
..."Semua yang sudah sangat lama ingin aku ungkapkan akhirnya terucap pada malam ini. Tuhan, jujur aku bahagia malam ini,"...
...Ae Ri...
Di sebuah tempat yang ramai tiba-tiba berubah menjadi senyap saat kehadiran Farel dan Ae Ri. Pasangan itu turun dari mobil dengan gagah dan anggunnya. Berdiri berdampingan di karpet merah yang sedari tadi menunggu mereka. Kilatan flash kamera pun silih berganti menjepret mereka.
Ae Ri melingkarkan tangannya di lengan Farel. Setelah merasa nyaman dengan posisinya, mereka pun mulai menapaki karpet merah itu.
"Oppa, i'm nervous," bisik Ae Ri.
"It's okay, i always beside you," balas Farel yang membantu menghilangkan kegugupan Ae Ri.
"Jong, aku tidak mau ada fotoku dan Ae Ri tersebar," Farel berujar demikian saat Jong kembali setelah menunjukkan kartu undangan mereka kepada penjaga acara.
"Ya, anda tenang saja, Tuan. Saya sudah mengurusnya. Tuan dan Nona juga sudah bisa masuk sekarang. Pemilik gedung pameran dan beberapa orang sudah menunggu kehadiran Nona," jelas Jong yang hanya diangguki Farel.
"Welcome to the painting exhibition tonight," seorang perempuan tinggi nan cantik menghampiri Farel dan Ae Ri dengan tersenyum manis.
"Thank you," balas Ae Ri kalem.
"I am Re Anh, Mr Kang's assistant. Please follow me, Mr. Kang is waiting for Miss Ae Ri," setelah memperkenalkan dirinya, gadis yang diketahui namanya adalah Re Anh, berstatus asisten pemilik gedung Kang itu meminta Farel dan Ae Ri untuk mengikutinya.
"Sure," balas Ae Ri mengikuti langkah Re Anh yang ternyata mereka menuju sebuah ruangan privat.
Sebenarnya malam ini adalah malam yang istimewa untuk Ae Ri. Ae Ri, gadis berusia 17 tahun itu berbakat dalam melukis dan sebuah keberuntungan untuknya karena karya lukisnya menjadi sorotan di acara pameran malam ini. Oleh sebab itu, Farel segera terbang ke Korea Selatan untuk mendampingi Ae Ri.
"Hwan-yeonghabnida Miseu Ae Ri," seorang pria menyambut kedatangan mereka. Dalam ruangan itu juga terdapat beberapa orang.
"Gang-ssi gamsahabnida. Yeong-gwang-ida," balas Ae Ri menunduk hormat seperti kebiasaan orang korea pada umumnya.
"Oneul bam Ae Riyang-eun honja ol geos gat-a," pria pemilik gedung yang bermarga Kang itu mengode agar Ae Ri mengenalkan Farel.
"Geulae, oneul bam naneun naega salanghaneun salamgwa hamkke issda. Geuui ileum-eun Farel-igo, Indonesia chulsin-ibnida," Ae Ri memperkenalkan Farel sebagai orang yang dicintainya, Farel pun tersenyum tipis dengan pernyataan itu.
"Ooh, selamat datang, Tuan Farel," ucap Kang dengan bahasa indonesia namun tak lepas dari aksen koreanya.
Farel menganggukkan kepalanya, "Terima kasih. Ternyata anda bisa berbahasa indonesia,"
Kang terkekeh pelan, "Hanya sedikit,"
"Who are they? You seem familiar with them," seorang pria datang menghampiri mereka dengan wajah tanpa ekspresi.
Farel tiba-tiba merasakan lengannya dicengkram kuat oleh Ae Ri. Menundukkan kepalanya untuk melihat keadaan sang gadis dan ternyata gadis itu menggigit bibirnya, menurut Farel, gadis itu sedang menahan teriakan girangnya.
"Ada apa? Kau mencengkeram lengan Oppa begitu kuat," tanya Farel membuat Ae Ri tersadar dan kembali bertingkah kalem.
"Maaf, Oppa. Apa aku menyakitimu?"
"Tidak, ini bukan apa-apa. Siapa dia? Kenapa kau tampak bahagia?"
"Appa tidak mengenalnya? Dia Baek Hyeon, pelukis terkenal dari Korea. Aku mengidolakannya. Dia sangat tampan," meskipun Ae Ri menjelaskannya dengan berbisik, Farel masih mampu menangkap suara kegirangan dari Ae Ri.
"They are our special guests tonight. This girl is the painter whose painting you praised since yesterday. While the man beside her was her companion," suara Tuan Kang mengalihkan pembicaraan mereka.
Ae Ri tersenyum manis dan membungkuk, "Hai, i am Ae Ri Karaya. You can call me, Karaya,"
Ae Ri meminta mereka untuk memanggilnya Karaya, bukan Ae Ri. Karena Ae Ri lebih suka Farel yang memanggilnya dengan nama itu, bukan orang lain, meskipun itu adalah idolanya.
"I'm Farel, i'm from Indonesia," Farel turut memperkenalkan dirinya.
