
..."Aku tidak akan melupakan satu tempat pun yang aku lewati saat ini. Karena tempat ini adalah tempat persinggahanmu,"...
...Altiam...
Di tengah keramaian Paris, ada Farel dan Tiam yang ikut meramaikan. Kedua pria itu menaiki mobil Tiam dengan Farel sebagai pengendaranya. Farel benar-benar akan membawa Tiam untuk mengetahui kehidupannya yang sekarang.
"Apa Tuan hidup dengan baik di negeri orang ini?" Tiam bertanya dengan pandangan keluar.
"Aku harus hidup dengan baik bukan? Aku baik-baik saja di sini. Aku juga akan mengenalkanmu pada seseorang,"
"Siapa? Kekasih Tuan?" Tanya Tiam yang langsung mendapat lirikan sinis dari Farel.
"Kau akan tahu nanti. Kita jemput Ae Ri dulu,"
"Nona Karaya ke mana?"
"Bersekolah tentu saja. Hartaku masih banyak untuk menyekolahkannya,"
"Tidak perlu dijelaskan bahwa Anda sangat kaya, Tuan," sinis Tiam menciptakan senyum tipis di bibir Farel,
"Ae Ri sekolah melukis sekarang, malamnya ia akan home schooling, tepatnya setiap malam Rabu dan Jumat," jelas Farel tanpa diminta.
"Aku sudah menebak, Tuan tidak akan mengizinkan Nona Karaya sekolah umum. Tapi aku sedikit tenang sekarang karena Nona Karaya sudah Tuan izinkan bertemu banyak orang,"
"Dia dalam jangkauanku, jadi aku lebih tenang dan mengizinkannya,"
Mobil mereka berhenti di sebuah gedung besar yang jelas sekali bahwa itu sekolah. Sekolah itu tampak sangat ramai dengan warna, tentu saja, itu adalah sekolah melukis, tempat Ae Ri bersekolah.
"Gratter Le Lycée," gumam Tiam membaca nama sekolah tempat Ae Ri menuntut ilmu.
"Kau harus belajar bahasa Prancis, Tiam," ujar Farel saat melihat kerutan di dahi Tiam.
"Selama setahun ini aku belajar banyak bahasa asal Tuan tahu. Kulakukan untuk berjaga-jaga saat Tuan tak kutemukan di Korea,"
"Lalu ekspresi apa yang kau tunjukkan itu?"
"Nama sekolahnya aneh. Sekolah Menengah Atas Goresan,"
"Melukis kan memang menggores. Ayo turun, semua siswa sudah berlarian keluar," Farel keluar dari mobil yang diikuti oleh Tiam. Matanya tak berhenti mengedar sedari tadi memperhatikan sekolah megah itu. Tiam berniat menghapal semua yang menjadi kehidupan Farel saat ini.
"Oppa!!" Ae Ri berlari menghampiri Farel, ada seorang gadis bersamanya.
"Jangan biasakan berlari! Oppa tidak ke mana-mana, Ae Ri," tegur Farel saat ia membalas pelukan gadis cantik itu.
"Aku sudah tidak sabar bertemu Oppa," jawabnya dengan menyengir.
"Oppa Al memang selalu tampan," suara gadis dalam berbahasa Korea yang tadi bersama Ae ri membuat Farel menoleh. Orang-orang memang memanggil Farel dengan nama Al. Anggap saja itu nama Prancis seorang Farel.
"Pulanglah!" balas Farel dalam berbahasa Korea pula.
__ADS_1
"Tidak mau! Aku kan ingin melihat wajah tampan Oppa," jawabnya membuat Farel mendengus. Gadis itu adalah Kang Ha-Jin, dia adalah sahabat Ae Ri yang menyusul dari Korea dan selalu menggoda Farel.
"Apa dia yang ingin Tuan kenalkan padaku?" setelah melihat-lihat sebentar, Tiam menghampiri mereka.
"OMO!! OPPA TIAM!" Pekik Ae Ri memeluk erat tubuh tegap Tiam.
"Apa kabar Karaya? Kau tampak bahagia sekali," Tiam membalas pelukan gadis yang sudah seperti adiknya itu.
"Aku bahagia saat Oppa Farel sekarang bersamaku. Dan sekarang aku semakin bahagia saat melihat Oppa,"
Tiam tersenyum dan mengusap rambut panjang Ae Ri, "Aku juga senang bisa bertemu denganmu setelah sekian lama. Kau tumbuh menjadi gadis cantik,"
"Tentu saja, Oppa selalu membawaku ke salon," sombong Ae Ri membuat Tiam terkekeh pelan.
"Siapa dia, Karaya? Kenapa kau dikelilingi orang tampan semua?" Ha-Jin bertanya dengan menatap kagum pada Tiam.
"Dia Oppa-ku, Altiam,"
"Kau memiliki banyak oppa, Karaya," komentar Ha-Jin.
