Mysterious Gus

Mysterious Gus
#84. We Meet Again


__ADS_3

..."Memang selalu ada perpisahan dan pertemuan yang tak pernah kita duga,"...


...♡My Gus is Bad Boy♡...


...***...


Tiam menatap lekat sosok gadis di hadapannya. Gadis itu semakin cantik dengan balutan gamis hitam dan khimar maroon-nya. Penampilan Ermira yang kini berubah, membuat ia semakin cantik.


Tiam tidak bisa membohongi dirinya sendiri, selama ini ia sangat merindukan sosok Ermira. Suara nyaringnya, amukannya, manjanya dan pelukannya.


Melepaskan dan meninggalkan Ermira sebenarnya bukanlah keinginan Tiam. Keadaan yang membuat ia terpaksa meninggalkan Ermira. Tiam mencintai gadis itu, sungguh. Tapi Tiam cukup sadar diri, dunianya terlalu gelap dan berbahaya untuk Ermira yang dunianya begitu tenang.


Tiam mencekal tangan Ermira saat gadis itu melangkah mundur. Tiam dapat melihat wajah sedih gadis yang ia cintai selama ini.


"Don't go, please! Kita harus bicara," lirih Tiam, ia tak peduli dengan orang-orang yang masih berkerumun.


"HEH!! JANGAN MALAH PACARAN! INI BAJU SAYA GIMANA? BASAH DAN PANAS, NIH!!" Suara penuh kemurkaan itu menggema ke seluruh kantin.


"Maaf Ibu, mohon tenang! Ini rumah sakit, suara Ibu bisa mengusik pasien dan pengunjung," tegur Fisha halus.


"Tapi gak bisa begini! Baju saya ini mahal! Baru saya beli dua hari lalu!"


"Maaf, Buk. Saya akan gan--"


"Anda bisa membeli yang baru dan mengobati tubuh anda jika ada yang terluka," Tiam menyela sambil menyerahkan lembaran uang merah yang jumlahnya lumayan banyak.


"Segini mana cukup! Dan juga, baju saya ini terbatas, hanya ada lima!"


"Katanya baju mahal, berarti sanggup beli. Massak buat beli lagi gak mampu? Mendadak miskin?" Clara berujar sinis.


"Mak--"


"Anda bisa meminta dibuatkan lagi oleh penjahitnya. Serahkan saja kartu nama saya saat anda ke tempat membeli baju itu," hobi Tiam memang menyela, kali ini ia dengan angkuh memberikan kartu namanya.


"Kartu nama saya hanya bisa sekali pakai, saya tidak memberi untuk disalah gunakan," ujar Tiam lagi dan menggandeng Ermira untuk menjauh. Ermira tak menolak, ia hanya menurut dengan pikiran yang mulai kacau.


"Tiam, dibawa makan dulu!" Seru Fisha saat Tiam hendak membawa Ermira menjauh dari kantin.


Dapat Fisha lihat bahwa Tiam menghela napasnya dan berakhir berbalik menuju meja yang tadi mereka tempati.


"Eonni Ermira?!" Karaya langsung berdiri dari duduknya dan menatap takjub pada Ermira.


Ermira tak kalah terkejutnya, "Karaya? Bang Farel?"


Meski sudah bertahun-tahun dan hanya bertegur sapa via vidio call, Ermira masih ingat jelas wajah Farel dan Karaya.


"Kamu kenal, Mir?" Tanya Fisha sambil memeluk Ermira. Fisha sangat merindukan sahabatnya yang sudah lama menghilang itu.


"Kenal, Sha. Waktu itu Tiam kenalin Bang Farel dan Karaya pas mereka di Paris. Aku lebih dulu kenal mereka dibanding sama kamu. Tiam juga suruh aku buat gak kasih tau siapa-siapa tentang Bang Farel sama Karaya," jelas Ermira saat Fisha membawanya untuk duduk.


Fisha hanya mengangguk, tak mau berpikir lebih jauh. Baginya sekarang yang terpenting adalah, Farel dan Ae Ri berada dalam jangkauannya.


"Kamu kapan balik? Pemotretan kamu?" Meski sudah lama tak berjumpa langsung, Fisha dan Ermira masih sering bertukar kabar. Jangan lupa kalau sekarang jaman modern yang apa saja bisa dilakukan.


"Aku udah tiga bulan balik ke Indo. Aku juga baru pulang dari pemotretan di Semarang,"


"Pemotretan apa? Eonni model?" Celetuk Karaya penasaran.

__ADS_1


Ermira menoleh dan mengangguk dengan senyum kalem, "Iya, aku model hijab dan gamis,"


"Waahh!! Eonni keren!!"


"Kamu ngapain di rumah sakit, Mir?"


Wajah Ermira tampak lesu dan muram, "Papi sakit ginjal. Besok bakal operasi,"


"Inalillahi,"


"Semoga cepet sembuh. Nanti aku jenguk Papi kamu,"


"Iya, thanks, Sha,"


"Bang Farel sama Karaya gimana kabarnya?" Ermira mengalihkan pembicaraan. Ia juga tidak mau terlihat gugup di hadapan Tiam. Tapi, Tiam tampak menghilang, entah ke mana pria itu pergi.


"Aku baik, selama Oppa Asz koma, Oppa Tiam merawatku dengan baik bersama Oppa Hyeon," jelas Karaya antusias.


"Koma?"


"Hm, saya sempat koma empat tahun," jelas Farel.


