
..."Sentuhan dan tatapan Farel kecil seolah menghipnotisku hingga pusat perhatianku hanya ada untuknya,"...
...Hutama...
Mobil pajero putih milik Hutama berhenti di sebuah rumah kontrakan petak dua, yang Hutama yakini adalah tempat tinggal Raima.
Mereka bisa mendengar suara tangisan yang amat nyaring dari kontrakan dengan pintu terbuka.
Raima dengan tergesa-gesa turun dari mobil dan menuju kontrakan itu. Hutama pun turut menyusul Raima.
"Assalamu'alaikum," ujar Raima nyelonong masuk begitu saja ke kontrakan Mayang, teman barunya setelah ia pindah ke Bandung.
"Wa'alaikumussalam," balas Mayang.
Raima langsung mengambil alih Farel dari gendongan Mayang. Tangis Farel kecil pun mulai mereda. Tangan mungilnya melingkari leher sang umma dan wajahnya pun disembunyikan di dada sang umma.
"Anak Umma sakit, hm? Kenapa, Sayang? Farel mau apa, hm? Bilang sama Umma," Raima mengusap rambut Farel kecil yang basah karena keringat.
"Ma," Farel kecil hanya menjawab dua huruf dengan sesenggukan sehabis nangis.
"Iya, Umma gak ke mana-mana. Sama Farel terus kok. Jangan sakit ya, anak sholeh-nya Umma," Raima terus mengusap punggung Farel kecil dengan sayang.
"Maaf, ya, Mayang, aku ngerepotin kamu,"
"Gak papa, Raima. Aku seneng kok kamu titipin Farel sama aku. Ganteng, baik, gemesin lagi," Mayang mengusap bahu Raima guna meyakinkan. Mayang memang sudah tahu apa yang dialami Raima, dan ia turut sedih akan hal itu.
"Kamu sama siapa, Ma?" Tanya Mayang saat melihat Hutama yang berdiri apik di depan terasnya.
Raima ikut menoleh, "Dia bossku. Dia nganterin tadi. Aku kira dia udah balik," jelas Raima dan menghampiri Hutama. Mayang pun turut mengekori.
"Kenalin, Pak, teman saya, Mayang," ucap Raima.
"Saya Mayang, Pak," Mayang sedikit menunduk sambil mengenalkan dirinya.
"Saya Hutama," balas Hutama acuh tak acuh. Fokusnya hanya pada bocah laki-laki yang berada di gendongan Raima.
"Ini anak saya, Alfarel," seolah mengerti, Raima pun memperkenalkan Farel pada Hutama.
Mendengar namanya disebut, Farel langsung menoleh ke belakang. Melihat dengan siapa sang umma berbicara.
"Ma," Farel kecil tampak ketakutan dan semakin erat memeluk Raima.
"Gak papa, Bapak-nya bukan orang jahat kok. Dia yang nganterin Umma tadi biar bisa cepet-cepet ketemu Farel," jelas Raima tanpa peduli apakah anaknya itu akan mengerti atau tidak.
"Bagaimana keadaan anak kamu?" Tanya Hutama.
"Demam. Mungkin belum terbiasa saya tinggal. Dikompres sebentar panasnya akan turun," jelas Raima.
__ADS_1
"Tidak mau membawa ke rumah sakit?" Tanya Hutama setelah memberanikan diri menyentuh dahi Farel kecil yang memang terasa panas.
"Tidak perlu, Pak,"
"Ma Ma Ma," Farel kecil terus merengek di gendongan Raima.
"Iya, anak Umma mau apa?"
"Anas," jawab Farel kecil dengan polos sambil memegang dahinya sendiri.
Raima tersenyum, "Iya, panas. Anak Umma kenapa bisa panas badannya? Mau Umma bawa ke rumah sakit?"
Farel kecil menggeleng lucu dengan mata berkaca-kaca. Ia seperti mengerti dengan ucapan umma-nya.
Raima terkekeh, "Gak boleh nangis! Gak ke rumah sakit kok. Umma kompres aja biar gak panas lagi, ya,"
"Iya,"
"May, aku pulang dulu. Makasih ya,"
"Iya, sans aja, Ma,"
Raima tersenyum tulus dan berjalan menuju kontrakannya sendiri yang letaknya tepat di samping Mayang. Hanya ada pembatas setengah dinding di antara kontrakan mereka.
Raima mencari kunci rumahnya dengan susah karena sambil menggendong Farel. Sedikit kesal karena tidak juga mendapatkan kunci di tasnya. Padahal ia buru-buru untuk segera mengompres sang anak.