"I'm Baek Hyeon,"
"Since yesterday Baek keeps asking about your painting, Miss Ae Ri. He is very urgent and bothers me because he doesn't know the meaning of your painting,"
Farel dapat melihat ekspresi kesal dari pria bernama Baek Hyeon tersebut setelah Tuan Kang menjelekkannya karena tidak mengerti arti lukisan Ae Ri.
__ADS_1
Sedangkan Ae Ri asyik terkekeh kecil menampakkan gigi manisnya, "I'm flattered by Mr. Baek's curiosity," Ae Ri mengungkapkan rasa tersanjungnya.
"So, can you explain?" Baek Hyeon tampak mendesak Ae Ri.
"Sure, but where is my painting?"
"There, I placed in a special place that visitors won't miss," Tuan Kang menunjukkan jalan untuk menuju lukisan Ae Ri yang malam ini menjadi sorotan utama.
Mereka berempat berdiri di hadapan sebuah lukisan yang amat cantik, namun sangat abstrak, tak jelas artinya menurut mereka yang tak tahu menahu tentang seni lukis.
Nampak dari lukisan itu dibagi menjadi tiga bagian. Bagian paling bawah nampak dengan coretan kuas tipis dengan warna hitam dan warna gelap yang tidak bisa dijelaskan. Di bagian tengah hampir serupa dengan bagian bawah, hanya saja di lukisan bagian tengah nampak seperti sesuatu yang berduri. Sedangkan di bagian paling atas adalah lukisan yang paling tidak jelas. Warnanya sangat warna-warni dan mengenai beberapa coretan di bagian tengah.
"Lukisan ini aku beri tema 'Who am i?'. Nampak dalam kanvas ini sengaja aku bagi menjadi tiga bagian," Ae Ri mulai menjelaskan dalam bahasa korea.
"Kenapa kau memberi tema itu?" Sela Baek Hyeon.
"Karena aku memiliki pertanyaan itu pada diriku sendiri," Ae Ri menjawab dengan menatap lekat pada Farel. Farel mengerti akan tatapan itu.
"Jadi, lukisan ini tentang dirimu?"
"Ya, di bagian bawah tidak nampakkah ada bagian yang tidak terkena cat? Jika dilihat dengan benar, ruang kosong itu akan nampak seperti seorang gadis,"
Baek Hyeon semakin mendekat ke lukisan itu untuk membuktikan ucapan Ae Ri.
"Ya, kau benar. Padahal jelas bahwa itu adalah seorang gadis, tapi aku tidak menyadarinya," ungkap Baek Hyeon.
"Di bagian tengah terdapat banyak duri, mungkin orang akan beranggapan seperti itu saat melihatnya," Ae Ri menjelaskan lukisan di bagian tengah kanvas.
"Bukankah itu memang duri?"
"Ya, itu memang duri. Tapi jika dilihat lebih teliti, tidak semua menyerupai duri. Durinya akan terlihat seperti anak laki-laki jika dilihat lebih teliti lagi,"
Baek Hyeon kembali meneliti lukisannya, "Aku baru menyadarinya," ujar Baek Hyeon seolah merasa bodoh karena tidak menyadarinya.
"Ya,"
"Jika teliti, kalian akan menemukan beberapa bagian yang berbentuk bunga. Yang berwarna putih akan membentuk bunga liliy putih dan soft pink akan membentuk bunga peony. Di lukisan itu juga akan ada garis-garis kecil nan halus layaknya bunga dandelion yang tertiup angin,"
Cukup lama Baek Hyeon melihat lukisan itu hingga akhirnya mulut pria itu ternganga kagum. Padahal sedari tadi pria itu tak berekspresi.
"Aku benar-benar merasa bodoh karena tidak menyadarinya," ungkap Baek Hyeon membuat Ae Ri dan Tuan Kang terkekeh, sedangkan Farel hanya tersenyum tipis.
"Lalu, apa makna lukisanmu ini? Aku masih tidak mengerti,"
"Gadis di lukisan bawah ini layaknya aku. Berada di dunia gelap, bahkan sangat gelap. Pria berduri ini adalah layaknya Oppa Farelku. Jika dilihat dengan jelas, nampak lukisan itu seperti mengulurkan tangannya. Dia seolah-olah ingin menarik gadis gelap itu, padahal pria berduri itu keadaannya tak jauh lebih buruk dari sang gadis," Ae Ri menjelaskan sambil menahan air matanya, Farel pun sama. Tangannya tergerak untuk merangkul Ae Ri, seperti mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Gadis itu tidak tahu bagaimana kehidupan yang sebenarnya. Tahu dirinya sendiri saja tidak. Namun pria itu menariknya dengan perlahan, menunjukkan siapa gadis itu sebenarnya. Juga, lihatlah tangannya yang satu lagi, dia seperti menunjuk ke atas,"
"Lukisan dengan gambar bunga lily putih adalah bunga yang melambangkan kesetiaan, ketulusan dan kemuliaan. Bunga peony itu melambangkan kebahagiaan dan kehidupan yang lebih baik. Sedangkan bunga dandelion itu mengartikan bahwa hidup akan terus terombang-ambing," Ae Ri sudag meneteskan air matanya sejak tadi.