"Empat tahun lalu? Berarti--??" Ingatan Ermira berputar ke belakang saat Tiam pergi meninggalkannya begitu saja di apartemen.


"Iya, kejadian malam itu bertepatan dengan Abang yang mengalami insiden. Meninggalkan kamu bukan keinginan saya," Tiam datang bersama Jong sambil membawa makanan dan minuman.


Ermira tak lagi bersuara, ia hanya menunduk. Menatap Tiam membuat perasaannya jadi tak karuan. Sedih, senang, marah dan kecewa menjadi satu dalam dirinya.


"Makanlah, kamu pasti lapar," Tiam menyodorkan semangkuk bakso dan jus mangga, Tiam masih ingat dengan jelas makanan kesukaan Ermira.


"Sha, kayaknya gue jatuh cinta pandangan pertama, deh," Fisha menoleh saat Clara berbisik demikian di telinganya.


"Sama siapa? Tiam? Jangan deh, Ra! Tiam udah ketemu lagi sama pawangnya!" Suara Fisha yang lumayan keras itu membuat yang lain menoleh ke arah mereka berdua.


Clara berdecak kesal dan menepuk pelan lengan Fisha. Terkadang Fisha itu bisa lebih memalukan dibanding dirinya.


"Kalau kamu suka Tiam, gak masalah, kok. Aku bukan siapa-siapanya Tiam," ungkapan dari Ermira membuat hati Tiam agak mencelos nyeri.


"Ra, jangan kayak gini! Kamu belum tahu kejelasannya,"


"Kenapa malah kalian yang ribut, sih?! Gue gak suka sama lo!" Clara berujar kesal.


"Terus sama siapa? Gak mungkin sama suami aku kan, Ra?!" Tudingan dari Fisha membuat Clara ingin sekali membuangnya ke jurang!


"Gila aja lo! Gue suka sama yang itu," Clara kembali berbisik dan melirik Jong yang makan sendirian di meja sebelah mereka.


"Kamu suka Tuan Jong?!"


Tuh, kan! Fisha itu lebih bisa malu-maluin. Clara sudah berbisik, tapi dia malah berujar lantang.


Berbeda dengan Clara yang kesal tapi malu, Jong yang mendengar namanya dibawa-bawa oleh Fisha justru menjadi terbatuk-batuk karena tersedak baksonya.


"Santai Tuan Jong! Jangan kaget gitu," Karaya memberikan Jong sebotol air mineral.


"Kalau Kakak suka Tuan Jong, silakan saja! Kebetulan Tuan Jong belum ada yang punya," Karaya terkekeh.


"Bener nih, belum ada yang punya?"

__ADS_1


Senangnya Clara seperti menang lotre. Bahkan kini gadis itu sudah duduk di hadapan Jong yang hanya diam di tempatnya bak patung selepas tersedak tadi.


"Benar, tapi Tuan Jong sudah tidak muda lagi," Karaya yang menjawab.


"Emang umur berapa, Om?" Clara menempelkan pipinya ke meja untuk menatap Jong yang menunduk karena makan.


"Tuan Jong sudah 32 tahun,"


BRAAK!!


Clara menggebrak meja dengan spontan, membuat semua pengunjung menatapnya heran.


"Jangan malu-maluin mulu deh, Ra!" Kesal Fisha setelah bergumam minta maaf pada para pengunjung.


Clara terkekeh, "Gue kelepasan Sha saking senengnya! Gini nih yang gue cari, dewasa. Apalagi gagah," otak Clara tiba-tiba traveling tanpa tahu tempat.


"Kalau kayak gini, Tuan Jong gak bakal mau sama kamu, stress sih,"


"Ck, gak usah rusuh deh!"


"Siapa juga ya--"


Tidak hanya Tiam yang hobi menyela, tapi juga nada panggilan dari hp Clara.


Tanpa pikir panjang, Clara langsung menerima panggilan tersebut dengan badan sudah berdiri. Yang menelponnya adalah pihak penyelamatan.


"Korban kecelakaan beruntun segera menuju ke mari! Stay di loby!"


Hanya itu suara yang Clara dengar sebelum panggilan diputus sepihak.


"Sha, korban kecelakaan beruntun otw ke sini. Stay di lobi!"


"Calon jodoh, aku nugas dulu, ya!" Clara mengerling genit pada Jong dan berlari keluar kantin.


"Mas, Fisha nyusul Clara. Maaf Fisha gak bisa nemenin terapi," Fisha dengan tergesa-gesa mencium tangan Farel.


"Jangan panik!" Farel menarik pelan tangan Fisha hingga wajah mereka berdekatan.


Cup


Satu ciuman hangat Farel berikan di kening sang istri yang berefek pada hati dan jantung.


"Yang fokus, jangan mikirin saya!" Pesan Farel dan menyuruh Fisha bergegas setelah mengusap pelan kepala istirnya.


Setelah kesadarannya kembali, Fisha langsung berlari menuju loby, mengabaikan debaran jantungnya yang tak karuan karena ulah sang suami.


Suaminya sekarang memang begitu! Tidak tahu tempat dan menebar ke-uwu-an di mana saja.


"Abang sekarang gitu, suka gak liat situasi," sinis Tiam.


"Aku ingim bicara dengan Ermira dulu. Kalian duluan lah!" Tanpa menunggu persetujuan, Tiam langsung membawa Ermira pergi. Mereka perlu bicara berdua.


Ini semua tentang masa lalu dan masa depan mereka berdua.


Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2