Mysterious Gus

Mysterious Gus
#79. Ruang Keluarga


__ADS_3

..."Tidak banyak yang ingin kuucapkan, hanya rindu,"...


...Farel...


...***...


Setelah usai sarapan, keluarga se-RT itu sekarang sedang asik berkumpul di ruang keluarga menyaksikan RANDA bermain PS dan berbincang-bincang sambil menunggu dokter juga Abdullah beserta Jamilah.


Ruangan itu penuh oleh suara Dylan dan Yusuf karena permainan PS-nya. Kedua pria itu satu tim sedangkan Afnan satu tim dengan Farel. Berbeda dengan Adam yang bertugas sebagai suporter.


"Buruan, Rel! Kalahin tuh, si songong Dylan!!" Sorak Adam.


"Kurang ajar! Berkhianat lo! Tadi dukung gue, sekarang malah Farel!!" Protes Dylan tak terima.


"Suka-suka gue, dong! Lagian udah tau gue, kalo lo bakal ka--"


"Kayaknya lo salah kali ini!!" Yusuf dan Dylan tersenyum sombong saat mereka menang.


"Waah!! Gak mungkin!! Pasti kalian curang, nih!!"


Farel berdecak dan melempar stick PS-nya ke pangkuan Dylan, "Jari gue kaku," kesal Farel.


"Dih, alesan lo!"


"Gak papa, yang penting gue menang huhuhu!!" Sorak Dylan berjoget-joget tanpa malu.


"Ni cowok gak ada malu-malunya, ya! Di depan crush gak ada kalemnya," sinis Zulaikha.


"Eeiits, jangan salah! Gue tuh apa adanya, jadi Lea cintanya ke gue itu juga beneran," Dylan menatap jahil pada Milea, sedangkan yang ditatap sudah merotasikan matanya, jengah.


"Kalo Lea terima Bang Dylan, fix sih, Lea lagi dalam keadaan khilaf," gantian Hawa yang menghina.


Dylan mendelik kesal, "Kenapa sih, sirik amat kalian!! Bilang aja karena crush kalian itu tak kunjung melamar!!" Pekik Dylan hingga akhirnya terjadilah cek-cok antara Dylan bersama RANDA yang lain karena merasa dibawa-bawa.


Farel menatap bosan pada sahabat-sahabatnya, namun hatinya juga menghangat di waktu bersamaan. RANDA tidak pernah berubah, selalu saling ada dan selalu ribut.


Farel menunduk saat dirasa ada yang memeluk kakinya. Terlihat balita cantik dan manis yang menatapnya lugu. Ia adalah Eil, anak Xander dan Mayang. Sejak kemarin ia memang belum ada berkenalan dengan gadis gempal itu.


Tanpa beban Farel membawa Eil dalam pangkuannya. Bocah itu pun tidak ada penolakan, justru tampak senang. Tangan mungilnya mengusap-usap wajah tampan Farel.


Melihat Eil dekat dengan Farel, Abil juga langsung bergabung di pangkuan Fisha. Bocah laki-laki itu dengan nyaman bersandar pada dada Fisha dan menatap gadis cantik di sampingnya dengan khidmat.


"Diih, masih bocah udah keliatan pakboynya," ejek Dylan yang tentunya tak dimengerti dan diacuhkan oleh Abil.


"Eil," sapa Farel membuat Eil bertepuk tangan dengan suara tawa renyah.


"Apa Ayah tidak pernah mengenalkan Abang pada Eil?" Farel melirik sinis pada Xander, sedang yang ditatapnya hanya acuh sambil menikmati suapan jeruk dari istrinya.


"Abang saja tahu namamu dan tanggal lahirmu," tambah Farel sambil mencubit gemas pipi Eil hingga tawa bocah itu semakin terdengar nyaring.


"Eil antik," ucap Abil membuat semuanya tertawa.


"Tau kata cantik dari mana, hm?" Fisha mengusap gemas rambut Abil.


"Kak Sha antik ugak," Abil mencium pipi Fisha.


"Mulut kamu manis banget, Abilash," Farel tampak tak suka saat adik bungsunya itu memuji sang istri.


"Huh, sok-sokan cemburu! Gak pantes!" Ledek Yusuf membuat Farel kesal.


"Bang Alel skul udah?" Tanya Abil tak jelas, untung saja Farel mengerti.


