
..."Mencintaimu membuatku banyak melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan. Namun aku sangat menikmatinya,"...
...Farel...
Saat ini adalah hari bahagia Xander dan Mayang. Tiga hari memang sudah berlangsung, bahkan kini pasangan baru itu sedang tersenyum bahagia di atas pelaminan, terlebih lagi Xander.
Para tamu bergiliran untuk menyalami mereka dengan banyak ucapan selamat serta doa, tentunya tak lupa dengan berfoto ria. Para tamu yang diundang Xander pun bukan sedikit jumlahnya. Sedikit informasi tentang pekerjaan Xander, pria ini adalah pemilik perusahan pembuatan kapal tempur terbaik yang sangat diminati setiap negara. Dengan begitu, Xander memiliki banyak kolega hingga keluar negeri.
"WOAAHHH!! Selamat untuk Ayah Xander dan Mama Mayang!! Sekarang aku tidak perlu khawatir kalau Ayah akan menjadi bujang lapuk dan pria impotent," ucap seorang pria datang bersama Farel setelah pelaminan sepi dari para tamu.
"Kurang ajar kau, anak kecil! Kau itu mau memberi selamat atau menghina, huh?!" Kesal Xander yang membuat pria itu tertawa.
"Aku bukan anak kecil, Ayah. Aku hanya dua tahun di bawah Asz,"
"Tetap saja kau bocah, Ley," ejek Farel dan tentunya membuat pria yang dipanggil 'LEY' itu mendengus kesal.
"Sudah, jangan ribut! Ayo, kita foto!" Lerai Mayang dan akhirnya berfoto ria-lah mereka dengan berbagai macam gaya. Kecuali Farel yang hanya tersenyum tipis di setiap jepretannya.
Drrttt Drrtttt
Suara panggillan dari ponsel Xander mengalihkan atensi mereka. Suaranya sungguh kuat, bahkan sang pemilik ponsel sampai terlonjak kaget.
"Hp mahal emang beda suaranya. Bisa buat speaker konser," cibir Ley yang dihiraukan Xander.
"Siapa?" Tanya Farel saat Xander menatapnya.
"Karaya,"
Farel mengangguk sekali, "Angkat aja!"
Xander mengangguk dan menjauh dari mereka agar pembicaraannya tak terdengar oleh Mayang. Meskipun Mayang sudah menjadi istrinya, identitas Karaya tetap harus disembunyikan dari semua orang. Itu adalah permintaan Farel.
"Asz, dia ingin berbicara denganmu," ucap Xander memberikan ponselnya dan diterima Farel, kini giliran Farel yang menjauh.
"Karaya siapa?" Tanya Mayang.
"Yang pasti bukan selingkuhanku," jawab Xander kelewat santai yang membuat Mayang mendelik kesal.
"Oppa!!! Miss you so much!!!" Teriak gadis bernama lengkap Ae Ri Karaya itu setelah Farel menyapanya.
"Too. Kamu baik-baik saja di sana?"
"Ya, aku baik di sini. Oppa tenang saja! Aku akan menjadi gadis baik agar Oppa cepat membawaku ke Indonesia untuk bertemu Papa," jawab Karaya dengan semangatnya tanpa tahu bahwa Farel kini sudah mengepalkan tangannya.
"Kamu begitu ingin bertemu dengannya Ae Ri?"
"Ya, tentu saja. Oppa tau bagaimana aku berusaha belajar bahasa Indonesia, menjadi gadis baik, agar nanti aku bisa bertemu Papa dan beribacara bahasa Indonesia dengannya,"
Farel hanya tersenyum miris. Dirinya tak punya nyali untuk mengatakan kebenarannya pada gadis manis itu.
"Bersabarlah Ae Ri!" Hanya kalimat itu yang mampu Farel ucapkan untuk menenangkan Karaya.
"Aku selalu bersabar dan percaya pada Oppa. Karena Oppa pasti tidak akan ingkar janji dan membawaku bertemu Papa,"
"Kau sudah makan? Bagaimana latihan melukismu?" Tanya Farel mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku sudah makan. Latihan melukisku juga sangat baik. Bahkan aku menjual hasil lukisanku. Dan kau tau, Oppa?"
"Apa?"
"Aku diminta membuat beberapa lukisan lagi oleh mereka,"
"Kau hebat, Ae Ri. Berusahalah! Tapi kau ingat waktu. Jika kau tidak menurut, a--"
"Neè, Oppa!! Aku tau! Kau akan memberiku pelatihan penerbangan dan aku tidak mau itu terjadi," potong Karaya yang disambut tawa ringan oleh Farel.
"Baiklah, aku akan menghubungimu nanti,"
"Okayy!! Aku menunggumu, Oppa!!"
"Kau jaga diri baik-baik, Ae Ri!"
"Neè," jawab Karaya dan Farel langsung menutup panggilannya.
