Mysterious Gus

Mysterious Gus
#29. Kenangan di Dapur


__ADS_3

..."Menjadi seperti ini bukanlah keingianku. Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin sekali hidup dengan sewajarnya,"...


...Farel...


GREXDA sudah memasuki istana besar kediaman Pramayudha. Ternyata, Hutama berdiri di depan pintu utama sejak tadi hanya untuk menunggu mereka. Seorang ayah itu tentu saja khawatir ketiga anaknya tak kunjung pulang, terlebih lagi membawa para santri.


Hampir puluhan motor itu terparkir berjejer di halaman yang sangat luas. Jejeran motor itu sangat apik jika dijual.


"Assalamu'alaikum," ucap mereka bersamaan menghampiri Hutama.


"Wa'alaikumussalam. Kalian dari mana aja? Kenapa lama sekali? Itu juga, kenapa mukanya memar-memar?" Hutama menjawab dengan berbagai cercaan di akhir kalimatnya.


"Habis party, Om. Seharusnya udah pulang dari tadi, cuma tadi ada penunggu jalanan yang rusuh," jawab Akhyar begitu santainya, pria itu memang sudah mengenal sosok ayah dari ketuanya itu.


"Kalian gak papa, kan? Abang ada yang luka? Kepalanya habis operasi kemarin," panik Hutama.


"Gak pa--"


"Farel operasi?" Pertanyaan itu mewakili semua anak GREXDA yang memang tidak tau Farel dioperasi.


"Gue gak papa. Obatin luka kalian terus istirahat!" Farel menjawab dan meminta semua sahabat perjuangannya itu masuk ke rumah. Untung saja rumah itu besar hingga mampu menampung mereka.


"Ta--" ucapan Akhyar harus terpotong saat mendapat tatapan tajam dari Farel.


"Ya udah, ayo masuk! Obatin lukanya dulu baru istirahat," ucap Hutama membawa mereka masuk.


"Umma?" Farel bertanya tentang keberadaan umma-nya saat tubuhnya sudah duduk apik di samping sang abah.


"Udah tidur," Farel hanya mengangguk dan pergi menuju dapur membiarkan yang lain bergantian mengobati lukanya.


Farel mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan, tatapannya memperhatikan kegiatan para maid yang menyiapkan makan serta minum untuk teman-temannya.


"Den Farel butuh sesuatu?" Tanya kepala maid yang sudah dekat dengan Farel dari kecil.


"Susu," jawab Farel singkat yang untungnya maid yang bernama Imar itu paham.


"Den Farel kenapa? Kusut begitu mukanya?" Imar datang membawa segelas susu cokelat dingin ditambah taburan oreo di atasnya, minuman favorit Farel.


"Capek aja," Farel menjawab lalu meneguk minumnya dengan begitu nikmat.


"Minum vitamin jangan lupa, Den. Obat dari rumah sakit kemarin juga jangan lupa diminum," peringat Imar perhatian, bagi Imar, Farel sudah seperti anaknya sendiri. Imar juga tau bagaimana kelamnya Farel di masa lalu.


"Iya, Bik. Bibi istirahat, gih!"

__ADS_1


"Iya, Bibi tunggu yang lain dulu. Bibi ambilin kompres dulu buat memarnya Aden," Imar bangkit dari posisi duduknya dan mengambil kompresan untuk Farel, tatapan Farel tidak pernah teralihkan dari wanita paruh baya yang sudah mengabdi sejak muda di keluarganya itu.


"Mau kompres sendiri atau dikompresin?" Tawar Imar.


"Kompresin," jawab Farel dengan senyum tipisnya. Farel sungguh menyayangi wanita itu.


"Jangan sering buat orang rumah khawatir, Den. Apalagi Ibu, dia khawatir banget," Imar berujar dengan terus mengompres memar Farel.


"Makasih, Bik," ucap Farel menatap Imar tulus.


Imar juga balas menatap anak majikannya itu. Matanya berkaca-kaca meski senyum menghiasi bibirnya.


"Aden sekarang sudah besar. Padahal kemarin masih kecil. Cepet banget gedenya, Bibi juga tambah tua," oceh Imar dengan masih terus mengobati luka Farel.


"Aden sekarang jadi laki-laki yang kuat, baik, penyayang. Semuanya bisa sendiri, gak perlu Bibi lagi,"


"Bi," tegur Farel saat bibi kesayangannya itu mulai meracau.