"Udah. Nanti kita bisa main," Farel hanya meng-iya-kan.


"Anji?"

__ADS_1


Farel mengangguk dan mengusap brutal rambut adiknya hingga berantakan. Bocah empat tahun itu sudah terlihat kecerdasan dan ketampanannya yang mirip dengan Farel.


"Saya juga mau yang kayak gini, sepuluh," bisik Farel membuat semburat merah alami pada pipi Fisha.


"Banyak banget," gumam Fisha meladeni ucapan suaminya.


"Gak papa, biar warisan gak terhambur-hambur," geplakan di lengan langsung Farel dapat dari Fisha.


"Ngada-ngada,"


Farel menggeleng, "Beneran. Kapan kita mulai program anak sepuluhnya?" Bertambah kentaralah wajah memerah malu Fisha.


"Jangan kayak gitu! Kaki Mas harus sembuh dulu," kilah Fisha dan kembali mendapat gelengan dari Farel.


"Kaki saya masih bisa digerakin. Apa lagi cuma di atas ranjang,"


"MAS FAREL, IHH!!" Teriak Fisha tanpa sadar dan membuat semuanya terkejut.


"Kenapa Sha?" Tanya Raima membuat Farel dan Fisha menoleh. Mereka sampai lupa kalau masih sedang kumpul keluarga.


Fisha tersenyum canggung, "Gak papa, Ma. Cuma kaget aja,"


"Kaget apa kaget?" Goda Mayang.


"Alesan aja! Padahal dari tadi berdua bisik-bisik. Tauk dah apa yang diomongin," Nika mengompori.


"Apa sih?!" Sewot Fisha mengundang tawa mereka.


"Jangan teriak, nanti ketauan kalau kita mau program anak sepuluh," tegur Farel.


"Mas Farel, astaghfirullah!!" Fisha depresot dibuatnya, sedangkan si pelaku hanya tersenyum tipis menahan kegemasannya pada sang korban.


"Farel! MasyaAllah cucuku!!" Jamilah datang dan langsung memeluk Farel yang masih memangku Eil. Wanita lanjut usia itu menangis sesenggukan dalam pelukan sang cucu.


Fisha menurunkan Abil dan menarik Eil agar tidak terjepit. Dengan peka juga Fisha mangkir agar Jamilah bisa memeluk Farel sambil duduk.


Tangan Farel tergerak mengusap air mata sang nenek, "Farel baik-baik aja. Sekarang udah pulang, sama-sama terus sama Kakek Nenek," Farel menatap kakek dan neneknya bergantian.


"Nenek jadi sering sakit-sakitan kamu tinggal pergi, Farel," ujar Abdullah mengusap pundak Farel penuh kerinduan.


"Maaf,"


"Jangan diulang lagi! Kamu buat semuanya panik. Kamu punya kita untuk kamu cerita, Nak," mata Abdullah terlihat sendu.


"Iya,"


Farel menoleh saat menyadari ternyata kakek dan neneknya datang dengan dua pria. Farel tak mengenali keduanya. Ia hanya menatap dengan alis terangkat, ia rasa, kakek neneknya tidak punya cucu laki-laki lain selain ia dan Abil.


"Masa lo gak tau, Rel. Itu Azam sama Haikal," Dylan menunjuk mereka satu per satu.


"Azam?" Farel memcingkan matanya pada Fisha penuh curiga.


"Apa?" Heran Fisha.


Farel berdecak, "Dia yang nemuin gelang kamu," Farel sensi sendiri jadinya.


"Sans bro, kejadiannya udah lama," kekeh Afnan mengejek.


Farel mengangguk dan menatap remeh pada Azam yang hanya terdiam tidak tahu apa-apa, "Perasaannya juga udah lama," sindir Farel.


Mereka tertawa, tertangkap jelas raut cemburu dari Farel.


Suara tawa Nika terdengar semakin kencang, "Lo kayak bukan Bang Farel, bener deh! Sadar lo, Bang! Jangan kayak bocah labil gampang cemburuan!" Nika menghampiri dan mengguncang pelan bahu Farel.


Decakan kembali hadir dari Farel, "Antisipasi," gumamnya kemudian meminta Fisha duduk kembali di sampingnya hingga Jamilah menyingkir sambil terkekeh.

__ADS_1


"Kamu cuma boleh liat saya!" Tekan Farel membuat Fisha bingung sendiri.


