
..."Sakitmu adalah sakitku. Lukamu adalah lukaku. Perihmu adalah perihku. Bahagiamu juga bahagiaku. Karena kamu adalah sebahagian dari hidupku,"...
...Farel...
Hari-hari Farel sudah kembali seperti biasa. Operasi beberapa waktu lalu tidak menimbulkan efek yang berat untuknya. Kepalanya pun sudah terlepas dari lilitan perban pasca operasi.
Farel, pria dingin dengan banyak rahasia itu kini sedang duduk bersama RANDA di pojok kantin menikmati waktu istirahat.
"Semalem gimana lo di apartemen, Rel?" Tanya Yusuf memastikan sahabatnya itu baik-baik saja tinggal sendirian di apartemen.
"Baik," jawab Farel acuh dan asik dengan ponselnya.
"Liat apa, sih, lo?" Kesal Dylan.
"Chat Umma,"
"Kenapa Umma? Kebiasaan lo, bicara setengah-setengah,"
"Bawain bekel,"
"Oh, Umma lo bawain bekel? Terus mana?"
"Hm, sama N--"
"Assalamu'alaikum," ucap Fisha menyela, mengalihkan atensi mereka.
"Wa'alaikumussalam,"
"Eh, Fisha. Kenapa?"
"Tadi Umma titipin bekel buat Gus Farel," jawab Fisha meletakkan sekotak bekal di hadapan Farel.
"Oh, jadi 'N' itu Nafisha?" Goda Dylan.
"Ck, Nia," kesal Farel.
"Nia apa Nafisha?"
"Berisik!" Sungut Farel membuat mereka tertawa senang.
"Tadi bekelnya emang sama Nia, kok. Cuma Nia tadi kebelet," jelas Fisha.
"Ouhh, begindong. Pinter juga Adek lo, Rel,"
"Diem!" Geram Farel, namun dihiraukan oleh mereka dan semakin gencar menggodanya.
"Itu bekel buat siapa, Sha?" Tanya Adam menunjuk kotak bekal satu lagi yang ada di tangan Fisha.
"Punya Fisha,"
"Kok bawa bekel?"
"Fisha alergi sama sabun cucinya, Kak. Jadi kalau dipakai sabunnya, kan, ada lengket di piring atau mangkuknya," oceh Fisha yang hanya diangguki mereka.
"Sha, udah dikasih bekelnya?" Tanya Nia datang bersama Milea.
"Udah, Ya,"
"Okeh. Bang, kita duduk sini, ya? Tempat duduk pada habis," izin Nia yang padahal pantatnya sudah duduk nyaman di samping sang abang.
"Udah duduk ngapain izin, Neng?!"
"Yeuuh, sewot amat! Sha, Lea, duduk sini aja!" Ucap Nia menarik Fisha dan Milea untuk duduk.
"Ehm, bawang putihnya gak dihalusin," ringis Farel saat indra perasanya merasakan bawang putih yang hanya dipotong kecil. Pria dingin itu memang tidak suka makan bawang putih tanpa dihaluskan.
"Kata Umma baik buat kesehatan Abang," jelas Nia.
Farel menggeleng dan menyingkirkan kotak bekalnya, "Gak mau," tegasnya dan meneguk habis air putihnya.
"Jadi Abang gak makan?" Tanya Nia yang hanya dijawab gelengan.
"Kalau Abang gak makan, nanti sakit lagi gimana?"
"Eng--"
"Punya Fisha bawang putihnya gak dipotong-potong. Gus mau? Tapi udah Fisha makan sedikit," tawar Fisha dengan wajah polosnya.
"Nah, tukaran aja sama Fisha! Daripada lo gak makan, kan?!" Serobot Yusuf dan menukarkan kotak bekal mereka berdua, tentunya tanpa bertukar sendok pula.
"Ck, memang saling melengkapi," komentar Dylan yang dihadiahi lemparan garpu oleh Farel. Kejadian tersebut seolah hiburan bagi mereka, sedangkan yang ditertawakan sudah meringis kesakitan.
"Makan!" Titah Farel dan akhirnya mereka makan dengan khidmat setelah makanannya terhidang apik.
***
__ADS_1
Bel pulang sudah berbunyi dari lima menit yang lalu, namun sang guru pengajar di kelas RANDA tak kunjung mengakhiri pelajarannya.
Semua siswa sudah sedari tadi mengeluh dan menghela napas kesal. Sedangkan sang guru hanya acuh dan asik dengan materinya yang sulit dipahami untuk otak mereka.
"Ya Allah, gini banget punya guru?! Kagak ada toleransinya," kesal Dylan.