"Karaya siapa, Rel?" Tanya Mayang saat Farel kembali, rasa penasarannya tidak mampu ditahan lagi.
"Yang pasti bukan selingkuhan Kakek Xander," jawab Farel membuat Xander dan Brexley alias Ley tertawa ngakak, sedangkan Mayang mendengus kesal.
"Kalian ini! Sama saja!" sungut Mayang semakin membuat mereka tertawa.
"Yah, gadis yang di sana itu siapa? Aku tidak mengenalinya," tanya Ley menghentikan tawa mereka dan terfokus ke arah yang ditunjuk pria muda itu.
"Yang mana?"
__ADS_1
"Gadis berkhimar merah muda. Yang sedang makan kue sendirian di pojok,"
"Ooh, itu," seru Xander melirik Farel dengan senyum jahilnya, sedangkan yang ditatap seperti itu sudah mendengus sedari tadi.
"Tanya saja pada Asz!"
"Hm? Kau mengenalnya Asz?"
"Teman adikku,"
Ley tersenyum senang, "Dia harus menjadi milikku!" Seru Ley dengan tekad penuh.
Wajah Farel yang sudah menyeramkan, semakin menyeramkan saat mata itu semakin menajam.
"Kenapa? Kenapa reaksimu begitu?"
"Tidak,"
Ley mengangkat bahu acuh dan hendak berlalu dari pelaminan.
"Kau mau ke mana?" Tanya Xander.
"Berkenalan dengannya, tentu saja. Apa lagi?"
Bugh
Farel meninju perut pria dihadapannya itu dengan tenaga yang bukan main. Menarik perhatian para tamu itu pasti, namun Farel tak menghiraukannya.
"Shhh kau ini kenapa? Perutku sakit asal kau tau!" Sungut Ley.
"Mine," tegas Farel membuat Xander, Ley dan Mayang yang mendengarnya terkejut.
"WHAT?!" Teriak mereka semakin tak peduli dengan tatapan para tamu.
"Kau.......??" Ley tak tau harus berkata apa. Ucapannya menggantung. Terlalu shock dengan pernyataan pria yang sudah seperti saudaranya itu.
"Kenapa reaksi kalian seperti itu?" Heran Farel.
"Apa kau Asz? Apa kau makhluk yang merasuki saudaraku? Makhluk jenis apa kau?" Tanya Ley yang disambut jitakan keras di keningnya.
"Pertanyaanmu seperti orang gila,"
"Ck, aku tidak percaya seorang Asz bisa menyukai perempuan. Kupikir kau tidak akan mengerti apa itu cinta,"
"Sia*an!" Umpat Farel dan berlalu dari pelaminan sebelum semakin dipermalukan.
"Si*l! Kenapa aku harus refleks mengatakannya?! Apa kau gila, Asz?! Mereka pasti akan semakin mengusilimu," sungut Farel dalam hati. Dirinya benar-benar malu. Merasa manusia paling terbodoh karena secara gamblang menyatakan gadis itu miliknya.
"Gus? Gus kenapa? Wajahnya, kok, merah?" Tanya Fisha saat Farel duduk di hadapannya.
"Mine," gumam Farel lagi tanpa sadar.
"Hah?! Apa Gus? Gus bilang apa?" Tanya Fisha membuyarkan lamunan Farel.
Beruntung Farel bisa mengendalikan ekspresinya dan menggeleng untuk memberi jawaban pada pertanyaan Fisha.
"Gus mukanya merah, kenapa?"
"Dia sedang malu," celetuk Ley mengambil duduk di samping Farel.
"Ck, pergi!" Kesal Farel.
"Tidak mau. Aku mau di sini dan berkenalan dengan gadis cantik berkhimar merah mu--- AKHH!!" Teriak Ley di akhir kalimatnya karena Farel dengan kuat menginjak kakinya.
"Eh?! Kamu kenapa? Kok teriak?" Panik Fisha.
"Ouhhh,, tidak, tidak apa-apa. Hanya digigit semut," balas Ley canggung.
"Beneran gak papa?"
"Hehehhe iya, tidak apa-apa. Aku Ley, lebih tepatnya Brexley. Kau?"
Fisha melirik Farel dengan tanda tanya. Seolah bertanya 'Ley siapa?', 'haruskah Fisha berkenalan dengan pria ini?'. Farel yang mengerti dengan tatapan itu hanya mengangguk dengan kesal.
"Fisha,"
"Ouh, salam kenal Fisha,"
"Hah?!" Heran Fisha. Jujur saja, gadis cantik ini kurang nyaman dengan keberadaan Ley yang ES KA ES DE.
"Dia saudaraku," jelas Farel memberi penjelasan yang lebih bagus.
"Ouh,, salam kenal juga,"
__ADS_1
"Kau cantik sekali,"
"Hah?! Eh, terima kasih," canggung Fisha.
