Mysterious Gus

Mysterious Gus
#82. New Life


__ADS_3

..."Kamu adalah seseorang yang kehadirannya amat aku syukuri,"...


...Farel...


...***...


Sebuah tempat bernaung yang terlihat amat nyaman menyambut kedatangan Farel, Fisha dan Karaya.


Seperti ucapan Farel kemarin, ia akan memboyong istrinya ke Bandung dan tinggal sementara di apartement sampai masa koas sang istri berakhir.


"Suka?" Tanya Farel menatap wajah istrinya yang sejak tadi hanya diam.


Fisha tersenyum dan mengangguk. Apartement mereka tampak sederhana dan sangat nyaman meski semua dominan hitam.


"Ini ruang keluarga. Dapur ada di sisi sekat," Farel membawa kursi rodanya menuju dapur yang hanya berbataskan dinding.




"Di sini dapur, pantry dan ruang makan," jelas Farel lagi.


"Kamarku?" Karaya bertanya dengan begitu antusiasnya.


Farel tersenyum tipis, "Hanya ada dua kamar. Satu kamarmu dan satu kamar Oppa bersama Eonni," Farel beralih menuju sebuah pintu yang akan menjadi kamar Karaya.


Sebuah kamar besar bernuansa merah muda menyambut mereka. Fisha speachless dibuatnya. Luarnya saja yang tampak minimalis dan sederhana, tapi kamarnya mewah bukan main.


Cantik, aku suka!!" Senang Karaya langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.


"Bagus kalau kamu suka. Lekaslah membersihkan tubuh dan kita akan makan malam,"


Mereka memang tiba di Bandung saat malam hari, tepatnya setelah isya.


"Okey,"


Farel membawa Fisha pergi. Kali ini akan menuju kamar mereka. Tempat istimewa yang tentunya akan menjadi saksi cerita mereka.


"Kamu suka?" Farel mendongak menatap Fisha yang berdecak kagum.


"Suka. Kamarnya tampak nyaman,"


"Tentu, program sepuluh anak harus dilakukan dengan baik dan nyaman,"


"Mas!!" Demi apapun, Fisha kembali malu kali ini!


Farel terkekeh kecil, "Di sana kamar mandi dan itu ruang kerja saya,"





"Nanti, setelah urusan kamu selesai, kita pindah ke Jakarta,"

__ADS_1


"Iya. Makasih, udah ngertiin Fisha,"


Farel hanya merespon dengan anggukan. Sudah biasa seperti itu, kan?


"Saya mau mandi,"


"Iya, Fisha siapin bajunya habis itu masak buat makan malam,"


"Minta Kim saja yang memasak setelah selesai dengan Hyeon,"


Ya, jangan lupakan keberadaan Baek Hyeon yang selalu mengekori Farel dan Karaya. Pria seniman itu turut ke Bandung dan apartementnya bersebelahan dengan Farel.


"Gak papa. Mas mau makan apa?" Tanya Fisha sambil memilih pakaian Farel di koper. Ia harus terbiasa menyiapkan segala keperluan suaminya, termasuk baju.


"Apa saja," jawab Farel dan memasuki kamar mandi, ia berjalan dengan tongkatnya.


Fisha sendiri langsung menuju dapur setelah meletakkan pakaian suaminya di atas ranjang.


Tangannya bergerak membuka kulkas yang ternyata sudah penuh dengan bahan-bahan masakan. Membuka pintu kulkas yang satunya ternyata juga penuh dengan minuman, cemilan dan es krim.


Setelah termenung beberapa saat memikirkan akan memasak apa, akhirnya pilihan Fisha jatuh pada ayam. Ia memutuskan untuk menggoreng ayam itu.


Tanpa banyak berpikir lagi, Fisha langsung bersua dengan dapur barunya. Urusan masak, Fisha tak akan sulit melakukannya.


Asik dengan kegiatan menggoreng ayamnya, Fisha tiba-tiba saja dikejutkan oleh Farel yang memeluknya dari belakang. Rambut pria itu membasahi pipi dan khimarnya.


Bukan masalah basah yang Fisha rutuki, tapi jantungnya yang sudah tak karuan. Farel memang banyak bertingkah di luar dugaan Fisha sejak mereka menikah.


"M-mas, lepasin dulu! Fisha lagi masak," Fisha berujar gagu, bahkan wajahnya sudah semerah tomat.


"Dingin, Naf,"


"Di kamar aja, selimutan," Fisha memberi tolakan secara halus, tangannya pun mencoba melepas tangan Farel yang melingkar nyaman di perutnya.


Fisha dapat merasakan gelengan dari Farel, "Saya masih kangen,"


Pasrah. Fisha hanya bisa pasrah dan kembali sibuk dengan kegiatan memasaknya meski sedikit kesulitan.


