Mysterious Gus

Mysterious Gus
#27. Party


__ADS_3

..."Aku sangat ingin malam ini tak akan pernah berakhir,"...


...Farel...


Malam telah tiba, menandakan mereka harus pergi ke party sesegera mungkin.


Semua sudah siap dengan pakaian yang diberikan Farel tadi sore. Para pria kompak menggunakan hoodie putih, topi putih, jeans hitam dan sepatu sneakers putih. Sedangkan para gadis kompak mengenakan hoodie navy dengan rok pliskat navy dan khimar abu-abu, tak lupa topi mereka. Sangat menawan.


Mereka semua sudah berkumpul, namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang. Yang tak lain dan tak bukan adalah Farel dan Fisha.


"Fisha mana, sih?! Lama banget, katanya tadi cari sepatu," gerutu Nia.


"Farel juga lama amat, udah kek cewek aja,"


"Atau jangan-jangan---"


"Gak usah seuzon lo, Kampret!" Kesal Adam pada Dylan.


"Apa, sih?! Sensian banget," sinis Dylan.


Di sisi lain, Farel masih setia berdiri di depan cermin sambil menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Tak banyak, namun wangi itu mampu membuat para gadis mabuk kepayang.


Setelah selesai dengan kegiatannya, Farel berjalan keluar kamar. Dirinya cukup sadar diri kalau dia sudah membuat yang lain menunggu.


Langkahnya diiringi sambil bermain ponsel. Entah apa yang dilihatnya, namun wajahnya sangat serius, bahkan tidak menyadari dirinya sedang berpapasan dengan Fisha di tangga.


"Gus, hati-hati!" Peringat Fisha yang tak ditanggapi Farel, terbukti dari gerak tubuhnya yang mulai menuruni tangga sambil bermain ponsel.


Fisha menghela napas heran dan lebih memilih mengikuti langkah Farel. Karena lupa menaruh sepatunya, dia harus membuat yang lain menunggu.


Langkah Farel tiba-tiba terhenti. Fisha yang heran pun ikut berhenti. Hanya ada jarak dua anak tangga di antara mereka.


"Kenapa, Gus? Kok, berhenti?" Tanya Fisha.


Seolah sadar, Farel berbalik menghadap Fisha dengan kening berkerut.


"Sejak kapan?" Tanya Farel.


"Apanya yang sejak kapan?"


"Di belakang gue,"


Fisha mendengus kesal, "Udah dari tadi pas sebelum turun anak tangga. Gus aja yang diingetin hati-hati tadi gak denger," jawab Fisha setengah kesal.


Farel hanya mengangguk dan mulai meneliti penampilan Fisha. Sedangkan yang ditatap seperti itu merasa risih.


"Kenapa, Gus? Gak bagus, ya? Ga cocok, ya?"


Farel menggeleng, "Mainn aellde waathconelayynae lhataal," ucap Farel dengan bahasa yang tidak Fisha ketahui.


"Hah?! Gus bicara pake bahasa apa? Fisha gak paham,"


"Burma,"


"Artinya?"


"Kepo," jawab Farel dan memilih kembali menuruni tangga.


"Kalau Gus gak mau kasih tau, Fisha ganti baju aja, nih?! Fisha jadi insecure tauk?!" Kesal Fisha membuat Farel kembali menoleh.


"You are so beautiful in that dress," gumam Farel yang masih mampu didengar Fisha.


Wajah gadis itu memerah malu dengan pujian sang Gus.


"Gus?!" Panggil Fisha saat Farel hendak kembali melangkah, Farel yang merasa terpanggil pun menoleh.


"Gus juga ganteng," puji Fisha dengan malu-malu.


Farel tersenyum tipis dengan anggukan. Responnya memang biasa saja, tapi jangan tanya bagaimana kondisi jantung Farel, yang tentu saja sudah tidak karuan.


