
..."Orang yang menjadi kekuatanmu adalah orang yang juga akan menjadi kelemahanmu,"...
...Xander...
Jam besuk Farel sudah habis, sekarang Tiam berada di kantin rumah sakit bersama Hyeon. Ia akan berbincang empat mata pada Hyeon setelah makan.
Hyeon memperhatikan Tiam yang sedang makan sejak beberapa menit lalu. Pria muda itu makan dengan lahap.
"Kau makan dengan lahap sekali, padahal kau bilang sudah makan," Hyeon buka suara.
"Abang tidak akan suka aku yang berantakan saat dia bangun nanti. Aku belum makan sejak kemarin malam," jelas Tiam santai.
"Kau berbohong pada Karaya,"
"Lalu apa yang bisa aku lakukan?! Di saat seperti ini, hal yang harus diperhatikan adalah Karaya,"
Tiam menenggak minumnya hingga sisa setengah, "Alhamdulillah," gumam Tiam merasa tenaganya kembali penuh meski belum mandi dan tidur.
"Kalimat apa yang kau ucapkan itu? Aku sering mendengar Hyung mengucapkannya setiap selesai mengerjakan sesuatu. Saat aku bertanya, dia hanya menjawab kalau dia sedang bersyukur, tapi aku tidak tahu apa yang sedang ia syukuri. Padahal pekerjaan yang ia lakukan itu amat ringan, seperti selesai menatap laptopnya contohnya," oceh Hyeon.
"Artinya segala puji bagi Allah. Maksudnya, segala sesuatu tidak bisa dikerjakan jika bukan karena kehendak Allah. Sebab itu kami bersyukur dan memuji-Nya,"
"Lalu kalau sedang saat seperti ini? Apa kalian juga mengucapkan kalimat itu? Bukankah kalian mempercayai bahwa semua ini terjadi karena kehendak Tuhan kalian?"
Tiam terkekeh kecil, "Saat musibah, kami akan mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali pada Allah,"
Hyeon mengangguk, entah memang karena mengerti atau pura-pura mengerti.
"Kau tidak marah pada Tuhan karena membuat Hyung seperti itu?"
Tiam menggeleng, "Aku tidak berhak marah pada Allah, aku tidak pantas untuk marah pada-Nya. Semua yang terjadi sudah Dia tetapkan,"
Hyeon kembali mengangguk, "Lalu, untuk apa kau mengajakku ke mari?"
Hampir saja Tiam lupa dengan tujuan awalnya jika Hyeon tidak bertanya.
"Aku akan membawa Abang ke New York. AkuĀ memberikanmu dua pilihan,"
Alis Hyeon naik sebelah, seolah bertanya apa isi dua pilihan itu.
"Kau akan tinggal di manapun kau mau dengan penjagaan ketat pihak kami. Tapi kau tidak akan pernah lagi bisa menemui kami. Kau harus menjauh sejauh mungkin. Keberadaanmu yang bersama kami sudah terbongkar, kau bisa dalam bahaya. Kau tenang saja, kami akan memberi penjagaan ketat tanpa membuatmu risih,"
"Pilihan kedua?"
"Kau akan ikut bersama kami dengan penjagaan yang lebih ketat. Dan mungkin kau akan sulit lepas untuk kegiatanmu. Semua tergantung pada dirimu, dua pilihan yang aku berikan tidak akan merugikanmu,"
"Lalu tidak bertemu Hyung dan Karaya bukan kerugian untukku?!" Sewot Hyeon.
"Kami terlalu berbahaya untukmu, Hyeon. Banyak yang mengincar kami dan itu akan menyulitkanmu,"
"Sebenarnya, kalian siapa? Kenapa kalian memiliki banyak musuh?"
"Kau akan tahu setelah memberi jawaban. Waktumu hanya sampai dokter sudah mengizinkan Abang pergi," balas Tiam dan bangkit dari posisi duduknya.
"Apa aku harus berpikir dua kali untuk menetap? Apa aku harus? Apa aku bisa meninggalkan keluargaku begitu saja?" Ucapan Hyeon membuat Tiam kembali duduk.
"Jadi, tinggal bersama kami adalah pilihanmu? Kau siap karir melukismu akan terganggu?"