"Tauk, tuh! Percuma padahal dia ngoceh, gak paham gue," tambah Adam.
"Buk, masih lama?"
"Iya, Buk, masih lama? Kita mau pulang, Buk! Lagipula kita gak bakal paham sama yang Ibu jelasin! Otak kita-kita mikirnya udah ke kasur," kesal Dylan yang disahuti siswa lain.
"Hm, baiklah, sampai sini pelajaran kita. Selamat siang,"
"SIANG BUUUKK!!!"
"Alhamdulillah, akhirnya bisa napas juga," lega Yusuf saat kakinya menapaki koridor sekolah.
"Eh eh! Kenapa, tuh, pada rame-rame ke kelas sebelas?" Heran Adam melihat segerombolan siswa menuju lantai kelas XI.
"Woy Jamal! Kenapa, tuh?" Tanya Dylan pada teman seangkatan mereka yang melintas.
"Katanya anak kelas sebelas, yang murid pertukaran itu, di bully sama Si--"
Farel dengan tergesa berlari menuju lantai kelas sebelas tanpa menunggu Jamal menyelesaikan ucapannya. RANDA yang lain pun dengan tergesa mengikuti langkah kaki Farel.
"HEH! LO ITU CUMA NUMPANG DI SINI! GAK USAH KEGATELAN LO DEKETIN FAREL GUE!" Suara bentakan itu menyambut indra pendengaran Farel.
Netra tajamnyapun dapat melihat jelas, di mana kedua adiknya, Nia dan Zira, serta Milea, tangannya sedang dicekal. Sedangkan Sisil, sang ketua dari komplotan itu, baru saja menampar Fisha.
"Siapa yang kegatelan? Saya gak ada apa-apa sama Gus Farel! Toh, Gus Farel fine-fine aja!" Jawab Fisha memberanikan melawan.
"Bagus Kak Fisha! Lawan terus! Jambak rambutnya kalau perlu!" Kesal Zira dan membuat cekalan tangannya semakin memerah.
"Akh!! Sakit Tante!"
PLAAK!!
"Diem lo, Bocah!" Kesal Mia, kacungnya Sisil.
"Sia*an!" Murka Afnan hendak melangkah menghanpiri keributan itu, namun Farel lebih dulu menahan.
"Tapi Rel, dia udah nyakitin Zira! Fisha juga!"
"Biarin!" Suruh Farel menyandarkan tubuhnya ke dinding menyaksikan keributan itu.
"Ta--"
"Diem!"
Tamparan, jambakan untuk khimarnya, injakan serta cacian menggema dari koridor kelas sebelas itu.
"Jauhin Farel!"
"Kenapa saya harus menjauh sedangkan Gus Farel tidak bermasalah! Anda juga tidak berhak mengatur saya ataupun Gus Farel!"
"Masih berani jawab lo!!" Kesal Sisil dan menyiram Fisha dengan segelas jus yang sedari tadi memang digenggamnya.
"Rel, Fisha alergi sama sabun cuci gelasnya!" Peringat Dylan.
Farel melepaskan hoodie-nya dan membelah kerumunan itu. Tentu saja tindakan Farel itu menimbulkan bisik-bisik gosip dari para siswa, terlebih lagi saat Farel memakaikan hoodie itu pada tubuh Fisha yang basah dan kulitnya yang mulai memerah.
"Rel, kamu, kok, pakein hoodie kamu ke dia?! Dia itu udah de--"
PLAAAK!!
Tangan Farel mendarat di pipi kanan Sisil hingga bibirnya berdarah. Tentu sudah dapat dipastikan tampa*an itu tak main-main.
PLAAAAAAKK!!
Tak hanya pipi kanan, pipi kirinya pun juga mendapatkan tampa*an. Kedua sudut bibirnya sempurna mengeluarkan darah. Persis seperti yang dilakukannya terhadap Fisha.
"Farel, ka--- AKHHH!!" Teriak Sisil saat Farel men*rik rambutnya dan menghem*askan tubuhnya ke lantai. Kini keningnya yang berdarah.
KRAAAKK!!!
Kaki Farel dengan santainya menginj*k tangan Sisil dan mel*uk-liu*kannya, membuat Sisil semakin berteriak, serasa jari-jarinya patah.
"Kau bermain-main denganku!" Ucap Farel pelan namun mengerikan.
Tangannya sudah menyentuh leher Sisil. Pelan namun pasti, cengkraman itu semakin kuat hingga nafas Sisil mulai tercekat.
Farel tak peduli dan mengangkat tubuh Sisil hingga tergantung. Hal itu membuat mereka semua ketakutan dan kasihan terhadap Sisil, namun gadis itu pantas menerimanya.