"Dulu, biasanya beli siomay sama Bibi. Buat kue sama Bibi. Bersihin kaca bareng-bareng, nanam bunga juga malah. Sekarang, anak Bibi ini udah besar. Udah mandiri, punya penghasilan sendiri, bisa bersihin tempat tidur sendiri, beli jajan sendiri," Imar mulai menitikkan air matanya.


"Farel butuh Bibi," sanggah Farel menggenggam tangan yang pernah merawatnya dengan penuh kasih sayang.


"Aden harus jadi orang yang lebih baik, ya? Jangan tinggalin sholat. Juga harus jadi lebih kuat. Semuanya pasti akan berakhir bahagia kalau Aden menghadapinya seikhlas hati,"


"Emang Aden mau rawat Bibi nanti? Istrinya gimana coba?" Tanya Imar terkekeh dengan air mata yang semakin membasahi pipi, tak tau kenapa, Imar ingin terus memeluk putra majikannya itu.


"Iya, nanti Farel rawat Bibi juga. Sama Abah dan Umma. Nanti anak-anak Farel panggil Bibi jadi 'nenek'. Terus nanti istri Farel belajar masak sama Bibi,"


"Nanti kalau istrinya udah bisa masak gimana?"


"Suruh belajar lagi sama Bibi. Biar rasanya ada mirip-mirip gitu sama masakan Bibi," jawab Farel polos yang membuat Imar semakin terisak.


"Harus jadi kepala keluarga yang baik tapi loh, ya?"


"Iya, kan Bibi udah ajarin jadi laki-laki yang bertanggung jawab,"


"Pinter banget," tawa Imar mengusap rambut Farel.


Farel berdiri dari posisinya. Tangan besarnya mengusap lembut air mata Imar. Senyum juga hadir di bibirnya.


"Bibi harus sehat selalu biar bisa lihat Farel nanti. Farel sayang Bibi," Farel memeluk Imar begitu erat, begitu pula sebaliknya.


"Bibi lebih sayang Aden. Selalu sabar ya, Nak. Kamu sanggup, makanya Allah beri itu semua,"

__ADS_1


"Iya, Bi. Kan, ada Bibi yang juga temenin Farel,"


"Sekarang udah pinter ngomong manis, ya? Latihan buat baperin siapa, hm?" Tanya Imar membuat Farel terkekeh.


"Udah malem, Bibi istirahat aja! Lukanya udah gak papa,"


"Bener?"


"Iya, besok Bibi harus buatin Farel sarapan nasi goreng spesial!"


"Oke deh, besok Bibi buatin. Aden juga langsung istirahat,"


"Iya, Bik,"


"Selamat malam,"


"Malam," Farel tersenyum tipis melihat Imar yang berlalu menuju kamar.


Farel kembali duduk dan menghela napasnya. Pikirannya kembali menerawang saat perempuan yang statusnya orang lain itu, begitu menyayangi dirinya. Kasih sayang yang Imar berikan untuknya bukan karena kasihan, tapi memang karena ketulusan. Farel tahu itu.


"Gus?" Panggilan itu membuat Farel menoleh dan mendapati Fisha yang berjalan mendekat.


"Hm,"


"Ngapain di sini sendirian? Yang lain udah hampir sebagian siap diobatin dan tidur. Gus udah diobatin?" Fisha mengoceh sambil mengambil air minum di kulkas.


"Tangan lo?" Tanya Farel balik.


"Udah gak papa," Fisha menunjukkan tangannya dan membuat Farel berdecak. Jelas tangan itu masih merah.


"Kompres!" Farel memberikan kompresan miliknya pada Fisha, Fisha pun mau tidak mau harus menerimanya.


"Tadi Fisha gak sengaja denger obrolan Gus sama Bibi. Maaf," ucap Fisha duduk di seberang sang Gus.


"Hm," jawab Farel acuh lalu berlalu saat sudah memastikan Fisha mengompres tangannya.


"Gus kenapa, yah? Kayaknya dari kemarin kusut banget mukanya. Apa karena kejadian waktu lalu?" Fisha bergumam heran mentap punggung sagn Gus yang mulai menghilang ditelan jarak.


"Semakin aku dekat denganmu, akan semakin sulit untukku meninggalkanmu," Farel.


Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2