Mysterious Gus

Mysterious Gus
#71. Meet Up


__ADS_3

..."Harinya segera tiba, tapi aku masih belum bisa menerima semuanya,"...


...Fisha...


...***...


Pria psikopat bernama Aiden itu benar-benar dengan perkataannya. Fisha yang baru pulang dari rumah sakit sudah melihat Aiden yang duduk anteng di hadapan kedua orang tuanya.


Amar menatap putrinya dengan tatapan tak terbaca, sedangkan Fisha hanya mampu menghela napas dan mengambil tempat duduk di samping Layla.


"Pria bernama Aiden ini datang untuk mengajak kamu menikah. Dia bilang kamu setuju untuk menikah dengannya seminggu lagi. Benar?" Amar buka suara.


Fisha mengangguk pelan, menimbulkan senyum kemenangan di bibir Aiden tanpa mereka sadari.


"Kamu kenal dia dengan baik? Kenapa kamu tidak pernah membicarakannya pada Papa atau Mama?"


"Fisha kenal Aiden cuma sebulan di rumah sakit. Itu pun kita jarang bicara karena Aiden sibuk. Aiden udah sering ngajak Fisha nikah, hari ini Fisha luluh," jelas Fisha yang tentu saja berdusta.


"Maafin Fisha, Ya Allah. Fisha lakuin ini buat lindungin Papa dan Mama,"


"Kamu menyerah menunggu Farel, Sha?"


Fisha terdiam cukup lama sebelum mengangguk.


"Fisha gak bisa habisin waktu Fisha cuma buat nunggu dia pulang. Fisha juga mau bebas dan punya kebahagiaan tanpa dia,"


Lagi, Fisha berbohong dengan lancarnya. Padahal, tak pernah ada bosan dalam kisahnya menunggu Farel. Bahkan untuk puluhan atau bahkan ratusan tahun ke depan. Tapi kejadian malam itu benar-benar akan mengubah hidupnya untuk selamanya.


"Apa tidak kecepatan seminggu lagi?" Amar tampak seperti kurang setuju dan kurang suka terhadap Aiden.


Fisha meraih tangan Amar dan mengusapnya lembut, "Fisha yakin sama pilihan Fisha, Pa. Biarin Fisha bahagia sama Aiden," air mata Fisha mengalir begitu saja. Bukan karena ingin direstui, tapi bayangan masa depan yang kelam di bayangannya membuatnya merasa ketakutan.


Amar menghela napas pasrah dan mengangguk, "Kamu harus pastikan akan memberikan kebahagiaan untuk putri saya!" Ujar Amar tegas.


"Tentu," balas Aiden tak kalah tegas.


"Saya akan menyiapkan segala keperluan. Om, Tante dan Ay tinggal menerima bersih," ucap Aiden lagi.


"Ay?" Heran Amar, tapi Aiden hanya tersenyum sambil menatap Fisha yang menunduk menahan malu sambil mengeluarkan segala umpatannya di dalam hati.


***


"Maksud lo apa dengan undangan ini, Nafisha?!"


Aiden mempersiapkan segalanya dengan cepat dan matang sampai akhirnya Fisha harus menghadap komplotannya untuk memberi undangan juga menerima cercaan pertanyaan.

__ADS_1


"Aku mau nikah," ungkap Fisha kemudian menipiskan bibirnya, ia gugup.


"Gila lo! Mau nikah sama siapa lo?! Bang Farel belum pulang!" Kesal Nika.


"Siapa bilang aku mau nikah sama dia?! Aku udah capek nungguin dia!" Perkataan lantang dari Fisha barusan membuat mereka terdiam, terlebih Nia dan Zira yang berstatus adik Farel.


"Kamu bercanda kan, Sha?!"


Fisha menggeleng tegas, "Aku gak mungkin bercanda sama hal begini. Tolong hargai pilihanku! Please," wajah Fisha memelas, membuat mereka semua terdiam.


"Lo nyerah, Sha?! Kita udah nungguin lima tahun, Sha!"


"Ay adalah manusia, dia berhak untuk menyerah!" Suara itu membuat mereka menoleh dan melihat Aiden yang menghampiri mereka.


"Aiden? Kok bisa di sini?" Tanya Fisha.


"Kebetulan ada urusan di sini, Ay," jawab Aiden mengambil duduk di samping Fisha.


"Apa yang udah lo lakuin ke Fisha sampe Fisha mau-maunya nikah sama lo?!" Tuding Nika.


