
..."Saat melihat babi, aku teringatmu,"...
...Farel...
Sesuai dengan janjinya, Farel akan membawa kedua adiknya ke timezone. Terbukti dengan lokasi mereka yang sekarang berada di timezone.
Meskipun bukan hari libur, tempat bermain itu tetap ramai oleh pengunjung. Bahkan ada beberapa remaja yang bermain dengan seragam sekolahnya yang tertutupi oleh jaket.
"Mau main apa?" Tanya Farel.
"Zira mau main itu!" Seru Zira menunjuk permainan mobil-mobilan, di mana mereka yang mengemudikannya membawa pistol.
"Abang beli koin dulu," ucap Farel dan pergi membeli koin sebanyak mungkin.
"Ayo!" Ajak Farel setelah membeli banyak koin.
"LET'S GO!!!"
Farel tersenyum tipis melihat keantusiasan kedua adiknya untuk menaiki mobil-mobilan itu.
"Kita berdua, Abang sendiri, yah? Kita balapan sampe ujung!"
"Iya," jawab Farel dan menaiki mobil-mobilan miliknya.
"SATU, DUA, TI----HUUUU!!" Hitung Nia dengan curangnya langsung melajukan si mobil sebelum hitungannya selesai.
"Kamu curang!!" Seru Farel dan mulai menyusul dengan sesekali menembaki kedua adiknya dengan pistol mainan, begitu pula sebaliknya.
"ABANG JANGAN DITABRAK! ABANG CURANG!" Kesal Nia saat Farel dengan sengaja menabrak mobilnya hingga oleng.
"Satu sama," kekeh Farel.
Permainan itu terus berlanjut bergantikan dengan semua permainan yang tersedia. Canda tawa menghiasi kegiatan mereka, memberikan rasa tenang di hati Farel saat melihat tawa dan senyum kedua gadis yang dicintainya itu.
"ABANG, AYO MAIN CAPIT BONEKA!"
"Ayo!"
"Abang, Zira mau yang itu!" Tunjuk Zira pada boneka beruang kecil.
"Nia mau yang itu!" Tunjuk Nia pada boneka kelinci.
"Tapi tadi katanya main, kok, Abang yang disuruh ambil?" Tanya Farel menggoda keduanya.
"ABAAAANG!!"
Farel terkekeh puas lalu mengangguk, "Hadiah buat Abang apa?"
"Abang pamrih banget,"
"Gak ada yang gratis,"
"Ish, Abang mau hadiah apa?"
"Kiss," jawab Farel menunjuk pipinya.
"DEAL!"
Farel terkekeh sambil menggeleng melihat tingkah mereka. Sangat kompak, pikirnya.
"Kiri Bang, Kiriin!! Nah, bener! Capit, Bang!" Tuntun Zira menuntun permainan capit abangnya.
"Kenapa gak kamu aja, sih, yang ambil sendiri, Dek? Kamu juga yang tunjukin arahnya," kesal Farel.
"Biar lebih berdamage,"
"Nih, bonekanya!" Beruang kecil diberikan Farel pada adik bungsunya, membuat Zira bersorak senang.
"Punya Nia!"
"Sabar, Dek,"
"IH!! ABANG KOK AMBIL BONEKA MONYET?! NIA, KAN, MAUNYA KELINCI," Kesal Nia saat Farel dengan sengaja mencapit boneka monyet, bukannya boneka kelinci yang dimintanya.
"Kecapitnya yang ini,"
"BOHONG! ABANG SENGAJA!"
Lagi-lagi kekehan terdengar dari bibir Farel. Sebelum adik tomboynya semakin mengamuk, pria tampan itu segera mencapitkan boneka yang diminta, boneka kelinci.
"Nih, kelincinya,"
"YEAAYYY!!"
"Makasih Abang!" Girang kedua gadisnya sambil mencium pipinya.
"Iya,"
__ADS_1
"Udah, kan? Belanja, yuk!" Ajak Zira.
"Bentar," jawab Farel dan kembali berkutat dengan alat capit yang dipenuhi boneka itu.
"KOK BABI?!" Kaget Nia dan Zira saat abangnya itu memilih boneka babi.
"Mirip," jawab Farel sambil terkekeh melihat boneka babi itu.
"Mirip siapa?"
"Orang. Udah, ayo! Mau belanja, kan?"
"MAU!!"
Farel mengangguk dan segera membawa mereka keluar dari arena timezone untuk berkeliling mall sambil berbelanja.
Setelah hampir satu jam mereka mengelilingi mall, akhirnya mereka memilih memasuki toko pakaian.
"Khimarnya bagus warna pink atau merah, Bang?" Tanya Nia menunjukkan dua jilbab berbeda warna.
"Merah,"
"Tapi pink juga bagus,"
Farel menghela nafasnya, mulai kesal, "Kalo gitu ngapain nanya, Dek?!" Batin Farel kesal, namun tak ingin mengutarakannya.
"Ya udah, dua-duanya aja,"
"Boros Abang! Nia ambil yang merah aja,"
"Iya, terserah,"
"Abang, hoodie hitam atau putih?" Sekarang giliran Zira yang bertanya.
"Hitam,"
"Oke, putih," putus Zira yang membuat batin Farel terganggu.
"Kalo gitu ngapain nanya?!" Kesalnya.
