Mysterious Gus

Mysterious Gus
#16. Fakta Tentang Zaki


__ADS_3

Setelah zuhur tadi, Hutama benar-benar menguji hafalan Farel. Betapa bahagianya pria itu menyaksikan hafalan putranya. Begitu pula Raima dan yang lain. Tak hentinya air mata bahagia membasahi pipi mereka.


Bahkan Hutama dengan rasa bahagianya, menyuruh orang kepercayaannya, Sega, untuk mengadakan syukuran besar-besaran. Bagaimana tidak? Pria itu menyuruh Sega memberikan 77.845 kotak nasi untuk daerah Bandung, 6.236 kotak nasi untuk daerah Jakarta, 605 kotak nasi untuk panti jompo, dan 114 panti asuhan untuk mendapatkan 605 kotak nasi. Semua berlaku selama 30 hari. Sesuai dengan Alqur'an yang 30 juz, 114 surah, 6.236 ayat, 77.845 kata dan 605 halaman.


Ditambah acara syukuran di pesantren nanti saat makan malam. Begitu meriah bukan?


Pria yang menjabat sebagai abah Farel itu sangat merasa bahagia dan tak perlu pikir panjang untuk menyumbang sebanyak itu. Rasa bahagia dan bangganya memang tak bisa lagi terbendung.


Di sisi lain, setelah menyetor hafalannya dan acara haru-haru keluarganya, Farel memilih menjauh dari kehebohan acara untuk nanti malam. Sekarang pria itu sedang duduk di tepi danau buatan PONPES-nya.


Sudah berjam-jam, namun pria muda itu belum mendapatkan data diri Zaki. Padahal orang kepercayaannya bilang, dalam 30 menit sudah berada ditangannya.


Tak mau menunggu lebih lama lagi, Farel pun langsung menelpon Tiam, orang kepercayaannya.


"Assalamu'alaikum Tuan,"


"Wa'alaikumussalam. Mana janjimu? Kau bilang dalam 30 menit data diri pria itu sudah ada bersamaku!" Geram Farel.


"Maaf Tuan. Saya sudah mendapatkan data dirinya. Hanya saja, saya tidak berani memberikannya. Data dirinya bisa merusak suasana hati Tuan. Maaf bila saya lancang,"


Farel mendengus. Mengingat nama Zaki saja dia sudah kesal. Jadi tak perlu merasa takut. Pikir Farel.


"Tak apa! Kirimkan dokumennya sekarang!"


"Baik, Tuan. Apa perlu saya buat salinannya dan meletakkan di atas meja kerja anda?"


"Buat saja salinannya dan simpan olehmu!"


"Baik, Tuan,"


Farel langsung memutus panggilan sepihak tanpa mengucap salam.


Ting


Notifikasi pesan dari Tiam. Farel ingin langsung membuka pdf dokumen itu.


"Rel?!"


Farel menoleh saat Adam menghampirinya. Pria itu menghela napasnya lelah dan kesal. Gagal sudah kegiatannya untuk membuka pdf data diri Zaki.


"Hm?" Sahut Farel.


"Dicariin dari tadi juga. Tuh, disuruh kumpul,"


"Ntar nyusul,"


"Ck, ya udah," Adam dengan kesal pun pergi meninggalkan Farel yang kembali menatap ponsel.


Profil Zaki Barra


Mata Farel membulat saat melihat nama itu. Farel menggeleng tak percaya dengan tangan yang mengepal.


Nama: Zaki Barra


Panggilan: Zaki


Usia: 18 tahun


Tahun lahir: 19 September ####


Ayah: Arestu Barra


Ibu: Lailas Pangestu Barra


Zaki Barra adalah anak tunggal dari pasangan Arestu Barra dan Lailas Pangestu Barra, pasangan pengusaha textile.


Zaki tinggal bersama adik dari pihak Arestu, Adji Barra dan Asoyya Barra. Sedangkan kedua orang tuanya berada di Amsterdam.


Zaki baru beberapa saat pindah ke Jakarta dan bersekolah menjadi santri di PONPES AL-ISTIQOMAH. Namun beberapa saat setelahnya, Zaki pindah ke SMA Khatulistiwa.


Zaky-----

__ADS_1


Farel mengakhiri sesi bacanya. Baginya sudah cukup sampai situ. Dirinya merasa terguncang. Tentu saja. Dia mulai merasa tak aman. Terlebih lagi setelah belasan tahun lamanya ia tak melihat Adji Barra, sosok ayah kandungnya, dan kini ayah kandungnya itu kembali menampakkan dirinya.


