Mysterious Gus

Mysterious Gus
#06. RANDA


__ADS_3

* kalau ada kalimat RANDA itu berarti Farel dan sahabatnya, yaws.


___***___


Bel pulang sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Sekolahan mulai sepi, hanya tinggal beberapa murid saja. Termasuk RANDA Squad yang masih asik di kelas.


Adam dan Yusuf yang menyalin catatan. Dylan yang asik merecoki. Sedangkan Farel dan Afnan asik dengan ponselnya.


"DYLAN TAIK!! JANGAN LO HAPUS BEGO!!" marah Yusuf.


"Apaan? Gue gak ngapa-ngapain," jawab Dylan tersenyum tanpa dosa.


"WOY!! YANG DI LUAR BISA DIEM GAK, SIH?! GUE LAGI KONSEN INI!!" Teriak Yusuf lagi pada segerombolan murid yang di luar kelas asik bernyanyi.


"Lo nulis, nulis aja! Suara lo lebih ganggu dari mereka!" Geram Adam.


"Ya, gimana gue gak te--"


"Assalamu'alaikum," ucap dua gadis dari depan pintu. Mereka adalah Nia dan Fisha.


"Wa'alaikumussalam,"


"Kenapa?" Tanya Farel.


Nia menarik Fisha untuk mendekat pada abangnya itu. "Dipanggil Buk Sasi,"


"Siapa? Yang jelas dong, Cantik," tanya Dylan gemas.


Nia berdecak kesal sambil menatap pria itu galak. "RANDA!! Tau RANDA?! RANDA yang dipanggil Ibu Sasi!!"


"Ooh RANDA yang penyanyi dangdut itu?" Tanya Yusuf.


"BANG YUSUF!! GUE GOROK, NIH?!" Teriak Nia marah yang membuat Yusuf dan Dylan tertawa puas membuat adik sahabatnya itu mengamuk.


"Biasa aja dong, Cantik! Entar cepet tua loh,"


"Kalian be--"


"Pulang!" Ucap Farel memotong ucapan adik galaknya itu.


"Iya. Marahin tuh, temen bobrok Abang!!" Jawab Nia dan langsung keluar kelas menarik Fisha yang hanya menurut.


"Buset dah, galak amat adek lo, Rel! Beda sama Zira yang lemah lembut," ucap Dylan yang langsung mendapat lemparan pena dari Afnan.


"Ya Allah, posesip amat sih lo, Nan?!"


"Punya gue!"


"Masa, sih? Bukannya Zira gak mau sama lo?"


"Ck, buruan!" Ucap Farel menengahi dan berjalan duluan menuju ruang guru menemui Ibu Sasi.


Dengan tidak sopannya Farel membuka pintu ruang guru dan melenggang masuk diikuti sahabat-sahabatnya tanpa menghiraukan tatapan guru.


"Ada apa?" Tanya Farel to the point.


"Minggu depan kita ada acara ulang tahun sekolah. Kalian, RANDA, Ibu ingin kalian berpatisipasi. Mulai dari persiapan acara dan Ibu ingin kalian tampil saat acara,"


"Loh loh, kok kita ikutan? Biasanya juga enggak, Buk. Atau sekarang kita udah diakui sebagai murid?" Cerocos Dylan.


"Hish, kamu ini ya, Dylan! Sembarangan aja kalo bicara,"


"Ya, kan aneh Buk,"


"Gimana?" Tanya Farel pada RANDA yang lain.


"Terserah," jawab Afnan dan Adam.


"Kita mah ngikut," jawab Yusuf dan Dylan.


Farel mengangguk. "Kita ikut," putus Farel yang membuat Ibu Sasi tersenyum.


"Bagus kalau kalian mau. Kalian pikirin aja dulu mau tampil apa. Dan buat besok tolong bantu OSIS yang lain untuk acara. Bisa kan?"

__ADS_1


"Iya,"


"Ya sudah, kalian bisa pulang,"


Mereka berlima serempak mengangguk dan mencium tangan Ibu Sasi. "Assalamu'alaikum," pamit mereka dan langsung keluar.


Ibu Sasi tersenyum bangga. "Wa'alaikumussalam murid-murid Ibu yang unik,"


***


Setelah berpisah dari sahabat-sahabatnya, Farel memilih pulang ke rumah. Tidak mau membuat orang tua dan adik bungsunya itu mencari keberadaannya.


"Assalamu'alaikum," ucap Farel masuk rumah yang langsung disambut sang umma, Raima.


"Wa'alaikumussalam. Lama sekali pulangnya Bang?" Tanya Raima dengan lembutnya.


"Dipanggil guru,"


"Kenapa? Ada masalah di sekolah?"


Farel menggeleng tegas. "Disuruh tampil acara sekolah,"


"Sudah diberi tau Ibu Sasi, Bang?" Tanya Hutama datang dengan pakaian santainya.


"Hm,"


"Kamu gimana di pesantren kemarin?" Tanya Raima lagi.


"Ba--"


"Bohong! Kamu minum susu kambing, kan?!" Potong Hutama yang membuat  Raima khawatir.


"Bener, Bang? Sekarang gimana? Masih sesak napasnya? Kita periksa ke rumah sakit, ya?" Khawatir Raima.


Farel menggenggam tangan ummanya itu dengan lembut, "Gak papa, Umma. Udah sembuh,"


"Bener? Jangan bohong!"


"Iya, Umma,"


Raima menghela napasnya dan mengangguk, "Ya udah, gih sana! Habis itu makan siang. Kita tunggu di meja makan,"


Farel hanya mengangguk dan langsung menuju kamarnya setelah mencium pipi sang umma yang teramat ia sayangi itu.


