
..."Kepedihan yang kau berikan terus memenuhi isi kepalaku layaknya sebuah film yang terus berputar secara acak,"...
...Farel...
Gedung lusuh nan menyeramkan menjadi saksi bisu atas kematian seorang pria dengan begitu mengenaskannya. Gedung yang tadinya bau bangunan lapuk berubah menjadi bau amis darah karenanya.
Dia, pria yang merenggut nyawa itu memegangi pisau yang tert*ncap apik di jantungnya. Napasnya mulai tak beraturan, tatapan matanya tak lepas dari dua pria di hadapannya, sedangkan yang ditatap hanya acuh.
"Kalian akan merasakan apa yang aku rasakan!" Ujar pria bule itu dengan tersendat-sendat.
Salah satu pria di hadapannya terkekeh sinis dan berjongkok di hadapannya, "Tanpa kau meminta, hidupku sudah merasakan yang lebih parah dari yang kau rasakan," balas pria serba hitam itu dan dengan perlahan men*ncapkan pisau itu semakin dalam menggerogoti jantung.
Pria bule itu terbatuk da*ah dan dalam hitungan detik sudah tak lagi bernyawa. Dia meninggal. Meninggal dalam keadaan yang jauh dari kata 'baik'. Da*ah dan lebam di mana-mana, bekas say*tan memenuhi sekujur tubuhnya.
"Fokus saja dengan tanggung jawabmu di akhirat! Tidak perlu mendoakanku!" Pria serba hitam itu berujar kesal dan menendang kasar tubuh tak berdaya itu.
"Akan diapakan jasadnya?" Tanya pria yang lain dengan pakaian serba putih.
"Bakar tentu saja," jawabnya sambil mengambil bensin yang memang sudah disediakannya.
"Semua korban Abang dibakar?"
"Hm, terlalu merepotkan jika menguburnya," jawab pria serba hitam yang tak lain dan tak bukan adalah Alfarel. Sedangkan pria serba putih itu adalah Altiam.
Altiam malam ini memang ikut dengan Farel untuk menemani pria itu melakukan pekerjaannya sebagai pemb*nuh bayaran. Tak hanya melihat aksi Farel, Tiam pun turut andil menyiksa dan membunuh pria bule itu. Entah apa salah pria itu, yang terpenting bagi Tiam bersenang-senang. Farel dan Tiam benar-benar layaknya psikopat.
Farel mengeluarkan pematik dari sakunya dan melemparkan pematik itu pada jasad yang sudah disiram bensin. Seketika api menyambar dengan ganasnya. Jasad itu terbakar begitu saja ditelan api, tak tersisa apa pun selain abu.
"Ayo pulang! Sisanya klienku yang akan mengurusnya," Farel mengajak pulang yang dituruti Tiam.
"Apakah akan baik-baik saja? Tidak meninggalkan jejak?" Tanya Tiam saat mereka sudah membersihkan diri dan dalam perjalanan pulang.
"Kau tau aku sudah biasa melakukannya. Semua akan baik-baik saja," jawab Farel yang diangguki Tiam. Ia hanya takut, Paris adalah tempat asing dan takut Farel tidak bisa membiasakan diri.
Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu perjalanan untuk pulang, akhirnya mereka sampai tepat pukul dua dini hari. Tanpa banyak drama, kedua pria itu mengganti pakaian dan bergegas tidur. Tiam tidur di ranjang dan Farel tidur di bawah dengan kasur tipis. Awalnya Tiam yang ingin tidur di bawah, namun Farel mengamuk duluan dan memaksa Tiam tidur di ranjang, maka berakhirlah cek-cok pasal tempat tidur itu.
"KALIAN ITU MEMANG PEMBAWA SIAL UNTUKKU! KARENA KALIAN HIDUPKU TERBATAS SEKARANG! KALIAN ITU SAMA SEKALI TIDAK BERGUNA DAN MERUGIKANKU!"
PLAAKK!!
"Hiks,,, Pa,"
"DIAM KAMU, ANAK PEMBAWA SIAL! TAHUMU HANYA MENYUSAHKAN DAN MERENGEK TERUS MENERUS,"
"Mas, jangan membentak Fa--"
PLAAK!!
"Diam kamu, Ja*ang!"
"Umma! Jangan sakiti Ummaku! Pergi! Jangan dekati Ummaku!" Farel bergumam lirih dalam tidurnya. Keringat dingin membasahi tubuh atletisnya.
