Mysterious Gus

Mysterious Gus
#57. Waiting For You


__ADS_3

..."Entah hari seperti apa hari ini. Yang jelas, di hari ini aku memiliki pertanyaan, pantaskah aku menantimu? Dan pantaskah kau untuk aku nantikan?"...


...Fisha...


Hari ini adalah hari yang membingungkan bagi Nafisha. Ia bingung, harus sedih atau bahagia.


Sudah tiga tahun lamanya Fisha berada di pesantren Al-Istiqamah. Lalu, sebentar lagi ia akan meninggalkan suasana nyaman pesantren.


Tempat itu adalah tempat bersejarah seumur hidup Fisha. Di tempat itu, Fisha menemukan sahabat sejati, yang selalu menjaga dan mengingatkan jika ia salah.


Di tempat itu Fisha memperdalam islam hingga akhirnya ia tahu apa itu kebenaran dan keindahan islam.


Di tempat itu pula, Fisha menemukan sosok Alfarel. Pria yang penuh dengan rahasia dan luka. Pria dingin yang sayangnya tempat ia menaruh rasa.


Sebentar lagi, Fisha akan meninggalkan penjara suci itu. Masa SMA-nya sudah berakhir. Ia akan menemukan kehidupan yang lebih keras lagi. Siap mau pun tidak siap.


Fisha menatap gedung aula yang sudah dihias secantik rupa dengan senyumannya. Mengingat kembali kenangan apa yang pernah ia buat bersama orang-orang terkasih di gedung besar itu.


"Kenapa menangis?"


"Air matamu lebih menyakitkan dibanding cambukan ini,"


"Berhentilah menangis, Nafisha!"


"Aku yang dirajam kenapa kau yang berteriak?!"


"Gus hiks pasti sakit,"


"Berhentilah menangis! Aku tidak suka melihat air matamu,"


Ingatan itu tiba-tiba saja melintas di otak Fisha. Seperti ada suara saat ingatan itu terlintas. Fisha ingat betul kejadian itu. Saat di mana Farel dicambuk oleh Zacky, yang sekarang Fisha tahu, bahwa Zacky adalah sepupu Farel.


Fisha terkekeh mengingat kenangan itu, namun air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. Dadanya terasa sesak begitu saja.


"Gus," Fisha berujar lirih menaruh tangan di dadanya yang benar-benar terasa sesak.


"Fisha," panggilan itu membuat Fisha segera menghapus air matanya dan berbalik saat menatap si pemilik suara lembut tersebut, Raima.


"Kenapa menangis? Sini, Umma peluk!" Raima berujar lembut sambil merentangkan tangannya.


Fisha terkekeh melihatnya dan kembali menangis. Kakinya melangkah cepat untuk menyambut pelukan Raima. Menangis lirih dalam pelukan hangat sosok ibu dari pria yang ia cintai itu.


"Farel pasti bahagia kamu udah lulus, Sayang," bisik Raima.


"Apa mungkin, Gus bisa datang di acara ini, Ma?"


"Umma gak tau. Jangan terlalu berharap, Sayang. Tidak baik. Cintai ia secara wajar. Tau, kan, hukumnya?"

__ADS_1


Fisha mengangguk, "Iya, Umma,"


"Orang tua kamu sudah datang?"


"Be--"


"Kita di sini!" Suara seruan itu membuat Fisha dan Raima menoleh. Terlihat sepasang suami istri menghampiri mereka. Itu adalah orang tua Fisha, Amar dan Layla.


Hutama dan Raima menang sudah kenal dekat dengan Amar dan Layla sejak beberapa bulan lalu. Tepatnya saat penerimaan lapor semester lima.


"Baru sampai?" Raima berpelukan hangat dengan Layla.


"Iya, macet banget. Tapi kita gak telat, kan?"


"Enggak, tapi hampir aja," kekeh Raima yang disambut kekehan pula oleh Amar dan Layla.


"Tama ke mana?" Tanya Amar mengedarkan pandangan mencari sosok Hutama.


"Tadi masih sama Xander juga anak-anak. Paling tunggu acara mulai baru masuk,"


Jangan lupakan kalau Amar dan Layla sudah mengenal Xander. Kedua orang tua Fisha itu memang sudah kenal dekat dengan keluarga Farel. Kisah antara dua anak insan itu pun mereka sudah tahu. Wajar saja hubungan mereka sudah sangat dekat.


"Kepada para santriwan, santriwati dan seluruh tamu undangan, dipersilakan menempati tempat yang sudah disediakan!" Suara itu mengalihkan atensi mereka.


"Kalian duduk aja dulu! Aku panggil Mas Tama sama yang lain,"


***


Setelah semua berkumpul, acara perpisahan pun dimulai. Dari acara pembukaan, mengaji, doa juga kata sambutan dari Abdullah sebagai pemilik Yayasan sudah berjalan dengan baik dengan Milea dan Zulaikha yang menjadi pembawa acara.


