
..."Entah kenapa, fakta yang aku miliki dan cam*ukan ini tak sesakit saat aku melihatmu menangis karenaku,"...
...Farel...
"Siapa gadis itu, Nak?" Tanya Raima, sang umma.
Farel hanya diam dan kembali memeluk Raima dengan erat.
Tidak! Farel tidak mau mereka tahu siapa Ae Ri, gadis yang bersama Farel di foto itu.
"Percaya sama Farel. Farel gak salah," bisik Farel.
Raima melepas pelan pelukannya, "Umma percaya sama kamu. Tapi siapa gadis itu?"
"Umma cuma perlu percaya sama Farel tentang hal ini," balas Farel lagi, "Cuma untuk hal ini, Umma. Dan setelahnya, mungkin Farel akan merusak kepercayaan Umma dan Abah. Maaf," sambung Farel dalam hati.
"GUS FAREL HARUS DIHUKUM! BELIAU ITU CONTOH BAGI KAMI. TAPI KENAPA BERPERILAKU TIDAK SENONOH?!" Teriak seorang santri memprovokasi.
"IYA, BETUL ITU! GUS FAREL HARUS DICAM*UK!"
Santri yang lain bersahutan untuk meminta Farel dihukum cam*uk.
"Cam*uk?! Gak! Raima gak mau Farel dicam*uk! Raima percaya anak Raima gak akan melakukan hal itu!"
"Kita bisa mengabaikan permintaan mereka," ucap Hutama yang diangguki Abdullah.
"Tentu tidak bisa begitu, Om! Tidak adil bagi mereka," protes Zaki semakin memperkeruh suasana.
"Sa--"
"Om, siapkan cam*uknya!" Minta Farel pada Luqman memotong kalimat Farel.
"Gak! Apa-apaan?! Gue gak mau lo dicam*uk! Gue percaya lo gak salah," kesal Afnan yang diangguki yang lain.
"Mereka butuh keadilan," jawab Farel segera naik ke atas podium.
"LO GILA, YA, REL?! LO GAK SALAH KENAPA LO HARUS DIHUKUM?!" Teriak Dylan murka dan hendak menarik Farel agar turun, namun tangannya dicekal oleh dua santri. Begitu pula keempat RANDA yang lainnya.
"SIA*AN LO SEMUA, BANG*AT!" Umpat Dylan.
"TURUN GAK LO, REL?!" Afnan turut murka seraya berontak.
"AN*ING LO SEMUA! LEPASIN GUE!" Murka Yusuf.
"LO SEMUA GAK NGO*AK! OH, IYA, GUE LUPA. KALIAN KAN AN*ING!" Murka Adam.
"ARRGH SIA*
AN LO! LO PIKIR GUE SELEMAH ITU LAWAN LO BERDUA, HAH?!" Dylan berteriak dan mulai mengeluarkan ilmu bela dirinya. Jangan lupakan bahwa ia adalah anak geng yang bernaung atas pimpinan Farel.
Kedua santri itu jatuh tersungkur dengan luka lebam di wajahnya. Sedangkan Dylan sudah naik ke atas podium.
"TURUN GAK LO?! LO GAK SALAH DAN KENAPA LO PASRAH?! SEHARUSNYA LO LAWAN KALAU LO GAK SALAH! KITA UDAH PERCAYA SAMA LO!" Teriak Dylan. Bahkan pria humor itu mulai menangis. Mana tega dia menyaksikan sahabat seperjuangannya dicam*uk.
"Gue memang gak salah, Lan. Tapi gak sepenuhnya gue benar. Di foto itu benar, kalo itu gue dan gue gak menyangkal. Mereka perlu keadilan dari gue," jelas Farel.
"BIAR GUE YANG GANTIIN LO!" Teriak Afnan.
Farel menggeleng, "Gak perlu. Gue yang harus nanggung. Kalian gak tau apa-apa tentang ini,"
"KALAU LO DICA*BUK, KITA JUGA BAKAL DICAM*UK! IMPAS, KAN?!" Usul Adam.
"Kalau kita semua dicam*uk, siapa nanti yang bakal rawat gue?! Lo pikir kagak sakit?!" Balas Farel dengan kekehan pelan di akhir kalimatnya. Berharap perkataannya bisa menenangkan emosi para sahabatnya.
"MASIH A---"
"Kalian harus percaya sama gue! Untuk hal ini aja!"
"Tapi kita gak akan sanggup dan gak akan rela lo dicam*uk, padahal lo gak salah,"
__ADS_1
Keempat sahabat Farel itu menangis. Biarlah mereka dikatakan cengeng. Tapi mereka benar-benar tak sanggup menyaksikan Farel dicam*uk. Farel adalah sosok yang mereka butuhkan. Dan mereka tahu bagaimana sikap Farel.
