
..."Dia adalah cahaya dalam gelapnya hidupku dan aku tentu akan menjaga cahaya itu untuk tetap bersinar terang,"...
...Farel...
...***...
Setelah penjelasan Farel dan Tiam selesai, semua serentak mengangguk sambil menghela napas lega.
"Gus Farel ngomong apa sama Papa?" Fisha masih penasaran, menurutnya penjelasan tadi belum selesai.
"Rahasia Papa dan Farel," Amar menatap putrinya misterius.
"Kamu kenapa bisa di kursi roda?" Gantian Hutama yang bertanya.
"Empat tahun lalu identitas Farel terbongkar dan diserang. Dada Farel tertusuk pisau beracun dan koma. Saraf kaki dan tangan juga melemah,"
Raima dan Fisha membeku mendengarnya. Ternyata mimpi mereka sungguhan, bahwa Farel tidak baik-baik saja.
"Berarti mimpi Umma dan Fisha waktu itu benar?"
"Mimpi apa?"
"Kamu kesakitan, ada pisau di dada kamu,"
Farel tersenyum tipis dan membawa sang umma dalam pelukannya, "Farel udah baik-baik aja. Sebentar lagi bisa jalan,"
Raima menggeleng lirih, masih terus menangis, "Umma sakit lihat kamu. Kamu kesakitan dan minta tolong sama Umma, tapi Umma gak bisa berbuat apa-apa untuk anak Umma,"
"Umma udah berbuat yang terbaik. Gak ada yang lebih baik dibanding doa Umma," Farel memberikan senyum hangatnya hingga senyum itu menular pada Raima.
"Ayah, kenapa dia menatapku seperti itu?" Bisikan Karaya itu masih mampu mereka dengar. Terlihat Karaya merasa risih dilirik oleh Nia.
"Karena kamu cantik,"
"Tapi dia seperti tidak suka deng--"
"Kamu yang beberapa tahun lalu ada di foto itu, kan?!" Sela Nia.
"Foto apa?" Heran Karaya.
"Foto beberapa tahun lalu saat kita pergi ke konser Rich Brian," jelas Farel yang hanya di 'oh' kan oleh Karaya.
"Aku Ae Ri Karaya, senang bertemu denganmu,"
Nia menatap tak suka pada Karaya, "Karena lo, Abang dicambuk waktu itu!" Dengan lancang Nia menunjuk wajah Karaya.
"Dicambuk? Apa itu?" Seumur hidup mengerti bahasa Indonesia, Karaya belum pernah mendengar bahasa itu.
Nia tersenyum sinis, "Gak usah ngelak lo! Gak usah pura-pura bodoh!"
"Nia, tidak boleh seperti itu!" Teguran halus Farel berikan.
"Kenapa Abang belain dia?! Dia yang udah buat Abang menderita!" Perkataan Nia mampu menghunus perasaan Karaya.
"Abang rasa, selama ini Abah dan Umma tidak pernah mengajarkan kamu berbicara kasar seperti itu, Rafania," Farel menatap Nia nyalang.
Mata Nia berkaca-kaca mendapat teguran seperti itu dari Farel. Ini pertama kalinya Farel marah padanya.
"Abang udah gak sayang sama Nia!" Kesal Nia hendak pergi.
"Abang tidak menyuruh kamu pergi! Duduk di tempatmu, Nia!" Tegas Farel membuat Nia kembali duduk dengan linangan air matanya.
Farel menghela napasnya, kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing. Ia hampir saja kelepasan.
"Ck! Di mana pria itu?! Lama sekali!! Kau sudah memanggilnya kan, Tiam?!" Geram Farel, suasana tiba-tiba menjadi sangat mencekam.
"Sudah, sebentar lagi pasti dia akan tiba,"
"Dia siapa? Kau mengundang si--"
"FAREL!!"
Mereka menoleh saat ada orang lain yang memasuki ruang keluarga. Di sana ada Adji dan istrinya, tak lupa anak laki-lakinya yang sampai kini belum Farel tahu namanya.
__ADS_1
Adji melangkah cepat menuju Farel, "Kamu dari mana aja? Papa nyariin kamu," seru Adji.
Farel membuang muka, sedikit menyesal dengan keputusannya untuk meminta Adji datang.