__ADS_1
"Hyung tidak akan membiarkan aku terlantar,"
Tiam tersenyum, yang diucapkan Hyeon memang benar, bahkan sangat benar. Farel akan menjaga orang di sekitarnya segenap jiwa.
"Almighty, mafia itu Abang yang memimpin," ungkap Tiam pelan, namun masih mampu Hyeon dengar hingga matanya membola terkejut.
"Kau bercanda?!"
"Aku tidak bercanda. Mafia kami sedang dialihkan menjadi agen rahasia sebentar lagi, tapi hanya setengah,"
"Apa kalian akan membunuhku?"
Tiam terkekeh remeh, "Jika ingin, sudah sejak lama Abang membunuhmu,"
"Karaya tau kalian mafia?"
Tiam kembali terkekeh remeh, "Gadis anggun, manja dan lugu itu kami besarkan di tengah-tengah kekerasan mafia. Sejak kecil hidupnya sudah diintai pihak musuh,"
Hyeon kembali dibuat terkejut, "Pantas saja saat itu ia lihai bermain pistol. Aku tertipu dengan wajah lugunya,"
Getaran pada ponsel Tiam menghentikan percakapan mereka. Kening Tiam bergelombang saat mendapati panggilan tersebut dari Xander.
"Ken--"
"Kau di mana?! Pergi tidak pamit lagi?!" Sambar Xander yang menghadirkan helaan napas dari Tiam.
"Apa maksudmu dengan helaan napas itu?!" Amuk Xander.
"Aku pergi ke Korea, menemui Karaya dan menenangkan diri. Aku sedang putus cinta,"
Tiam mampu mendengar tawa remeh Xander yang amat menyebalkan di sebrang sana.
"Ayah terlalu meremehkanku, huh?! Sudahlah, jangan ganggu aku! Aku tidak akan pulang,"
"Aku tidak memintamu pulang, Bocah! Bagaimana Karaya? Aku menghubunginya tidak pernah aktif, Jong hanya bilang kalau dia baik,"
"Hal ini menambah masalah untukku. Karaya tidak ada, sudah dibawa pergi bersama Abang entah ke mana,"
"Apa maksudmu?!" Suara Xander terdengar serius.
"Sudahlah, Yah! Yang penting kita sudah tahu kalau Karaya aman bersama Abang. Aku mendapati surat yang Abang tulis di kamar Karaya. Ia minta kau tidak kepo,"
"Berkas Almighty tidak ada dan aku baru menyadarinya. Apa ini ulahmu?"
"Apa aku belum memberi tahumu?" Tanya Tiam berhasil membuat Xander semakin kesal. Anak keduanya itu pergi tidak bilang, Karaya dibawa pergi tidak cerita dan sekarang seolah-olah bodoh.
"Aku terlalu melepasmu belakangan ini ya, Altiam Atmaja?!" Tegas Xander membuat Tiam agak merinding. Kalau nama lengkap sudah terlontar, bisa diceramahi sepanjang hari nanti.
"Maaf, Abang mengambil dan membawanya sebelum pergi,"
"S*al! Aku sudah kecolongan setahun lebih!" Umpat Xander.
"Maaf, Ayah. Abang menyuruhku merahasiakannya," ucap Tiam pura-pura menyesal.
Xander berdecih, hapal dengan kelakuan anak-anaknya yang sering membuat naik darah.
"Yang penting berkas itu berada di tangan pemiliknya. Kau lekaslah pulang, aku akan memberimu pelajaran!"
__ADS_1
"Tidak mau! Aku tidak mau pulang! Hatiku masih sakit,"
Xander terkekeh, "Dasar bocah labil! Jaga dirimu baik-baik. Aku tidak mau melihatmu seperti anak terlantar. Jika ada waktu aku akan menyusul ke Korea,"
"Tidak perlu! Melihat wajah Ayah membuatku semakin kesal. Bye, Ayah! Aku menyayangimu!" Tiam dengan tidak sopannya memutuskan panggilan.
***
"Bocah Kampret!!" Kesal Xander menghempaskan ponselnya ke sofa.
Xander menyandarkan tubuhnya sambil menghela napas berat. Bohong jika ia tidak tahu semua tentang Tiam. Ia tahu kalau Tiam tidak di Korea, ia hanya tidak tahu sekarang Tiam di mana. Ketiga putranya, Farel, Tiam, Ley dan putrinya Karaya adalah kelemahannya, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika keempatnya sudah berucap.
