Mysterious Gus

Mysterious Gus
#72. Ae Ri Iseul


__ADS_3

..."Kita memang hanya pernah bertemu sekali, tapi kedekatan kita seperti ibu dan anak. Terbukti dengan hanya aku menatap nisanmu, aku merasa tenang dan bahagia,"...


...Farel....


...***...


Tiam memasuki apartemen dengan wajah lusuh nan kusut. Tanpa menyapa dan peduli keberadaan Farel, Karaya dan Hyeon, Tiam langsung mendaratkan tubuhnya di sofa.


Tiam menghela napas lega. Setelah berjam-jam di udara, akhirnya sekarang kakinya bisa kembali menapaki bumi.


"Oppa kenapa? Apa melelahkan?" Tanya Karaya sambil memasukkan sepotong mangga untuknya.


"Lelah. Hampir tiap hari pindah-pindah negara. Sebentar di Indo, sebentar di New York, sebentar di Korea. Kehidupan Oppa seperti ada di udara, bukan di darat lagi," keluh Tiam membuat Karaya dan Hyeon terkekeh.


Hyeon memang sudah mengerti bahasa Indonesia. Selama empat tahun ia belajar dengan tekun dan hasilnya amat memuaskan meski terkadang lidahnya terbelit-belit.


"Seharusnya kau punya kemampuan untuk menggandakan diri," ucap Farel mengejek.


Tiam tampak mendengus, "Seharusnya Abang berterima kasih padaku! Lagian, untuk apa aku harus kembali ke Indo?! Ck," decak Tiam.


"Bagaimana keadaannya?"


"Siapa? Umma Raima? Nia? Zira? Abah Hutama? Abil?"


Sekarang gantian Farel yang berdecak, "Nafisha!" Sentak Farel sangsi.


Tiam langsung berdecih, "Untuk apa Abang menanyakan Fisha lagi?! Toh sebentar lagi ia akan menikah dengan Aiden,"


"Jaga bicaramu, Tiam! Sekarang istirahatlah, dua jam lagi kita akan pergi,"


"Ke mana?" Ketiga manusia di hadapan Farel itu bertanya dengan keponya dan tampak sumringah.


"Suatu tempat,"


"Sok rahasia-rahasiaan!" Kesal Tiam kemudian berlalu menuju kamarnya.


Farel hanya mampu menggeleng saat melihat tingkah Tiam, terlebih saat Karaya dan Hyeon ikut masuk ke kamarnya masing-masing.


***


Karaya tersenyum senang saat sampai pada tempat yang Farel maksud. Karaya ingat, ia tak pernah berkunjung lagi di tempat itu saat usianya sepuluh tahun karena Farel dan Xander membawanya mangkir dari Seoul ke Jeju, juga dikarenakan posisinya yang berbahaya pada masa itu. Ya, meskipun sekarang masih sama, tapi ada Farel dan Tiam yang menjaganya.

__ADS_1


Tiam tak kalah bahagianya dengan Karaya. Ia juga merindukan seseorang yang keberadaannya di sana.


Melihat kebahagiaan Tiam dan Karaya, Farel pun turut bahagia. Ia pun juga sudah lama tidak berkunjung ke tempat itu.


"Kita mau ngapain di kuburan?" Tanya Hyeon heran.


Yaps, tempat yang Farel maksud 'suatu tempat' itu adalah kuburan.


"Menemui Eomma-ku!!" Seru Karaya bahagia. Meski hampir belasan tahun tak pernah berkunjung, Karaya masih ingat jelas tempat itu yang sebagai tempat peristirahatan terakhir ibunya.


"Bawa bunga kalian masing-masing, tadi aku sudah menyuruh Jong menyimpannya di bagasi," titah Farel yang langsung mereka turuti.


Mereka berjalan beriringan menuju sebuah makam dengan Farel yang didorong oleh Tiam. Kakinya memang belum bisa diajak berjalan dengan begitu mudahnya.


Karaya langsung mengambil tempat di sisi samping makam yang mereka tuju, begitu pula dengan Hyeon yang mengambil tempat di samping Karaya. Berbeda dengan Tiam yang di sisi satunya lagi dan Farel yang berhadapan langsung dengan batu nisannya.


"Eomma," sapa Karaya girang bercampur sendu.


"Maaf aku baru bisa mengunjungi Eomma lagi. Aku sangat merindukan Eomma," suara Karaya mulai terdengar parau, siap untuk menangis. Hyeon yang di sampingnya hanya bisa mengusap bahu Karaya.


"Sekarang aku sudah dewasa. Umurku sudah 21 tahun. Aku tumbuh dengan baik karena ada Ayah dan Oppa-Oppa,"


"Mereka menjagaku dengan sangat baik dan mereka sangat menyayangiku. Jadi Eomma tidak perlu khawatir tentang aku. Eomma harus menikmati kehidupan Eomma yang baru,"


"Eomma, maaf baru bisa menemuimu lagi. Aku memang sudah lama tidak berkunjung, tapi aku tidak pernah melupakan Eomma," sekarang gantian Tiam yang berbicara.