Acara itu berjalan dengan khidmat sejauh ini. Banyak persembahan dari para santri. Mulai dari gambus, puisi, drama dan yang lainnya. Air mata pun kadang menguasai emosi mereka.


"Selanjutnya, ucapan perpisahan dari perwakilan para santri yang akan disampaikan oleh Nafisha Almair Zalsa. Kepada Nafisha, kami persilakan," panggil Milea.


"Loh?! Fisha gak ada dikasih tau. Kok tiba-tiba disuruh maju?" Panik Fisha.


"Si Kemal katanya lupa buat konsep. Jadi Milea nunjuk asal. Kamu maju, gih! Bilang apa aja, yang penting ngomong," teman Fisha berbisik.


"Kenapa harus aku, sih?!" Kesal Fisha.


"Udah, maju sana!" Layla mendorong pelan putri tunggalnya itu. Mau tak mau Fisha pun akhirnya naik ke atas podium. Sebenarnya Fisha agak trauma dengan podium itu. Karena tempat itu adalah tempat saat Farel dirajam hingga akhirnya jatuh pingsan.


"Sorry, Sha. Aku gak tau harus nunjuk siapa," bisik Milea saat memberikan mic. Fisha pun hanya mengangguk pasrah dan naik ke atas mimbar.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," Fisha memulai kalimatnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,"

__ADS_1


"Bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua. Shalawat juga salam senantiasa tercurahkan pada Rasulullah," mukadimah yang sangat singkat dari Fisha.


"Saya, perwakilan dari teman-teman, mengucapkan terima kasih pada semua ustadz dan ustadzah yang sudah membimbing kami. Terutama untuk Buya Abdullah dan Umi Halimah. Semoga rahmat Allah senantiasa mengiringi Buya, Umi serta ustadz dan ustadzah,"


"AAAMIIN,"


"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya. Selama kami berada di sini, pasti tak luput dari kesalahan. Maafkan tingkah kami yang tak berkenan dan mungkin saja meninggalkan kenangan buruk,"


"MAAF,"


"Terkhusus dari saya. Terima kasih untuk Papa dan Mama yang sudah meridhoi dan mengikhlaskan Fisha untuk mencari ilmu di penjara suci ini," Fisha menatap kedua orang tuanya dengan mata haru.


"Terima kasih juga untuk Abah Tama, Umma Ima, Om Xander dan Tante Mayang. Terima kasih sudah menerima Fisha dengan baik dan selalu menguatkan Fisha selama ini," Fisha menatap ke empat orang tua itu secara bergantian.


"Juga untuk Nia, Zira, Milea dan Zulaikha, makasih udah jadi sahabat terbaik untuk aku. Bahagia selalu untuk kalian,"


"Gak lupa buat RANDA, Tiam dan Ley. Makasih udah sering jenguk aku di sini. Bawain aku banyak makanan hehehe. Makasih atas prioritas yang udah kalian kasih,"


"Serasa ini tuh jadi ucapan dari aku sendiri, ya? Gak ada kek mewakili teman-teman. Maaf banget, aku gak tau mau ngomong apa karena ini mendadak banget," Fisha terkekeh sambil menghapus air matanya. Para penonton pun ikut terkekeh kecil melihat gadis itu.


"Untuk orang terakhir, Gus Farel. Fisha gak tau Gus ada di mana. Tapi Fisha mohon, cepat pulang. Kami semua menunggu Gus pulang," ujar Fisha dengan air mata yang tak tertahan.


"Untuk semua teman-teman seperjuangan! Semangat untuk ke depannya! Semoga cita-cita kita tercapai dan tetap bisa berhubungan dengan baik. Kita sudah berusaha untuk sampai di titik ini!"


"Saya akhiri, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,"


Tepukan meriah mengantarkan Fisha untuk kembali ke tempat duduk. Raima dan Laila sudah siap menyambutnya dengan pelukan. Tentu hal itu tak akan Fisha sia-siakan.


"Farel pasti pulang,"


"Kalau Farel gak pulang-pulang, Mama sendiri yang bakal nyari dia!" Ungkapan Laila berhasil menghentikan tangis Fisha. Sekarang gadis itu justru tertawa.


"Terima kasih untuk Nafisha. Selanjutnya petuah dan pelepasan dari Gus Hutama Pramayudha. Kepada Gus Hutama, kami persilakan!"


Tanpa banyak omong, Hutama langsung naik ke atas podium setelah menyempatkan diri menepuk pelan pundak Amir.


"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," Hutama pun memulai petuahnya yang disimak penuh hikmad oleh seluruh hadirin.


"Masa depan tak akan indah jika hanya menanti, maka gapailah masa depan dengan kegiatan yang menguntungkan. Karena yang kita 'nantikan', akan tiba dengan cara yang paling indah, termasuk masa depan yang baik," kalimat itu Hutama lontarkan dengan pandangan yang mengarah pada Fisha, seolah-olah kalimat itu adalah pukulan keras untuk Fisha.


"Apa Gus adalah masa depan yang indah? Yang layak untuk Fisha tunggu?"


Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2