"Ck, enyahlah kau sebelum aku yang melenyapkanmu!" Geram Farel bergumam dan hanya bisa didengar oleh Ley.
"Hahahha kau ini cemburuan sekali. Belum tentu dia mau jadi milikmu," ejek Ley dan pergi terbirit-birit saat tangan Farel tergerak untuk menghajarnya.
"Bocah sia*an!" Lagi-lagi umpatan terucap dari bibir menggoda iman itu.
"BAIKLAH!! MARI KITA SAKSIKAN PERSEMBAHAN DARI PASANGAN MUDA KELUARGA ATMAJA PRAWIRA!! ASZ DAN FISHA!!!" Teriak Ley menggunakan mic dari atas panggung hiburan. Ternyata perginya pria itu untuk mengerjai Farel lebih jauh.
Semua menyorot ke arah kedua makhluk berbeda kelamin itu. Farel sudah mengepalkan tangannya geram. Andai pria menyebalkan itu di hadapannya, sudah dipastikan dia sudah tak berkutik lagi.
"Sejak kapan Fisha pasangan sama Gus?" Tanya Fisha dengan polosnnya. Meski dengan nama Asz, keluarga Farel sudah tahu bahwa Asz itu adalah Farel.
Farel mengangkat bahunya dan berdiri dari duduk nyamannya, "Ayo!" Ajak Farel.
"Mau ngapain di sana?"
"Nyanyi. Ngapain lagi? Pargoy?"
Fisha menggeleng cepat dan segera mengikuti langkah Farel. Langkah mereka diiringi tepuk tangan gemuruh dan siulan dari RANDA.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu, Ley!" Bisik Farel.
"Ayolah, Saudara! Ini adalah kesempatan untukmu. Semoga sukses!"
"Dream!!"
"Nyanyi apa?"
"Cinta yang diam,"
"Oke," setuju Fisha dan mulai mengambil posisi gitaris, sedangkan Farel menduduki posisi drummer.
Alunan musik mulai terdengar, tak ada suara yang terdengar selain suara musik dan nyanyian mereka.
Pasangan itu menyanyi dengan kompak dan sangat serasi, bahkan saling melengkapi, membuat para tamu baper tak tertolong.
Farel mengakhiri pukulan drumnya sambil menatap Fisha, dan ternyata Fisha juga melakukan hal yang sama. Namun lagi-lagi keduanya tersadar bahwa itu dosa dan segera menundukkan pandangan.
Tepuk tangan bergemuruh sangat nyaring terdengar di ruangan besar nan megah itu. Teriakan-teriakanpun semakin memekakkan telinga Farel.
"CIAH!!! GAYA LO BERDUA MALU-MALU!!" Teriak Dylan.
"HAJARRR REL!! JANGAN BIARIN DIAMBIL ORANG!!" Teriak Adam.
"TEMEN GUE UDAH GEDE!! UDAH SUKA CEWEK!!" Teriak Yusuf.
"ABANG IPAR GUE UDAH START, NIH?!" Teriak Afnan ikut-ikutan mengompori.
"Mereka kenapa, sih, Gus?" Tanya Fisha heran.
"Gila. Ayo turun!" Ajak Farel lagi dan segera turun dari panggung.
Fisha lagi-lagi hanya menurut dan mengikuti langkah Farel. Namun, tanpa terduga, Fisha tersandung kabel dan hilang keseimbangan.
"AAAA!!" Teriak Fisha menutup mata, siap merasakan sakit dan menahan malu.
Farel berbalik badan saat mendengar Fisha berteriak dan segera menahan pinggang Fisha agar tak terjatuh.
Adegan itu terjadi seolah-seolah sedang ada aksi slowmotion. Semuanya menikmati adegan tegang sekaligus romantis itu dengan khidmat.
"Kok?!" Heran Fisha saat tidak merasakan sakit dan segera membuka mata saat indranya semakin mencium aroma menenangkan.
"GUS?!" Kaget Fisha dan segera mengubah posisi menjadi berdiri tegak.
"Ck, hati-hati! Ada yang sakit?"
"Eng-enggak. G-gak pa-pa," jawab Fisha gugup dengan wajah memerah malu.
"ADEGAN APA INI?! SEHARUSNYA AKU YANG ROMANTIS-ROMANTISAN!" Teriak Xander yang membuat mereka semua tertawa.
"HAHAHHAHA TEMEN GUE GESIT BANGET!" Ejek Dylan disambut ejekan-ejekan lain.
Farel berdecak untuk kesekian kalinya. Malu, kesal, marah, geram, senang, semua menjadi satu.
"Apes gue," gumamnya dan segera berlalu untuk meninggalkan acara itu. Penyebabnya tentu saja sudah tak mampu lagi menanggung malu.
Tbc.....
^^^#as.zey^^^
__ADS_1