
..."Banyak tempat yang kami kunjungi hanya agar kami bisa merasakan keberadaanmu, termasuk pesantren ini,"...
...RANDA & Monika...
Tiga motor dan satu mobil mewah memasuki pekarangan pesantren Al-Istiqomah sehingga menarik perhatian beberapa orang yang sedang lewat. Seharusnya mereka sudah terbiasa dengan kehadiran motor-motor sport itu, namun tetap saja bagi mereka menatap orang-orang penggunanya adalah hal yang menarik.
Afnan, Adam dan Yusuf turun dari motornya, begitu pula dengan Dylan yang keluar dari mobilnya. Namun, yang membuat mereka heran adalah saat Dylan membuka pintu lain dan keluarlah seorang gadis, dia adalah Monika. Gadis itu yang biasanya tak memakai jilbab, hari ini ia memakainya meski sangat sederhana. Dan ini pertama kalinya Monika ikut menjenguk Fisha dan yang lainnya.
"Gaya lo, Nik, minta dibukain pintu," julid Yusuf membuat Monika mendelik.
"Sirik ae lo, Bang. Biar kesannya gimana gitu looh," sinis Monika.
"Buruan keluarin bawaannya! Malah debat gak jelas lo berdua," Adam mengomel sambil membuka bagasi mobil dan mengeluarkan barang bawaan mereka yang tak bisa dibilang sedikit.
"Baiklah, ayo babu-babuku! Yang bener bawanya, yah!" Monika dengan tidak ada akhlaknya mengatai RANDA sebagai babunya. Gadis itu memang hampir sama seperti Fisha, memiliki hak istimewa dalam GREXDA.
Omong-omong tentang GREXDA, geng terbaik itu masih terus berjalan sampai saat ini meski tanpa Farel. Bahkan tak ada pengangakatan Leader baru. Mereka yakin, Farel akan kembali dan setelahnya barulah mereka mengangkat Leader baru. Untuk saat ini Afnan yang menggantikan Farel meski dia harus sedikit keteteran karena harus membagi tugas kuliah dan tugas kepemimpinannya.
"Babu lambemu!" Kesal Dylan yang hanya ditanggapi kekehan oleh Monika.
"Mau ketemu Fisha langsung atau ketemu yang punya ponpes dulu?" Tanya Monika, jujur dia sedikit gugup karena ini pertama kalinya dia datang ke pesantren ini.
"Ketemu Buya sama Umi dulu, sekalian anterin nih oleh-oleh punya orang ndalem," ujar Adam.
"Di mana tuh ndalem-nya?" Tanya Monika dan melihat arah yang ditunjuk oleh Yusuf. Gadis itu mengangguk dan berjalan lebih dulu.
"Assalamu'alaikum," ucap RANDA dan Monika bersamaan.
"Wa'alaikumussalam," seorang pria berjalan keluar menghampiri mereka.
"OH GOD!! GANTENG BANGET GILA!!" Teriakan Monika membuat RANDA kaget, terlebih lagi Dylan yang posisinya berdiri di samping gadis itu.
"Apa sih, Nik?! Malu-maluin banget lo," rutuk Dylan.
"Gila!! Bang, dia ganteng banget," ujar Monika tak lepas menatap pria yang berdiri di depan pintu.
Pria yang menjadi sasaran Monika itu menunduk dalam sambil tersenyum tipis. Terlihat telinganya yang merah pertanda malu.
"Dia gak bakal mau sama lo yang begajulan, Nik," ejek Yusuf yang mendapatkan cibiran dari Monika.
"Maaf, ada perlu apa? Mencari Buya atau Umi?" Pria itu bertanya dengan sopan.
"Buya sama Umi, ada?"
"Buya ada di dalam, Umi di dapur santri. Mari masuk dulu!" Pria yang belum diketahui namanya itu mempersilakan mereka masuk.
"Loh? RANDA sudah datang?" Abdullah yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri RANDA dan Monika yang sudah duduk manis di sofa ruang tamu.
"Kakek apa kabar?" Afnan bertanya sambil mencium tangan Abdullah, begitu pula yang lain.
"Alhamdulillah sehat. Kalian juga sehat, kan?"
"Alhamdulillah, Kek,"
"Mau ketemu Fisha, kan? Kayak biasanya?"
