Mysterious Gus

Mysterious Gus
#31. Surat Farel


__ADS_3

..."Jangan pergi jika tugasmu saja belum selesai. Apa kamu adalah orang yang tidak bertanggung jawab hingga dengan seenaknya ingin pergi?"...


...Unknown...


Hari semakin larut dan perasaan semakin kalut. Itulah yang dirasakan oleh keluarga Farel saat ini. Semua yang berkumpul tadi pagi tak berkurang satu pun, justru bertambah dengan hadirnya Xander dan Mayang.


Perasaan aneh mereka pagi ini berlanjut setelah mendapati Xander dan Mayang yang bertamu sejak tadi siang dan mengatakan bahwa Farel tak mengunjungi rumah mereka. Bahkan Farel dan Tiam tak bisa dihubungi.


"Bukankah Asz sudah biasa seperti ini?" Xander bertanya dengan santai seolah semua biasa-biasa saja, padahal hatinya tak tenang sedari tadi. Bahkan pria itu mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Farel dan Tiam.


"Iya, tapi kali ini perasaanku tak baik," jawab Hutama dengan fokus pada ponselnya.


"Tuan!" Suara bariton itu membuat Xander bangkit dari posisi duduknya. Terlihat anak buahnya yang datang dengan tergesa.


"Sudah menemukannya?"


"Tidak, Tuan. Kami hanya menemukan lokasi terakhir Tuan Tiam,"


"Di mana?"


"Rumah utama, tepat pada pukul sepuluh pagi tadi?"


Xander menggeram marah, "Anak itu memanipulasi! Jelas tadi pagi dia tidak terlihat sedikit pun!"


"Assalamu'alaikum," suara itu mengalihkan perhatian mereka dan mendapati Tiam yang masih lengkap dengan pakaiannya tadi pagi.


BUGHH!!


Satu tinjuan menyambut kehadiran Tiam, tentunya itu berasal dari Xander yang sedari tadi sudah menahan emosinya.


Tiam tak membalas dan hanya mundur beberapa langkah karena tinjuan itu. Rasa sakit dan darah di sudut bibirnya pun dia abaikan.


"Apa aku mendidikmu untuk melakukan hal semacam ini?! Apa aku mengajarkanmu untuk membohongiku?!" Geram Xander.


"Tidak," jawab Tiam tegas tanpa takut.


"LALU KENAPA KAU MELAKUKANNYA?! KAU MENGKHIANATIKU, HUH?!" Murka Xander dan kembali meninju Tiam.


"Tidak begini caranya, Xander! Kendalikan emosimu!" Mayang bersuara, namun tak diindahkan oleh Xander. Amarah benar-benar menguasai pria itu.


"Tidak pernah ada niat untuk mengkhianati Tuan Xander," Tiam kembali bersuara.


"Lalu kenapa kau melakukannya padaku?! Apa maksudmu?! Di mana Asz?!"


"Aku memang tidak pernah ada niat mengkhianati Tuan Xander, tapi aku akan mengkhianati Tuan Xander jika Tuan Asz yang memintanya. Karena dia adalah Tuanku yang sesungguhnya, bukan anda,"


BUGH!!


BUGHHH!!

__ADS_1


Kali ini dua pukulan yang Xander berikan, bahkan tubuh pria muda itu sudah jatuh ke lantai.


"Katakan apa yang terjadi! Aku benci kau yang berbelit. Di mana Aszku?!"


"Aku sudah mengatakannya, Tuan. Aku tidak akan mengkhianati Tuanku, bahkan jika anda membunuh saya,"


"Apa kau pikir aku tidak sanggup membunuhmu Altiam?!"


Tiam tersenyum tipis, "Tentu saja tidak. Tuan mampu membunuh saya. Hanya Tuan Asz yang tidak mampu anda bunuh,"


"Katakan apa yang kau sembunyikan?!"


"Aku hanya menuruti permintaan Tuanku," Tiam bangkit dari posisi tersungkurnya dan memberikan amplop hitam yang dititipkan Farel saat di bandara pagi tadi.


"Dan Tuan Asz memintaku untuk memberikan itu pada kalian,"


Hutama langsung merebut amplop itu dan membukanya.


"Surat?" Heran Hutama segera membaca suratnya dengan lantang agar yang lain mampu mendengarnya.


Assalamu'alaikum


Kalian pasti membaca surat ini saat malam, jadi kuucapkan, selamat malam! Semoga malam kalian adalah malam yang indah.


Abah, Umma, Farel pergi sebentar. Kalian jaga kesehatan. Abah tolong jaga Umma untuk Farel. Farel harap, Farel bisa kembali dan bertemu Abah Umma lagi, juga dengan Nia, Fiza dan baby yang sekarang masih di perut Umma. Jangan khawatir tentang Farel, Farel akan baik-baik aja.


