Mysterious Gus

Mysterious Gus
#13. Laszlo?


__ADS_3

Sosok pria berjubah hitam berdiri di hadapan pria lain yang terduduk lemas. Berpakaian serba hitam, berdiri menjulang tinggi dengan tubuh gagah.


Menyeramkan.


Sebuah kata yang teramat mewakili sosok pria berjubah hitam itu. Suasana seram itu bertambah saat hanya ada cahaya lampu yang begitu remang menemani mereka.


"Mr. Arnold. Right?" Pria itu mulai membuka suara dengan nada pelan namun sangat mengintimidasi.


"Lepaskan saya! Saya salah. Maafkan saya!"


Pria berjubah hitam itu tersenyum sinis dari balik tudungnya.


"Sayangnya tak ada kata 'maaf' dalam kamusku. Are you ready, Mr Arnold?" Pria berjubah hitam itu mengeluarkan belati tumpul berkarat dari sakunya dan berjongok di hadapan pria bernama Mr Arnold, yang memohon ampun.


"Ck, ternyata seperti ini wajah yang ingin melenyapkanku," decaknya dan m*n*ay*t pipi Mr Arnold dengan pe**n serta d*lam.


"Akhh.... s-sakit. K-ku mo-mohon, lepa-skan aku,"


"Kau ini bagai anjing, Mr Arnold. Selalu menggonggong tiada henti minta untuk dibawa. Tapi saat dibawa kau masih juga menggonggong untuk dilepaskan. Bersisik sekali," sarkas pria berjubah itu lalu beralih mengambil be*ang, lengkap dengan jar*mnya.


"A-apa y-yang ingin k-au lak-lakukan?"


"Tentu saja untuk men*ahit mulutmu yang tidak berguna itu," jawabnya santai dan mulai men*ahit di bagian bibir.


Pria berjubah hitam tak berperasaan itu men*su*kan jar*mnya pada bibir bagian bawah Mr Arnold dengan pe*an lalu men*riknya kuat.


"Akh!! Hen-hentikan!!"


"Bagaimana aku bisa berhenti dari permainan menyenangkan ini?" Kekehnya sambil men*rik jar*m itu untuk menjahit ke bibir bagian atas.


Sreet!!!


"AKHH!!! EM-- EMMPASKAN!!" Mr Arnold terus men*erit demikian saat bibirnya ter**hit dengan sempurna. Darah pun mulai merembes dari wajahnya.


"Apa? Hempaskan? Aku tidak terlalu mendengarmu, An*ing. Tapi jika kau memang meminta untuk dihempaskan, maka dengan senang hati kau akan aku hempaskan,"


Pria berjubah men*engk*am erat kerah baju yang dikenakan Mr Arnold dan menggan**ngnya ke atas. Membuat tubuhnya melayang dan kakinya menendang-nendang angin.


"EMM EEMMM!!!"


"Berisik sekali," gumam pria berbaju hitam menggaruk telinganya.


Pria berjubah hitam itu langsung mengh*mp*skan Mr Arnold hingga matanya tertus*k besi runcing di sudut ruangan.


BLAAAM!!


BUGH!!!


CRIINGG!!!


Te*antuk tembok, badan terhemp*s, mata tertu*uk besi runcing. Keadaan pria itu benar-benar menge*askan. Ditambah d*rah juga keluar dari mata kirinya.


"Woah!! Ternyata aku hebat juga. Benar bukan, Mr Arnold?" Tanya pria berjubah kejam itu menghampiri Mr Arnold yang sudah tak berdaya lagi.


"Kenapa kau tak menjawab? Kau menantangku?" Kesalnya karna tak mendapat jawaban.


"Ah, iya, aku lupa. Baiklah, aku akan buka jahi*annya,"


TAK!!


TAK!!


SREEEETTT!!!


Tanpa hati nurani, ia meng*unt*ng bibir Mr Arnold hinga semakin bany*k da*ah yang mengalir.


Bahkan je*itan kesa*itan Mr Arnold tak dihiraukannya. Justru baginya je*itan itu adalah sebuah nyanyian yang indah untuknya.


Dari wajah, dirinya beralih pada tangan. Memo*ong jari-jarinya hingga sama rata pan*angnya dengan ibu jari. Men*suk siku pria itu hingga tem*us, begitu pula dengan bagian ka*inya.


Pria yang sebagai korban itu hanya bisa men*erit pasrah. Dirinya tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kematian telah menantinya. Dirinya hanya berharap, kematian cepat-cepat menjemputnya daripada harus disi*sa tak manusiawi.