"Aku Ha-Jin, sahabat Karaya. Salam kenal Oppa Tampan,"
"Tiam," balas Tiam sigkat dan melirik Farel seolah bertanya ada apa dengan urat malu gadis itu.
"Dia memang tidak punya malu," jelas Farel yang tentu saja Ha-Jin tidak mengerti karena Farel berbahasa Indonesia.
"Pantas saja,"
"Dia sedang seminar, makan siang nanti dia akan pulang," jelas Farel membukakan pintu mobil untuk Ae Ri, Ha-Jin pun tanpa malu ikut masuk dan duduk di samping Ae Ri.
"Dia memang selalu seperti itu?" Tanya Tiam.
"Hm, rumahnya hanya berjarak tiga rumah dari rumah kami," jelas Farel dengan nada kesal dan masuk ke bangku pengemudi, begitu pula Tiam yang duduk di samping Farel.
Mobil mewah abu-abu milik Tiam kembali dibawa Farel dan meninggalkan perkarangan Gratter Le Lycée.
"Siapa Hyeon? Tampaknya Tuan banyak mengenal orang baru," Tiam kembali bertanya.
"Kau tidak mengenal Hyeon? Baek Hyeon,"
"Ti-- Baek Hyeon pelukis tercinta Karaya?" Tanya Tiam dengan rasa terkejutnya.
"Hm, dia tinggal bersama kami. Entah bagaimana bisa dia menjadi keluargaku dengan begitu mudahnya," jelas Farel malas.
"Banyak hal yang aku lewatkan," gumam Tiam.
"Kau akan tahu semuanya,"
"Tentu saja aku harus tahu!" Balas Tiam ngegas.
__ADS_1
"Oppa Tiam memang cemburuan," Ae Ri bersuara sambil tertawa.
"Tidak. Apa kau senang bisa bersama idolamu?"
"Tentu saja! Dia menjadi Oppa-ku sekarang," jawab Ae Ri dengan wajah berserinya.
"Aku senang kalau kau senang,"
"Kalian sedang membicarakan apa?" Ha-Jin bertanya dengan bingung.
"Bukan apa-apa," jawab Ae Ri dan setelahnya suasana di mobil itu hanya ada keheningan.
Mobil mereka berhenti di perumahan yang letaknya agak di ujung. Tempat di mana sekarang Farel berlindung dari segala cuaca dan musim. Tidak ada yang berubah dari awal Farel datang, rumah sederhana itu masih berwarna hijau.
Mereka berempat keluar dari mobil, terlihat seorang pria datang menyambut mereka di depan pintu, dia adalah Baek Hyeon, si pelukis terkenal idola Ae Ri yang selama setahun ini menjadi bagian hidup seorang Farel.
"Hyung, aku lapar," ucapan itulah yang pertama kali Farel dapat saat baru turun dari mobilnya.
"Kau memang tidak tahu diri," sinis Farel yang hanya disambut cengiran oleh Hyeon.
"Woah! Siapa pria yang bersamamu, Hyung?"
"Adikku, Tiam," balas Farel tanpa melihat Hyeon, dia sedang mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Kau tidak pernah memberi tahuku, Karaya juga,"
"Percuma kau tahu tapi tidak tahu wajahnya. Jangan banyak bersungut, aku akan masak untuk makan siang,"
"Okey, aku sedang ingin sushi," girang Hyeon namun disambut tatapan sinis oleh Farel.
"Aku Hyeon, kau pasti sering melihatku di siaran internasional," Hyeon mengulurkan tangannya pada Tiam, Tiam pun mau tak mau membalasnya.
"Altiam,"
"Kau sangat tampan meski tidak mirip dengan Hyung,"
"Tuan banyak bertemu dengan orang tidak waras sekarang," gerutu Tiam dalam hati.
"Jangan merusuh, Hyeon! Tunjukkan kamarku padanya agar dia bisa membersihkan diri," Farel bersuara dari dapur.
"Iya! Ayo, aku antarkan ke kamar Hyung. Karaya, ganti pakaianmu juga! Dan kau, Ha-Jin, pulang sana!" Tiam hanya diam dan mengikuti Hyeon, dirinya memang lumayan gerah dan perlu mandi.
"Aku akan membersihkan diri juga," jawab Ae Ri.
"Tidak mau! Aku kan mau melihat Oppa-ku!" Kesal Ha-Jin mengikuti Ae Ri ke kamarnya.
Tiam mengelilingi kamar Farel saat Hyeon meninggalkan dirinya sendiri. Tiam tersenyum saat melihat foto-foto Farel. Tuannya itu sangat menyayangi orang di sekitarnya. Setelah mengelilingi kamar sederhana itu, Tiam memutuskan untuk segera membersihkan diri.
Tbc...
__ADS_1
Gratter Le Lycée dibaca Gretter Li Lays. Nama sekolahnya jangan searching di Google ya😭
^^^#as.zey^^^