Adik-adik Abang, sekolah yang baik dan jadi gadis penurut. Nanti harus jadi kakak yang baik, hm? Kalian Abang serahin ke RANDA dan GREXDA. Nurut sama mereka, ya, kesayangan Abang!


Hai, Kakek Tua! Jangan pernah mencariku! Aku akan kembali jika aku ingin. Urusi saja dirimu dan berikan aku adik baru! Aku takut kau bertambah tua dan tidak mampu lagi berproduksi hahahaha. Jaga Ibu untukku! Itu adalah tugasmu! Bunuh saja Altiam jika kau berani! Setelahnya kau tidak akan pernah menemukanku lagi.


Sup yang paling enak adalah sup buatan Ibu Mayang. Siram saja Kakek Tua itu dengan kuah sup jika dia macam-macam. Aku harap, Ibu bersedia menemani Umma agar tidak kesepian.


Kamu, ingat pesanku! Bahwa kamu adalah nomor dua setelahku dan kamu berhak atas mereka.


Sampai jumpa di lain waktu. Omong-omong, aku sudah menyiapkan nama yang bagus untuk calon adikku. Jika bersedia, gunakanlah nama itu. Aku simpan di laci kamar.


Salam,


Shaquille Alfarel Pramayudha


Assalamu'alaikum


"KAU BAWA KE MANA ASZKU?!" Teriakan Xander menggema setelah surat itu dibaca dengan lantang. Air matanya mulai membasahi pipi, begitu pula dengan yang lain.


"Anda tidak memiliki hak untuk mengetahuinya, Tuan," Tiam menjawab dengan santainya.


"ARRGHH!! SI*L!" Umpat Xander.


"Tugas saya sudah selesai, saya pamit undur diri," Tiam menundukkan kepalanya dan langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


"Kenapa Farel pergi?" Pertanyaan dari Hutama menghentikan langkah Tiam.


"Apa lagi kalau bukan karena pria yang sayangnya berstatus ayah kandungnya?" Tiam menjawab dengan pertanyaan balik.


"Oh, ya, Tuan Asz juga berpesan untuk Tuan Xander agar tidak berbuat yang senonoh pada pria sialan itu," Tiam berujar dan akhirnya pria itu benar-benar pergi.


"Bocah sia*an!" Xander sudah mengumpat untuk yang kesekian kalinya.


Di sisi lain, Tiam kini berada di taman. Terlihat bahunya naik turun pertanda pria itu menangis sesenggukan.


"Apakah anda dapat merasakannya Tuan? Mereka juga terpukul dengan pilihan Tuan. Saya harus bagaimana sekarang? Kenapa anda membiarkan saya sendiri menghadapi keluarga Tuan? Terlebih lagi pria tua itu! Apa anda tau? Tubuhku sudah lebam karena ulahnya. Mungkin dia akan membunuhku jika Tuan tidak berpesan padanya," Tiam berceloteh dengan isaknya. Pria kaku itu benar-benar rapuh sekarang.


"Apa saya boleh menyusul, Tuan?"


"Mau nyusul ke mana? Ngapain nyusul kalau tugas di sini aja belum selesai," suara nyaring itu membuat Tiam menoleh.


Kesal, itulah yang Tiam rasakan. Waktu sendirinya terganggu.


"Laki-laki kok nangis?! Udah nangis sesenggukan, di tempat umum lagi," manusia berwujud gadis itu kembali bersuara dengan menyebalkannya.


"Bukan urusanmu!" Sarkas Tiam.


"Memang bukan urusan saya. Tapi suara Om ganggu banget!" Gadis itu bersuara ketus.


"Om?" Beo Tiam, apa dia setua itu?


"Iya, Om. Ada yang salah?"


"Pergi!" Tiam tak menjawab dan mengusir gadis itu.


"Om gak ada hak usir saya, ini kan tempat umum,"


Tiam mengangguk dan bangkit dari duduknya.


"Mau pergi, Om?" Gadis itu bertanya dengan sok polosnya.


"Banyak setan di sini," sarkas Tiam, namun gadis itu tak sakit hati, justru tertawa nyaring membuat Tiam heran.


"Apa gadis ini tak punya hati?" Batin Tiam bertanya heran.


"Saya gak tau masalah apa yang Om hadapin. Tapi menyusul bukanlah jawaban yang tepat. Terlebih di saat tugas kita belum selesai," gadis itu tiba-tiba berujar dengan serius, namun Tiam tetap dalam kebisuan dan berlalu begitu saja.


"Dih, dibilangin juga! Ada yah, orang modelan gitu?!" Gadis itu berdecak kesal dan tenggelam dengan kegiatannya pada ponsel.


Hingga akhirnya.......


"Mau es krim?"


Tbc...

__ADS_1


Tolong tandai jika ada typo😅


^^^#as.zey^^^


__ADS_2