"Percaya sama gue! Diam dan saksikan!" Tegas Farel membuat sahabatnya terdiam membisu.
"Kalian mau saya dicam*uk? Baik, saya akan dicam*uk. Berapa cam*uk?" Tanya Farel menggema di aula pesantren.
"LIMA BELAS CAM*UK!" Teriak mereka semua serempak menjawab. Peraturan pesantren memang begitu. Jika ada pasangan yang tidak mahram bersama, maka akan dihukum cam*uk.
"Kek, ayo rajam Farel!" Minta Farel pada Abdullah seraya memberikan cam*uk yang sudah diambilkan Luqman.
"Mana Kakek sanggup mencam*ukmu, Cucuku? Sungguh aku tidak sanggup dan tidak ridho. Sudahlah, jangan hiraukan para santri!"
Farel menggeleng, "Aturan tetap aturan! SIAPA YANG AKAN MENCAM*UKKU?"
"AKU BERSUMPAH! SIAPA PUN YANG MENCAM*UK FAREL, AKU AKAN MEMBUAT HIDUPNYA MENDERITA!" Teriak Dylan kembali murka.
"Aku akan dengan berbaik hati mencam*ukmu, Gus. Bagaimana?" Tanya Zaki dengan senyum smirknya.
"GUE TAU INI SEMUA AKAL-AKALAN LO, SIA*AN! LO GAK TERIMA, KAN, KALAU NAFISHA NOLAK LO DAN DEKET SAMA RANDA. TERUTAMA SAMA FAREL!" Teriak Yususf yang hanya dianggap angin lalu oleh Zaki.
"AN*ING LO, SIA*AN!"
"Silakan!" Suruh Farel melempar cam*uk itu dan segara membuka baju yang dipakainya sehingga menampakkan tubuh bagian atasnya.
"APA SANTRIWATI TIDAK PUNYA MALU? KENAPA KALIAN MASIH DI SINI?!" Teriak Farel membuat para santriwati segera keluar dari aula berbondong-bondong. Namun mereka tak sepenuhnya keluar. Ada yang mengintip dari jendela sambil berdesak-desakkan.
"Lakukanlah!" Suruh Farel pada Zaki yang sudah berdiri dibelakangnya.
Raima sudah menangis histeris di pelukan Hutama. Hutama pun juga menangis. Hanya saja ia mencoba tenang. Sebenarnya ia ingin marah. Tapi menurutnya itu percuma.
Abdullah dan Jamilah pun sama. Nia dan Zira juga histeris sambil berpelukan dengan Milea.
Nafisha? Gadis itu berdiri di bawah podium. Tepat di hadapan sang Gus, Farel. Air mata juga mengalir membasahi pipi chubby-nya. Dirinya merasa bersalah, karena ia dekat dengan Farel dan membuat Zaki membenci Farel.
Dari belakang podium, nampak dua lelaki dengan pakaian tertutup. Salah satu dari mereka mengepalkan tangannya merasa geram.
"Kita harus bagaimana, Tuan?" Tanya pria yang lain, dia adalah Tiam.
"Tidak bagaimana-bagaimana. Kalau aku maju, posisi cucuku semakin tersudutkan. Diam saja dulu!"
CTAAASS!!!
CTAAASSS!!!
Farel sudah mendapatkan dua cam*ukan di punggungnya. Farel tak menjerit kesakitan. Ia hanya meringis dan tersungkur berlutut. Tepat dihadapan Fisha. Jarak mereka hanya satu langkah.
"G-gus," lirih Fisha terisak-isak.
Entah kenapa, air mata Fisha lebih menyakitkan daripada luka dipunggungnya yang bahkan sudah berda*ah.
Farel tersenyum tipis. Seolah mengatakan bahwa ia tidak apa-apa.
Zaki semakin geram dengan interaksi Farel dan Fisha. Pria yang sebenarnya berstatus sepupu Farel itu, semakin mencam*uk kuat punggung Farel.
CTAAASSS!!
"ARGH!! UHUK!! UHUK!!" Teriak Farel yang belum siap mendapat cam*ukan berikutnya. Farel terbatuk da*ah, membuat semua panik.
"GUS?!" Teriak Fisha khawatir.
Farel menggeleng dengan senyum tipisnya, "Kenapa UHUK UHUK menangis? Kau tau? Air matamu lebih menyakitkan dari pada cam*ukan ini. Ma---"
CTAASSS!!
"ARRGHH SIA*AN!!" Teriak Farel kembali mendapat cam*ukan. Padahal dirinya belum bersiap untuk menerima cam*ukan selanjutnya.