"Iya, Kek. Tapi mau ketemu Kakek sama Nenek dulu,"
"Oh, Nenek mah lagi di dapur santri. Kal, tolong panggilin Umi, ya!" Abdullah menyuruh pria tadi yang masih berdiri di sisinya.
"Nggeh, Buya," pria itu langsung keluar setelah mengucapkan salam.
"Kayaknya nambah satu anggota, nih?" Tanya Abdullah menatap Monika.
"Iya, Kek. Temennya kita juga," jelas Adam.
"Kenalin, Kek, nama saya Monika," ucap Monika gugup.
"Iya, nama Kekek, Abdullah. Nanti sering-sering main ke sini sama RANDA, yah,"
"Hehehe iya, Kek,"
"Cowok tadi siapa, Kek? Belum pernah liat di ndalem," tanya Dylan yang nampaknya mewakili rasa penasaran Monika.
"Dia Haikal, abdi ponpes yang baru pulang dari Kairo,"
"Kairo?" Beo Monika yang diangguki Abdullah sambil tersenyum.
"Kenapa? Mulai insecure lo, Nik?" Ledek Dylan membuat Monika mengerut.
Abdullah terkekeh, "Gak perlu merendah, Nak. Kalau jodoh pasti akan disatukan," ujar Abdullah membuat semangat Monika kembali membara.
"Tuh, fix sih, dia jodoh gue,"
"PD banget lo, bocah,"
"Assalamu'alaikum," Halimah masuk ke ndalem dengan Haikal yang mengekor.
"Wa'alaikumussalam,"
"RANDA datang," Halimah tersenyum saat para remaja itu mencium tangannya.
Afnan yang terakhir mencium tangan wanita renta itu memeluknya. Afnan termasuk jajaran orang yang sangat dekat dengan Halimah, maklum saja, Afnan calon cucu menantu dari kelurga ponpes.
__ADS_1
"Nenek apa kabar?" Tanya Afnan tanpa melepas pelukannya.
"Nenek alhamdulillah sehat. Afnan sama yang lain sehat, kan?"
"Iya, Nek, alhamdulillah," Afnan melepas pelukannya dan menangkup wajah Halimah.
"Nenek gak makan dengan teratur, ya? Nenek kurusan,"
Halimah terkekeh dan membawa Afnan duduk di sampingnya, "Sudah tua, Nan. Makin renta tubuh Nenek,"
"Makan yang teratur, Nek. Nenek jangan capek-capek!" Ujar Afnan tegas.
Halimah lagi-lagi terkekeh. Halimah dapat merasakan keberadaan Farel saat Afnan di sisinya. Sifat tegas dan pendiam namun penyayang yang dimiliki Afnan hampir persis seperti Farel.
"Siapa gadis cantik ini? Gak lepas dari tadi liatin Haikal," tanya Halimah membuat Monika tersenyum kikuk.
"Monika, Nek. Temen Fisha sekaligus Nyonya dari kacung-kacung RANDA," Monika mencium tangan Halimah.
"Ni anak dari tadi gak ada akhlak banget mulutnya!" Gemas Dylan menjitak pelan kepala Monika, sedangkan gadis itu tertawa pelan.
"Nenek Halimah. Kamu cantik sekali," puji Halimah.
"Jangan dipuji, Nek! Besar kepalanya nanti," ujar Yusuf.
"Napa dah, dari tadi sirik banget lo, Bang?! Gue tuh emang cantik,"
"Ini ada buah tangan buat Kakek sama Nenek," Afnan mengalihkan pembicaraannya, pria itu mengambil satu kantong plastik besar dan menaruhnya di atas meja.
"Gak perlu repot-repot, Nak. Setiap datang pasti ada aja bawaannya. Kalian datang aja Kakek sama Nenek udah seneng,"
"Gak papa, Nek, kita bingung ngabisin duit, jadi beliin buat Kakek Nenek aja," sombong Adam.
Abdullah dan Halimah tertawa pelan, "Kalian ini ada-ada saja," heran Abdullah.
"Kek, Nek, Dylan laper," adu Dylan.
"Heh, tadi kan lo udah makan di rumah Abah," ucap Yusuf.
