Mysterious Gus

Mysterious Gus
#43. Hilang


__ADS_3

..."Aku adalah orang yang statusnya bukan siapa-siapa, tapi aku adalah orang lain yang paling mengkhawatirkan dan merindukannu,"...


...Fisha...


Hari Senin ini, Pesantren Al-Istiqomah mengadakan acara milad yang ke-83. Untuk merayakan hari itu, segenap pengurus pesantren mengadakan acara.


Dalam acara tersebut, tentu saja keluarga Hutama turut hadir. Tak lupa juga dengan RANDA dan Fisha. Pagi-pagi buta mereka sudah jalan dari Jakarta dan sekarang baru sampai ke Bandung, tepat pukul delapan.


Banyak para santri yang sudah berlalu lalang, ada yang sibuk mengecek persiapan acara, dan ada juga yang hanya sekedar lewat.


Hutama dan semua rombongan langsung memasuki ndalem. Terlihat Jamilah yang berdiri membelakangi mereka. Entah apa yang wanita paruh baya itu lakukan, tapi terlihat jelas bahunya yang gemetar naik-turun.


Hutama langsung menghampiri uminya itu dengan tergesa dan memeluknya dari belakang, membuat sang umi terlonjak kaget.


"Tama?" Kaget Jamilah menoleh ke samping pada wajah sang putra yang bertumpu pada bahu kanannya.


"Umi kenapa nangis?" Tanya Hutama yang padahal ia sudah tahu penyebabnya saat melihat sebuah foto yang dipegang sang umi.


"Gak papa, Umi sedang kangen saja sama Farel. Seharusnya dia ada, kan, di acara ini?" Jamilah menatap lirih pada foto Farel.


"Tama dan yang lain sedang berusaha mencari Farel, Mi," Hutama ikut merasakan sesak di dadanya. Ia merasa gagal menjadi sosok ayah.


"Cucu Umi pasti baik-baik aja kan, Tam?"


"Tama yakin, Farel pasti baik-baik aja. Farel anak Tama yang kuat,"


"Senyum Farel manis banget kan, Tam? Sampai-sampai kita gak tau, dibalik senyumnya yang menawan, Farel menyimpan luka yang mendalam. Cucu Umi terluka, Tam," Jamilah semakin terisak, Hutama langsung membalik tubuh sang umi dan memeluknya.



"Umi," suara itu meleraikan pelukan antara anak dan ibu itu. Panggilan itu berasal dari Raima. Wanita itu menatap ibu mertuanya dengan senyum manis, namun matanya berkaca-kaca.


"Anak kesayangan Umi juga datang ternyata," Jamilah tersenyum dan beralih memeluk Raima.


"Farel pasti baik-baik aja, Mi. Ima yakin, anak Ima adalah anak yang kuat," ujar Raima dalam pelukan itu.


"Iya, Farel kita adalah sosok yang kuat,"


"Tama? Ima? Sudah dari tadi?" Abdullah menghampiri mereka, mencoba mengalihkan drama yang ia lihat dari pintu masuk tadi.


"Belum, Bi, baru aja," Hutama mencium tangan abinya yang diikuti oleh Raima.


"Cucu Kakek ganteng banget," Abdullah mengambil alih Abilash dari gendongan Raima.


"Bah, Umma cama nenek angis," adu Abilash pada kakeknya, membuat Abdullah terkekeh. Cucunya itu mengalihkan pembicaraan.


"He'em, Abah, Umma sama Nenek cengeng, ya?" Ejek Abdullah yang diangguki polos oleh Abilash.


"Kayak kamu gak pernah nangis aja," sinis Hutama tak mau kalah.


"Udah-udah, sama anak kecil aja kamu gak mau ngalah, Tam. Ayo duduk!" Abdullah menengahi dan membawa mereka ke ruang keluarga, termasuk RANDA dan Fisha tentunya.


"Gimana liburannya sama RANDA, Sha?" Abdullah membuka pembicaraan.


"Seru, Buya. Kita keliling kota sambil bagiin makanan, buat kerajinan, terus konser dadakan," jelas Fisha bersemangat.


"Konser dadakan?"


"Iya, Kek, Bang RANDA sama GREXDA ngajak kita nyanyi di tenda pecel lele," kini Nia yang menjelaskan.


"Oh, begitu. Dapat banyak?" Abdullah bertanya sambil terkekeh.


"Ya, lumayanlah buat makan malam," Dylan menjawab dengan tawa ringan.


"Gimana sekolah kalian? Lancar kan?" Sekarang gantian Jamilah yang bertanya.


