
Sudah seminggu Farel menjalani perawatan di Bandung. Kini, pria muda itu sudah dibolehkan pulang dengan syarat satu botol infus habis terlebih dahulu.
Di ruangan itu sekarang hanya ada Hutama dan Raima. Tadi Xander juga ada, tapi pria itu keluar dengan alasan yang tidak diketahui. Sudah sekitar setengah jam ia keluar.
"Kepalanya masih sering sakit?" Tanya Raima.
"Masih, tapi gak terlalu kayak kemarin,"
"Nanti kalau gak tahan lagi sama sakitnya, bilang sama Abah atau Umma, ya?" Pesan Raima yang diangguki Farel.
BRAAK!!
Pintu dibuka secara kasar, menampakkan sosok Xander yang masuk bersama seorang wanita.
"Ini dia," ucap Xander tak jelas.
"Siapa?"
"Calon istriku,"
"WHAT?!" Kaget Farel dan wanita itu, sedangkan Hutama dan Raima terdiam menatap wanita itu.
"Siapa yang bilang saya mau jadi istri kamu? Kenal juga en--"
"Mayang?" Panggil Raima menatap familiar wanita yang dibawa oleh Xander.
Mayang, wanita yang diseret Xander itu menatap balik ke arah Raima dengan mata menyipit.
"RAIMA?! HUTAMA?!"
"Ternyata kamu, Mayang," seru Raima memeluk Mayang begitu erat.
"MaasyaAllah, gak nyangka bisa ketemu lagi sama kalian. Gimana kabarmu, Ma? Kamu juga Hutama?"
"Alhamdulillah kami baik. Kamu sendiri?"
"Alhamdulillah aku juga baik. Bagaimana Farel? Pasti sekarang dia sudah besar, menjadi pria tampan dan kuat. Umurnya pasti sudah 18 tahun,"
Hutama terkekeh sambil menunjuk Farel dengan dagunya, "Ini Farel,"
"Farel? Farel sakit?"
"Ya, begitulah, kecapean,"
Mayang mengusap pelan rambut Farel. Air mata mengembun di pelupuk matanya, siap untuk membasahi pipinya.
Ingatannya berputar pada kisah 17 tahun lalu. Saat Farel kecil hidup dengan penderitaan yang amat menyakitkan.
"Sekarang sudah besar kamu, ya, Rel?! Pasti kamu jadi laki-laki yang kuat, Nak,"
Farel tersenyum tipis dan ikut menggenggam tangan Mayang, "Farel kuat karena ada bantuan Ibu,"
"Manis sekali mulutnya, ya?!" Kekeh Mayang.
"Ibu kenapa bisa di sini? Kenal Kakek Xander?"
"Keponakan Ibu sakit. Kenal Xander baru beberapa waktu lalu, saat dia di taman menangis,"
"Kakek menangis?"
Xander mendengus sambil membuang muka, "Karenamu," sinisnya.
"Cih, kau saja yang baperan,"
"Ka--"
"Jadi, Farel ini cucumu? Benarkah? Aku tidak tau kamu orang tua Rai--"
"Ceritanya panjang. Aku bukan orang tua dari mereka. Aku tidak setua itu sebenarnya, tapi anak ini senang sekali memanggilku 'kakek'," jelas Xander.
"Oh, begitu. Farel sekarang gimana? Masih sakit? Kemarin operasinya gimana?"
"Baik, Buk. Lancar operasinya. Kakek aja yang cengeng,"
"Anak durhaka," kesal Xander membuat mereka tertawa.
"Hari ini Farel pulang setelah infusnya habis, Yang," jelas Raima.
"Kalian masih di Jakarta tinggalnya?"
"Iya. Kamu?"
"Sekarang aku sudah punya rumah sendiri. Alhamdulillah penghasilan toko kue lancar,"
"Ayo, tukaran nomor hp!" Usul Raima yang disetujui Mayang.
__ADS_1
"Ibu?" Panggil Farel mengeratkan genggamannya pada tangan Mayang.
"Ya? Kenapa?"
"Manikahlah dengan Kakek Xander,"
"Woaah!! Lihat! Bocah ingusan ini melamarmu untukku. Menikahlah denganku!"
