Mysterious Gus

Mysterious Gus
#55. Off


__ADS_3

..."Awal kita akan selalu melakat dan tak akan terlupa, bahkan saat aku menutup mata."...


...Hutama...


Hampir satu jam Hutama pergi dan akhirnya dia kembali dengan banyak tentengan di tangannya. Setelah mengucap salam, Hutama segera menghampiri Abdullah, Jamilah, Raima dan Farel yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


Tentengannya yang banyak ia letakkan di hadapan Farel, membuat bocah cilik itu menatapnya bingung.


"Untuk Farel," ujar Hutama sambil mengusap rambut Farel.


"Dari mana aja kamu?" Tanya Jamilah sewot.


"Kenapa? Umi kangen?" Jawab Hutama dengan pertanyaan balik yang langsung dihadiahi tatapan julid dari sang umi.


"Ni apa?" Suara Farel kecil mengalihkan perhatian mereka. Terlihat Farel yang membuka bingkisan dari Hutama tadi.


"Mainan buat Farel. Ini lego, mobil-mobilan, motor-motoran," jelas Hutama membuat binar bahagia begitu terlihat dari mata Farel.


"Kamu beli setengah-setengah. Mobil beneran kek, motor beneran kek. Lah ini cuma mainan," komentar Jamilah.


"Iya juga, Tama suruh Sean buat beli," dan ternyata Hutama menyetujui dengan gampangnya.


"Eh, tidak usah, Pak!" Raima mencegah terlebih dahulu.


"Belinya pakai uang saya, terserah saya," jawab Hutama acuh dan berlalu dari ruang keluarga dengan ponsel yang menempel di telinganya.


"Udah, biarin aja! Uang Tama gak bakal habis buat beginian doang. Sayang kalo gak dipake duitnya," ucap Jamilah yang terdengar agak sombong.


"Raima gak enak, Mi. Ngerepotin,"


"Kalau Tama mau, berarti dia tidak merasa direpotkan," Abdullah membuka suara.


"Bener tuh, kata Abi. Ikut Umi, yuk! Kita masak buat makan malam. Soalnya hari ini kita makan sebelum maghrib,"


"Gih, sana! Biar Farel sama Abi,"


Beginilah situasi yang harus Raima hadapi sekarang, menjadi pusat perhatian. Setelah selesai memasak dan sholat ashar, Hutama mengajak ia dan Farel untuk berkeliling pesantren. Awalnya Raima menolak, namun dengan titah dari ibu ratu Jamilah, akhirnya Raima menurut.


Farel bergerak lincah di gendongan Hutama. Kepalanya sedari tadi tak berhenti melihat sekelilingnya, namun sesekali menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Hutama. Tampaknya Farel kecil mulai mau beradaptasi dengan lingkungannya.


"Di sana asrama putra, di sebelah baratnya asrama putri. Yang kita lewati sekarang tengah-tengah perbatasan. Lokasi tengah ini digunakan untuk semua kegiatan santri, seperti karate dan murojaah. Di bagian belakang itu ada aula sama, kolam renang dan lapangan berkuda juga memanah," jelas Hutama tanpa diminta.


"Lapangan berkuda?" dan tampaknya di antara semua penjelasan Hutama, bagian berkuda lah yang menarik perhatian Raima.


"Hm, pesantren ini menyediakan kegiatan berkuda. Sesuai dengan sunnah Rasul untuk mengajarkan anak berkuda, memanah dan berenang,"


"Bapak bisa semuanya?"


"Tentu saja. Dari kecil Abi sudah mengajarkan saya untuk menguasai itu semua. Mau lihat lapangan berkuda?"


"Boleh?" Hutama dapat melihat binar bahagia di mata yang biasanya teduh dan sendu itu, membuat ia merasa sulit untuk menolaknya, hingga anggukan lah yang ia berikan.


"Gus Hutama? Tumben sekali ke arena berkuda? Sudah lama sekali rasanya tidak melihat Gus mendatangi area ini," seorang pria menyapa Hutama saat mereka memasuki kandang kuda.


"Iya, Dil, saya baru sempat datang lagi. Kuda saya aman, kan?"


"Pastinya aman, Gus. Mau berkuda?"


"Iya, kasian Joy gak diajak gerak,"


"Bener tuh, Gus. Omong-omong, sama siapa ini Gus?"