"Papa?!" Karaya bangkit dari duduknya, menatap lekat pada Adji yang kini juga menatapnya.
"Kamu siapa?"
Farel berdecih, "Siapa lagi kalau bukan anakmu?!" Suara Farel meninggi, membuat semua terkejut, minus Xander dan Ley.
Sekarang gantian Adji yang menatap Karaya penuh penyesalan dan berkaca-kaca.
"Selama ini Papa mencarimu," lirih Adji.
"Papa? Untuk apa kau mencariku?!" Farel, Tiam, Xander dan Ley terkejut dengan perkataan Karaya. Tak ada lagi wajah sendu gadis itu. Hanya ada raut kebencian dari wajah cantik nan lugunya.
"Karaya, ada apa?" Xander lekas berdiri dan memeluk Karaya.
"Bukankah kamu memang ingin bertemu dengannya?" Karaya menggeleng.
"Aku hanya ingin melihat wajahnya! Seperti apa rupanya hingga ia berani menyakiti Oppaku! Hingga ia tega meninggalkan aku dan Eomma! Aku akan mengingat wajahnya dan membencinya hingga mati!" Karaya histeris.
"Ae Ri, kamu mendengar Oppa?" Farel berjalan perlahan dibantu oleh Fisha.
"Aku sudah tidak mau lagi bertemu dengannya. Ternyata sesakit ini rasanya, Oppa," Karaya beralih memeluk Farel dan menangis sesenggukan di dada bidang itu.
Mata Farel terpejam dan setetes air mata muncul dari sana. Ia sama seperti Karaya, sakitnya sama seperti Karaya, rapuhnya bahkan lebih rapuh dari Karaya.
"Maafkan Oppa, seharusnya Oppa tidak pernah membawamu ke mari," sesal Farel, namun tak ditanggapi Karaya.
"Maafkan Papa, Papa tidak ber--"
"Lebih baik kau diam! Penjelasanmu tidak berguna sekarang!" Murka Xander. Sebagai seorang ayah, tentu ia ikut sakit melihat putra dan putrinya tersakiti.
"Ae Ri masih mendengar Ayah?" Xander mengusap rambut Karaya.
"Aku lelah," lirih Karaya.
"Farel temani Ae Ri dulu," kembali dibantu oleh Fisha, Farel mengikuti Xander ke mana ia membawa Karaya.
"Bergabunglah dengan yang lain. Saya akan menyusul," pesan Farel pada Fisha dan ikut berbaring di ranjang.
"Apa aku menyusahkan Oppa? Menyusahkan Ayah juga? Apa aku menyulitkan kalian?" Tanya Karaya terdengar begitu pilu.
"Ae Ri adalah gadis baik, tidak pernah menyusahkan Oppa dan Ayah. Ae Ri adalah berlian yang harus Oppa dan Ayah jaga," Farel dengan sayang mengusap rambut Karaya.
"Benar yang dibilang Oppa. Nia hanya sedang cemburu dan takut Oppa tidak menyayanginya lagi," tambah Xander.
"Aku rasa, kedatanganku membuat keadaan semakin runyam,"
"Kata siapa? Ae Ri adalah penyemangat untuk Oppa,"
"Aku mau minta sesuatu pada Oppa dan Ayah,"
"Karaya mau apa? Seperti biasa, Ayah pasti akan mengabulkannya jika itu baik,"
"Bawa aku kembali ke Korea,"
Farel dan Xander saling bertatapan sendu. Karaya mereka semakin terluka.
"Baiklah, Oppa akan membawa Ae Ri kembali ke Korea. Tapi sebelum kembali, tentu Ae Ri harus menghabiskan waktu lebih dulu dengan Eonni? Apa Ae Ri mau memberi kenangan buruk untuknya?" Bujuk Farel.
Karaya tampak berpikir, perkataan sang oppa ada benarnya juga.
"Baiklah," putus Karaya tersenyum manis dan semangat membayangkan ia menghabiskan waktu bersama eonni-nya, Fisha.
Farel dan Xander tersenyum lega. Gadis mereka kembali tersenyum manis.
"Sekarang Ae Ri tidur dulu, besok kita lanjut bicara. Pasti Ae Ri sudah lelah hari ini,"
Karaya mengangguk, "Selamat malam Oppa dan Ayah!"