"Kenapa sih, Mas?" Bingung Fisha heran, namun Farel tak menanggapi dan menatap tepat pada netra sang istri.


Fisha balas menatap, sok berani menyelam dalam netra cokelat tajam nan menawan itu.


"Kenapa, sih?!" Kesal Fisha menyembunyikan wajahnya yang memerah di pundak Farel. Ia tak sanggup menatap mata indah itu lama-lama.


Mereka yang menyaksikan tertawa melihat interaksi kedua pengantin baru itu. Yang laki-lakinya berubah jadi posesif, cemburuan dan frontal, sedangkan yang perempuan malu-malu dan canggung.


Farel ikut terkekeh, istrinya itu jinjja menggemaskan.


"Perkenalkan, saya Azam," Azam merusak suasana. Jujur, meski sudah hampir lima tahun, Azam masih memiliki perasaan terhadap Fisha. Meskipun sekarang ia juga sudah memiliki istri.


Ya, Azam memang sudah menikah karena dijodohkan.


Farel menoleh dan menatap datar pada tangan yang terulur di hadapannya.


Dengan malas Farel menyalami tangan itu, "Farel, SUAMI Nafisha," tekan Farel pada kata 'suami'.


"Saya Haikal," gantian Haikal yang memperkenalkan diri.


Meski tidak sedatar pada Azam, tetap saja Farel juga kurang bisa menerima Haikal. Ia tahu, pria bernama Haikal itu telah melukai perasaan Monika yang sudah ia anggap seperti adiknya.


"Farel, Abang Monika," kalau dengan Azam memperkenalkan diri sebagai suami Fisha, berbeda lagi dengan Haikal.


Tergantung pada siapa dia berurusan, maka akan begitulah Farel memperkenalkan diri dengan ogah-ogahan.


"Udah jam sepuluh, Nika pulang dulu deh, mau siap-siap," suara Nika melenyapkan suasana tegang yang ada.


"Gak siap-siap di sini aja? Biar Umma pesenin baju," ujar Raima yang dijawab gelengan.


"Udah dikirimin baju sama Mama,"


"Gak usah pergi!" Tegas Farel yang kembali membuat Nika menggeleng.


"Mana mungkin?! Kenapa gak usah pergi? Lagian udah biasa kan, ketemu beginian?!"


"Lo terbiasa dengan sakitnya?" Pertanyaan telak dari Farel itu mampu membuat Nika terdiam. Meski menghilang dan koma bertahun-tahun, Farel tetap tahu tentang semua orang yang ada di sekitarnya. Tentu dari Tiam dan beberapa informannya.


"Gue gak mau jadi pengecut! Gue harus pergi! Gue harus tunjukkin, kalau gue juga bahagia meski tanpa mereka! Jangan larang gue!" Nika menatap Farel penuh harap.


Farel menghela napasnya, agak berat membiarkan gadis sok kuat di hadapannya ini pergi sendiri.


"Sama Dylan Milea!"


"Atau enggak sama sekali?" Tambah Farel saat Nika terlihat hendak menolak.


Nika ikut menghela napasnya dan berakhir mengangguk, "Ya udah sama Bang Dylan juga Milea,"


Farel tersenyum dan menepuk singkat kepala Nika, "Lo kuat. Ada gue, RANDA, GREXDA, kita semuanya bakal kasih lo kebahagiaan,"


Nika tersenyum dengan mata memerah, "Lo pulang-pulang jadi banyak omong ya, Bang! Mana manis banget tuh, mulut," dengan kasar Nika mengusap air matanya.


"Gak usah cengeng, lo! Buruan pamitan, gue mau numpang makan sama keluarga barunya keluarga lo!" Lerai Dylan, ia tak mau membuat suasana hati Nika semakin hancur.


"Iya iya!" Sungut Nika kemudian mereka bertiga pun berpamitan.


"Gue gak pernah lupa, kalau lo orang yang udah nambah rasa sakit buat Monika, adek gue!" Bisik Dylan pada Haikal sebelum benar-benar pergi.


Sejak kejadian empat tahun silam, Monika memang lebih memilih menjaga jarak dari Haikal. Meski begitu, perasaan gadis itu tak pernah berubah untuk pria pandai agama bernama Haikal itu.


Tbc...


Akunya ngakak plz😭😭

__ADS_1


Siap program anak sepuluh????🤣


^^^#as.zey^^^


__ADS_2