"Pengen tahu aja kamu. Tolong bawa Joy keluar kandang. Saya mau ganti pakaian,"

__ADS_1


"Oke," pria itu pun menurut dan meninggalkan mereka.


"Dia Sadil, orang yang biasa mengurus kuda. Kamu tunggu di sini saja, saya bawa Farel ganti pakaian," ujar Hutama yang diangguki Raima.


Hutama dan Farel sudah siap dengan perlengkapan berkuda. Hutama tampak gagah dengan pakaiannya, sedangkan Farel tampak lucu dengan pakaian berkuda yang pernah Hutama pakai saat ia masih kecil.


"Farel gak papa dibawa?" Tanya Raima sedikit khawatir.


"Tidak papa," jawab Hutama dan mulai memacu kudanya yang membuat Farel bertepuk tangan kegirangan.


"Tenang saja, Mbak. Gus Hutama itu sudah ahlinya memacu kuda. Beliau juga kadang mengajari santri memanah sambil menunggang," Sadil bersuara dengan ramahnya, sedangkan Raima hanya mengangguk dengan tatapan tak lepas dari dua pria berbeda generasi yang sedang bahagia memacu kuda itu.


"Saya Sadil, Mbak. Perawat kuda di sini," Sadil kembali berusaha berbincang dengan Raima.


"Saya Raima,"


"Mbak ini siapanya Gus Hutama kalau saya boleh tau,"


"Jangan mencercanya, Sadil! Tinggalkan saja kami," Hutama menegur tindakan Sadil saat ia merasa bahwa Raima tidak nyaman dengan pria itu.


"Maaf Mbak, Gus. Kalau begitu saya tinggal, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


"Kalau tidak nyaman itu bilang, paling tidak coba untuk menghindar. Orang tidak akan tahu dengan perasaan kamu kalau kamu diam saja," omel Hutama.


"Kan ga—AAAA PAK! AWAS JATUH!" ucapan Raima berganti dengan teriakan panik saat Hutama memacu kencang kudanya, terlihat kuda itu hampir jatuh karena terpeleset.


Hutama tertawa, begitu pula dengan Farel. Sepertinya kedua pria itu senang melihat wajah panik Raima. Farel pun terlihat sangat menikmati laju kuda yang dikendalikan Hutama, tawa bahagia tak luntur dari wajah tampannya.


"Umma kamu parnoan," kekeh Hutama yang padahal tak dimengerti oleh Farel.


"Assalamu'alaikum," seorang gadis datang yang membuat kegiatan mereka terhenti.


"Gus dipanggil Umi. Katanya ada asisten Gus yang datang," jelas gadis itu yang diangguki Hutama.


"Masih ada lagi? Kenapa masih ada di sini?" Tanya Hutama setelah beberapa saat gadis itu tak kunjung pergi.


"Ah, maaf, Gus. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumusalam,"


"Calon istri Bapak?" Raima memberanikan diri untuk bertanya.


"Calon istri dari mana? Saya gak punya calon," sewot Hutama.


"Soalnya dia ngeliatin Bapak agak gimana gitu,"


"Kenapa? Kamu cemburu?" Tanya Hutama gamblang yang disambut wajah kaku oleh Raima.


"Sean pasti udah bawa pesanan saya. Saya ganti pakaian dulu," ucap Hutama dan langsung berlalu bersama Farel meninggalkan Raima.


"Kamu itu bawa hp apa susahnya sih, Tam?! Kasian Nisa tadi pasti keliling nyariin kamu," omelan itu langsung menyapa mereka saat memasuki ndalem.


"Ribet Mi, lagian Nisa juga gak banyak komen. Umi aja yang berlebihan," Hutama sungguh anak yang tidak punya akhlak.


"Tuan, barang yang anda minta sudah saya bawa. Ada di depan tadi," ujar Sean menengahi debat antara boss dan ibunya itu.


"Iya, saya sudah lihat tadi. Terima kasih,"


"Sama-sama, Tuan. Ada yang perlu saya kerjakan lagi?"


"Tidak, kamu bisa kembali. Sekalian bawa berkas yang ada di atas meja kerja saya. Juga, atur jadwal saya untuk tiga hari, saya tidak akan masuk,"

__ADS_1


"Baik, Tuan,"


***


Malam ini Hutama benar-benar ikut dengan Abdullah untuk i'tikaf di masjid bersama santri. Memang bukan bulan Ramadhan, tapi itu memang kegiatan yang Abdullah terapkan setiap akhir bulan.