"Itu beneran Gus Farel?" Tanya Fisha pada dirinya masih tidak percaya dengan kenyataan yang didapatnya.


"Lama banget kalian! Mana datengnya barengan. Ngapain aja lo, berdua?!" Cerca Dylan.


"Cari sepatu, Fisha lupa simpan di mana tadi,"


"Lo ngapain, Rel? Bantuin Fisha cari sepatu?"


"I'm busy," jawab Farel mengangkat ponselnya, pertanda dia sibuk dengan benda perseginya.


"Ayo, berangkat! Ntar telat," ajak Afnan yang diangguki mereka.


Setelah berpamitan, akhirnya mereka pun pergi meninggalkan pekarangan rumah Pramayudha.


Mereka para pria dengan motor sportnya, sedangkan para gadis dengan mobil hitam yang atapnya terbuka, dengan Farras sebagai supir.


Farel dan Afnan memimpin jalan, Adam dan Dylan di kedua sisi mobil sedangkan Yusuf dan Azlan di belakang mobil. Keempat gadis itu benar-benar diperlakukan seperti tuan putri.


"Geng Brata tau rencana kita?" Tanya Farel setengah berteriak pada Afnan.


"Seharusnya mereka gak tau,"


Farel mengangguk sekali dan menambah kecepatan motornya, begitu pula yang lainnya.


***


Butuh waktu sejam untuk mereka sampai di lokasi party. Di mana saat ini Farel membuat party di out door, tepatnya arena balapan.


Ternyata sudah banyak para anggota GREXDA yang telah tiba. Arena balapan terlihat penuh oleh anggota GREXDA saja. Mereka kompak mengenakan hoodie dan topi putih.


Seorang gadis menghampiri mereka. Dia adalah Monika, gadis satu-satunya anggota GREXDA yang resmi. Yang pernah ditunjuk langsung oleh Farel saat itu.


Gadis bernama Monika itu menghampiri dengan wajah cerah. Rambutnya terlihat cantik saat digerai, masih menunjukkan bahwa dia seorang perempuan meskipun gayanya tomboy.


"Hay, guys!" Sapa Monika pada keempat gadis yang dibawa RANDA.


"Hay, Nik! Kok, kamu di sini?" Tanya Nia.

__ADS_1


"Gue, kan, anggota resmi," jawab Monika bangga.


"Wuih!! Satu-satunya cewek, dong?! Pasti dijaga banget, dong,"


"Itu pasti. Tapi kalau memang saatnya tempur, ya, tempur. Yekan, Nik?" Ucap Dylan menepuk pelan bahu Monika.


"Iya, dong. Gue harus bertanggung jawab atas kepercayaan Bang Farel,"


"Betewe malam ini lo cantik, Nik," goda Dylan.


Monika terkekeh dan mengibaskan rambutnya dengan sombong, "Gue emang cantik,"


"Katanya udah tobat, eh, taunya balik lagi setannya," sindir Afnan.


"Ck, gak asik lo. Dahlah, gue mau cari ekor gue," kesal Dylan dan segera berlalu.


"Eh, Bang! Gue anak lo, kalau lo lupa!" Seru Monika.


"Oh, iya, gue lupa. Yaudah, ayo!" Cengir Dylan dan segera menarik Monika.


"Gue juga, udah pada lambai-lambai, tuh, anak-anak gue," ucap Adam juga ikut memisahkan diri.


"Khem, hawanya gak enak, nih," gumam Yusuf melirik Milea yang lesu.


"Dylan emang gitu," ucap Afnan membantu agar suasana hati Milea tidak memburuk.


"Kayak gak tau Bang Dylan aja, Ya'," sambung Nia.


"Kenapa, sih? Aku gak papa,"


"Biasanya cewek yang bilang 'gak papa' itu pasti ada apa-apa," sarkas Yusuf dan ikut memisahkan diri mencari anggotanya.


"Bang, Nia ikut!" Seru Nia mengekori Yusuf.


