
..."Aku seperti kembali ke masa lalu. Di mana aku harus kembali belajar untuk melangkah secara perlahan,"...
...Farel...
...***...
Suasana ruang keluarga yang tadinya ramai dan hangat berubah menjadi dingin. Semua terjadi karena kedatangan Azam dan Haikal. Terlebih lagi Dylan dan Nika yang biasanya menjadi pencair kini sudah angkat kaki.
"Bagaimana keadaanmu, Gus? Abahmu bilang, kamu lumpuh?" Abdullah buka suara, memastikan keadaan cucu sulungnya itu.
"Baik, cuma sementara," balas Farel terkesan singkat dan dingin.
"Setelah ini, kalian mau bagaimana? Seperti tempat tinggal dan yang lainnya?" Tanya Xander. Mereka memang belum ada membahas perihal kelanjutan Farel juga Fisha.
Fisha menoleh pada suaminya dengan tatapan bertanya. Ia pun tak tahu dan baru terpikirkan olehnya.
"Aku sudah membeli apartemen dekat rumah sakit tempat Nafisha koas," jawab Farel.
"Jadi akan menetap di Bandung?" Farel hanya mengangguk.
"Kenapa gak tinggal bareng Papa sama Mama aja?" Tanya Amar.
"Iya, jadi nanti kalau Fisha koas, ada Mama sama Papa yang temenin dan jagain," tambah Layla.
"Atau, tinggal di pesantren aja?" Tawar Abdullah.
Farel menggeleng, "Farel bisa sendiri," hanya jawaban itu yang ia berikan.
"Karaya? Mau ikut Oppa Asz atau Ayah? Bersama Ayah saja, ya?" Tanya Xander pada Karaya yang asik bersama Ley.
Karaya menoleh dengan tatapan lugunya, "Aku mau bersama Oppa. Tapi kalau bersama Ayah juga tidak masalah. Aku tidak akan lama karena akan kembali ke Korea,"
Xander menatap sendu pada putrinya itu, "Mau meninggalkan Ayah?"
Karaya menggeleng, "Tempatku bukan di sini,"
"Kenapa bilang begitu? Jelas ini tempatmu karena ada Oppa dan Ayah di sini," protes Ley.
"Kau sudah lama ingin ke Indonesia, Karaya. Impianmu sudah terwujud setelah bertahun-tahun dan dengan mudahnya kau lepaskan hanya karena pria baj*ngan itu!" Tiam berujar sarkas dan berlalu.
"Hey! Kau mau ke mana?!" Seru Xander panik kalau-kalau kedua anaknya itu bertengkar.
"Dokternya sudah di depan," jawab Tiam tetap dengan melangkah tanpa menoleh sedikitpun. Entah mengapa, Tiam sedikit tidak rela kalau adiknya harus kembali ke Korea.
"Oppa Tiam marah padaku," kepala Karaya tertunduk sedih.
"Dia tidak marah. Dia sedih dengan keputusanmu yang ingin meninggalkannya lagi. Kalau kamu kembali ke Korea, ia pasti akan harus mencuri-curi waktu untuk menemuimu nanti," Ley memberi paham pada gadis cantik yang sedang murung itu.
"Benar kata, Ley. Kenapa tidak tinggal di sini saja? Nanti Karaya tinggal bersama Abah dan Umma," seru Raima membuat Karaya menoleh dengan wajah bingung.
"Abah dan Umma?" Beonya.
Raima mengangguk semangat, "Iya, nanti Karaya ada temannya. Kan, ada Nia, Zira, Lea, Nika, Ikha, Hawa dan yang lainnya. Terlebih ada Fisha juga,"
Karaya menatap Nia dan Zira secara bergantian. Karena di antara semua yang Raima sebutkan, ia hanya mengenal Nia, Zira dan Fisha.
Setelah sesaat, Karaya langsung menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mau Nia dan Zira terluka kalau Oppa Asz memperhatikanku," jujur Karaya.
"Kita gak papa, justru seneng kalau kamu mau bareng sama kita," ungkap Nia yang diangguki Zira.