"Yang temanmu lukai itu Adikku! Dan yang kau siksa itu milikku!" Bisik Farel dan semakin menc*kik Sisil hingga terbatuk-batuk.
__ADS_1
"LEP--HAAASS!! SHAA--KHIIT!! UHUK UHUK!" teriak Sisil.
"Apa aku peduli?"
"Gus?!" Panggil Fisha dengan lirih namun mampu mengalihkan perhatian Farel. Terbukti Farel menoleh ke bawah melihat Fisha yang terduduk lemas.
"Udah! Fisha gak papa,"
"Apa itu bisa disebut baik-baik saja?" Geram Farel.
Fisha menggeleng lemah, "Fisha udah gak kuat,"
Wajah Farel semakin merah saat melihat wajah tidak berdaya dari Fisha. Farel menye*et Sisil ke dinding kaca pembantas.
"Kurasa akan menarik jika kau kulempar dari sini," usul Farel yang membuat Sisil menggeleng ketakutan.
"Si Farel kayak psikopat beneran," komentar Adam yang diangguki RANDA.
Tangan Farel hendak tergerak sebelum sebuah tangan mencekalnya.
"Asz!" Panggilnya dengan berbisik membuat Farel menoleh dan melepas cengkramannya pada Sisil.
"Ley?"
"Hm, aku disuruh Ayah untuk kembali sekolah. Baru mulai sekolah hari ini. Aku belum sempat mengabarimu. Baru aku berniat ke apartemenmu, tapi aku sudah melihatmu hendak membunuhnya," jelas Ley.
"Hm,"
"Ada apa? Kenapa kau mau membunuhnya?"
Farel tak menjawab, namun matanya terfokus pada Fisha yang masih terduduk lemas di sandaran Nia.
Ley mengangguk paham, "Tapi kurasa membun*hnya bukan pilihan yang baik, Asz. Terlebih kau membun*hnya di hadapan Fisha dan yang lain. Kau akan dalam bahaya,"
"Aku peduli?"
Ley menghela napas. Sudah tidak heran dengan tingkah saudaranya itu.
"Dari pada kau membuang waktu dengannya, lebih baik kau membawa Fisha pergi! Apa pikiranmu benar-benar sudah tidak berfungsi karena melihat Fisha diperlakukan seperti itu?"
"Sia*an!" Umpat Farel saat sadar bahwa yang diucapkan Ley itu benar.
Kakinya melangkah menuju Fisha dan menggendongnya ala bridal, kejadian itu membuat semua melongo, terlebih lagi RANDA.
"Gus, Fisha bisa jalan sendiri,"
"Diam!" Geram Farel dan segera meninggalkan tempat itu untuk menuju RS.
"Loh?! Ditinggal? Ini cewek-cewek gila gimana?" Tanya Dylan.
"Aku yang akan mengurusnya," jawab Ley dengan senyum devil yang tak nampak.
"Lo yakin?"
"Hm. Lebih baik kalian susul dia!" Saran Ley yang disetujui mereka.
Ley lagi-lagi menghela napas dan menatap Sisil yang sudah sangat memprihatinkan.
"Kau sudah salah mencari lawan, Bi*ch," sinis Ley dan segera membubarkan kerumunan, kemudian menelpon orang untuk membawa Sisil and the genk.
***
Semua bernapas lega saat Fisha telah diperiksa dan dinyatakan baik-baik saja. Hanya perlu minum obat alergi dan menghabiskan sebotol infus.
Kejadian inipun mereka tidak berniat untuk mengabari wali Fisha. Tidak mau membuat khawatir dan masalahnya semakin berlarut-larut.
"Kenapa bisa ada kejadian seperti ini?" Tanya Hutama.
"Dia aja yang cari masalah," jawab Afnan bersungut.
"Bagaimana ceritanya Farel?"
"Masalahnya sudah selesai, Bah," Jawab Farel memberi maksud bahwa ia tak mau memberi tahu lebih lanjut.
"Ta--"
"Farel pergi dulu, assalamu'alaikum," potong Farel dan bergegas keluar saat melihat sebuah pesan dari ponselnya. Sebelum benar-benar pergi, pria dingin itu menyempatkan diri untuk mencium tangan Hutama dan melirik ke arah Fisha yang masih terbaring lemas.
"Wa'alaikumussalam,"
"Ada yang aneh sama Farel. Tadi dia bener-bener kayak psikopat," komentar Yusuf.
Hutama menggeleng tegas, "Anak Abah gak mungkin seperti itu," kilahnya yang ternyata masih bisa didengar oleh Farel, karena ia belum benar-benar meninggalkan tempat itu.
"Maaf Abah,"
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^