"Selamat malam Princess," mereka bergantian mencium kening Karaya dan menunggu gadis itu hingga tertidur.
__ADS_1
"Aku sakit melihatnya kesakitan," adu Farel.
"Rasa sakit itu pasti akan tiba, dan hari ini adalah harinya. Kita tidak bisa mengelak lagi, tugas kita hanya selalu berada di sisinya,"
"Aku sangat mencintainya, melebihi nyawaku sendiri,"
"Ayah juga mencintainya, mencintai kamu, Tiam dan Ley. Kalian adalah anak-anak Ayah yang hebat," usapan di rambut Xander berikan untuk Farel.
"Ayo kita kembali, malam ini semuanya harus jelas!"
Farel mengangguk dan ikut turun dari ranjang setelah kembali menyematkan satu ciuman di kening Karaya.
"Bagaimana keadaannya?" Serobot Adji tak sabaran.
"Bagaimana lagi? Dia hancur dengan fakta yang ia punya, kalau papa kandungnya adalah pria bejat sepertimu,"
"Karaya tadi putri Adji? Bagaimana bisa?" Heran Hutama.
"Pria ini! Setelah bercerai dengan Raima, ia ke Korea dan memperkosa Ae Ri Iseul, ibu Karaya," jelas Xander membuat mereka merasa tidak percaya.
"Dia memang sebejat itu!" Kesal Ley.
"Jadi, Bang Farel dan Karaya adalah saudara seayah?" Wajah Nia penuh dengan penyesalan.
"Iya. Selama ini kami menyembunyikannya di Korea,"
"Bagaimana dengan Iseul sekarang?"
"Masih punya nyali untuk bertanya bagaimana keadaan Iseul?! Menurutmu bagaimana dia setelah kau perk*sa?!" Marah Xander.
"Eomma sudah meninggal sejak Ae Ri lima tahun," Farel menjawab dengan tenang, namun reaksi Adji jauh dari kata tenang.
"Bagaimana mungkin?!"
Farel memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Tiam panik dibuatnya.
"Kenapa? Dada Abang sakit lagi?" Tiam berjongkok di hadapan Farel. Sekarang tidak hanya Tiam yang panik, tapi semuanya.
"Tidak apa, hanya nyeri seperti biasa,"
"Ck, sudahi semuanya! Kurasa malam ini masalah kita sudah selesai dengan jelas! Kalau masih kurang jelas, berarti mereka yang bodoh!" Kesal Tiam.
"Saya rasa, kehadiran anda sudah tidak diperlukan lagi dan anda tidak punya kepentingan lagi. Silakan pulang! Pintu utama ada di sebelah sana," Hutama menunjuk arah pintu utama, Adji beserta keluarga pun mau tidak mau harus hengkang dari kediaman Pramayudha.
"Istirahatlah, aku akan antar obat dan koper ke kamar," Tiam berlalu untuk mengambil obat dan koper Farel yang masih ada di mobil.
Farel kembali duduk di kursi rodanya dan akan dibawa menuju kamar lamanya. Kali ini ia pasrah, dadanya terasa lebih nyeri dibanding sebelumnya. Meski lukanya sudah sembuh, masih ada sisa racun di tubuhnya. Farel pun setiap sakit pasti selalu merutuki Jemmy yang sudah membuatnya begitu.
"Ae Ri bagaimana?" Tanya Farel mengingat keadaan Karaya.
"Ayah akan menemaninya bersama Ibu. Kau istirahatlah bersama Fisha," Xander memberi senyum menggoda, membuat semburat merah terlihat di pipi Fisha.
Farel bodo amat, ia hanya mengangguk, "Panggil aku kalau Ae Ri mencari,"
"Hm,"
"Abah, Umma, Farel istirahat," izin Farel.
"Istirahatlah yang benar. Kalau gak bisa tidur, panggil Abah atau Umma,"
"Iya,"
"Mana mungkin dia tidak bisa tidur. Secara sudah punya istri sekarang," goda Xander.
"Janggan menggoda! Jaga saja Ae Ri!" Kesal Farel dan akhirnya menuju ke kamarnya bersama Fisha.
Tbc...
Aku kalau ingat Karaya, sedih banget jadinya:)
BTW Malam pertama uhuy😂
^^^#as.zey^^^
__ADS_1