__ADS_1
Farel terus mengigaukan kalimat yang sama hingga Tiam terbangun. Melihat keadaan Farel yang memburuk, Tiam segera turun dan menyentuh dahi Farel yang terasa begitu panas. Khawatir langsung saja menghampiri Tiam.
"Bang! Bangun, Bang! Ini Tiam!"
Farel membuka matanya dan langsung terduduk. Napasnya memburu, pusing menyerang kepalanya. Jantungnya terasa begitu sesak.
"Mimpi buruk?" Tanya Tiam.
"Selalu, Tiam. Luka itu menghantui hingga mimpiku," lirih Farel membuat Tiam ikut merasakan sesaknya.
"Aku ambil kompresan dulu. Abang panas," tanpa banyak bicara lagi, Tiam keluar dari kamar.
Farel menghela napasnya dan kembali merebahkan tubuhnya. Lengan kanan digunakannya untuk menutup matanya. Napasnya masih belum beraturan, keringat dingin pun masih terus membasahi tubuhnya.
"Bang, pindah ke ranjang! Di bawah dingin," Tiam kembali dengan baskom kecil berisi air hangat untuk Farel.
Farel tak mau banyak protes, ia tahu Tiam mengkhawatirkannya, jadi ia tak mau membuat pria yang satu tahun di bawahnya itu semakin khawatir.
Tiam duduk di sisi ranjang setelah mengambil handuk. Tangannya dengan cekatan membasahi handuk kecil itu dan memerasnya hingga menempelkannya di kening Farel.
"Abang jangan sakit, aku ikut merasakan sakitnya,"
"Aku tidak apa. Maaf aku membangunkan dan merepotkanmu,"
Tiam menggeleng tegas meski Farel tak melihatnya karena mata indah itu terpejam, "Aku akan selalu bersama Abang. Abang tidurlah! Kalau panasnya tidak turun, kita langsung ke dokter," ujar Tiam dan tak lagi ditanggapi Farel, tak mau memperpanjang masalah.
Matanya terpejam, tapi tidak dengan pikirannya yang terus melayang-layang, mengingat bagaimana seorang pria yang berstatus papa kandungnya menyakiti ia dan sang umma, pria itu tentu saja adalah Adji Barra. Luka yang diberikan Adji Barra bukan main-main sakitnya untuk Farel, hingga menjadikan Farel sosok iblis yang tertutupi sosok malaikat.
Sekitar 18 tahun lalu....
Raima adalah gadis sholeha yang sayangnya terlahir dari keluarga bejat. Ia dinikahkan oleh orang tuanya saat masih berusia 18 tahun, tepat saat kelulusan Sekolah Menengah Atas-nya. Ia dinikahkan pada sosok Adji Barra karena orang tuanya yang banyak terlilit utang.
Selama pernikahan, Raima melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dengan baik meski sering mendapat perlakuan kasar dari Adji. Bahkan bagi Adji, Raima adalah budak nafsunya. Raima tidak masalah akan hal itu meski ia merasakan sakit hati yang sangat.
Selang beberapa bulan menikah, Raima mengandung, padahal Adji selalu menyuruh Raima untuk meminum pil pencegah kehamilan. Kehamilan Raima tentu saja mengundang kemarahan sosok Adji Barra. Hampir setiap hari Adji menyiksa Raima, mulai dari mena*par, mem*kul, men*ndang, menca*buk, bahkan mengurung Raima seharian di kamar mandi. Untung saja Raima dan kandungannya kuat hingga mereka baik-baik saja.
Meski dengan luka batin, Raima berhasil menjaga kandungannya dan melahirkan sosok bayi laki-laki yang ia beri nama Shaquille Alfarel. Adji tidak ada bersamanya saat melahirkan, suami bej*tnya itu asyik berkelana bersama para wanitanya.
Waktu terus berjalan hingga satu tahun sudah berlalu. Farel tumbuh menjadi anak laki-laki tampan dan sangat menyayangi Raima.
Bahkan Farel kecil juga mendapatkan perlakuan kasar dari Adji karena ia yang selalu menangis saat Raima diperlakukan layaknya binatang oleh Adji.
Semua terus berlanjut. Luka fisik dan batin terus Raima dan Farel kecil dapatkan, hingga tiba saat suatu hari, menjadi hari terburuk bagi seorang Raima dan Farel kecil. Namun, di hari terburuk itulah yang juga menjadi awal kelepasan bagi Raima dan Farel kecil.
Saat itu, tepat seminggu setelah orang tua Raima meninggal karena kecelakaan, di situlah Adji baru menampakkan batang hidungnya.
