
..."Aku melihatmu yang tersenyum manis tapi menangis penuh keputus asaan hingga akhirnya aku tertarik kembali dari alam bawah sadarku,"...
...Farel...
4 Years Later...
Menjalani hidup di dunia ini, tidak akan pernah berhenti sampai Tuhan memanggil. Sebahagia atau sesedih apapun manusia, ia tak akan bisa memutar, menghentikan dan melajukan waktu. Karena semua sudah Tuhan tetapkan dengan sebaik-baiknya.
Untuk Fisha pun tak terkecuali. Dengan waktu yang tak singkat, Fisha menahan rasa rindunya terhadap Farel. Rindu yang membuncah itu Fisha rasakan dengan banyak pengalaman dan perjalanan baru.
Di waktu yang tak singkat itu, Fisha sekarang sedang menjalani kehidupannya sebagai dokter koas. Yaps, perjalanan untuk menjadi dokter memang tidak mudah dan tidak sebentar. Tapi bagi Fisha, menjadi dokter bedah tak sesulit menunggu Farel.
"Sorry, Sha, gue telat," Fisha menoleh pada Clara dengan senyuman. Mereka memang sudah bersahabat sekarang, namun Fisha tak pernah sedikitpun bercerita tentang Farel. Clara pun tak mempermasalahkannya.
"Gak papa, Ra. Mama kamu udah pulang?" Clara memang terlambat untuk shift malamnya karena kehadiran sang mama yang agak membuat rusuh.
Clara menghela napas lelah, "Udah. Stress gue gegera Mama,"
Tepukan bahu Fisha berikan pada Clara, "Aku pulang dulu kalau gitu," Fisha menggantung jasnya dan meraih tas.
"Lo pulang sama siapa? Ini udah malem banget,"
"Jalan kaki juga bisa. Rumahku kan gak jauh, paling dua puluh menitan,"
"Gak mau gue pesenin ojol atau taxi?"
"Gak perlu. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati lo!"
"Ziep!!"
Fisha langsung keluar dari kamar untuk para koas. Tubuhnya ingin disirami air dingin untuk menghilangkan penat.
Berjalan di malam yang sudah menunjukkan pukul 10 memang agak mengerikan untuk berjalan seorang diri bagi Fisha, tapi rasanya malam ini Fisha ingin sendiri untuk beberapa waktu.
"Akhh!!"
Tubuh Fisha menegang saat suara itu terdengar di indra pendengarannya. Kepala Fisha langsung menoleh ke sebuah gang kecil yang terlihat gelap dan menyeramkan, gang itu adalah asal suara tadi terdengar.
"Akhh--mpuun!!"
Semakin ketakutanlah Fisha, terlebih saat mendengar tawa seseorang yang seperti sedang mengasah sesuatu.
"Siapa di sana?" Tanya Fisha gagu, menambah kesan horror yang ada.
"Ada yang ingin menyerahkan nyawa ternyata," suara itu mendekat, membuat Fisha berjalan mundur saking takutnya.
"T-tolong!!" Suara lain menyahut, menambah kebimbangan Fisha. Menolong orang itu tapi nyawanya juga terancam atau kabur dengan selamat tapi orang itu terancam.
__ADS_1
"Akhh!!"
Fisha terpekik kaget saat tiba-tiba tubuhnya dit*rik dan dipaksa masuk ke sebuah mobil.
"Tiam?!" Orang yang menariknya ternyata adalah Tiam. Pria itu langsung melajukan mobilnya tanpa sepatah kata.
"Kita harus nolongin dia, Yam! Dia dalam bahaya," minta Fisha.
"Aku udah nyuruh orang. Kamu kenapa malam-malam jalan sendirian?! Bahaya buat kamu!"
Kepala Fisha tertunduk, "Lagi mau sendiri,"
"Tapi gak begini caranya, Fisha! Sekarang kamu dalam bahaya, orang tadi mungkin aja bakal ngincar kamu,"
Fisha hanya diam, sadar dia memang salah.
"Besok aku akan minta Ley untuk menemanimu tanpa celah. Aku akan mengurus orang itu,"
"Iya,"
Setelahnya hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Tiam yang fokus menyetir dan Fisha yang sibuk dengan pikirannya.
Tiam baru kembali dari New York tiga hari lalu dan berniat mengunjungi Fisha setelah dia menyelesaikan urusannya di Bandung. Untung saja tadi Tiam melihatnya, kalau tidak, mungkin Fisha akan ikut mati bersama orang yang menjadi korban pria psikopat itu.
Tiam selama empat tahun ini memang selalu bolak-balik Indo-New York. Terlebih dengan kondisi Farel yang tidak pernah ada perkembangan selama ini. Pria itu masih betah berada di alam bawah sadarnya selama empat tahun. Terkadang Tiam lelah dan putus asa dibuatnya.
"Kamu gak mampir?" Tawar Fisha.
