
..."Kuharap tak akan ada kebohongan yang lain lagi. Aku tidak mau kebohongan ini membuat aku menjauhimu karena merasa berdosa,"...
...Altiam...
...
...
Dua hari berlalu dan Tiam menuruti perkataan Farel, bahwa dalam dua hari ia akan kembali ke Indonesia. Selama dua hari itu, benar-benar Tiam manfaatkan sebaik mungkin. Menjelajahi kuliner, berbelanja, mengelilingi Paris, bahkan menemani Farel kunjungan rutin ke psikiater. Tiam bahagia selama dua hari ini.
Sekarang, satu jam setelah Tiam tiba di Indonesia, ia langsung menuju kantor Xander, X'Combat Corp. Di tangannya terdapat beberapa bingkisan berisi oleh-oleh, lebih tepatnya titipan Farel.
Kaki jenjang itu melangkah menuju Meeting Room seperti yang telah diberi tahu oleh sekretaris Xander. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Tiam langsung masuk begitu saja. Pria itu terkadang memang kekanakan dan sesukanya saja.
Semua atensi yang tadinya fokus, beralih pada Tiam. Sedangkan yang menjadi objek utama hanya acuh dan duduk di kursi milik asisten Xander yang saat ini posisi pemiliknya sedang berdiri.
"Kita sudahi meeting hari ini. Kalian bisa keluar!" Xander memberikan titah dan dalam hitungan menit ruangan itu hanya menyisakan Xander juga Tiam.
"Kau dari mana saja? Pergi tidak memberi kabar sama sekali, keberadaanmu tak bisa dilacak sama sekali. Kau mau membuatku mati jantungan karena mencemaskanmu, hah?!" Xander memulai khutbahnya. Memang saat Tiam pergi tanpa kabar, Xander sudah seperti orang kesetanan dan merasa lebih tenang setelah orang di Korea memberi tahu, bahwa Tiam di Korea.
Padahal itu semua tidak benar, hanya alibi.
"Aku hanya mengunjungi Karaya. Sudah biasa aku menemuinya, kan? Kenapa Ayah begitu khawatir?"
Xander yang tadinya masih ingin mengomel menjadi lebih tenang setelah mendengar panggilan 'ayah' dari Tiam. Sama seperti Farel, Xander pun akan luluh saat Tiam sudah pada mode anak, bukan lagi mode atasan dan bawahan. Tiam benar-benar tahu cara merayu Xander, dan bagi Xander itu agak menyebalkan.
"Bagaimana kabar Karaya?"
"Dia baik, sempat menanyakan kabar Ayah,"
"Ayah masih belum bisa menemuinya,"
"Syukurnya Karaya mengerti,"
"Kau juga bertemu Asz bukan?"
__ADS_1
Tiam menggeleng tegas, "Aku sudah tidak tahu lagi di mana keberadaannya. Satu tahun lalu aku hanya mengantarkan Abang ke bandara dengan tujuan Korea. Tapi saat aku ke Korea kemarin, aku tak menemui keberadaannya,"
"Karaya tau Asz pergi?" Xander percaya begitu saja.
"Kurasa tidak, terbukti dengan Karaya yang baik-baik saja meski sempat menanyakan Abang yang tak pernah menemuinya hampir setahun ini. Tapi, kata Karaya, Abang selalu menghubunginya dengan nomor yang acak setiap harinya,"
Xander mengangguk mengerti, "Mungkin dalam waktu dekat aku akan mengunjunginya,"
"Kurasa Ayah tidak akan bisa,"
"Kenapa?"
"Karaya minta pindah sekolah. Dan dia akan tinggal di asrama, akan sulit untuk menemuinya. Terlebih lagi, Karaya minta pindah ke sekolah di sudut kota yang terpencil,"
"Lalu kau mengizinkannya? Bagaimana dia nanti? Dia akan bertemu banyak orang, Tiam! Dan apa katamu tadi? Tempat terpencil? Bagaimana nasib anak gadisku nanti, Altiam?" Panik Xander. Xander ini hanya covernya saja yang dingin dan kalem, tapi aslinya jika menyangkut Farel, Tiam, Ley dan Ae Ri, pria itu bisa cosplay layaknya emak-emak.