"GUE AKAN BALAS SEMUA PERBUATAN LO KE FAREL! ITU JANJI GUE!" Teriak Dylan.
"SETELAH INI HIDUP LO GAK AKAN PERNAH TENANG, BA*ING*N!"
__ADS_1
"Berhentilah menangis, Nafisha!" Ucap Farel untuk pertama kalinya menyebut nama gadis itu.
"G-gus hiks kesakitan,"
CTAASSS!!!
"AKH!!" cam*ukan kali ini Farel tak meringis. Punggungnya sudah terbiasa ternyata dengan cam*ukan itu. Yang berteriak adalah Fisha dengan mata terpejam. Seakan-akan ia juga merasakan sakitnya.
Farel terkekeh. Dia merasa heran dengan dirinya. Hari ini rasanya ia sering menarik bibirnya untuk tersenyum meskipun tipis. Bahkan dia juga terkekeh.
"Aku yang dicam*uk kenapa kau yang berteriak?!" Kekeh Farel.
"Gus hiks pasti sakit,"
Farel menggeleng, "Berhentilah menangis! Aku tidak suka melihat air matamu," geram Farel memalingkan wajahnya dengan tangan mengusap mulutnya yang masih banyak mengeluarkan da*ah.
Empat belas cam*ukan sudah Farel dapatkan. Da*ah bercucuran di atas podium mengkilat itu.
Farel tersenyum devil dan mencoba berdiri untuk menerima cam*ukan terakhirnya.
"Empat belas dan,," hitung Farel menggantung dan berbalik menghadap Zaki yang hendak kembali mencam*uknya, lalu Farel berlari ke belakang Zaki dan men*ndang sepupu rahasianya itu dari belakang hingga jatuh terjembab ke bawah podium.
"Lima belas," ucap Farel tersenyum devil dan mengusap mulutnya yang masih mengeluarkan da*ah.
"Gue tau lo gak akan tinggal diam," lirih Adam terduduk lemas. Begitu pula Afnan, Yusuf dan Dylan.
Farel terkekeh sinis sebagai jawabannya dan turun dari podium menghampiri Zaki yang masih jatuh telungkup.
Dengan kasar Farel men*ndang perut Zaki, membuat pria itu berguling dan menjadi terlentang.
"Sia*an!" Geram Zaki.
"Lo yang sia*an!" Maki Farel meng*njak-in*ak perut Zaky hingga pria itu terbatuk-batuk.
Farel tertawa iblis, "Kenapa kau tidak melawan, hm?" Sarkas Farel dan dengan tidak manusiawinya meng*njak leher Zaki.
"ARGH!! LE-LEPHASKAN!!" Rintih Zaki memukul-mukul kaki Farel.
Farel lagi-lagi dengan tidak manusiawinya men*ekik Zaki dan meng*ant*ng Zaki secara paksa. Heran sekali. Seharusnya tenaga Farel sudah habis.
Farel semakin kuat men*ekiknya, membuat wajah Zaki pucat dan kakinya menendang-nendang angin. Farel pun tak menghiraukan teriakan mereka yang meminta Farel agar menghentikan aksinya.
"Ma--"
"Asz! Hentikan Azs! Posisimu semakin tidak aman nanti," ucap seseorang berbisik tiba-tiba datang dan menutup mata Farel agar amarah pria muda itu teredam.
Ce*ikan di leher Zaki mengendur dan akhirnya Farel melepaskan ce*ikan itu. Zaki terduduk lemas dengan terbatuk-batuk dan menghirup oksigen sebanyak mungkin.
"Dia sudah membuat Ummaku menangis," sarkas Farel membiarkan pria itu menutup matanya.
"Apa Ummamu saja yang menangis, hm?"
"Abah, Kakek, Nenek, Nia, Zira, RANDA. Lalu, apakah kau juga menangisiku, Kakek Xander?" Tanya Farel sudah melupakan amarahnya sementara waktu.
"Aku yang paling murka saat cucuku disakiti," geram pria itu. Dia adalah XANDER ATMAJA PRAWIRA. Mereka tak mengenal Xander. Di ruangan itu hanya Farel dan Tiam yang mengenalnya.
"Begitukah?"
"Diamlah kau, bocah nakal! Lihat gadismu terduduk lemas!" Xander menjauhkan tangannya dari mata Farel.
Farel menatap Fisha. Sekarang tak ada senyum di wajah Farel. Wajah datarnya kembali.
"Kurasa, pertahananku akan ambruk," lirih Farel terduduk dan tak sadarkan diri.
"FAREL?!"
"ASZ?!"
Tbc...
__ADS_1