"Bener, kita kan saudara. Nanti Zira bakal bawa Karaya keliling Jakarta sama Bandung, deh," seru Zira senang. Membayangkan memiliki teman sebaya seperti Karaya pasti akan menyenangkan baginya.
__ADS_1
Karaya menoleh pada Farel untuk meminta pendapat. Ia jadi bimbang. Ingin menolak tapi tak enak hati. Dirinya pun sebenarnya amat ingin tinggal di Indonesia bersama oppa-oppanya dan sang ayah.
Farel tersenyum tipis dan mengangguk, "Oppa akan mendukung semua pilihanmu,"
Karaya turut mengangguk, "Akan aku pikirkan lagi,"
"Kita tunggu kabar baiknya," ujar Zira dengan senyum terbaiknya.
"Ini dokternya," Tiam datang bersama seorang dokter pria yang sepertinya masih berusia 40-an.
"Selamat pagi! Perkenalkan, saya Isar," sapa dokter itu sopan.
"Selamat pagi!!"
"Dia Farel, yang akan menjalani pengobatan bersama anda," Tiam menunjuk Farel.
"Baiklah, bisa langsung saya periksa?" Dokter Isar menghampiri Farel, sedangkan Farel hanya mengangguk sebagai tanggapan.
Fisha hendak bergeser agar dokter Isar bisa lebih leluasa memeriksa. Namun semua gerakannya terbaca dan ditahan oleh Farel. Tangannya digenggam erat oleh sang suami.
"Jangan jauh-jauh!" Titah Farel.
"Tapi biar dokternya leluasa,"
Farel mendekat ke telinga istrinya, "Kamu gak mau deket-deket saya? Gak enak dilitain Azam?" Bisik Farel dengan mata melirik tajam pada Azam yang sedang melihat interaksi mereka.
Kepala Fisha menjauh dan menatap lucu pada suaminya, "Kenapa sih, Mas? Cemburu?"
Farel menggeleng dan merubah posisi duduknya menjadi tegak, "Terserah," ketusnya semakin membuat Fisha tertawa.
"Duuh, nanti dulu romantis-romantisnya. Yang bener kamu, Farel, biar diperiksa dokternya," lerai Raima aneh sendiri dengan tingkah putranya.
Dokter Isar terkekeh, ia sempat mendengar percakapan pasutri baru itu saat ia menyiapkan perlengkapan dokternya.
"Kadang," jawab Farel singkat.
"Seperti apa sakitnya? Nyeri? Sesak?"
"Nyeri, seperti ditarik berlawanan,"
"Kapan terakhir merasa nyeri? Pernah menghitung berapa lama nyeri itu berlangsung?"
"Tadi malam, sekitar 15 sampai 20 menit,"
Dokter Isar mengangguk paham dan beralih pada kaki Farel. Dokter itu berjongkok di hadapan Farel.
Kaki Farel dengan perlahan digerakkannya naik-turun lalu memijat pelan.
"Sakit?" Farel menggeleng.
"Selain seperti ini, kakimu pernah sakit?"
"Sejak saya bisa berjalan dengan tongkat. Sakit saat bangun tidur dan digerakkan terlalu sering,"
"Sakit merupakan kemajuan bagus, artinya dengan perlahan kaki kamu bisa kembali memiliki rasa,"
"Langsung terapi saja, coba kamu berjalan ke pintu penghubung ruangan ini," dokter Isar menunjuk pintu ruang keluarga yang ia lalui tadi.
Tanpa banyak protes, Farel langsung berdiri dibantu oleh istrinya. Farel melangkah perlahan dengan ringisan kecil dari mulutnya.
"Ada yang bersedia menyambut di sana?" Dokter Isar mengedarkan pandangannya pada semua yang ada di sana.
__ADS_1
"Kami saja, kami orang tuanya," Hutama mengajak Raima berdiri di depan pintu, siap menyambut putranya nanti.
Semuanya berdiri, penasaran dengan langkah Farel yang tampak kaku. Di sampingnya ada Fisha yang setia menemani dan menuntun, tanpa tahu ada tatapan tak rela dari Azam.
"Farel, Abah sama Umma di sini!" Farel mendongak, menatap abah serta ummanya yang melambai-lambai di sana meminta untuk dihampiri.