Farel sudah selesai mandi dan dirinya jauh lebih segar. Berjalan dengan santainya dan duduk di kursi meja makan tempat yang biasa ia duduki saat makan bersama.


Farel mengangkat alisnya melihat empat santri yang menjadi perwakilan pertukaran pelajar. Kenapa mereka di sini? Batin Farel bertanya namun memilih tetap diam tak mau ambil pusing.


"Bang, ini obat alerginya. Lain kali kalau obatnya habis, langsung beli! Kamu juga hati-hati! Jangan ceroboh kayak kemarin!" Ceramah Hutama sambil memberikan kotak obat pada anak sulungnya itu.


"Iya," jawab Farel acuh dan mengambil makanan untuknya.


"Tadi dipanggil Buk Sasi ngapain, Bang?" Tanya Nia.


"Jangan bicara!" Peringat Farel pelan namun tegas. Farel memang mengajarkan adik-adiknya untuk tidak berbicara saat makan.


"Setelah selesai makan, semua kumpul  ke ruang keluarga! Ada yang mau Abah sampaikan," ucap Hutama setelah makan dan melenggang pergi.


Farel bangkit dari duduknya dan memilih mencuci piring bekas makannya. Tak mau berlama-lama, Farel pun langsung menyusul sang abah.


"Abang, Nia dan Zira, jadi santriwati untuk pertukaran pelajar dari pesantren kita, akan tinggal di rumah kita. Sedangkan para santrinya akan tinggal di rumah belakang," ucap Hutama saat mereka semua sudah berkumpul.


"Kenapa?" Tanya Farel.


"Asramanya penuh dan sedang dibangun,"


"Nanti kalau santriwati tinggal di sini, Abang gimana? Abang kan bukan mahram mereka. Kalau Abah kan ada Umma," tanya Zira.


"Itu yang ingin Abah sampaikan pada kalian. Terutama sama kamu, Bang,"


"Hm?"


"Kamu mau tinggal di rumah belakang, apartemen kamu atau tetap ti--"

__ADS_1


"Apart," potong Farel tak mau ambil pusing dengan opsi-opsi yang diberikan abahnya itu.


"Kamu gak papa pindah di apart, Bang?" Tanya Raima khawatir pada putra sulungnya itu.


Farel mengangguk. "Iya. Ada lagi?"


"Se--"


"ASSALAMU'ALAIKUM!! ABAH!! UMMA!! RANDA DATANG NIH!!" Suara teriakan Dylan menggema ke seluruh rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap sahabat-sahabat Farel yang lain sambil mencium tangan Hutama dan Raima.


"Wa'alaikumussalam,"


"Ngapain?" Tanya Farel ketus.


"Santuy dong, Boss! Galak amat. Pantesan jomblo," jawab Dylan yang membuat Farel mendengus.


"Ma, titipan dari Mami," ucap Afnan meletakkan sebuah paper bag ke atas meja.


"Waah,, makasih ya. Lain kali gak perlu repot-repot. Soalnya kuenya habis sama Zira mulu," ucap Raima saat melihat isinya yang ternyata kue.


"Umma!! Jangan gitu, dong! Zira malu," ucap Zira kesal menyembunyikan wajahnya di ketiak sang abah.


Afnan terkekeh. Gadis cantik polos itu sudah mengambil hatinya saat gadis itu baru terlahir ke dunia.


"Mami emang buatin untuk kamu. Biar lebih adil aja makanya buat semua," jelas Afan membuat Zira mengintip dari ketiak Hutama.


"Jadi selama ini kuenya buat Zira?" Tanya Zira yang diangguki Afnan.


"Umma, itu kuenya punya Zira. Wajar dong Zira yang habisin," ucap Zira yang membuat Raima terkekeh.


"Iya, deh. Kamu kan calon menantu Mami Amira," jawab Raima yang membuat Zira bersemu malu.


"Abah, Umma, kita mau nginep malam ini. Bonyok pada sibuk semua. Gak papa, kan?" Tanya Adam yang diangguki yang lain.


"Abah sih boleh-boleh saja. Tapi besok Farel akan pindah ke apart,"


"Loh?! Kenapa?"


"Karena ada gadis yang bukan mahramnya," jawab Hutama melirik Fisha dan Milea yang membuat mereka mengangguk paham.


Farel beranjak dari duduknya dan melenggang pergi.


"Abang mau ke mana?" Tanya Zira.


"Tidur," jawab Farel tanpa menghentikan langkahnya.


Sahabat-sahabat Farel langsung mengikuti dirinya ke kamar dan dengan santainya melenggang masuk mendahului sang pemilik kamar.


"Ck, ngekor mulu!" Kesal Farel menimpuk mereka yang berbaring anteng di ranjang king size-nya dengan bantal.


"Kita kan setia sama lo,"


"Bacot," jawab Farel mengambil kopernya dan mulai menyusun baju.


"Lo gak merasa diusir, Rel?" Tanya Adam.


Farel menggeleng. "Ngaco!"


"Bahkan kalau gue diusir beneran juga hal yang wajar," tambah Farel bergumam pelan.


"Apa?" Tanya Afnan.


"Hm?"


"Lo bilang apa tadi? Gue kayak denger lo ngomong,"


Farel menggeleng, "Gak ngomong," jawabnya acuh.


Tak butuh waktu lama semua pakaian Farel telah siap. Matanya beralih menatap RANDA squad yang sudah tertidur di atas ranjangnya dengan posisi menjengkelkan. Bahkan sepreinya terlepas.


Farel menghela napasnya dan memilih tidur di sofa, "Yang punya kasur siapa, yang make siapa?!" Gerutu Farel dengan hati jengkel setengah hidup pada sahabat-sahabatnya itu.

__ADS_1


Tbc,,,,


^^^#as.zey^^^


__ADS_2