Masjid itu terlihat penuh meski berjarak. Semua fokus pada ngaji juga zikirnya. Tapi berbeda dengan Hutama. Pria itu tampak gelisah di duduk bersila menghadap Tuhan-nya. Pikirannya terus mengarah pada Farel kecil yang sudah ia tinggal beberapa jam lalu.


"Gak bisa kayak gini. Aku gak tenang," gumam Hutama dan langsung berlalu meninggalkan masjid tanpa berpamitan pada sang abi, mungkin ia tak mau mengganggu.


Benar saja perasaan Hutama. Dari luar ndalem, dia sudah bisa mendengar suara tangis yang amat memilukan. Kakinya semakin bergegas untuk bisa melihat kondisi Farel.


"Assalamu'alaikum," ujarnya masuk dengan wajah khawatir yang begitu kentara.


"Wa'alaikumussalam,"


"Kamu kok pulang?" Tanya Jamilah heran.


"Kepikiran Farel terus," jawab Hutama mengambil alih Farel dari ibunya.


"Kebangun?" Tanya Hutama yang dijawab anggukan oleh Raima.


"Kamu tidur aja sama Umi. Farel biar sama saya," ujar Hutama dan membawa Farel menuju kamarnya.


"Anak itu memang sesukanya saja. Ya udah, ayo tidur sama Umi!" Jamilah langsung menggandeng Raima untuk tidur. Sudah jelas sifat sesukanya Hutama itu menurun dari Jamilah.


"Kenapa nangis, hm? Sama saya aja okey? Jangan menangis lagi, nanti matanya bengkak loh, jadi sipit, susah liat. Mau?" oceh Hutama yang tampaknya berhasil membuat Farel berhenti menangis.


"Nah, begini kan pintar,"


"Ma," ujar Farel dengan sisa sesenggukannya.


"Umma sama Nenek, Umma gak papa. Farel sama saya aja mau? Bobo saya peluk,"


"Iya,"


"Good boy," Hutama pun langsung merebahkan tubuhnya dengan Farel berada dekapannya hingga tak berselang lama, kedua manusia itu memasuki alam mimpinya.


"HUTAMA PRAMAYUDHA! BANGUN KAMU!" suara melengking itu tiba-tiba saja menarik Hutama dari tidur nyenyaknya. Tubuh atletis itu menggeliat pelan.


"Bentar lagi, Mi. Jangan teriak, Farel masih tidur," suara serak Hutama menjawab dan ia kembali tertidur, membuat Jamilah berdecak kesal.



"Bangun kamu! Gak liat Raima nangis, huh?!" ucapan Jamilah berhasil membuat Hutama meninggalkan dunia mimpinya. Netranya langsung menoleh melihat Raima yang ternyata berdiri di samping sang umi dengan air mata dan senyuman.


"Kenapa nangis?" Tanya Hutama.


"Pertama kalinya saya lihat Farel sangat menikmati tidurnya. Bahkan saat Umi berteriak pun tidak terusik sama sekali," jawab Raima terus menatap putranya yang masih tertidur nyaman.


"Raima," panggil Hutama membuat Raima menoleh.


"Menikahlah dengan saya!"


Flashback Off


Hutama tersenyum mengingat kisah beberapa tahun silam itu. Saat satu hari yang mengubah semua kehidupannya. Tentang Raima yang menggetarkan hatinya dan tentang Farel yang menjadi pelengkapnya.


Air mata pun membasahi pipi Hutama. Cerita itu memang sangat melekat di hati Hutama. Terlebih saat ia mengajak Raima menikah dengan keadaan yang baru saja tersadar dari alam mimpi. Tidak ada romantisnya sama sekali. Bahkan saat itu Raima mengira dirinya mengigau.


"Kalian ada poros kehidupanku. Tapi setengah poros itu sedang menjauh, tak tahu ke mana perginya. Farel, Abah sangar merindukan kamu, Nak. Cepat pulang! Abah dan Umma sangat menanti kepulangan kamu dari suatu tempat yang tidak kami ketahui," gumam Hutama menatap brooch pemberian Altiam.


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2