Mysterious Gus

Mysterious Gus
#50. Hutama Flashback


__ADS_3

..."Semua ingatan berputar pada titik awal. Di mana Allah mempertemukan kita untuk pertama kalinya,"...


...Hutama...


Sekarang Tiam berada di sebuah perusahaan besar, yang tentunya itu adalah milik Hutama. Perusahaan besar itu bergerak di bidang teknologi yang diberi nama ACE Corp. Kerja samanya tentu saja sudah mencapai luar Indonesia, alias internasional.


Tiam langsung masuk ke lift menuju lantai di mana ruangan Hutama berada. Setelah beberapa langkah keluar dari lift, ia di hadapkan dengan meja sekretaris Hutama.


"Selamat siang, ada yang bisa dibantu?" Tanya sekretaris Hutama sopan.


"Saya mau ketemu Pak Hutama,"


"Apa sudah ada janji?"


"Tidak,"


"Kalau begitu, Bapak bisa menunggu terlebih dahulu sampai tamu Pak Hutama keluar,"


Tiam berdecak kesal. Sedikit menyesal karena harus meladeni pertanyaan sekretaris Hutama. Tanpa banyak bicara lagi, Tiam langsung saja masuk ke ruangan Hutama yang membuat sekretaris cantik itu panik.


"Pak!" Panggilnya menyusul Tiam.


Sama yang Tiam lakukan saat menemui Xander, ia dengan tidak ada akhlaknya langsung masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, membuat dua pria yang sedang dalam kondisi serius itu mengalihkan perhatiannya.


"Maaf, Pak. Bapak ini memaksa masuk, padahal sudah saya larang," sekretaris Hutama menunduk takut.


Tiam memutar bola mata jengah dan dengan acuh memilih duduk di sofa sudut ruangan. Kaki kanannya pun sudah bertumpu di kaki kiri. Tak lupa dengan tangan yang dilipat di depan dada, layaknya seorang boss. Tiam memang sesukanya saja.


"Tidak apa. Kembalilah bekerja!" Balas Hutama yang dituruti sekertarisnya.


"Saya rasa, penawaran kalian lumayan menarik. Akan saya pertimbangkan," ujar Hutama pada tamunya.


"Saya tunggu kabar baiknya dari Bapak," tamu Hutama mengulurkan tangannya dan disambut baik oleh Hutama.


"Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih atas waktunya,"


"Sama-sama. Silakan, sekretaris saya yang akan mengantar anda,"


Tiam bangkit dari duduknya dan pindah ke hadapan Hutama setelah tamu itu pergi. Hutama hanya tersenyum melihat tingkah Tiam, ia sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Tiam.


"Kamu dari mana saja? Xander sangat mencemaskanmu kemarin karena pergi tidak memberi kabar," Hutama memulai pembicaraan.


"Aku ke Korea. Ayah saja yang panikan. Padahal sudah biasa aku ke Korea,"


"Jangan kebiasaan pergi tanpa pamit, tidak baik," pesan Hutama yang hanya diangguki Tiam.


"Aku bawakan oleh-oleh," Tiam memberikan satu bingkisan.


Sama seperti yang Xander lakukan, Hutama langsung membuka bingkisan itu yang ternyata isinya adalah sebuah brooch. Brooch itu tiba-tiba mengingatkan Hutama pada seseorang.

__ADS_1



Sekedar informasi, Hutama adalah seorang CEO yang gemar mengoleksi dan memakai brooch. Tiam pun tahu dari Farel dan brooch itu sebenarnya pemberian dari Farel.


"Terima kasih, brooch-nya sangat bagus," ujar Hutama tulus.


"Bagus kalau Om suka. Aku tidak bisa lama-lama karena harus ke Bandung mengantarkan oleh-oleh untuk Fisha,"


"Tidak mau makan atau minum dulu?"


"Tidak perlu, aku sudah makan tadi. Titip ini untuk Tante, Nia, Zira dan Abil," Tiam memberikan beberapa bingkisan lagi.


"Tidakkah ini terlalu banyak?"


"Tak masalah, uangku masih banyak," sombong Tiam membuat Hutama terkekeh.


"Baiklah, akan Om berikan. Sekali lagi terima kasih,"


"Bukan apa-apa. Aku juga titip untuk RANDA. Terlalu malas menemui mereka yang sekarang sering sibuk dengan kuliahnya," lagi, Tiam memberikan bingkisan pada Hutama.


"Akan Om berikan,"


"Baiklah, aku langsung pergi," ujar Tiam sambil mencium tangan Hutama.


"Hati-hati, istirahatlah dulu kalau kamu lelah,"


"Iya, assalamu'alaikum,"


"Kamu di mana, Nak?" Gumam Hutama menatap nanar brooch itu.