"Ya ampun!! Apa yang aku lihat ini?!" Karaya terkikik melihat kegiatan Farel dan Fisha. Menurutnya itu terlalu menggemaskan. Terlebih lagi pelakunya sang oppa yang dingin dan kaku.


"Ck, kau menganggu Fisha, Hyung! Dia jadi lama memasak, aku sudah lapar!" Suara itu berasal dari Hyeon. Ia bisa berada di sana karena tadi Karaya bertandang ke apartementnya dan mengajak makan.


"Mas, lepasin! Malu diliatin Ae Ri sama Hyeon,"


Farel berdecak dan melepaskan pelukannya. Dengan pelan ia meraih tongkatnya di dekat meja pantry dan melangkah menuju ruang makan dengan wajah kesal.


"Kalau begini kau seperti anak kecil! Aku tidak mengenalmu," ejek Hyeon ikut duduk bersama Farel, sedangkan Karaya membantu Fisha.


Farel tak menjawab, ia hanya melirik sinis pada Hyeon dan meninggalkan keheningan di antara keduanya.


Tak ada suara sama sekali di antara Farel dan Hyeon. Kedua pria itu hanya saling diam dengan ponsel menjadi titik fokusnya hingga Karaya datang membawa menu makan malam mereka.


"Makan malam sudah siap!!" Seru Karaya menaruh ayam goreng dan sambal terasi.


Tak lama setelahnya, Fisha juga datang dengan beberapa lalapan dan nasi. Setelah meletakkannya, Fisha kembali lagi ke dapur untuk mengambil minum, sedangkan Karaya mengambil piring beserta perangkat makan lainnya.

__ADS_1


"Wanginya enak sekali," puji Hyeon saat aroma sambal terasi khas Indonesia menyapa penciumannya.


"Ini namanya sambal terasi, orang juga bilang belacan," jelas Fisha.


Hyeon mengangguk, "Aku tidak mengerti apa itu belacan. Aku langsung makan saja," Hyeon dengan segera mengambil nasi mendahului tuan rumah yang sudah menatapnya jengah.


Fisha mengambilkan makan untuk suaminya dan Karaya, kemudian barulah untuk dirinya sendiri. Setelah selesai menyiapkan makannya, mereka pun berdoa menurut keyakinannya.


"Ini adalah makanan terenak yang pernah aku makan," ujar Karaya penuh semangat.


Hyeon mengangguk setuju, "Rasanya begitu memanjakan lidahku,"


Fisha tersenyum senang karena dua orang Korea itu menyukai masakannya, "Makanan Indonesia masih banyak lagi yang enak dan bisa manjain lidah,"


"Jinjja?"


"Iya, nanti kita jalan-jalan, kulineran. Mau?"


"Mauu!!"


Farel tersenyum melihat interaksi mereka, terlebih melihat betapa bahagianya sang adik saat bersama istrinya.


Senyum Fisha hilang, tiba-tiba wajahnya memurung, "Tapi, untuk kulineran dan jalan-jalan gak bisa cuma beberapa hari. Selain karena Eonni yang masih sibuk koas, makanan Indo itu banyak banget,"


"Benarkah? Ah, seharusnya aku sudah dari dulu mencari tahu makanan Indo. Jadi bagaimana dong, Eonni?" Karaya tampak lesu.


"Karaya bisa menghabiskan seumur hidup di sini, bersama Eonni, Oppa dan yang lainnya. Selain kita bisa kulineran, kita bisa ciptain banyak kenangan," Fisha tersenyum tulus, tangannya tergerak mengusap sisa sambal di sudut bibir Karaya.


"Eonni ingin aku tinggal?" Akhirnya Karaya paham dengan maksud sang eonni.


"Iya, kita bisa tinggal bersama dan bersenang-senang,"


"Aku akan merepotkan nanti,"


Wajah Fisha berkerut, "Kenapa berpikir seperti itu? Ae Ri tidak merepotkan dan Ae Ri menyenangkan,"


Karaya terdiam, tampak memikirkan ucapan Fisha. Ia juga dapat melihat tatapan Farel yang penuh harap.


"Oke, aku tinggal bersama Oppa dan Eonni,"


Fisha tersenyum senang dan memeluk singkat adik iparnya itu, "Tidak sabar menghabiskan waktu bersama Ae Ri,"


"Aku juga!"


"Baiklah, sekarang lanjutkan makannya,"


Fisha menoleh pada suaminya dan tersenyum hangat, Farel pun membalasnya dengan senyum tipis. Ada kelegaan di hati Farel karena Karaya tetap akan tinggal bersamanya.


"Terima kasih," ujar Farel tanpa suara.


Fisha mengangguk dan mengusap pelan tangan Farel, "Jangan khawatir!"


Boleh tidak, kalau Farel mau jujur? Ia jadi tambah cinta pada istrinya yang begitu perhatian.


Tbc...

__ADS_1


Long time no see hehehehehe


^^^#as.zey^^^


__ADS_2