Farel, dengan mata kepalanya sendiri, dapat meihat Adji datang bersama Zaki saat acara malam ulang tahun sekolah. Farel merasa terancam dengan keberadaan Adji. Ia tak mau umma-nya kembali diperlakukan tak manusiawi.


Farel merasa marah. Marah pada dirinya sendiri. Marah pada Zaki. Farel benci dengan kenyataan yang ia miliki. Kenapa ia dan Zaki harus menjadi sepupu?! Kenapa Farel harus mengetahui fakta buruk ini?! Kenapa harus Farel?!


Farel butuh pelampiasan akan kenyataan yang diterimanya. Farel kembali memilih menelpon Tiam.


"T-tuan?" Sapa Tiam dengan gugup. Dia yakin tuan-nya itu sudah tau dengan kenyataan.


"Antarkan motorku ke ponpes!"


"B-baik, Tuan,"


Farel menyimpan kasar ponselnya dan memilih pergi untuk menyusul keluarganya. Mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


"Ngapain kamu dari tadi di danau, Bang?" Tanya Hutama saat melihat putranya itu.


"Ngadem," jawab Farel dan terpaku pada sosok pria yang sudah membuatnya terancam serta semakin membenci kenyataan. Zaki. Saat ini, pria yang sebenarnya berstatus sepupunya itu bergabung bersama keluarganya.


"Gue denger, lo hafizh, ya, sekarang?! Selamat dari gue," ucap Zaki sok akrab.


"Ngapain?" Tanya Farel tak jelas sambil  menatap nyalang Zaki.


"Santai dong, bro! Gue cuma main ke sini. Eh, taunya lagi mau ada acara. Ya udah, gue simpati buat gabung," jawab Zaki membuat Farel berdecih.


"Gus, kamu suruh orang buat antar motor kamu?" Tanya Luqman, adik ipar Hutama, datang.


"Iya," jawab Farel dan melenggang pergi. Tanpa bertanya Farel pun tau. Pasti motornya sudah sampai sehingga Luqman bertanya seperti itu.


"Kenapa dah, tu bocah? Dari berangkat kemari mukanya gak sedap amat," tanya Dylan.


"Tauk dah. Kebiasaan begitu juga,"


♧♧


"Selamat siang, Tuan," sapa Tiam saat Farel berdiri dihadapannya.


"Hm. Aku akan pergi dan kau harus berjaga-jaga di sini! Pria itu mengusikku dan sedang berkumpul bersama keluargaku,"


Farel hanya mengangguk dan langsung menaiki matornya lalu berkendara dengan kecepatan di atas rata-rata. Seolah-olah jalanan di hadapannya itu adalah musuhnya dan dia harus membinasakannya. Anggap saja itu sebagai pelampiasannya.


♧♧♧


Hari sudah gelap. Bahkan sangat gelap. Bulan dan bintang sudah menampakkan keberadaannya. Namun Farel belum juga kembali ke pesantren. Membuat semuanya panik. Terutama Raima.


"Mas, gimana sama Farel? Ima takut Farel kenapa-kenapa?" Tanya Raima panik.


"Farel akan baik-baik aja. Suruhan Mas lagi bantu cari Farel,"


Tentu mereka semua panik. Terlebih lagi Farel tak bisa dihubungi.


"Om, Tante," panggil Zaky.


"Ya, Zaki, ada apa?"


"Sebenarnya, ada yang mau saya sampaikan sama Om dan Tante,"


"Apa?"


Zaki mengeluarkan ponsel dan menunjukkan sebuah foto.


"Sebelumnya saya minta maaf. Saya sempat cerita dengan teman saya yang ada di Korea tentang sosok Gus Farel. Lalu saya sempat menunjukkan foto Gus. Teman saya pernah melihat Gus Farel bersama seorang gadis. Apa Om dan Tante mengenali gadis ini? Saya rasa, meskipun foto ini diambil dari belakang, dapat terlihat jelas bahwa itu Gus Farel,"


Raima menutup mulutnya tak percaya. Di foto itu mereka melihat Farel bersama seorang gadis berambut panjang berwarna cokelat susu. Farel merangkul bahu, pinggang gadis itu, ada juga sang gadis yang memeluk mesra lengan Farel.