"Alhamdulillah lancar, Nek,"


"Semuanya, Fisha pamit ke asrama dulu," seluruh atensi beralih pada Fisha.


"Kenapa? Gak di sini aja? Sebentar lagi acara mau dimulai," tanya Abdullah.


"Mau ganti baju, Buya. Sekalian temuin sahabat-sahabat Fisha,"


"Oh, ya udah,"


"Sha, kita ikut!" Monika berseru bersama Nia dan Zira.


"Boleh,"


"Abil uga au ikut," si bocil Abilash tampaknya tak mau Fisha jauh dari pandangannya.

__ADS_1


"Abil mau ikut? Nanti perempuan semua loh," ungkap Nia.


Abilash menggeleng lucu, "Kak Sha," bocah ini tak peduli kata kakaknya dan mengangkat kedua tangannya meminta Fisha menggendongnya.


"Tapi nanti jangan nangis, ya. Semuanya perempuan," Fisha mengingatkan sambil terkekeh dan membawa bocah laki itu ke dalam gendongannya.


"Gak angis,"


"Pinter,"


"Ya udah, kita pergi dulu, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam," keempat gadis bersama satu bocah laki-laki itu pun pergi meninggalkan ndalem.


***


Acara milad pesantren Al-istiqomah telah usai beberapa menit yang lalu. Semua santri dan santri wati pun sudah banyak yang meninggalkan gedung untuk sibuk masing-masing.


Namun, berbeda dengan Fisha, gadis manis itu sibuk mondar-mandir di kamarnya dari satu jam yang lalu setelah sibuk mengeliling satu pesantren yang luasnya teramat luas.


"Lo kenapa sih, Sha?" Akhirnya Monika bertanya setelah bosan melihat kesibukan unfaedah Fisha.


"Gelang aku hilang," adu Fisha dengan wajah murung.


"Gelang apaan? Gelang emas sampe lo kewalahan gini?"


Fisha menggeleng, "Bukan, lebih berharga dari emas," jawab Fisha lemas dan terduduk di lantai.


"Emang apaan yang lebih berharga dari emas?"


Fisha berdecak, "Kamu mana tau. Bantuin nyari, dong!" Gadis itu terlihat ingin menangis.


"Gelang yang gimana sih, Sha?" Heran Nia.


"Gelang yang biasa aku pakai,"


"Gue baru tau kalo lo pake gelang," ujar Monika terkekeh saat Fisha menatapnya sinis.


"Kamu ada foto gelangnya?" Sekarang Milea yang gantian bertanya.


"Ada,"


...HijrahKeun!!...


...Anda, dan 6 anggota lainnya...


Anda



"Tangan siapa nih, Sha?" Tanya Nia kepo.


"Nanti aja nanyanya, bantuin cari dulu. Aku mau cari lagi di deket toilet, assalamu'alaikum," tanpa menunggu jawaban dari salamnya, Fisha langsung keluar dari kamar.


"Wa'alaikumussalam,"


"Kayaknya Zira tau deh, ini tangan siapa," Zira berujar dengan tatapan fokus pada layar ponsel yang menunjukkan foto kiriman Fisha.


"Heem, pantesan aja kalang kabut. Gelangnya samaan sama Abang aku," decak Nia.


***


Fisha berjalan sambil menunduk, berharap gelangnya bisa ditemukan. Seperti perkataannya tadi, gelang itu lebih berharga dari emas. Tentu saja, gelang itu adalah pemberian dari Gus-nya, sosok yang membuatnya tak bisa menyembunyikan rasa cintanya.


Terlebih lagi, gelang itu adalah pemberian sang Gus sebelum ia pergi. Dan juga, gelang itu sang Gus juga mempunyainya.


Membuka bilik kamar mandi secara bergantian dengan mata yang hanya fokus melihat ke bawah, tak mau satu tempat pun yang terlewatkan.


"Ke mana, sih?! Padahal tadi waktu siap mandi sama sholat ashar gelangnya masih ada," gerutu Fisha hampir menangis dan memutuskan meninggalkan kamar mandi.


Pencarian gelang Fisha terus berlangsung sampai akhirnya azan maghrib berkumandang. Semua santri berbondong-bondong menuju masjid. Begitu pula dengan Fisha dkk. Fisha tampak lesu dan putus asa, ia takut gelang itu benar-benar hilang.


"Jangan lesu gitu deh, Sha! Besok kita cari lagi," Monika mengusap bahu Fisha.