"Aku penasaran dengan isi perutmu yang seperti bola ini," gumam pria berjubah hitam dan tanpa basa-basi langsung mem*elah pe*ut itu dengan cel*rit tum*ul yang juga berka*at.


Lagi dan lagi, Mr Arnold itu hanya pasrah. Dirinya lupa, ia tak akan mati sebelum jantungnya dia*bil oleh iblis bewujud manusia di hadapannya ini. Itu karena dirinya sempat dis*ntikkan sesuatu sebelum disi*sa menge"askan seperti saat ini.


"Ugh,, ususmu panjang, kecil, bau, dan tentunya banyak kotoran mu," ucap pria berjubah hitam itu men*rik usu* Mr Arnold keluar lalu menc*ncang-cinc*ngnya.


"Lambungmu besar sekali. Kau habis makan, ya?" Gumamnya lagi sambil me*arik pa*sa lam*ung itu dari tempatnya lalu mengi*jak-in*aknya hingga han*ur.


Mr Arnold hanya bisa bert*riak s*kit dengan napas terengah-engah. "Tuhan, bawa aku dari manusia setan ini!!" Batinnya menjerit pilu.


"Yeuh,, hatimu hitam. Kau perokok? Atau kau manusia penuh dosa?" Lagi-lagi bergumam kasar sambil men*suk-nu*uk h*ti Mr Arnold.

__ADS_1


"Kau tak lebih berdosa lagi, Manusia Iblis,"


"Jangan membatin! Katakan saja kalau kau mau mengatakannya. Pasti kau akan bilang bahwa aku lebih banyak berdosa dari kau. Aku sadar hal itu. Tapi aku menyukainya asal kau tau," ucapnya sambil asik mel*hat is* pe*ut Mr Arnold.


"Kau sering bermain dengan ja*ang bukan? Kalau aku po*ong benda pus*k*mu itu, bagaimana, yah?"


Mr Arnold menggeleng keras. Tak terbayang bagaimana sakitnya jika Manusia Iblis dihadapannya ini menyiksa benda pus*k*nya.


"Ck, jual mahal sekali kau, Arnold," decaknya dan mulai melakukan aksi bej*tnya dengan benda pus*k* Mr Arnold.


"Aku sudah lelah. Selamat tinggal!" Ucap pria berjubah hitam itu dan men*rik ka*ar jantung Mr Arnold hingga pria malang itu tak bernyawa seketika.


Ruangan itu mendadak terang. Bahkan sangat terang. Terlihat banyak da*ah segar di mana-mana. Bau an*ir sangat mendominasi ruangan seperti neraka itu


"Ugh, indah sekali karyaku," gumamnya tersenyum puas sambil menatap Mr Arnold yang tak bernyawa lagi.


"Ah, ****!! Aku terlalu lama bermain," ucapnya mengumpat melihat jam dan masuk ke salah satu ruangan dengan pintu cat berwarna putih. Namun penuh bercak da*ah di pintu itu.


Terdengar suara guyuran air dari ruangan itu. Pertanda bahwa itu adalah kamar mandi dan sang pria sedang mandi.


"Ternyata aku sangat tampan. Tentu. Karena aku adalah Laszlo,"


♧♧♧


"Gila!!! Kejem banget tuh orang. Manusia loh, itu yang disi*sa," Dylan berucap dengan ekspresi kasihan dan takut.


"Dunia kejam, bro!" Balas Yusuf.


"Iya, sih, tapi kok gak punya perasaan gitu, loh. I--"


"Perasaan apa?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Farel yang baru saja datang dan langsung duduk di samping Afnan sambil mencomot martabak yang ada di atas meja.


"Salam!" Tegur Afnan membuat Farel mengangguk.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


"Siapa?" Tanya Farel lagi. Dirinya penasaran.


"Itu loh. Ada berita terbaru. Baruuuu aja. Lo tau Tuan Arnold yang kaya itu? Dia ditemukan di depan rumah dalam keadaan meninggal yang amat teramat menge*askan. Kasian banget gue liatnya. Gak punya perasaan, kan yang udah buat dia kayak gitu?" Oceh Dylan.


Farel hanya mengangguk sekali dengan berdehem. Dirinya terlalu asik makan martabak.


"Laper apa doyan lo? Langsung ludes, huh?!" Geram Dylan.


"Laper,"


"Ck, sama, sih. Makanan berat gitu, kek. Masa gak ada?"


"Ada mie instan tuh, banyak di dapur," balas pria lain yang juga ikut berkumpul di markas GREXDA.


"Masak woy!! Juru masaknya mana, nih?!"


"Paan?!" Balas pria yang merasa sebagai juru masak di markas itu.


"Masakin elah. Laper, nih, Yar," pinta Dylan pada pria yang dipanggil Yar itu.