Flashback On


18 tahun lalu in Bandung...


Saat itu, Hutama masih berusia 21 tahun, namun ia sudah menangani sebuah perusahaan. Perusahaan itu adalah milik om-nya yang diberikan untuknya karena sang om yang meninggal karena penyakit jantung dan tak memiliki istri, apa lagi keturunan.


Hari itu, Hutama mendapat kabar dari asistennya, Sean, bahwa sekretaris baru untuknya sudah mulai bekerja. Hutama sedang mencari sekretaris baru karena yang lama resign.


Sambil menunggu sang sekretaris menghadap dirinya, Hutama sibuk dengan tumpukan berkas yang kurang belaian. Kaca mata baca yang bertengger di hidung membuat ia semakin terlihat tampan.


Tok Tok Tok


Suara ketukan itu membuyarkan fokus Hutama, ia yakin itu adalah Sean dan sekretaris barunya.


"Masuk!" Suruh Hutama dan nampaklah sepasang manusia.


"Ini Tuan, sekretaris baru anda. Sesuai dengan kriteria yang sudah anda tetapkan," ujar Sean to the point.


"Perkenalkan, Saya Raima, Pak,"

__ADS_1


Ya, sekretaris Hutama adalah Raima. Hutama menatap wanita itu dari atas sampai bawah. Entah apa yang ada di pikiran Hutama, tapi ia merasa senang melihat Raima. Sedangkan Raima yang diperhatikan seperti itu hanya menunduk guna menjaga pandangan.


"Boleh juga, sesuai dengan permintaan saya. Kerja bagus, Sean," puji Hutama pada asistennya.


"Terima kasih, Tuan. Kalau begitu, saya pamit undur diri. Semua jadwal Tuan sudah saya beri pada Raima,"


"Ya," hanya itu balasan yang Hutama berikan dan Sean benar-benar meninggalkan Raima bersama Hutama.


"Kamu sudah tahu saya, bukan?" Tanya Hutama memulai percakapan.


"Tahu, Pak. Hutama Pramayudha adalah nama Bapak," jawab Raima masih dengan menunduk.


"Bisa bacakan schedule saya?"


Raima mengangguk dan mulai membacakan jadwal Hutama dari iPad yang sedari tadi ia genggam.


"Kamu bisa panggil saya nanti saat meeting mau dimulai,"


"Baik, Pak. Saya permisi,"


"Silakan!"


Hutama terus menatap kepergian Raima hingga pintunya kembali tertutup. Hutama lumayan senang dengan sekretaris barunya. Sopan dan tahu aturan, sesuai dengan kriterianya.


Setelah buyar dari lamunannya, Hutama kembali menyibukkan diri dengan para kertas dan tulisan yang sebenarnya agak menyebalkan untuk Hutama.


Berjam-jam Hutama sibuk dengan kegiatannya hingga akhirnya dengan terpaksa fokusnya harus buyar ketika pintu dibuka secara kasar dan menampakkan wajah panik Raima.


Hutama yang tadi kesal tidak jadi marah karena melihat ekspresi panik dari sekretaris barunya itu, "Ada apa?" Tanya Hutama.


"Maaf, Pak, saya harus pulang, anak saya tiba-tiba demam di rumah. Saya gak masalah kalau Bapak pecat saya di hari pertama saya kerja. Saya permisi, Pak. ***--"


"Saya antar," sela Hutama segera memakai tuxedonya dan mengambil kunci mobil.


Hutama memang sudah tahu tadi dari pesan singkat Sean, bahwa sekretaris barunya adalah seorang single mommy, dan ia tak mempermasalahkannya sama sekali.


"Tidak perlu, Pak. Saya akan merepotkan. Lima belas menit lagi Bapak akan meeting. Saya sudah menyiapkan ruangan dan berkasnya,"


"Meeting tidak penting, yang terpenting sekarang itu adalah anak kamu. Ayo!" Hutama berjalan lebih dulu dan Raima berjalan di belakangnya.


Hutama juga tak mengerti kenapa dia bisa merasa sangat simpati pada Raima yang padahal statusnya adalah orang baru dalam hidupnya. Ia memang memiliki rasa simpati, tapi tidak biasanya dia seperti ini.


Hutama dan Raima masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan nyaman, Hutama langsung melajukan mobilnya, dan tentu saja setelah Raima memberi tahu alamat rumahnya.


Tbc...


Jadi sekarang tuh, kita menyelami gimana dulu awal Hutama sama Raima dan Farel sampai akhirnya mereka jadi keluarga.


I hope you enjoy for this part:)

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2