"Baru pulang, Mas? Mau makan?" Meski sangat sakit hati, Raima tetap berbaik hati pada Adji.
"Kamu bisa liat kan, saya baru pulang?! Kenapa nanya lagi?! Buta kamu?!" Marah Adji yang padahal tidak perlu dipermasalahkan.
"Maaf. Jadi, Mas mau makan?"
__ADS_1
PLAAKK!!
Tamparan langsung Raima dapatkan dari Adji. Entah apa yang membuat pria itu sebegitu marahnya. Farel yang melihat itu untuk kesekian kalinya tetap menangis. Bocah kecil itu tak tahu apa-apa, tapi diingatannya teringat jelas dan ia bisa merasakan sakit sang umma.
"DIAM KAMU, ANAK SIA*AN! TAUNYA MENANGIS SAJA!" Bentak Adji menc*bit Farel kecil, cubitan itu diyakini akan membuat tubuh Farel membiru.
Tentu bukannya diam, Farel kecil justru semakin menangis. Murka pun semakin membara pada Adji.
Pria itu dengan teganya menc*kik putra kecilnya yang bahkan makan sendiri saja masih belepotan.
Napas Farel kecil tercekat. Wajahnya memucat karena tak bisa bernapas. Cek*kan itu bukan main kuatnya. Ini adalah kekerasan terparah yang Adji lakukan.
"MATI SAJA KAMU!" Kejam Adji semakin mencekik Farel kecil.
"APA-APAAN KAMU, MAS?! LEPASKAN FAREL! KAMU MEMB*NUH ANAK KAMU SENDIRI!" Teriak Raima berusaha keras mendorong Adji hingga cekikan itu terlepas. Tangisan Farel semakin nyaring terdengar.
"IYA! LEBIH BAIK ANAK ITU MATI! KAMU JUGA KALAU PERLU! KALIAN HANYA MEREPOTKAN DAN PEMBAWA SIAL UNTUK SAYA!"
"Kamu keterlaluan, Mas! Aku udah gak sanggup lagi. Aku minta pisah!" Putus Raima dengan air mata yang kian deras. Bukan karena harus berpisah dengan suaminya, tapi karena penyiksaan Adji pada putra kecilnya. Raima tak masalah ia disakiti, tapi tidak dengan putranya.
"Saya ceraikan kamu saat ini juga! Lagi pula orang tua kamu sudah meninggal. Beban saya berkurang," untungnya Adji menyetujui perceraian itu.
"Selain menjadi budak nafsu, ternyata aku hanya beban untuk kamu," lirih Raima yang masih mampu Adji dengar.
"Bagus kalau kamu sadar! Sekarang pergi dari rumah saya! Jangan membawa apa pun yang sudah saya beri ke kamu!" Usir Adji.
Raima menatap perih pada Adji. Dengan lekas ia menggendong Farel kecil yang masih menangis menuju kamar untuk membereskan barang mereka.
"Farel anak Umma yang paling sholeh, gak boleh nangis, ya? Nanti gantengnya hilang, loohh," Raima mendudukkan Farel di pangkuannya dan menghapus air mata bocah cilik itu.
"Ma,, Ma,," isak Farel kecil menyentuh pipi lebam Raima. Tampaknya bukan karena sakit di tubuhnya bocah itu menangis, tapi karena melihat luka di sekujur tubuh umma-nya.
"Gak papa, Sayang. Sekarang kita bebas. Farel ikut Umma jadi anak sholeh, ya?"
"Ma, Ma,"
"Iya, Sayang. Umma beresin baju dulu. Farel duduk di sini dulu,"
Dimulai dari hari itulah, hari kebebasan untuk Raima dan sang putra berlangsung. Memulai hidup baru dengan luka yang tak bisa disembuhkan, terutama bagi Farel kecil.
Flashback Off
Tanpa sadar, di matanya yang terpejam mendapat air mata yang sudah membasahi pipi Farel. Menangis adalah hal yang bisa Farel lakukan saat kehidupan buruk itu memenuhi pikirannya.
Farel dapat merasakan usapan di pipinya. Tangan itu pasti milik Tiam. Pria itu menghapus air matanya dengan lembut.
"Tiam sayang Abang. Jangan terluka lebih dalam lagi! Tiam ikut sakit," gumam Tiam yang menghadirkan senyum tipis di bibir indah Farel.
Tbc...
^^^#as.zey^^^
__ADS_1