"Itu siapa? Kita gak pernah lihat gadis itu. Tapi kenapa Farel sangat dekat? Itu bohong, kan? Gak mungkin Farel kayak gitu!"


"Tapi Ma, baju yang dipakai itu memang baju Farel pas kita ke Korea. Saat itu kita sempat misah sama Farel," jelas Yusuf.


Zaki tersenyum licik, "Habis lo sama gue, Farel. Lo pikir, gue bakal tinggal diam saat lo deketin Fisha?"

__ADS_1


Hutama mengeraskan rahangnya pertanda marah, "Dia putraku dan aku tau siapa dia! Putraku tak akan berlaku seperti itu," murka Hutama dan menelpon Sega.


"CEPAT TEMUKAN PUTRAKU DAN BAWA KEHADAPANKU!" Teriak Hutama pada Sega dan memutuskan panggilan.


Semua menghiraukan tatapan para santri. Ya, saat ini mereka sedang berkumpul di aula besar untuk acara syukuran. Namun, tampaknya acara itu akan gagal.


♧♧♧


Di sisi lain, setelah melihat aksi Zaki dari jauh, Tiam bergegas meninggalkan pesantren untuk mencari Farel dengan motor yang sempat dia minta orang lain antarkan.


Dia harus menemukan Farel lebih dulu.


Hampir satu jam mengelilingi Bandung, akhirnya Tiam melihat siluet Farel yang sedang kebut-kebutan di jalan.


"TUAN AWAS!!!" Teriak Tiam saat melihat truk dari arah berlawanan.


Percuma. Farel tak mendengarnya dan berakhir Farel berbelok hingga tertabrak trotoar.


BRAAAK!!


DUMN!!!


Suara itu membuat suasana jalanan hening. Pengendara lain yang melihat itu bergegas menghampiri Farel. Begitu pula dengan Tiam dan supir truk.


"Kamu gak papa, Dek? Kenapa lawan arah? Kamu jadi celaka," ucap sang supir truk.


Farel membuka helm-nya dan meringis sakit seraya memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.


"Tuan?! Tuan tidak apa-apa? Mana yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang?" Tanya Tiam panik.


Farel mengangkat tangannya pertanda tidak perlu.


"Tapi Tuan ter--"


"Tidak perlu, Tiam! Kenapa kau ada di sini?"


"Di pesantren ada keributan Tuan. Zaki memberikan beberapa foto pada Ayah Anda. Saya rasa foto anda saat di Korea yang sedang bersama Nona Karaya,"


Farel berdecak kesal. Rasa marah semakin menguasai dirinya.


"Antar aku kembali!" Suruh Farel dan dibantu berdiri oleh Tiam.


"Kamu benar-benar tidak papa, Dek?" Tanya sang supir lagi.


"Tidak papa, Pak. Maaf menggangu kenyamanan Bapak berkendara," balas Tiam.


"Iya, gak papa. Saya juga minta maaf,"


"Kami duluan," Tiam mengangguk sopan dan segera pergi sambil memapah Farel.


"Kakekku tau masalah laporan Zaki?" Tanya Farel saat mereka mulai kembali menyusuri jalanan.


"Kakek yang mana Tuan?"


"Ck! Kakek Xander,"


"Tau, Tuan. Tuan Xander ternyata tadi berada di dekat pesantren. Beliau pula yang menyuruh saya lebih cepat untuk menemukan anda,"


Farel hanya diam setelahnya. Rasa sakit di kepalanya tak bisa dibilang sepele sebenarnya. Tapi Farel harus menahannya.


"FAREL?! KAMU DARI MANA AJA, NAK?" Raima berteriak histeris sambil memeluk Farel.


Farel balas memeluk umma-nya itu dengan erat dan mata terpejam.


"Ya Allah, bagaimana nanti saat Umma tau semuanya tentang Farel? Bagaimana Abah nanti, ya Allah? Umma baru tau Farel bersama Ae Ri saja sudah gempar begini," batin Farel.


"Kamu dari mana, Rel? Abah sudah suruh orang mencari tapi kamu gak ketemu," tanya Hutama khawatir.


"Main," jawab Farel singkat.


"Ini benar kamu, Farel?" Tanya Abdullah menunjukkan fotonya yang sedang bersama seorang gadis, dan Farel dengan tegas mengangguk.

__ADS_1


"Siapa gadis itu, Nak?" Tanya Raima.


Tbc...


__ADS_2