"Apa Ayah sudah salah mengajarkan kalian? Kenapa kalian menutupi semuanya, bahkan dengan Ayah? Apa kalian tidak bahagia bersama Ayah?" Gumam Xander dengan air mata yang mulai menerobos pertahanannya.
"Ayah tau, Ayah bukan ayah yang baik, Ayah tidak bisa mendidik kalian dengan benar. Apa Ayah sudah salah dari awal sampai kalian membodohi Ayah?" Sebagai seorang ayah, Xander tidak bisa berbohong, bahwa kadang ia merasa tidak dihargai dan tidak dicintai oleh putra-putranya.
"Mas? Kenapa?" Xander tidak sadar kalau Mayang masuk ke ruang kerjanya.
Xander menghapus air matanya dan tersenyum pada Mayang. Ia menyuruh Mayang duduk di sampingnya.
"Tidak apa," ungkap Xander.
"Mas bohong! Cerita sama aku, aku ini istri Mas. Tempat Mas cerita, berkeluh kesah," Mayang dengan lembut mengusap wajah suaminya, membuat Xander kembali menitikkan air matanya. Kepalanya terjatuh di pundak Mayang.
"Apa aku bukan seorang ayah yang anak-anakku harapkan? Apa aku ayah yang gagal? Putra-putraku tidak mau terbuka padaku. Aku tahu Tiam mengetahui keberadaan Asz, tapi mereka tidak pernah mau cerita padaku. Mereka memang anak-anakku, tapi mereka tidak pernah menganggapku sebagai seorang ayah,"
"Tidak boleh seperti itu. Farel dan Tiam pasti punya alasan untuk semua yang mereka lakukan. Kamu adalah ayah yang terbaik untuk mereka,"
"AYAH!! MAMA!! LEY BELI MARTABAK!!" Ley masuk dengan suara berat berisiknya.
"Ayah kenapa? Kenapa Ayah menangis?" Tentengan yang Ley bawa ia jatuhkan begitu saja.
"Tidak papa, Ayah hanya sedang merasa rendah," jawab Mayang dengan senyuman.
"Asz dan Tiam?" Tebak Ley tepat sasaran, Xander tidak akan menangis jika bukan karena mereka.
Mayang mengangguk.
"Aku akan menghubungi Tiam! Menyuruh dia membawa Asz pulang! Lama-lama aku juga muak begini terus!" Ley langsung pergi menuju kamarnya sendiri, bersiap menghubungi Tiam dan mengamuk.
"***--"
"Dasar sialan! Kau tahu akibat yang telah kalian lakukan saat ini, hah?!" Ley langsung mengamuk saat panggilannya terhubung pada Tiam.
"Ap--"
"DI MANA OTAK KALIAN, HAH?! KALIAN ANGGAP AYAH APA?! TAHU TIDAK SEKARANG BAGAIMANA KEADAAN AYAH?! AYAH BEGITU MENGKHAWATIRKAN KALIAN! PADAHAL KALIAN BELUM TENTU MENGKHAWATIRKANNYA!" Teriak Ley yang untung saja kamarnya kedap suara dan berada dua lantai di atas ruang kerja Xander.
"DI MANA PERASAAN KALIAN?! TAHUKAH KALIAN AYAH MENANGISI KALIAN SEKARANG! IA MERASA RENDAH DENGAN TINGKAH KALIAN! IA MERASA TIDAK DIHARGAI! IA MERASA GAGAL MENJADI AYAH UNTUK KITA!!"
"PUAS KALIAN BUAT AYAH MENANGIS?! BAWA ASZ PULANG JIKA KALIAN BENAR-BENAR MENYAYANGI AYAH!"
"Aku akan pulang tiga hari lagi,"
"TIDAK USAH KEMBALI JIKA BEGITU! KALIAN HANYA MENOREH LUKA PADA AYAH!!" Ley langsung memutuskan panggilannya dan membanting ponselnya hingga hancur tak berbentuk. Pria yang sering tertawa itu kini sedang marah besar.
Tbc...
__ADS_1
^^^#as.zey^^^