"Katanya, kalo laki-laki pilih salah satu, berarti yang harus dipercaya yang bukan pilihannya. Makanya Zira pilih putih,"
"Sesukanya kamu, Dek," sungut Farel dan ikut mengelilingi toko itu.
"Bang, Nia ambil khimar ini buat Lea, ya?" Izin Nia menunjuk khimar berwarna biru.
"Iya,"
"Gak usah," balas Farel saat dirinya terpaku pada sebuah gaun gamis berwarna merah muda dengan beberapa hiasan di bagian bawah pinggang.
"Mas ingin membeli gaun gamis ini? Gaun gamis ini adalah yang terbaru di toko kita," tanya sang pelayan.
"Saya beli," putus Farel yang diangguki sang pelayan dan segera membingkis belanjaan mereka.
"Buat Fisha, Bang?"
"Buat Umma udah?" Tanya Farel mengalihkan pembicaraan.
"Udah. Bener itu buat Fisha?"
"Abang bayar dulu," ucap Farel tak mau menjawab dan melenggang pergi begitu saja meninggalkan Nia yang bersungut kesal.
"Mau beli apa lagi?" Tanya Farel datang sambil menenteng belanjaan mereka.
"Gak tau. Liat-liat lagi, yuk!"
"Hm,"
Mereka bertiga pun kembali mengelilingi mall tanpa tujuan yang jelas.
"Bang, Zira mau beli pin jilbab!" Seru Zira saat melihat toko souvenir.
"Oke," mereka bertiga sama-sama melangkah memasuki toko yang dipenuhi souvenir itu.
Seperti di toko pakaian tadi, mereka berpencar mencari kebutuhannya masing-masing.
"Bang, Zira beli ini sama ini buat Kak Lea," ucap Zira datang menunjukkan dua pin jilbab.
"Nia case hp ini," ucap Zira menunjukkan case hp bergambar biasnya, BTS.
"Fisha gak usah, pasti Abang yang pilih sendiri," sambung Nia dengan kekehannya.
"Gih, bayar!" Suruh Farel memberikan black card-nya pada Nia.
"Abang ambil apa?"
"Udah bayar,"
__ADS_1
"Oh,"
"Masih ada yang mau dibeli?" Tanya Farel.
"MAKAN!"
"Harus!" Jawab Farel dan membawa keduanya menuju restoran yang ada di mall.
***
Ketiga kakak beradik itu baru kembali ke rumah setelah selesai sholat ashar di salah satu masjid yang mereka lewati di perjalanan pulang.
Banyak tentengan yang mereka bawa. Belanjaan, mainan hingga jajanan yang mereka beli di pinggir jalan.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
"Seneng mainnya?" Tanya Raima saat Nia dan Zira duduk di sisinya.
"Banget,"
"Jalan gak ajak-ajak lo!" Semprot Yusuf saat Farel duduk di sampingnya.
"Ngapain di sini? Gak punya rumah?" Sinis Farel.
"Lo sekali ngomong panjang nyelekit banget,"
"Hm,"
"Bawa oleh-oleh apa, nih?" Seru Dylan hendak membuka belanjaan mereka.
"Jangan sentuh!" Amuk Farel menendang Dylan yang hendak membuka belanjaannya.
"Set dah, ni, anak! Emang apa, sih, isinya? Aneh-aneh, ya?"
"Babi,"
"Heh, mulut lo!"
"Ck," kesal Farel dan membuka bingkisan itu untuk mengeluarkan boneka babinya.
"Astaghfirullah, lagian lo, sih, gak jelas bilangnya!"
"Bodo,"
"Buat apaan boneka babi sama lo?"
Farel menggeleng dan melemparkan boneka itu kepangkuan Fisha, "Buat lo,"
"Oh, buat pujaan hati, toh," ejek Adam yang semakin membuat Farel kesal.
"Emang mau Abang kasih sama Fisha? Berarti Fisha----" ucap Nia menggantung lalu tertawa terpingkal-pingkal, begitu pula dengan Zira.
"Kok, ketawa? Berarti Fisha apa?" Tanya Fisha.
"Fisha mirip babi?!" Seru Dylan kelepasan dan ikut tertawa, begitu pula yang lain, kecuali Farel dan Fisha.
"Fisha babi?" Tanya Fisha.
"Mirip," jawab Farel tanpa peduli dengan hati Fisha yang mencelos.
"Buat lo!" Ucap Farel melemparkan boneka monyet pada Milea.
"Lea mirip monyet makanya kamu kasih ini?" Tanya Milea.
"Jodoh lo yang mirip monyet," sinis Farel melirik Dylan.
"Sia*an," gumam Dylan menendang kaki Farel.
"Heh, mau ke mana lo?" Tanya Afnan saat Farel bangkit dari duduknya.
"Mandi. Acara malam udah?"
"Udah, beres semua,"
"Good," puji Farel dan setelahnya benar-benar meninggalkan ruang keluarga sambil membawa satu paper bag-nya lagi.
"Ucapan Farel jangan dimasukin hati, ya, Fisha. Umma yakin Farel gak maksud," ucap Raima.
"Iya, Ma, Fisha tau, kok. Fisha mau ke kamar dulu,"
"Iya,"
Tbc.....
^^^#as.zey^^^
__ADS_1