"Inti dari lukisan ini adalah, anak laki-laki yang ingin menarik anak perempuan keluar dari pertanyaan 'who am i?' dan menujukkan apa itu dunia. Mengatakan bahwa mereka akan bahagia namun akan tetap ada lika-liku," helaan napas Ae Ri keluarkan setelah selesai menjelaskan makna lukisannya.
"Don't cry, everything will be fine, Dear," Farel menghapus air mata Ae Ri dengan sapu tangan mewahnya.
"Jangan tinggalkan aku sendiri lagi! Aku sudah lama menahannya agar aku tidak mengatakannya. Tapi lukisan ini memaksaku untuk mengungkapkan perasaanku," ucap Ae Ri dengan lucunya menyalahkan lukisannya.
"Oppa tidak akan pernah meninggalkanmu, bahkan saat kita berjauhan. Maaf, Oppa membuatmu kesepian," Farel membawa Ae Ri ke pelukannya.
"Aku selalu ingin bersama Oppa,"
"Oppa juga,"
"Tampaknya lukisan ini sangat berarti bagi Nona Ae Ri," ujar Tuan Kang.
Ae Ri melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
"Maaf, aku merusak suasana,"
"Tidak, justru kau semakin membuat lukisan ini seperti nyata. Kau adalah pelukis hebat," Baek Hyeon memuji Ae Ri, tentu saja membuat gadis itu senang bukan main. Idolanya yang terkenal pendiam dan acuh itu baru saja memujinya.
"Terima kasih, Tuan Baek. Semua tidak lepas dari Tuan yang sudah memberiku inspirasi,"
"Apa kau mengidolakanku?"
"Tentu saja! Kau adalah seniman hebat dan tampan," jawab Ae Ri kegirangan tanpa sadar sudah jauh dari akting kalemnya.
Ae Ri langsung merutuki tingkahnya saat mendengar kekehan dari ketiga pria di dekatnya. Ae Ri memang gadis yang susah menyembunyikan ekspresi senangnya.
"Kau tahu, Baek? Dalam pameran kali ini masih ada beberapa lukisan karya Nona Ae Ri. Apa kau mau melihatnya?" Tawar Tuan Kang.
"Tentu saja aku mau,"
"Baiklah, aku akan menunjukkannya. Tapi setelah acara pembukaan. Bagaimana?"
"Tidak masalah,"
"Oke, aku akan ke kamar kecil terlebih dahulu. Kalian silakan menunggu di lobi bersama Re,"
"Iya,"
"Nona Karaya, bisa kita berbicara sebentar sambil menunggu Tuan Kang?" Tawar Baek Hyeon.
"Tentu saja, tapi harus ada Oppa Farel di sisiku,"
"Tidak masalah, ayo kita cari tempat!"
"Ada apa Tuan Baek?" Tanya Ae Ri saat mereka sudah duduk di tempat yang nyaman untuk mengobrol.
"Aku akan lanjut berkarya di Paris. Mungkin aku membutuhkan teman, partner, asisten, apa pun itu namanya. Jika kau bersedia, aku ingin mengajakmu,"
Wajah Ae Ri langsung berbinar. Rasanya sangat sayang untuk menolak tawaran idolnya. Kesempatan ini tidak akan ada untuk yang ke dua kalinya.
"Aku mau, bahkan sangat mau. Tapi, apa Oppa mengizinkan?"
Farel tampak berpikir sejenak. Sebenarnya Farel sudah berencana membawa Ae Ri pergi jauh ke tempat terpencil, bukan tempat ramai seperti Paris. Tapi melihat wajah senang gadisnya, tentu Farel tidak tega merubahnya menjadi wajah senyum palsu. Baginya, Ae Ri adalah segalanya.
"Tentu saja boleh, semua demi impianmu,"
"Tapi Oppa bilang, kita akan pergi jauh,"
"Kita bisa menundanya. Waktu kita masih sangat banyak, Ae Ri,"
"Berapa lama kalian di Paris?" Tanya Farel berbahasa Korea, sedangkan saat bersama Ae Ri tadi berbahasa indonesia, tidak mau kalau Baek Hyeon mengerti percakapan mereka.
"Mungkin satu tahun. Aku juga akan menjadikan Nona Karaya sebagai muridku saat di Paris,"
"Apa aku menolaknya saja? Satu tahun bukan waktu yang singkat," bimbang Ae Ri.
"Aku tidak masalah selagi aku bisa menjangkau Ae Ri. Apa kau keberatan jika kita akan sering bertemu?"
"Tentu saja tidak. Kita akan membuat perjanjian nanti. Bagaimana?"
"Baiklah, aku mengizinkan,"
"Terima kasih, Oppa," seperti kebiasaan Ae Ri, dia akan memeluk Farel saat bahagia.
"Apa pun untukmu,"
Tbc...
^^^#as.zey^^^
__ADS_1