tidak tahu di mana keberadaannya.


Di ruang makan sudah berkumpul Hutama beserta istri dan anak-anaknya, Xander beserta istri, RANDA dan juga santri. Mereka hanya hening menatap hidangan yang tersedia tanpa nafsu, termasuk Dylan yang biasanya sangat berisik.


Cukup lama dengan keheningan itu, akhirnya terdengar helaan napas dari Hutama. Seketika atensi beralih pada pemilik rumah.


"Sarapan lah!" Suruh Hutama.


"Bagaimana aku bisa makan sedangkan aku tidak tau di mana keberadaan Azs?" Keluh Xander.


"Kau tidak makan, itu tidak akan merubah apa pun. Farel tidak akan suka kau yang begini," komentar Mayang lalu mengambilkan sarapan untuk suaminya itu.


"Ima masih kenyang. Ima ke kamar lagi, masih ngantuk, mau tidur," ucap Raima bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang makan.


"Umma bukannya belum makan dari semalam?" Heran Dylan yang akhirnya membuka suara.


"Cuma makan roti. Kalian lanjut makan saja! Umma biar Abah bawain makanan. Nanti kalau sudah selesai, langsung berangkat sekolah,"


"Iya, Bah,"


"Aku akan ke kantor nanti. Mayang bisa menemani Raima selagi aku pergi," ucap Xander.


"Kurasa keberadaan Mayang akan membuat suasana hati Raima membaik," balas Hutama lalu melenggang pergi begitu saja.


"Kita juga masih kenyang," ucap Afnan berdiri dan diikuti oleh yang lain.


"Wa'alaikumussalam,"


"Kalian belajarlah dengan benar. Masalah ini akan segera selesai," ucap Xander yang hanya ditanggapi anggukan.


"Hari ini aku berangkat naik angkot. Kalian duluan aja," ujar Fisha saat mereka siap menaiki mobil.


"Kenapa?"


"Lagi mau aja,"


"Ya udah, kamu hati-hati. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Satu mobil dan empat motor sport mewah itu berlalu meninggalkan Fisha. Sebenarnya mereka tahu mengapa Fisha ingin memisahkan diri. Tentu saja karena ingin menikmati kesedihannya. Terkadang, rasa sedih itu perlu untuk kita rasakan. Tidak selamanya rasa sedih harus kita tutupi.


Fisha menghela napasnya dan mulai berjalan meninggalkan kediaman Pramayudha. Kakinya hanya melangkah kecil, tidak peduli bahwa dia akan terlambat, karena sebenarnya Fisha berniat bolos hari ini.


Sudah lima belas menit kakinya melangkah dan baru sampai di persimpangan komplek rumah. Keringat pun mulai membasahi pelipisnya.


"Kemana tujuanku sekarang?" Gumam Fisha lagi-lagi menghela napas dan melangkah tak tentu arah.


Fisha berjalan menepi saat sebuah mobil memojokkannya. Wajah tak suka Fisha tunjukkan. Tentu saja, dirinya sudah berjalan di pinggir namun masih saja disuruh menepi.


Kaca pintu mobil tersebut terbuka, menampakkan sosok pria tampan dibalik kemudi.


"Hey, Nona berkhimar merah muda!" Sapa pria itu dengan senyum yang menurut Fisha sangat menyebalkan.

__ADS_1


"Apa kau tidak mengingatku?" Pria itu turun dari mobilnya dan berdiri tegap di hadapan Fisha.


"Siapa? Kita pernah bertemu?"


"Jadi kau benar-benar tidak mengingatku? Ah, itu melukai harga diriku. Baru kali ini ada yang bisa melupakan wajah tampanku,"


"Sepertinya kamu salah orang,"


"Mana mungkin aku salah orang. Kau gadis berkhimar merah muda. Kita bertemu saat pernikahan Ayah dan Mama. Asz yang membawamu,"


Fisha nampak berpikir, kembali mengingat-ingat hal apa yang terjadi di pernikahan Xander dan Mayang.


"Kamu? Yang maksa aku sama Gus Farel nyanyi?" Tanya Fisha memastikan dan dijawab anggukan antusias.


"Akhirnya kau ingat. Biar kuperjelas agar kau tidak pernah melupakanku lagi. Namaku Brexley, kau bisa memanggilku Ley,"


"Aku Fisha, bukan gadis berkhimar merah muda. Lagi pula hari ini khimarku putih," balas Fisha yang membuat Ley tertawa pelan.


"Apa yang kau lakukan di pinggir jalan pagi-pagi begini? Kau tidak sekolah? Kurasa keluarga Asz tidak akan membiarkanmu terlantar begini,"


"Aku memisahkan diri dan memilih bolos hari ini,"


"Kenapa? Apa kau sedih dengan kepergian Asz yang tiba-tiba?" Wajah Ley berubah menjadi sangat serius.


"Kamu juga tau?"


"Tentu saja,"


"Apa kamu tau kemana dia pergi? Atau kamu tau semuanya?"


"Kalau aku tau dia kemana, mataku tidak akan menghitam seperti ini," Ley menjawab dengan tidak santainya.


"Oh. Terus, kamu mau ke mana? Kamu pakai seragam sekolah?"


"Aku juga sama sepertimu, bolos. Biar saja kalau Ayah dan Mama nanti marah,"


"Mau ikut denganku?" Tanya Ley.


"Kemana? Berdua?"


"Ke tempat Asz biasa pergi saat dia ingin sendiri. Tentu saja berdua. Kau tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Meski Asz tidak ada, aku yakin ada Tiam yang diam-diam mengawasi kita,"


"Kemana Gus biasanya pergi?"


"Kau akan tau saat ikut denganku. Ikut atau tidak?"


"Ikut,"


"Okey, let's go!" Ley membukakan pintu untuk Fisha.


"Aku akan membuka atap mobil agar kau lebih nyaman," seolah peka dengan ketidak nyamanan Fisha, Ley membuka atap mobil.


"Makasih,"


"Santai saja denganku. Mulai sekarang kita akan sering bertemu," balas Ley dan mulai melajukan mobilnya yang Fisha sendiri tidak tahu arah tujuannya.


Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2