Ingatan Farel berputar ke belakang. Rasanya sekarang ia kembali seperti dulu, saat ia masih belajar berjalan ditemani Hutama dan Raima.
"Farel, anak Umma! Sini, Sayang!" Panggil Raima yang membuat Farel kecil berjalan menuju ke arahnya.
"Farel, anak Abah yang paling ganteng! Sini sama Abah aja! Nanti Abah beliin motor-motoran baru! Kalau perlu motor beneran," tawaran itu menggiurkan bagi Farel kecil hingga langkahnya berbelok menuju sang abah.
"Loooh?! Kok sama Abah? Farel gak sayang Umma lagi?"
Farel menatap keduanya bingung dan langsung terduduk sambil menangis. Farel kecil berteriak nyaring dengan tubuh bergerak kesal. Ia bingung harus pilih sang abah atau sang umma.
Hutama dan Raima terkekeh melihat tingkah putra mereka. Selalu begitu, Farel tidak pernah bisa memilih antara abah atau ummanya.
Hutama dan Raima saling mendekat dengan tangan terlentang, "Sini, sama Abah dan Umma! Kita sama-sama," ajak Hutama.
Tangis Farel kecil mereda. Dengan susah ia kembali berdiri dan melangkah perlahan menuju orang tuanya. Tangannya terlentang tak sabaran ingin menyambut pelukan abah serta ummanya.
"Bah, Ma!!" Girang Farel memeluk mereka.
Hutama mengusap sayang rambut Farel kecil, "MasyaAllah, anak Abah sama Umma pintar banget," puji Hutama semakin membuat Farel kecil tertawa nyaring.
"Sini, Farel! Cepetan! Abah sama Umma nungguin, nih!" Hutama berujar semangat, tak sabar putranya mendekat dan memeluknya.
Farel tersenyum tipis dan melangkah lebih cepat, namun naas, tubuh tegapnya justru terjatuh.
"Mas!!" Fisha membantu Farel kembali berdiri.
Farel meringis, kakinya terasa semakin nyeri, "****," bukannya mengucap, ia malah mengumpat. Hatinya dongkol saat langkahnya harus terhambat untuk mencapai Hutama dan Raima.
"Kalau sakit dan tidak sanggup, jangan dipaksa! Kita akan coba dengan perlahan besok," ujar dokter Isar.
Farel menatap wajah abah dan ummanya yang tampak sendu. Sungguh, Farel benci mimik wajah itu jika terpatri di wajah orang tersayangnya, terlebih lagi orang itu abah dan ummanya.
"Saya bisa!" Lagi, Farel kembali berjalan dengan perlahan dan terkadang lebih cepat.
Mungkin memang hanya dari sofa ke pintu, tapi sungguh, jarak antara sofa dan pintu itu lumayan jauh. Membuat Farel harus sedikit lebih keras untuk melangkah.
Farel tersenyum lebar, dengan susah payah, akhirnya ia bisa berdiri tepat di depan Hutama dan Raima. Ketiga orang itu langsung berpelukan.
Hutama tersenyum bangga dengan mata memerah, sedangkan Raima sudah menangis sejak langkah Farel tinggal lima langkah tadi. Melihat perjuangan keras Farel menuju mereka, tentu saja itu merupakan hal yang mengharukan.
"Bah, Ma!!" Bisik Farel.
"Farel belajar jalan lagi," sambungnya.
Raima mengangguk sambil mengusap wajah Farel yang tampak berkeringat, "Anak Abah dan Umma hebat!" Puji Raima.
"Anak Abah mau apa? Nanti Abah kasih karena anak Abah ini pinter banget," Hutama mengusap acak rambut lebat Farel.
"Motor baru," minta Farel dengan kekehan dan kembali memeluk orang tuanya.
Hutama dan Raima ikut terkekeh, "Iya, nanti Abah beliin. Nanti kita keliling Jakarta sama Bandung,"
Melihat interaksi orang tua dan anak itu, membuat semuanya terharu. Inilah, kehangatan seperti inilah yang amat sangat mereka rindukan. Farel, penghangat mereka telah kembali.
"Thanks God!"
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^