Mysterious Gus

Mysterious Gus
#59. OSPEK


__ADS_3

..."Ini sulit untuk dijelaskan. Tapi yang pasti, kehidupan baru ini masih terlalu asing."...


...Fisha...


Pagi ini Nafisha sudah terlihat cantik dengan pakaian OSPEK-nya. Rok pliskat hitam, baju tunik hitam dan khimar hitam di kepalanya. Tak lupa beberapa atribut OSPEK yang aneh, namun tak mengurangi kecantikan gadis itu.


Yaps, sekarang Nafisha bukan lagi anak SMA yang seragamnya putih abu-abu. Sekarang ia adalah MABA. Bagi Fisha, cita-citanya semakin dekat, yaitu menjadi dokter bedah.


"Pa, Ma, Fisha berangkat dulu," pamit Fisha menghampiri orang tuanya yang sedang sarapan.


"Gak sarapan dulu?" Tanya Layla.


"Gak perlu, Ma. Nanti telat, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam. Nanti siang Mama antarin makanan, jangan beli jajan sembarangan!"


"Okey," Layla memang selalu memperhatikan apa yang putrinya makan.


Fisha langsung mengendarai motor maticnya menuju universitas tempat ia akan kuliah, salah satu universitas terkenal yang ada di Bandung, dan tentunya tak terlalu jauh dari rumah.


Setelah hampir dua puluh menit bergabung di jalanan Bandung pagi hari, Fisha akhirnya sampai. Ia tidak telat ataupun datang agak siang, tapi universitas itu sudah tampak penuh dengan para MABA. Mata Fisha sakit sendiri melihatnya.


Fisha menghela napasnya perlahan, senyum manis hadir di wajahnya, "Bismillah, semoga lancar," ujar Fisha kemudian memantapkan langkah bergabung di tengah lapangan.


Fisha tak melakukan hal berarti, ia hanya duduk di pinggir lapangan menatap orang-orang. Di tempat itu Fisha memang sendirian. Semua temannya masuk ke universitas yang berbeda darinya meskipun masih ada di daerah Bandung.


"Hai?" Fisha mendongak saat merasa seseorang berbicara dengannya.


"Iya, kenapa?"


"Lo sendirian? Boleh gue duduk sama lo?"


Kerutan di dahi tak bisa Fisha sembunyikan. Fisha agak kurang nyaman, karena Fisha bukan jenis orang yang gampang bergaul. Ia merasa sulit jika tidak ada Zulaikha yang menemaninya.


"Silakan," takut membuat gadis di depannya tersinggung, Fisha pun memilih untuk mengizinkan.


Gadis dengan surai hitam itu tersenyum dan duduk di samping Fisha dengan nyamannya.


"Nama gue Clara, lo?" Gadis bernama Clara itu memulai percakapan.


"Fisha," jawab Fisha setelah terdiam cukup lama.


"Salam kenal. Btw, lo fakultas apa?"


"Kedokteran,"


"Waahh, sama dong!!"


"Hah?!"


Clara tertawa melihat respon yang Fisha berikan, "Iya, gue juga jurusan kedokteran. Semoga bisa jadi teman baik,"


Fisha tersenyum canggung, "I-iya,"


"Lo asli Bandung?"


"Iya," meskipun menjawab, tapi Fisha menggerutu dalam hatinya. Bagi Fisha, Clara ini tipe orang yang cerewet, topiknya gak ada habis.


"Gue dari Jakarta, di sini ngekos. Deket kok, kosan gue dari kampus. Kapan-kapan lo main aja ke kosan gue,"

__ADS_1


"Kenapa gak kuliah di Jakarta aja? Biar gak jauh?" Karena penasaran, Fisha memilih bertanya.


Clara tersenyum, tapi senyumannya tampak berbeda bagi Fisha.


"Biar jauh dari bonyok," dan setelahnya Fisha hanya mengangguk, tidak mau bertanya lebih jauh lagi.


"KEPADA SELURUH PESERTA OSPEK!! SEGERA BERBARIS DI LAPANGAN SESUAI FAKULTASNYA!!" Suara lantang itu membuyarkan keterdiaman Fisha dan Clara.


"Kuy, baris!" Clara dengan santainya menarik Fisha ke tengah lapangan, Fisha pun hanya bisa pasrah. Tampaknya Clara akan menjadi teman dekatnya di masa mendatang.


"Selamat datang para MABA!! Semoga di pagi hari ini kita semua happy biar siap untuk kegiatan yang banyak nanti!!" Seorang gadis bersuara dari sebuah podium yang sudah disediakan.


"Sebelum kita bener-bener mulai, kita kenalan dulu, ya. Aku Melati, sekretaris BEM,"


"Hai, Kak Melati!!!"


"Saya Aldo, wakil BEM. Fighting all!!" Seorang pria tampan menyapa dengan senyum manis, membuat beberapa gadis bersorak riuh, termasuk Clara. Fisha harus menyiapkan stok sabar yang lumayan banyak.


"Gibran, ketua BEM. Saya harap, kalian semua bisa mengikuti kegiatan OSPEK dengan tertib," yang tadinya sudah ricuh, semakin ricuh saat pria bernama Gibran itu bersuara.