"Gue juga mau lihat anak-anak," izin Afnan yang diangguki Farel.


Afnan melirik Zira sambil mengangguk, seolah mengode agar Zira ikut dengannya. Zira pun tanpa penolakan mengikuti Afnan.


Kini hanya tersisa Farel, Fisha dan Milea.


"Terus, kita ngapain?" Bisik Milea pada Fisha.


"Gak tau, canggung banget,"


"Ho'oh,"


"Induk anak-anak gue ketinggalan," ucap Dylan kembali ke mereka dengan tergesa dan menarik Milea pergi begitu saja.


Fisha terkekeh melihat tingkah sahabatnya yang kewalahan mengikuti langkah Dylan. Menurutnya, kedua manusia itu terlalu tidak jelas.


"Terus Fisha ngapain? Sindirian, nih?" Lirih Fisha bertanya pada dirinya sendiri.


"Ayo!" Ajak Farel.


"Ke mana?"


Mereka sama-sama diam menatap banyak manusia di hadapan mereka yang sedang asik ngobrol dan tertawa.


"Gus gak bosen?" Tanya Fisha bersuara setelah lima belas menit mereka dalam kebungkaman.


"Gak," jawab Farel acuh dan terus memperhatikan anggotanya.


"Kenapa gak ikut sama mereka?"


"Ngapain?"


"Ikut ngobrol, seneng-seneng,"


Farel menggeleng, "Buat apa?"


"Biar kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Itu hal yang menyenangkan menurut Fisha,"


Farel berdiri dari posisi duduknya, "Ayo!"


"Ke mana?"


"Sama anak-anak,"


"Ayo!" Seru Fisha dan dengan semangat berjalan di sisi Farel.


"Boss! Gimana kabarnya? Lama gak ketemu karena jarang turun lapangan kita sekarang," ucap seorang pria saat Farel bergabung dengan mereka.


"Kenapa? Bosen wajah glowing?" Tanya Farel.


"Yaaa, bukan gitu. Rasanya kita damai banget. Brata juga tumben gak cari ribut,"


"Besok,"


"Apanya yang besok,"


"Tempur,"


"Serius? Sama siapa? Siapa yang cari lawan sama kita?" Tanya Dylan antusias.


"Brata," jawab Akhyar melihatkan layar ponselnya yang berisi ajakan tawuran dari geng Brata.


"Gak kapok-kapok ternyata,"


"Betewe siapa, nih, Bang? Dari tadi gondol mulu. Bajunya juga samaan lagi. Bu ketu, ya, Pak?" Tanya Akhyar.


"Gue rasa kalian tau tanpa gue bilang," jawab Farel santai sambil meneguk minuman sodanya.


Mereka semua bersorak senang mendengar jawaban itu dari sang ketua. Suara kekaguman menggema di ruangan terbuka itu.


"WOAAH!! KITA PUNYA BUK KETU SEKARANG!!"


"ALHAMDULILLAH KITA LENGKAP SEKARANG!!"

__ADS_1


"BERITA BESAR, NIH, BUAT KITA,"


Farel tersenyum tipis dan mengangguk, "Gue harap kalian bisa jaga kalau gue gak ada," pesan Farel dengan makna tersiratnya yang hanya dijawab sorakan 'siap' oleh mereka.


"Kenapa pada siap, Gus?" Tanya Fisha berbisik.


"Siap jagain Ibu ketuanya,"


"Fisha gak paham,"


"Lo tau arti tulisan di topi lo?"


"Engga, emang artinya apa?"


"Bahasa Burma. Artinya Pendamping Pemimpin," jelas Farel membuat Fisha terdiam. Gadis itu berusaha mencerna ucapan sang Gus.


"Maksud Gus, Fisha--?"


"Hm," jawab Farel acuh dengan tangan mengetuk meja beberapa kali. Suara ketukan meja itu membuat suasana hening seketika. Sepertinya Farel akan memulai acaranya.