"Gue laper lagi lah. Satu mobil sama ni anak nguras emosi dan tenaga. Ada aja pertanyaannya," keluh Dylan tertuju pada Monika.
"Kok gue? Lo aja yang mau ladenin gue,"
"Kalo didiemin nangis, tambah ribet gue,"
"Sudah, jangan ribut! Gih, Dylan makan sana! Lauk tadi pagi masih ada. Atau mau Nenek masakkan yang lain?"
"Engga usah, Nek. Lauk masih bagus juga, yang penting kampung tengah terisi,"
"Lo belum makan kan, Nik? Ikut gak?" Tawar Dylan pada Monika.
"Boleh?"
"Sok punya malu lo! Buruan! Gue habis ini mau ketemu jodoh," Dylan lebih dulu menuju dapur. Sedangkan Monika berjalan pelan saat dekat dengan pria yang bernama Haikal.
"Modus lo, Monika!!" Geram Dylan berbalik dan langsung menarik gadis itu.
"Aaaa rusuh banget lo!" Teriak Monika.
"Maaf Kek, Nek, tuh orang dua kalo disatuin emang heboh," ujar Adam tak enak hati.
"Gak papa, Kakek sama Nenek malah seneng, rumah jadi ramai. Sering-sering datang kemari sama Monika juga,"
"Iya, Nek,"
"By the way, kenalin gue Yusuf," mereka hampir lupa untuk berkenalan dengan Haikal.
"Gue Adam,"
"Afnan,"
Haikal tersenyum tipis dan mengangguk sekali, "Saya Haikal,"
"Kamu belum makan juga dari pagi kan, Kal? Gih, makan sana sama Dylan Monika!"
"Tidak perlu, Umi. Saya kembali ke asrama saja,"
"Makan sana, Haikal! Tadi kamu belum sempat makan karena bantu Buya. Tidak ada bantahan!" Abdullah layaknya raja yang memberikan titah, Haikal pun mau tidak mau menurut.
"Kalian mau minum apa? Asik ngobrol sampai Nenek lupa buatin minum,"
"Gak perlu, Nek. Nanti kita buat sendiri. Nenek jangan capek-capek," Afnan meraih tangan yang sudah keriput itu dan memijatnya pelan.
Halimah tersenyum, tangannya yang satu mengusap kepala Afnan, "Gimana kamu sama Zira? Baik-baik aja, kan?"
"Baik, Nek. Cuma jarang ketemu aja karena Afnan sibuk kuliah sama anak-anak. Syukurnya Zira ngertiin Afnan,"
"Alhamdulillah kalau gitu,"
"BANG DYLAN! ISH, ITU TEMPE GORENG GUE!" Suara teriakan Monika menggema ke seluruh rumah.
Yusuf menepuk jidatnya malu, "Maaf, Nek," kikuk Yusuf.
"Gak papa, Nenek senang lihat gadis itu. Perilakunya apa adanya. Pokoknya sering-sering bawa Monika main ke sini,"
__ADS_1
"Siap, Bunda Ratu!"
***
Dylan dan Monika sudah sibuk dengan makanannya masing-masing. Awalnya mereka tenang hingga akhirnya Haikal masuk ke dapur.
"Kenapa, Mas? Mau makan juga?" Monika bertanya dengan genitnya.
"Sok cakep lo, Nik. Genit banget pake manggil Mas segala. Cewek tomboy kayak lo gak pantes," hina Dylan.
Haikal tersenyum canggung, "Saya disuruh makan sama Buya,"
Monika berdiri dengan kasar dari duduknya, "Ohh, biar Nika ambilin!" Monika tanpa tahu malu mengambilkan Haikal makan, sedangkan Haikal terduduk canggung di samping Dylan.
"Dia emang kadang agak gila, maklumin aja," ucap Dylan saat Monika sudah menyajikan sepiring makanan pada Haikal.
"Iya," canggung Haikal.
"Gue Dylan, dia Monika. Kita dari Jakarta, ke sini selain liat Kakek Nenek, kita juga mau ketemu Fisha. Lo kenal Fisha?"
"Tidak terlalu. Saya hanya sering melihat dia datang ke ndalem dan menemani Umi. Kalau tidak salah, dia juga sering datang bersama gadis yang namanya Milea,"
"Kalau Milea itu jodoh gue,"
"Kayak Lea mau aja sama lo, Dylan 1999," sinis Monika.
