
..."Aku pernah meminta pada Tuhan, jika belum mengizinkanku untuk pulang, maka izinkan aku untuk tertidur lebih lama,"...
...Catatan Farel...
Tiam baru saja tiba di Paris setelah menempuh perjalanan 16 jam dari Indonesia. Meski menggunakan jet pribadi, tetap saja tempat yang ditujunya tidak dekat.
Kalau Tiam butuh waktu 16 jam untuk sampai di bandara Paris, maka butuh tambahan jam lagi untuk tiba di rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam bersama suruhan yang menjemputnya, Tiam akhirnya tiba di rumah sakit dan bergegas menuju ruang yang sudah Jong beri tahukan.
"Karaya!" Seru Tiam membuat Karaya yang tadinya menunduk menangis langsung mendongak dan berlari menuju pelukan Tiam. Tangis gadis itu semakin kencang dan terdengar amat memilukan.
"Tenanglah, Oppa akan baik-baik saja," Tiam dengan sayang mengusap surai coklat Karaya.
"Aku takut Oppa pergi meninggalkan aku," ungkap Karaya sesenggukan.
"Oppa tidak pernah meninggalkanmu,"
"Tuan Tiam," Jong datang dengan tentangan di tangannya.
"Bagaimana keadaan Abang?"
"Tuan Asz dinyatakan koma. Meski racunnya berhenti menyebar, tapi beberapa sistem saraf Tuan Asz mengalami kelemahan. Juga, meski tusukannya tidak mengenai jantung, sistem kerja jantung Tuan Asz melambat dan banyak terkena racun," penjelasan Jong berhasil membuat tangis Karaya semakin nyaring, sedangkan Tiam berusaha menahan rasa marah dan khawatirnya. Ia baru tahu kalau Farel dinyatakan koma.
"Apa yang kau bawa?" Tiam mengalihkan perhatian sambil membawa Karaya duduk.
"Makan malam. Nona Karaya tidak mau makan sejak Tuan Asz terluka,"
"Karaya, makanlah terlebih dulu," bujuk Tiam yang dihadiahi gelengan.
"Tidak mau! Aku mau menunggu Oppa! Oppa juga belum makan," hati Tiam sesak rasanya. Gadis di hadapannya itu benar-benar mengagungkan sosok Farel.
Tiam menangkup wajah Karaya dan menghapus air matanya, "Siapa yang bilang Oppa Asz tidak makan? Meski tertidur, Oppa Asz tetap diberi suntikan vitamin oleh dokter. Oppa Asz juga bisa kenyang kalau Karaya makan. Karena kenyangnya Karaya juga kenyangnya Oppa Asz,"
"Jinjja?" Karaya bertanya dengan begitu lugunya. Senyum yang menenangkan Tiam berikan. Mau bagaimanapun, Karaya tetap seperti anak kecil yang lugu, namun terkadang pura-pura mengerti. Nasibnya hanya lebih baik dari Farel, tapi keadaannya tak berbeda jauh dari Farel. Mereka sama-sama dipaksa dewasa oleh keadaan.
"Sungguh, Oppa tidak pernah bohong pada Karaya. Jadi, Karaya harus makan dulu biar Karaya dan Oppa Asz kenyang,"
Karaya mengangguk, "Tapi Oppa Tiam suap!"
Tiam kembali tersenyum dan lekas membuka makanan yang dibawa oleh Jong. Tiam sungguh telaten menyuapi Karaya dan sesekali melirik Hyeon yang juga makan dengan tenang meski terlihat gurat gusar dari wajahnya.
"Oppa tidak makan?" Tanya Karaya dengan mulut penuh. Gadis itu makan dengan lahap, ternyata ia menahan lapar sejak semalam.
"Jangan berbicara saat mulut penuh, Karaya!" Tegas Tiam sambil mengusap sudut bibir Karaya.
"Oppa sudah makan saat di jalan tadi," lanjut Tiam dengan berbohong, padahal ia tidak ada makan sejak dari rumah Fisha kemarin. Paling tidak, hanya air putih yang ia konsumsi untuk memenuhi celah di perutnya.
__ADS_1
"Setelah makan, Karaya mandi dulu. Dari kemarin belum mandi, kan? Bajunya sudah tidak cantik lagi," ujar Tiam benar-benar memperlakukan Karaya seperti anak kecil.
"Aku mau menemui Oppa dan menemaninya,"
"Oppa akan minta izin pada dokternya. Tapi Karaya harus mandi dulu. Nanti Jong akan mengantarkan pakaian barunya,"
"Baiklah,"
Tiam tersenyum lega, kalau begini, tidak terlalu sulit merawat Karaya. Cukup perlakukan saja ia layaknya anak kecil dan ratu. Lembut dan pengertian.
"Minta antar Kim ke kamar mandinya. Jangan berkeliaran sendirian. Mengerti Karaya?" Sabda Tiam pada Karaya setelah gadis itu usai makan.
"Mengerti Oppa,"
"Oppa akan menemui dokter dulu," Tiam mengusap rambut Karaya dan bangkit, matanya mengode pada Nyonya Kim yang sejak tadi berdiri di samping Jong agar menemani Karaya.
"Di mana ruang dokternya?" Tanya Tiam yang akhirnya diantarkan oleh Jong.
"Bagaimana keadaan detailnya?" Tanya Tiam dalam bahasa Prancis saat tubuhnya sudah duduk di hadapan dokter yang menangani Farel.