"Dia tua, Rel," komentar Mayang.
"Aku? Tua? Hey! Bahkan usiaku sama dengan Hutama!" Protes Xander.
"Benarkah?"
"Em, Kakek seusia dengan Abah. Menikahlah dengan dia, Buk!"
"Kamu begitu yakin?"
"Sangat yakin. Kakek akan menjaga Ibu dengan nyawanya. Farel tau Kakek,"
Mayang menatap mata hitam pekat Xander. Mencoba mencari keyakinan dalam mata pria itu.
"Oke, saya mau menikah denganmu,"
"Really? YES!! YHUHU!!!" Sorak Xander kesenangan, membuat mereka tertawa dengan kesenangan pria itu.
"Akan kupastikan dalam tiga hari kau akan jadi milikku seutuhnya!" Tegas Xander dan keluar dari ruangan itu setelah mencium kening Farel, Farel yang diperlakukan seperti itu tentu berdecih kesal.
"Dia mau ke mana?"
"Mengurus pernikahan. Apa lagi?" Jawab Farel santai, namun membuat semua cengo.
***
Farel memasuki istananya dengan duduk di kursi roda yang didorong oleh Hutama. Setelah infusnya habis, Farel benar-benar diperbolehkan pulang dengan syarat harus kontrol rutin.
Kedatangan Farel disambut oleh para sahabatnya dan yang lain dengan antusias.
"Ciah!! Lemah banget lo! Ketua GREXDA pake kursi roda," ejek Dylan.
"Sok kuat," cibir Farel kesal.
"Gue emang kuat!"
"Halah, bacot lo! Liat Farel kemarin aja, lo nangis kejer," sindir Adam.
"Tapi gue gak teriak-teriak kayak lo!"
"Bohong lo! Bohong banget! Ingus lo aja sampe lo jilat,"
"Diem lo!" Kesal Yusuf mengundang tawa yang menyebalkan untuknya.
"Berisik!" Gerutu Farel mengedarkan arah pandangannya, mencari sosok yang selalu menghantui pikirannya setelah kejadian cambuk di hari itu. Yang tak lain dan tak bukan adalah Fisha.
"Cari siapa lo? Fisha, ya?" Goda Adam.
"Ck, sibuk amat!"
"Halah! Kemarin bilangnya, 'jangan nangis!', cih, sok manis lo!" Goda Afnan.
"Tauk tuh! Semua pada khawatir, eh, dia malah uwu-uwuan sama Fisha,"
"Diem lo semua!" Kesal Farel menendang mereka satu per satu, membuat gelak tawa kembali terdengar.
"Fisha tadi ke kamar sebentar. Katanya mau pakai minyak kayu putih, sakit perut dia," jelas Nia.
"Tuh, pujaan hati lagi sakit. Liatin, gih!"
"Sia*an!" Geram Farel menahan malu saat lagi-lagi dijadikan bahan ejekan.
"Loh?! Udah sampai?" Sapa Fisha mencium tangan Hutama, Raima, Xander dan Mayang. Meskipun tidak kenal, gadis itu tetap memiliki rasa hormat yang tinggi.
"Iya, barusan,"
"Itu, Gus Farel-nya gak dicium juga tangannya?" Goda Adam membuat bantal sofa menyapa wajahnya.
"Kan, gak boleh cium tangan. Nanti timbul syahwat. Gak mahram," jawab Fisha polos.
"Tuh, Rel, kode keras! Minta dimahramin, tuh!"
"Ba*ot!" Kesal Farel lagi-lagi hanya bisa bergumam lirih.
"Gus udah sembuh total? Masih sakit?"
"Sakit dia, Sha. Kepalanya pusing, pijitin, gih!" Jawab Dylan yang mendapat tamparan keras di mulutnya dari Farel.
__ADS_1
"Kejam lo! Mulut seksi gue sakit!"
"Mampus!"
"Pusing?" Tanya Fisha yang masih belum 'ngeh' sama situasi, tentunya suara tawa kembali terdengar, membuat gadis cantik itu heran.
"Gak. Udah gak papa," balas Farel singkat, padat nan jelas.
"Woo, jelas! Liat pujaan hati semua rasa sakit pasti hilang," kini gantian Afnan yang meledek.