Yar alias Akhyar, pria itu mendengus namun tetap berjalan menuju dapur markas.


"SIAPA AJA, NIH, YANG MO MAKAN?" Teriak Akhyar dari dapur.


"KITA SEMUA!!" Seru Dylan.


"BUSET DAH!! BANTUIN GUE!! KALIAN JANGAN ENAKNYA AJA, YAH?!"


"Bantuin!" Suruh Farel melirik Dylan, membuat Dylan mau tak mau harus turut memasak.


***


"Alhamdulillah, ya Allah, Dylan kenyang," ucap Dylan mengusap perutnya yang kenyang.


Heeugggg!!!


"DYLAN JOROK, ANJIR!!" Teriak Akhyar menoyor kepala Dylan karena pria itu sendawa dengan sangat kuat. Diantara mereka semua, Akhyar termasuk pria yang mengutamakan kesopanan serta kebersihan.


Dylan terkekeh senang melihat temannya itu kesal, "Kelepasan elah. Sok bersih banget lu,"


"Gue emang bersih kalo lo mau tau,"


"Sayangnya gue gak mau tau,"


"DylanJing!" Kesal Akhyar.

__ADS_1


Suara panggilan dari ponsel Farel mengalihkan perhatian mereka semua. Farel pun dengan santainya menerima panggilan itu.


"Assalamu'alaikum. Abang di mana?" Itu adalah Hutama.


"Wa'alaikumussalam. Markas,"


"Pulang, yah, Bang?! Ajak RANDA yang lain juga. Nginep di rumah. Umma yang minta. Besok kita bakal ke Bandung. Jenguk Kakek Nenek sama jalan-jalan,"


"Iya, sebentar lagi,"


"Hati-hati kalian. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


"Kenapa?" Tanya Afnan penasaran sebab sempat mendengar nama RANDA tadi.


"Disuruh pulang,"


"Siapa?"


"RANDA,"


"Loh?! Kita nginep di rumah lo?"


"Hm,"


"Woah, kuy lah!" Girang Dylan beranjak dari duduknya.


"Semangat banget lo. Mau ketemu Lea pasti,"


Dylan menunjukkam senyum pepsodentnya. "Itung-itung ta'aruf gitu,"


"Gaya lo banyak amat. Muka kayak panci gosong aja seneng,"


"Sirik aja lo. Gue tuh tampan kayak Manurios,"


"Cih, mimpi,"


"Mimpi aja dulu setelah bangun baru nyesel," sinis Afnan yang membuat mereka tertawa.


"Lo, tuh, kalo ngomong panjangan dikit aja nyelekit banget, yah?!"


"Bodo. Lo, suka Fisha, Rel?" Tanya Afnan membuat semua semakin rapat mendekati Farel.


"Enggak,"


"Tapi kok, lo mau bela-belain undang Zico? Gue gak tau lo undang dia," heran Afnan.


"Gak sengaja ketemu,"


Dylan menyipitkan matanya dan mendekat ke wajah Farel yang langsung mendapat pukulan di keningnya.


"Sakit astaghfirullah. Udah berapa kali kening gue jadi korban?!"


"Pulang!" Ucap Farel bangkit sambil memakai jaketnya tanpa memperdulikan Dylan yang masih terus menggerutu.


"Jaga markas! Hubungi kita kalau ada apa-apa!" Pesan Afnan.


"Siyap!!"


"Assalamu'alaikum," pamit kelimanya dan langsung keluar tanpa menunggu balasan.


***


Jalanan begitu sepi di jam setengah tiga dini hari ini. Tentu saja, karena hampir semua manusia sedang istirahat di kasurnya masing-masing.


Seorang pria berdiri di tengah jalan membuat mereka berhenti mendadak. Pria tinggi dengan jubah hitam yang menutupi kepalanya. Tak lupa dengan topeng setengah wajahnya. Sangat menyeramkan.


"Maaf, Pak. Kami ingin lewat. Bisa beri jalan?" Tanya Adam sopan.


Pria itu mengangguk dan tersenyum tipis. Mereka semua bisa melihat senyum yang seperti senyum iblis itu. Karena lampu motor mereka sangat terang.


"Hati-hati---Laszlo!" Ucapnya lalu menghilang begitu saja setelah menimbulkan asap tebal.


"Apa katanya tadi? Laszlo? Siapa tuh? Dia ilang gitu aja, woy!! Gila!!" Kaget Dylan.


"Gak jelas," komentar Farel dan Afnan.


"Udah, ah, ayo jalan lagi! Ntar ditungguin," ucap Adam yang membuat mereka langsung kembali membawa laju motornya.


"Laszlo?"


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2