Fisha mengangguk, "Terima kasih, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Setelah memastikan Fisha masuk ke rumahnya, Tiam langsung melaju kencang menuju apartemen yang ia punya di Bandung. Ia akan dengan mudahnya mencari tahu identitas pria psikopat yang hampir membahayakan Fisha tadi.
"Aiden Aslen,"
Senyum smirk terukir menyeramkan di bibir Tiam. Identitas pria psikopat itu mampu Tiam temukan hanya dalam waktu dua jam.
"Nama yang bagus," puji Tiam sesaat, kemudian menyesap kopinya.
"Aku sudah seberusaha mungkin, Bang. Pria itu sangat hebat jika mampu menemukan celah kecil yang aku berikan untuk menemukan Fisha. Jika ia mampu, aku akan lepas tangan dengan apa yang terjadi ke depannya. Aku sudah sangat kesal dengan tidurmu yang panjang," monolog Tiam sebelum menjemput alam mimpinya.
"Arrggh! Si*l! Siapa yang menelpon tengah malam begini?!" Batal sudah kegiatan Tiam memasuki alam mimpinya saat mendapat panggilan masuk.
"Kenapa? Kau mengganggu tidurku, Jong! Abang tidak akan kenapa-kenapa, dia pasti sedang asik dengan tidur panjangnya," oceh Tiam.
"A-altiam,"
Tiam terperanjat kaget dan langsung terduduk. Suara itu, Tiam amat mengenalnya meski sudah empat tahun tidak mendengarnya.
__ADS_1
"Aku akan ke sana sekarang!" Tiam bergegas mengambil kunci mobil dan melaju menuju bandara tanpa mengganti piyamanya.
Wajah Tiam yang tadinya lelah berubah menjadi berseri. Senyum manisnya begitu menawan meski matanya memerah pertanda ada air mata yang menggenang.
"Terima kasih, Ya Allah, Engkau telah mengembalikan Abangku,"
***
Tiam baru sampai di New York, Amerika Serikat, keesokan sorenya. Ini untuk pertama kalinya Tiam menyesal membawa Farel ke New York. Penerbangannya lebih lama dibanding ke Paris.
Masih dengan pakaian piyama yang acak-acakan, Tiam berlari menuju ruang VVIP di mana Farel tidur selama ini. Ia sudah tidak sabar untuk memeluk tubuh Farel yang sekarang begitu kurus.
"ABANG!!" Tiam mendobrak pintu hingga membangunkan Farel yang sedang tertidur sambil memeluk Karaya.
Farel menoleh, senyumnya terlihat begitu indah dan mengobati rindu Tiam.
Tiam ikut tersenyum dengan air matanya. Dengan tidak sabaran, Tiam langsung memeluk Farel yang berbaring.
"Kenapa lama sekali?! Aku buta tanpa Abang," adu Tiam.
"M-maaf," pinta Farel terbata. Empat tahun tertidur tanpa melakukan aktivitas, membuat Farel kaku dalam berbicara.
Tiam menggeleng, masih betah memeluk Farel, "Yang penting Abang udah bangun dan gak akan ninggalin kita lagi,"
"Ak-ku se-senang ka-u **-tidak ku-rrussan,"
Tiam mendongak dan tersenyum, "Aku tidak mau Abang melihatku kacau saat terbangun," ujar Tiam yang dihadiahi usapan kaku dari Farel di kepalanya.
"Dokter bilang apa tentang Abang?" Tanya Tiam beralih pada Jong yang duduk di sofa sudut kamar.
"Dokter bilang, sebuah keajaiban Tuan Asz bisa bangun lagi. Kondisi Tuan Asz juga baik. Tapi Tuan Asz memang mengalami kelumpuhan sementara," jelas Jong.
Tiam mengangguk, ia sudah tahu kalau Farel akan lumpuh. Selama koma pun, dokter memberikan gerakan-gerakan kecil pada kaki Farel agar tidak lumpuh total.
"Tuan Asz hanya perlu melakukan beberapa terapi rutin. Kemungkinan dalam waktu dekat, kakinya bisa kembali digerakkan," Tiam kembali mengangguk.
"Apa yang membuat Abang bangun? Karena ancamanku?" Tanya Tiam mendudukkan tubuhnya di samping bangsal besar Farel.
Kening Farel berkerut, tidak mengerti maksud perkataan Tiam tentang ancamannya.
"Masih ingat Fisha?" Farel mengangguk kecil, mana mungkin dia melupakan orang yang ia cintai.
"Kemarin Fisha melihat psikopat. Mungkin psikopat itu akan mencari Fisha. Aku sudah menutupinya, tapi meninggalkan sedikit celah. Pria itu hebat kalau bisa menemukan celahku,"
"Kau mem-ba-hayakan Na-nafisha,"
"Aku tidak tahu harus bagaimana, Abang tidur terlalu lama tanpa peduli keadaan kami bagaimana, keadaan Fisha bagaimana. Aku berharap, setelah Abang bisa jalan, kita kembali ke Indonesia. Umma Raima sakit-sakitan sekarang,"
"Lihat na-nti,"
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^