"Sia*an lo semua!" Murka Farel.
Kalau saja dia tidak sakit, sudah dipastikan sahabat-sahabatnya itu bungkam ketakutan.
"Kalian ini! Seneng banget liat Farel kesel," kekeh Raima.
"Buk, Farel mau sup. Ibu yang buat," minta Farel pada Mayang.
"Hahaha... kamu dari dulu emang makannya sup," kekeh Mayang.
Farel menggeleng, "Sup buatan Ibu enak. Kalau rendang, buatan Umma yang paling enak," kilah Farel mendorong kursi rodanya menghampiri Mayang untuk membawa wanita itu menuju dapur. Tentunya untuk lari dari ledekan-ledekan RANDA.
"Halah! Bilang aja lo malu kita ledekin!"
"Na*is," decih Farel dan segera membawa Mayang menuju dapur.
Teriakan meledek menggema dari ruang keluarga itu. Farel, sang korban, tentu sangat kesal dan tak bisa berkutik.
"Bahannya ada di kulkas," ucap Farel menunjuk kulkas besar di sudut ruangan.
"Kamu punya perasaan lebih sama gadis itu, Rel?" Tanya Mayang dengan tatapan fokus pada bahan masakannya.
"Belum mikir buat begituan, Buk,"
Mayang tersenyum getir. Wanita itu tahu bagaimana kisah Farel, walau saat itu dia hanya mengasuh Farel dalam waktu enam bulan. Mayang mengetahui semua duka pria yang dirawatnya waktu kecil itu.
"Ibu tau, kehidupan kamu gak mudah, Farel. Tapi jangan membohongi perasaanmu sendiri! Belajar menerima takdirmu!"
"Iya, Buk. Kenapa jadinya Ibu sama kayak Kakek? Selalu bilang gitu," gerutu Farel.
Mayang terkekeh, "Of course,"
"Maaf Fisha ganggu. Fisha mau buat minuman sebentar," ucap Fisha datang.
"Iya, silahkan aja! Gak usah canggung sama Ibu. Oh, ya, nama Ibu, Mayang,"
"Nafisha, Buk. Panggil Fisha aja," balas Fisha dan segera membuatkan minuman untuk mereka yang berkumpul.
"Buat sendiri sebanyak itu, Sha?" Tanya Mayang.
"Iya, Buk. Tadi ada Umma yang mau bantuin, tapi Abah larang," jawab Fisha dengan kekehan kecilnya.
"Pria itu emang posesif sekali dengan Raima," komentar Mayang menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Loh?! Gus mau ngapain?" Tanya Fisha saat melihat Farel hendak berdiri dari kursi rodanya.
"Buat susu,"
"Biar Fisha buatin. Gus duduk aja! Nanti kenapa-kenapa kalau Gus jatuh," ucap Fisha dan mencari susu yang Farel inginkan.
"Mau susu rasa apa?" Tanya Fisha menatap varian susu di lemari.
"Cokelat," balas Farel singkat, padat dan jelas.
Fisha hanya mengangguk dan segera membuatkan susu untuk Farel. Kegiatannya tentu tak luput dari tatapan Mayang dan Farel. Mayang dengan senyumnya dan Farel dengan kebisuannya.
"Nih," Fisha menyerahkan segelas susu cokelat itu.
"Lo sakit?" Tanya Farel sesaat sebelum meneguk susunya.
"Sakit perut karena udzur aja. Kata siapa Fisha sakit?"
"Nia,"
"Oh, Nia. Fisha udah siap, Fisha permisi," pamit Fisha dan segera berlalu dengan menahan rasa malu. Bibirnya meluncur bebas saat mengatakan udzur. Tentu malunya bukan main karena terlalu gamblang.
"Enak susunya?" Tanya Mayang.
"Kayak biasanya, enak,"
"Pasti lebih enak, kan? Secara yang buatin pujaan hati,"
"Ibu," tegur Farel kesal dan disambut tawa nyaring dari Mayang.
"Ibu sedari dulu selalu mendoakan kamu, Rel. Kamu adalah anak yang hebat dan memiliki cinta yang besar terhadap Umma-mu," batin Mayang.
__ADS_1
Tbc...
^^^...#as.zey...^^^