"Awalnya keadaan pasien membaik setelah racunnya berhasil dihentikan penyebarannya. Tapi saat menjahit lukanya, pasien kehilangan banyak darah. Setelah berhasil ditangani, pasien sempat sadarkan diri. Namun ia hanya mengucapkan tiga nama," jelas sang dokter membuat kening Tiam mengernyit.
"Siapa?"
"Umma, Ae Ri dan Fisha. Setelahnya ia kembali tidak sadarkan diri dan dinyatakan koma,"
Kepala Tiam tertunduk, bahunya meluruh begitu saja. Pikirannya berkecamuk, tidak tahu harus berbuat apa.
"Penyebaran racun memang sudah dihentikan, tapi organ tubuh yang terkena racun mengalami beberapa kerusakan. Penyebaran racun pun tidak merata,"
"Apa akibat dari racun itu?"
"Seharusnya tidak berdampak besar karena segera ditangani. Kemungkinan terburuknya, pasien akan mengalami kelumpuhan," bertambahlah kehancuran Tiam.
"Kira-kira, kapan ia akan sadar?"
Sang dokter menggeleng dengan helaan napas, "Tidak bisa dipastikan. Tergantung pada keinginan pasien. Bisa saja satu bulan, tahun atau bahkan yang paling buruk, tidak akan pernah membuka mata. Maaf,"
Tiam mengacak rambutnya frustrasi, "Aku akan membawanya ke New York," Tiam sudah memikirkan hal ini matang-matang sejak dalam perjalanan. Paris sudah tidak aman untuk Farel.
"Tapi akan membahayakan kondisinya,"
"Aku tahu, oleh sebab itu aku butuh pihak medis terbaik dari kalian. Aku akan membayar kalian dengan mahal. Kita akan membawanya dengan jet pribadi,"
"Kalau saya boleh tahu, anda siapanya pasien? Kenapa saya harus memberi anda izin untuknya?"
"Saya adiknya. Orang tua kami sibuk untuk menemuinya,"
__ADS_1
Sang dokter mengangguk, "Baiklah, saya akan memastikan kondisinya memungkinkan untuk dipindahkan. Tapi nanti anda harus menanda tangani surat perjanjian,"
"Baik. Saya dan adik saya ingin menjenguknya, bisa?"
"Hanya dua jam dan hanya boleh dua orang!"
"Baik,"
Tiam keluar bersama Jong dengan wajah kusutnya. Pikirannya menjadi buntu memikirkan apa yang harus ia lakukan. Bagaimana masa depan mereka nanti, Tiam stress sendiri memikirkannya.
"Bagaimana Oppa? Aku bisa menemui Oppa Asz?" Pertanyaan itu langsung Tiam terima dari Karaya.
"Boleh, kita akan bergantian masuk. Waktu jenguknya hanya dua jam dan cuma boleh dua orang,"
"Ya sudah, ayo kita masuk dulu!" Karaya langsung menarik lengan Tiam memasuki ruang ICU untuk menemui perawat agar diberikan pakaian gaun protektif pembesuk.
Tangis Karaya kembali pecah saat melihat kondisi Farel yang penuh dengan alat-alat medis di tubuhnya.
Tiam memeluk Karaya dan membawanya semakin dekat pada brankar Farel.
"Oppa!!" Isak Karaya bersimpuh dan menggenggam tangan Farel yang tak diinfus dengan hati-hati.
"Oppa kenapa tidurnya lama?! Aku mau bersama Oppa! Oppa bilang akan menjagaku! Kalau Oppa tidur di sini, bagaimana Oppa menjagaku?!"
"Tenanglah, Karaya. Oppa Asz tidak akan suka melihatmu menangis,"
"Bangunkan Oppa Asz!! Aku mau bersama Oppa Asz!!" Tiam dapat melihat keputus asaan dari mata Karaya.
"Jangan menangis, Karaya! Oppa dan Oppa Asz tidak suka kamu menangis. Oppa Asz pun pasti juga tidak ingin seperti ini. Tapi semuanya sudah ditakdirkan Tuhan,"
"Tuhan siapa? Tuhanku atau Tuhan Oppa?!"
"Tidak boleh begitu, Karaya! Oppa tidak suka mendengarnya. Oppa dan Oppa Asz tidak pernah mengajarimu seperti itu. Jika kau masih tidak bisa mengendalikan emosimu, kita akan keluar!" Tiam memang akan tegas jika Karaya menyalahi aturan, seperti saat ini. Apa lagi saat gadis itu seperti hendak protes tentang masalah Tuhan.
Karaya mulai diam, hanya ada isak tangis yang tersisa dari itu. Kini ia hanya fokus memandangi wajah oppa-nya yang terlihat amat pucat, persis seperti tidak bernyawa.
Tiam mencium kening Farel cukup lama, "Berjanjilah akan baik-baik saja dan cepat bangun! Jika tidak, aku akan membawa Umma dan Fisha untuk melihat keadaanmu yang menyedihkan ini!" Bisik Tiam penuh ancaman.
"Kita akan ke New York sebentar lagi. Di sini sudah tidak aman untuk Karaya," sambung Tiam kemudian kembali menegakkan tubuhnya.
"Oppa akan keluar untuk bergantian dengan Hyeon. Jangan berbuat yang aneh," pesan Tiam sebelum meninggalkan Karaya yang hanya terdiam menatap wajah Farel yang terpejam.
Tbc...
Aku harap fokus kalian gak cuma ke Farel dan Fisha. Tapi di cerita ini juga ada Tiam dan Karaya yang harus kalian perhatikan.
__ADS_1
Tolong beri Tiam dan Karaya perhatian lebih:)
^^^#as.zey^^^