"Bagaimana bisa aku menolaknya jika ia sudah merengek dan memelukku selama aku bersamanya? Ayah tenang saja, aku sudah mengirimkan orang untuk mengawasi. Lagi pula, lingkungan di sana lebih aman untuk Ae Ri. Aku sudah mengeceknya sendiri,"
"Aku serahkan padamu kalau begitu. Yang penting Karaya harus selalu baik-baik saja. Kau pulang dan istirahatlah!"
"Aku masih harus mengantarkan semua oleh-oleh. Ini untuk Ayah," Tiam menyerahkan satu bingkisan pada Xander dan Xander langsung membukanya.
...
...
"Ayah bisa gunakan jika mau membunuhku,"
Xander menatap Tiam tidak suka, "Aku bukan Ayah yang mau membunuh anaknya. Belati ini terlalu bagus untuk membunuhmu," sarkas Xander di akhir kalimatnya.
"Tentu saja. Belati itu terbuat dari emas di gagang dan mata belatinya. Gunakan untuk melakukan hal terhormat,"
"Ck, tanpa kau suruh Ayah sudah tahu akan menggunakannya pada siapa saja,"
__ADS_1
"Aku hanya memberi saran, bukan menyuruh," elak Tiam sambil meletakkan satu bingkisan lagi di atas meja.
"Itu untuk Ibu dan Eil. Sampaikan salam pada Ibu kalau aku belum bisa berkunjung,"
"Iya. Lekaslah mengantar itu semua dan pulang untuk istirahat,"
"Aku akan menemui Om Tama di kantornya. Setelah itu ke Bandung menemui Fisha bersama Ley,"
"Tidak besok saja? Kau pasti lelah,"
"Bukan masalah,"
Xander akhirnya hanya bisa mengangguk, "Kau berhati-hatilah. Jangan lupa untuk makan!"
"Ya, aku pergi, assalamu'alaikum," Tiam dengan hormatnya mencium tangan Xander. Jangan salah, Tiam selalu mencium tangan Xander saat ia akan pergi.
"Wa'alaikumussalam. Suruh Ley yang membawa mobilnya," pesan Xander sambil mengusap rambut lebat Tiam. Hanya anggukan yang Tiam berikan dan setelahnya ia meninggalkan Xander.
"Aku tahu kau berbohong, Tiam. Aku yakin, kau menemui Asz, baik itu benar di Korea atau tidak. Padahal, aku tidak akan lagi memaksamu untuk memberi tahu keberadaan Asz,"
"Entah apa rencana kalian, aku tidak tahu. Tapi aku percaya kalian anak yang baik untukku. Kupercayakan berkas Almighty pada kalian,"
Xander terus membatin dengan pikiran berkelana tak tentu arah. Tangannya dengan lihai memainkan belati barunya, tak peduli tangannya bisa saja tergores.
"Maaf Ayah, sekarang banyak kebohongan di antara kita. Tapi akan kupastikan, hanya ini kebohongan yang terjadi di antara kita, setelahnya tidak lagi. Dan aku tahu, Ayah pura-pura percaya padaku. Maafkan aku, Ayah. Aku akan menjelaskannya nanti, setelah Abang pulang,"
Tak berbeda jauh dengan Xander, Tiam pun bergelut sendiri dengan pikirannya. Ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya. Tak hanya itu, ia juga merasa berdosa. Padahal dosa yang ia lakukan ada yang lebih parah dari pada berbohong pada Xander. Tapi mengingat kembali, bahwa Xander adalah sosok ayah bagi Tiam. Wajar saja ia merasa berdosa.
Terkadang dalam mencintai seseorang, kita banyak memilih jalan yang salah hanya demi tujuan untuk kebaikannya.
Padahal bagi mereka, apa adanya jauh lebih baik, meskipun itu suatu hal yang menyakitkan.
Dan dalam kasih sayang, tak perlu memaksakan kehendak. Tak perlu saling memaksa untuk berkata jujur. Percaya atau tidak, ia akan mengaku secara sendirinya dan ia akan merasa bersalah dengan perlakukan dustanya.
Karena ia akan selalu merasa, kasih sayangnya telah ternoda dengan cara yang salah meskipun tujuannya baik.
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^