Aiden tersenyum tenang, "Saya dan Ay saling mencintai. Anda tidak berhak menuduh saya, Monika,"


"Lo tau nama gue?"


"Sure," Aiden melirik Fisha. Bukan dengan perhatian, namun seperti peringatan, bahwa ia mengenali mereka dan bisa saja melukai mereka jika Fisha berbuat sesuatu yang merugikannya.


"Kami bukan orang sembarangan yang bisa lo kenal begitu saja," sinis Nia. Ia yakin, kalau tidak abahnya, pasti abangnya yang menutup identitas mereka sejak dulu.


Aiden mengangguk, "Boleh juga. Tapi aku tidak menemukan pria bernama Tiam?" Aiden menatap Fisha.


"Ka--"


"Aku di sini. Apa kau memerlukan sesuatu?" Tiam tiba-tiba saja datang dan mengambil kursi untuknya duduk.


"Ternyata kau yang malam itu," Aiden menatap remeh pada Tiam.


Tiam tersenyum smirk, "Kemampuanmu boleh juga,"


"Sure,"


"Kamu kapan pulang?" Fisha mengalihkan pembicaraan.


"Baru saja sampai dan mengunjungimu setelah tau dari orangku bahwa kau ada di sini bersama yang lain,"


"Kau menyuruh orang untuk mengawasi Ay-ku?" Aiden bertanya tak suka.

__ADS_1


"Tentu, aku berhak untuk itu,"


"Setelahnya tidak akan aku biarkan kau melakukan itu," Tiam hanya diam tak menanggapi. Ia hanya acuh sambil melahap ayam yang entah milik siapa. Omong-omong, mereka sedang berkumpul di sebuah restoran.


"Oh, ya, aku ke mari untuk berpamitan,"


"Kamu akan ke mana lagi?! Kamu senang sekali bepergian! Waktumu bersama kami hanya hitungan jam!" Kesal Fisha.


"Bisa menemui kalian saja itu sudah hal yang bagus,"


"Lo mau ke mana?" Dylan buka suara. Pria itu sekarang wajahnya amat serius.


"Jika aku sebutkan, seseorang bisa saja menguntitku," Tiam melirik Aiden sombong.


"Ay, ayo kita pergi! Sore ini kita akan fitting baju," Aiden lebih memilih pergi mengajak Fisha.


Fisha hanya mampu menurut. Ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Kami pergi dulu. Pesanan ini akan aku bayar. Btw, namaku Aiden," kalimat itulah yang Aiden ucapkan sebelum benar-benar pergi bersama Fisha.


"Aku gak habis pikir kenapa Fisha nyerah gitu aja?!" Milea memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa tegang.


"Biarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri. Lagi pula, Aiden tampak memang mencintai Fisha," ujar Tiam acuh.


"Tapi Fisha it-- ck!! Gak habis thinking gue!!" Nika kesal sendiri dibuatnya.


"Kenapa kalian yang kesal? Seharusnya aku yang kesal! Selama ini aku yang selalu bersama Fisha, menjaga Fisha, tapi malah mau menikahnya dengan Aiden. Tau begini sudah kuajak nikah dari dulu,"


Nika langsung memukul kuat lengan Tiam, "Gila lo! Lo jagain Fisha itu buat Bang Farel! Bawahan menusuk dari belakang, lo!"


"Apa yang salah? Sekarang sudah banyak para bawahan yang menusuk atasannya dari belakang," semakin kesallah Nika dibuat Tiam.


"Gue cekek lo lama-lama," gerutu Nika.


Mereka memang hanya tahu bahwa Tiam adalah bawahan Farel, bukan sebagai adik Farel. Setertutup itu memang Tiam dalam merahasiakan hubungan mereka.


Tiam acuh dan bangkit dari posisi duduknya, "Aku sudah harus pergi. Aku akan pulang di hari pernikahan Fisha nanti. Kuharap kalian tidak ada niatan untuk membatalkan hari bahagia mereka,"


"Boleh juga ide lo!"


"Aku memperingatkan, bukan memberi ide," dan setelahnya Tiam berlalu.


Kepergian Tiam kali ini untuk kembali bersama Farel, Karaya dan Hyeon yang sudah menunggunya di Korea.


Ya, mereka akan kembali di negara asalnya dan hidup di sana, Negeri Ginseng.

__ADS_1


Tbc...


^^^#as.zey^^^


__ADS_2