"Lo gak ada sopan-sopannya yah, dari tadi,"
"Ah, massa?" Ledek Monika mendapat delikan kesal dari Dylan.
"Mas udah punya calon istri? Kalau belum, sama Nika aja, Mas," ujar Monika dengan gamblangnya, membuat Haikal semaking canggung.
"Ntar di jalan gue turunin lo, Nik. Sumpah, malu-maluin," Dylan berujar frustasi dan menyomot tempe goreng yang ada di piring Monika.
"BANG DYLAN! ISH, ITU TEMPE GORENG GUE!" Teriak Monika kesal, sedangkan Dylan sudah tertawa puas.
"Punya saya masih ada, kamu mau?" Haikal menawarkan tempe goreng miliknya yang langsung dibalas anggukan antusias oleh Monika. Gadis itu tanpa malu langsung mengambil tempe goreng milik Haikal.
"Lo mau sama cewek modelan Nika, Kal?" Dylan bertanya layaknya dia berbicara dengan orang yang seumurannya. Memang begitulah Dylan maupun RANDA yang lain. Bodo amat sama perbedaan usia.
"Mau dong! Nika cantik gini,"
"Tapi malu-maluin,"
"LAN! NIK! BURUAN! IKUT KETEMU FISHA GAK?" Adam berteriak dari ruang keluarga.
"TUNGGUIN WOY! GUE MAU KETEMU LEA!" Dylan langsung meneguk minumnya dan menaruh piring bekas makannya di tempat piring kotor.
"Nik, tolong cuciin piring gue sekalian! Kal, titip adek tiri gue. Anterin dia nyariin kita ntar," pesan Dylan pada dua manusia itu dan pergi begitu saja.
"DYLAN! WOY! KOK GUE DITINGGAL?!" Teriak Monika kesal.
"GAK PAPA, NIK! SEKALIAN MODUS," Yusuf lah yang membalas teriakan Monika.
"Emang gak ada akhlak," rutuk Monika kembali memakan makanannya.
Suara ponsel milik Monika mengalihkan perhatian mereka. Monika dengan kesal menerima panggilan itu tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Apaan?" Sambar Monika.
"Kenapa lo? Kesel gitu suaranya?"
Monika langsung melihat layar ponselnya dan tertera nama Akhyar di sana.
"Gue lagi makan, ditinggal sama Bang Dylan kampret. Di otaknya cuma ada Lea,"
Terdengar Akhyar terkekeh di seberang sana, "Gue kan tadi mau nawarin lo bekal, tapi lo gak mau. Terus sekarang lo udah makan kan?"
"Udah, nih lagi makan, ditemenin jodoh juga," Monika melirik Haikal yang kini sedang tersenyum malu.
"Jodoh? Nemu lakik lo di sana, Nik?"
"Ho'oh, mana cakep lagi. Oh, lo ngapain telepon? Lo sama anak-anak baik, kan? Kenapa gak telepon Bang Afnan atau RANDA yang lain?"
"Enggak, gue cuma mastiin lo aja. Baek-baek lo di sana,"
Akhyar memang termasuk jajaran orang yang paling memperhatikan Monika. Terkadang Monika sangat-sangat bersyukur ada di antara kumpulan pria itu. Ia benar-benar diperlakukan seperti adik dan ratu.
Monika tersenyum manis, "Gue baik-baik aja. Bang RANDA jagain gue juga. Bentar lagi gue siap makan mau ketemu Fisha,"
"Ya udah, makan yang banyak. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam," Monika menyimpan kembali ponselnya dan minum karena makanannya sudah habis.
"Eh, Mas, biar Nika aja yang nyuci," Monika mendorong pelan Haikal yang hendak mencuci piring, Haikal pun hanya bisa pasrah.
"Udah, yok anterin Nika cari lima babu gak tau diri itu," ucap Monika berjalan lebih dahulu, sedangkan Haikal mengikuti di belakang dengan senyum tipisnya.
Tbc...
Part spesial RANDA, Monika, dan Haikal si pria pendatang baru. Semoga happy^^
^^^#as.zey^^^
__ADS_1