"Gila!! Ganteng banget, Sha!!" Ujar Clara menatap Gibran lapar.


"Masih gantengan Gus," Fisha hanya menjawab dalam hati meski matanya berotasi jengah. Baginya Gibran hanya biasa saja.


"Oke, kita mulai kegiatan hari ini!!"


Kegiatan OSPEK pun dimulai dengan seru meskipun kadang menjengkelkan bagi pesertanya.


***


"Well, kita makan siang dulu dua puluh menit. Selamat makan siang semua!!"


Para peserta OSPEK mulai bergerak tak beraturan meninggalkan area lapangan. Ada yang duduk di pinggiran, ke kantin dan lainnya.


"Sebentar, hp-ku bunyi," Fisha segera menerima panggilan yang sudah dari tadi ia abaikan. Tertera tiga panggilan tak terjawab dari Monika.


"Assalamu'alaikum. Ada apa, Nik? Maaf baru bisa angkat telpon kamu," sapa Fisha.


"Wa'alaikumussalam. Hehehe gak papa, Sha. Gue juga yang kagak sabaran wkwk. Gue sama yang lain ada di depan gerbang kampus lo, nih," ujar Nika.


"Loh?! Ngapain?"


"Anterin makan siang dari Tante Layla. Buruan deh, hot nih,"


"Iya," Fisha langsung memutuskan panggilannya sepihak.


"Ra, kamu ke kantin aja duluan. Aku mau ke depan," ucap Fisha dan langsung berlalu tanpa menunggu tanggapan Clara.


"Buruan, Sha!! Lari!!" Suara teriakan Nika terdengar oleh banyak orang, tapi gadis itu hanya acuh sambil merentangkan tangannya, siap menyambut Fisha dalam pelukannya.


"Aaaa!! Kangen!!" Ujar Nika manja saat Fisha sudah dalam pelukannya.


Fisha terkekeh, "Perasaan tiga hari lalu kita baru ketemu,"


"Biasa, alay!" Ejek Dylan membuat Nika mendengus.


"Maaf ya, pasti udah nunggu lama,"


"Sans, Sha. Nih, bekal dari Mama Layla yang paling baik hati," Nika menyerahkan bekal untuk Fisha.

__ADS_1


"Kalian tadi ke rumah?"


"Iya, bentaran doang,"


"Terus, kalian ngapain di Bandung?"


"Gabut doang. Rencananya sih, mau ngajak lo main gitu. Tapi kayaknya lo pasti bakal capek,"


"Main ke mana?"


"Gak tau, lo yang bawa kita keliling Bandung gitu,"


"Boleh, nanti pulang OSPEK aku ajak ke suatu tempat,"


"Gak perlu, lo capek. Istirahat aja," ujar Afnan akhirnya membuka suara.


"Gak, kok,"


"Ya udah kalo gitu, nanti kita ajak Hawa, Milea sama Ikha," ujar Adam sumringah.


"Diih, itu mah maunya lo yang sama Hawa!"


"Iya deh, yang sok jual mahal sama Ikha,"


Fisha terkekeh melihat perdebatan itu, "Boleh, biar rame juga. Nia sama Zira gimana?"


"Sans, mereka masih nginep di pesantren. Habis dari sini, nanti kita ke sana,"


"Ho'oh, sekalian gue mau ketemu sama Mas Jodoh," Nika bersuara dengan wajah mendamba.


Dylan meraup kasar wajah Nika, "Istighfar lo! Ntar jatuh, sakit,"


"Ck, rusuh lo!"


"Kalian gak ikut makan siang?"


"Kita udah makan siang di rumah lo tadi. Gih, buruan masuk terus makan. Kita masih mau ke ponpes juga,"


"Ya udah, kalian hati-hati! Makasih makan siangnya, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


"FIGHTING FISHA!!" Pekik Nika tanpa malunya.


"Besok-besok kalo pergi mending gak usah ajak Nika, deh, malu-maluin," ungkap Dylan sambil menaiki motornya dan melaju lebih dulu.


"WOY!! JANGAN TINGGALIN GUE!!" Pekik Nika kesal, karena seharusnya ia naik motor bersama Dylan.


"Ho'oh, muka gue yang cakep jadi ternodai gegara ni cewek satu," sahut Adam yang juga berlalu dan disusul Yusuf.


"DASAR, SIAL*N!" Umpat Nika tak ada anggun-anggunnya.


"Gak boleh ngumpat! Buruan naik!" Ujar Afnan.


"Emang lo yang paling pengertian! Lo abang gue satu-satunya yang paling pengertian, Bang," ujar Nika lebay.


"Bahasa lo lebih dijaga lagi, Nik. Gak enak didenger sama orang. Gue gak mau orang mikir yang buruk tentang lo," nasehat Afnan. Mau bagaimanapun, Monika sudah seperti adik baginya dan semua RANDA. Posisi Monika hampir sama seperti posisi Nia.


"Hehehe, keceplosan, Bang,"

__ADS_1


Tbc...


^^^#as.zey^^^


__ADS_2