"Aku gak mau gelangnya hilang, Nik. Gelang itu pemberian dari Gus,"


"Iya, kita tau. Kita bakal bantuin cari sampai gelangnya ketemu,"


"Iya," pasrah Fisha dan mereka memasuki masjid.


***

__ADS_1


"Fisha kenapa, Sayang?" Tanya Raima saat mereka sudah berkumpul di ndalem setelah sholat maghrib dan juga isya. Mereka bersiap untuk makan malam.


"Gelangnya hilang, Ma," bukan Fisha yang menjawab, melainkan Nia.


"Gelang yang biasa lo pake?" Tanya Yusuf.


"Iya, kamu ada liat?"


"Enggak," Fisha yang tadi wajahnya seperti ada harapan kembali menjadi suram.


"Nanti Abah belikan yang baru, Sha," hibur Hutama.


"Gelangnya dari Abang, Bah. Makanya jadi uring-uringan," jelas Nia lagi-lagi mewakili Fisha.


"Ya udah, nanti Abah bantu ca--"


"Assalamu'alaikum," dua pria tiba-tiba nyelonong masuk ke ndalem, mereka adalah Azam dan Haikal.


"Wa'alaikumussalam,"


"Mas Haikal! MasyaAllah, akhirnya ketemu setelah hampir satu harian Monika di sini," girang Monika berdiri di hadapan Haikal, sedangkan Haikal menunduk malu dengan wajah yang memerah hingga telinga.


"Heem, kumat dah ni anak," gerutu Dylan.


"Kenapa, Mas? Cariin Nika, ya?" Tanya Monika begitu percaya diri.


"Bukan,"


"Loh? Terus? Mau ikutan makan malam juga?"


Haikal menggeleng dengan kepala yang terus menunduk, "Saya menemani Gus Azam," jelas Haikal membuat Monika lesu seketika.


"Udah deh, kegatelan bat lo, Nik. Duduk sama gue sini!" Dylan langsung membawa Monika duduk di sampingnya, mengabaikan bibir gadis itu yang sudah mengerucut kesal.


"Ada apa, Zam?" Tanya Abdullah.


"Tadi saya dengar dari santri-santri, kalau Fisha kehilangan gelang,"


"Iya, Ustadz ada lihat?" Tanya Fisha penuh harap.


"Boleh saya lihat seperti apa gelangnya?"


Fisha mengangguk antusias dan menunjukkan foto gelangnya pasa Azam. Gadis itu menatap Azam penuh harap.


Azam termangu melihat foto itu. Azam sudah bisa menebak dari foto itu, kalau gelang yang ditemukannya adalah gelang couple.


"Ustadz?" Panggil Fisha membuat Azam tersadar dari lamunannya.


"Iya? Oh, ini gelangnya," sempat kaget lalu mengeluarkan sebuah gelang dari sakunya.


Fisha menerima gelang itu dengan senyum manis. Hatinya lega telah berhasil menemukan kembali gelangnya.


"Alhamdulillah, terima kasih, Ustadz,"


"Iya, sama-sama,"


"Kamu menemukannya di mana, Zam?" Tanya Abdullah.


"Di perbatasan santri wati menuju masjid, Buya,"


"Mungkin gelangnya jatuh pas kamu mau balik selepas sholat ashar, Sha," ujar Abdullah yang diangguki Fisha. Gadis itu hanya fokus lada gelangnya sambil tersenyum.


"Udah seneng gelangnya ketemu, hm?" Raima terkekeh sambil mengusap kepala Fisha.


"Seneng, Umma. Fisha gak mau kecewain Gus karena gak bisa jaga barang pemberiannya," jawab Fisha merubah wajahnya menjadi sendu.


"Gus Farel gak salah menitipkan sesuatu sama kamu," Raima membawa gadis itu dalam pelukannya.


Tanpa bicara, Raima tahu, bahwa putranya dan gadis yang dalam pelukannya ini sebenarnya sama-sama mencintai. Hanya Tuhan saja yang belum menghendaki karena keberadaan putranya entah di mana.


"Gus baik-baik aja kan, Umma?" Tanya Fisha lirih dalam pelukan ibu dari pria yang ia cintai.


"Pasti,"


Fisha adalah sosok yang biasa menguatkan mereka dan meyakinkan mereka bahwa Farel akan baik-baik saja dan segera kembali. Namun, sekarang mereka tahu, Fisha menyimpan rasa yang lebih bimbang serta takut kalau Farel tak kembali.


Di sisi lain, mereka tak peduli pada perasaan Azam yang seperti ditusuk ribuan jarum. Sekarang ia tahu, gadis yang ia sukai mempunyai pria yang sudah dicintainya.


Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2