"Seperti yang Eomma bilang, aku sudah menjadi laki-laki yang seperti Eomma inginkan. Aku sudah menjadi laki-laki kuat yang selalu bisa diandalkan. Aku juga sudah menjadi laki-laki yang baik, aku bisa menjaga Karaya,"


Tiam diam sejenak, merangkai kata-katanya dengan sangat rapi.


"Eomma tidak perlu khawatir, aku akan selalu bersama Karaya untuk menjaga, melindungi, menyayangi dan mencintainya. Kuharap Eomma bahagia selalu,"


"Ahjumma, perkenalkan aku Baek Hyeon. Aku oppa barunya Karaya. Senang bisa bertemu Karaya dan mereka yang sangat baik. Meski aku tidak bersama mereka dari awal, aku akan selalu bersama mereka dari tengah hingga akhir," Hyeon buka suara.


"Karaya adalah gadis yang baik, anggun dan sopan meski kadang suka usil. Tapi aku menyayanginya seperti adikku. Karaya membawa banyak kebahagiaan untukku dan aku pasti menjaganya. Berbahagialah, Ahjumma,"


Setelahnya mereka hanya hening beberapa saat. Farel pun tidak ada bersuara. Ia hanya diam menyaksikan interaksi mereka dengan sebuket bunga di pengakuannya.


"Ayo kita kembali ke mobil, Abang ingin berbicara berdua dengan Eomma," seolah mengerti, Tiam langsung mengajak Karaya dan Hyeon pergi.


"Oppa tidak papa di sini sendirian? Kalau mau kembali bagaimana?" Tanya Karaya khawatir.

__ADS_1


"Tidak masalah. Kalau ada apa-apa, Oppa bisa menelpon,"


"Baiklah,"


Farel menatap kepergian ketiganya. Hingga tak terlihat lagi, barulah Farel meletakkan bunganya di atas makam.


'Ae Ri Iseul'


Nama itu terukir indah di makam nisan. Farel tenang melihatnya. Tubuhnya berasa kembali didekap oleh wanita baik namun malang itu.


Iseul adalah ibu kandung dari Karaya. Ia mengetahui semua fakta tentang Iseul saat sudah bersama Xander. Jadi lebih tepatnya, Xander lah yang menjadi perantara mereka untuk saling mengenal.


Saat itu, tepatnya saat usia Farel sepuluh tahun, Xander membawanya ke Korea dan menemui Iseul yang berada di rumah sakit karena kecelakaan bersama Karaya.


Karaya selamat, sedangkan Iseul tidak. Iseul yang saat itu beragama katolik, sempat mengucapkan syahadat di detik-detik terakhirnya.


Jadi, Karaya sekarang beragama katolik dengan almarhumah ibunya yang masuk islam sebelum meninggal.


Demikianlah sosok singkat Iseul yang malang.


"Eomma, maaf aku belum bisa menjadi oppa yang baik untuk Ae Ri, aku masih sering meninggalkannya dan menitipkannya pada bawahanku. Tapi Eomma tenang saja, Ae Ri akan selalu baik di bawah pengawasanku,"


"Eomma, aku harus bagaimana? Aku takut membawa Ae Ri menemui Papa. Jujur, aku belum siap atau bahkan tidak akan pernah siap. Tapi melihat matanya yang penuh harap, aku hampir selalu luluh," Farel berujar lirih penuh keputus asaan.


"Eomma, dengan perlahan aku sudah mengajarkan islam pada Ae Ri. Semoga Ae Ri mengerti dan bisa turut membahagiakan Eomma dengan doanya pada Tuhan kita yang sama nanti,"


"Eomma, aku akan selalu menjaga Ae Ri melibihi nyawaku sendiri. Semoga Eomma tidak pernah kecewa padaku,"


"Omong-omong tentang Ayah, dia sekarang sudah menikah. Lima tahun lalu tepatnya. Aku mengenal istrinya, dia baik dan dulu pernah merawatku di masa-masa tersakitku. Ayah dan Ibu juga sudah punya anak perempuan. Mereka hidup dengan bahagia, Eomma,"


Farel mengusap ujung makam karena ia tak sampai untuk menggapai nisan. Senyum manis terukir tipis di bibir Farel.


"Kami di sini semuanya bahagia. Aku juga baik-baik saja sekarang. Eomma harus bahagia di sana melihat kami. Aku merindukanmu, Eomma,"


Kalimat itulah yang Farel ucapkan sebelum pergi dari makam Iseul. Ada kelegaan di hatinya setelah berbincang pada makam Iseul. Farel meyakinkan hatinya, kalau dia akan sebisa mungkin sering berziarah meskipun harus bolak-balik perjalanan jauh.


"Sudah?" Tanya Karaya menghampiri Farel yang mendorong kursi rodanya sendiri dengan agak kesulitan. Sudah resiko orang lumpuh kalau kata Farel.


"Sudah. Ayo kita pulang!"


Tbc...

__ADS_1


Banjirin komenšŸ¤‘


^^^#as.zey^^^


__ADS_2