"Terima kasih, Pak," tulus Raima dan mulai membongkar tasnya. Padahal isi tas itu tak banyak, tapi entah kenapa rasanya susah untuk menemukan sebuah kunci.
Farel menatap lugu ke arah Hutama. Tangan mungilnya yang terasa panas meraba wajah Hutama. Hutama pun balas menatap bocah kecil malang itu.
"Ada apa? Menginginkan sesuatu?" Tanya Hutama yang dijawab gelengan oleh Farel kecil. Namun tangan mungilnya tak berhenti meraba wajah Hutama, yang menjadi korban pun hanya diam dan menikmati sentuhan Farel kecil. Matanya sesekali terpejam saat tangan panas itu menyentuh bulu mata lentiknya.
"Hish! Mana sih, kuncinya?!" Raima berujar kesal saat tak menemukan kunci rumahnya.
Mayang yang sedari tadi memperhatikan mereka seketika tertawa. Membuat ketiga manusia itu menatapnya aneh.
"Kenapa May?"
"Kamu pikun ya, Ma? Kuncinya gak kamu bawa, tapi kamu taruh di ventilasi," ujar Mayang masih terus tertawa.
"Astaghfirullah, aku lupa. Kenapa gak bilang dari tadi sih, May?!" Kesal Raima mengambil kuncinya yang ternyata terletak di ventilasi.
"Habisnya liat ekspresi kesel kamu tuh senang banget. Makanya, kalau udah kebiasaan bawa kunci, ya bawa aja kuncinya,"
"Kan biar kamu kalau ada apa-apa bisa masuk langsung, May," kilah Raima.
"Nanti saja debatnya. Lupa anak kamu sakit?" Tegur Hutama yang membuat Raima segera membuka pintu.
__ADS_1
Tanpa disuruh, Hutama langsung masuk ke dalam. Membuat Raima dan Mayang melongo heran dibuatnya. Kenapa pria itu malah masuk, bukannya pergi?
"Gimana nih, May?" Bingung Raima.
"Ya udah, aku temenin," Raima mengangguk dan kedua perempuan itu masuk menyusul Hutama.
"Farel sama Umma, ya? Bapaknya mau pergi kerja lagi," Raima hendak mengambil alih anaknya, namun Farel menggeleng dan memeluk erat leher Hutama.
"Anak kamu kayaknya lengket tuh, sama boss kamu," bisik Mayang.
"Tidak apa, Farel sama saya saja. Kamu siapkan dulu kompresannya," titah Hutama mendudukkan dirinya di karpet berbulu. Raima pun menurut dan menuju dapur yang diikuti Mayang.
"Cucu," gumam Farel kecil menyandarkan kepalanya lemas ke dada bidang Hutama.
"Farel mau susu?" Farel mengangguk sebagai jawaban.
"Ma, Farel minta susu!" Ujar Hutama sedikit keras.
"Iya," Raima membalas dengan sedikit keras pula.
"Farel tidak mau apa-apa? Biar dibelikan," tanya Hutama sekali lagi. Ia sedikit bingung harus membahasakan dirinya dengan sebutan apa.
"Ni apa?" Bukannya menjawab, Farel kecil asik memainkan brooch milik Hutama.
"Namanya brooch. Farel suka?"
Farel mengangguk, "antik," jawabnya dan kembali menyandarkan kepalanya dengan tangan yang terus memainkan brooch yang terpasang apik di tuxedo Hutama.
Raima kembali dengan sebotol susu di tangannya, sedangkan Mayang membawa kompresan.
"Sini sama Umma! Mau minum susu, kan?" Raima berusaha mengambil alih Farel, namun lagi-lagi anaknya itu menolak.
"Gak au!"
"Biar sama saya dulu," Hutama memberikan sebotol susu itu pada Farel dan dengan lahap ia meminumnya.
"Tidak minum ASI?" Tanya Hutama tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari Farel.
"Itu ASI," jelas Raima dengan menunduk malu, sedangkan Hutama hanya mengangguk dan dengan telaten mengompresi Farel tanpa peduli pakaiannya yang akan basah.
"Maaf, Pak, saya merepotkan. Seharusnya Bapak sedang meeting sekarang," ujar Raima yang sayangnya tidak ditanggapi oleh Hutama.
"Sabar, ini ujian," bisik Mayang setengah mengejek, membuat Raima mendelik kesal.
Tbc...
Part HUTAMA FLASHBACK akan berlangsung lumayan panjang. Aku harap kalian menikmati gimana awal pertemuan Hutama, Raima dan Farel kecil^^
__ADS_1
^^^#as.zey^^^