"ASSALAMU'ALAIKUM," Sapa Farel dengan aura pemimpinnya.


"WA'ALAIKUMUSSALAM,"


"NIGHT!"


"NIGHT TOO!!"


"Aku hanya akan berbicara sekali, maka dengarkanlah!" Seru Farel semakin membuat mereka menyimak dengan serius.


"Besok kita akan kembali melawan Brata. Aku harap kalian bisa melawan seperti biasanya. Aku akan sangat senang saat kita membawa kemenangan. Kalian juga senang bukan?"


"Of course our happy!!"


"Aku ingin beberapa orang menjaga keempat gadis yang kubawa malam ini saat kita melawan mereka besok,"


"SIAP!"


"Akhyar, Denis, Josh, Aidil, Jaka, aku serahkan tugas itu pada kalian!"


"BAIK!"


"Sisanya Afnan yang akan mengatur  dengan Dylan menyiapkan strategi seperti biasa,"


"SIAP, GUE, MAH! GAS KEUN!!" Seru Dylan tanpa malu.


"Just it,"


"PAK KETU! FOTBAR DONG BARENG BUK KETU!" Sorak Denis yang disambut sorakan yang lain.


Afnan yang berdiri di samping Farel terkekeh, "Mampus lo! Kecepatan, go public, sih. Fisha aja belum tentu mau sama lo," ejek Afnan.


"Sia*an," umpat Farel meninju pelan perut Afnan yang empunya masih tertawa.


"Dark!" Pesan Farel pada Akhyar yang sudah siap dengan kamera khusus milik GREXDA.


"Sabi, deh. Maunya Pak Ketu tak turutin,"


"Buk Ketu deketan dikit, dong!" Instruksi Akhyar yang mau tidak mau harus Fisha turuti.


"Satu..... dua... tiga....!"


Cekrek


"Lagi! Lagi!" Seru Akhyar yang disoraki semuanya, sehingga membuat Farel dan Fisha harus terus berpose agar mendapat jepretan yang bagus.


"Nih, Pak Ketu, bolehlah buat prewed," kekeh Akhyar yang mengundang tawa mereka.


Farel mendengus dan mengambil alih kameranya.





"Gimana? Keren, kan jepretan gue?!" Sombong Akhyar yang hanya diangguki oleh Farel.


"Besok, mah, kalo udah halal pasti lebih uwu lagi daripada yang sekarang," komentar Denis.


"Kompor banget," sinis Farel memilih berlalu.


"Eh, mau ke mana, lo?" Tanya Afnan.


"Party, tonight gue dj," jawab Farel dengan senyum sombongnya dan  melepas hoodie-nya lalu menyerahkannya pada Fisha, begitu pula dengan kameranya. Fisha pun mau tidak mau, ya, harus mau.


Mereka semua bersorak senang dan mulai mengikuti Farel untuk berjoget ria di hadapan sang peng-dj.


"AYO, PAK KETU! UDAH LAMA, NIH, PAK KETU GAK NGE-DJ!!"


"YOI! ASIK, NIH, PAK KETU MAU NGE-DJ LAGI!"


"BERKAH, NIH! SEJAK ADA BUK KETU, PAK KETU JADI MELELEH!"


Sorakan-sorakan terus bersahutan, terlebih lagi saat Farel mulai memainkan alat dj-nya. Mereka semua asik berjoget dan bercanda ria. Tentunya tidak dengan Nia sekawan yang hanya bergoyang kecil di pojokan.


Fisha, gadis itu memegang kamera, dengan inisiatifnya, tangan lentiknya mulai memotret sang Gus.


Farel yang merasa sedang diperhatikan dengan intens pun menoleh, tatapannya begitu mempesona, membuat aktivitas Fisha terhambat beberapa waktu, sebelum kesadarannya kembali dan menjepret pose Farel yang menurutnya bagus.




Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2