Mysterious Gus

Mysterious Gus
#42. Meet Pramayudha Family


__ADS_3

Jalanan malam mulai melenggang, saking lenggangnya jalanan, mobil yang dikendari Afnan harus berhenti karena segerombolan manusia menghalangi akses jalannya.


Helaan napas lelah dan jengah terdengar dari Afnan. Mata tajamnya juga menatap bosan pada segerombolan manusia itu. Monika yang duduk di jok belakang pun turut melakukan hal yang sama seperti Afnan.


Tak ada yang bisa membuat Afnan melakukan hal seperti itu jika matanya tak melihat segerombolan manusia yang hidup di bawah naungan Geng BRATA.


Saat ini, ketentraman mereka dalam menikmati jalanan malam harus terganggu karena Geng BRATA. Terlihat Sam yang berdiri pongah di hadapan mereka.


"Emang gak ada bosennya tuh, geng abal-abal," jengah Monika.


"Emang sering gini?" Tanya Fisha.


"Beuh, hampir tiap malem. Lagian tuh orang tau aja kalo kita bakal lewat,"


"Tunggu di mobil!" Afnan memberikan pesan dan langsung keluar dari mobil menghampiri segerombolan BRATA.


"Waahh!! Lagi-lagi yang keliatan wakilnya. Ketua lo mana? Mati?" Sam bersuara dengan wajah mengejeknya, hampir membuat Afnan terbawa emosi.


"Kenapa? Emang kalo dia mati lo mau nyusul? Mau ribut di neraka gitu?" Balas Afnan mengejek.


Sam terkekeh sinis, "Gue masih hidup, artinya ketua lo masih hidup,"


Afnan langsung terkekeh keras mendengar perkataan itu dari mulut Sam. Sam yang melihatnya pun mengernyit heran.


"Secara gak langsung, lo mau hidup dan mati lo barengan sama Farel," ejek Afnan berhasil membuat Sam mengepalkan tangannya.


"Tapi menurut gue, yang bakal mati itu lo, bukan Farel. Farel gak bodoh sampai-sampai dia mau hidup matinya barengan sama lo," ejek Afnan lagi membuat Sam benar-benar naik pitam.


"Sia*an!" Sam langsung melayangkan tinjuannya yang untung saja Afnan cepat tanggap dan segera menghindar.


"Cih, gitu aja emosian. Kenapa? Yang gue bilang bener?" Afnan semakin membuat Sam emosi.


"Ck, mau baku hantam aja ribet banget," Fisha dari dalam mobil berdecak kesal dan memilih keluar menghampiri Afnan yang menghadapi Geng BRATA.


"Kak, masih lama?" Fisha bertanya dengan santainya, membuat beberapa kaum adam itu menoleh ke arahnya.


"Ngapain keluar? Gue kan udah bilang di mobil aja,"


"Kelamaan. Mereka maunya apa, sih?" Kesal Fisha menunjuk BRATA dengan dagunya.


"Lo?" Sam menunjuk Fisha dengan wajah mengingat-ingat.


"Long time no see," Fisha menyapa dengan wajah angkuh. Entahlah, tampaknya gadis manis itu mempelajari gaya sombong setahun belakangan ini.


Sam terkekeh sombong, "Waaw! Ternyata cewek ini masih hidup. Gue kira udah MATI," sarkas Sam membuat Fisha terkekeh sinis.


"Sama, saya juga kira kamu udah mati," balas Fisha santai.


"Lo jadi cewek gak ada takutnya, ya?!" Geram Sam.


"Kamu aja yang kurang berang mukanya," ejek Fisha dengan wajah yang benar-benar menyebalkan bagi Sam.


"Mending pulang, cuci tangan, cuci kaki, jangan lupa gosok gigi, terus tidur deh," sambung Fisha.

__ADS_1


"Seharusnya lo yang pulang!" Bentak Sam membuat Fisha mengangguk-anggukkan kepalanya, entah apa yang ada di otak gadis itu.


"Okey," Fisha berujar dan membuka pintu kemudi.


"Kak, masuk mobil! Kita pulang," Fisha memberi perintah pada Afnan dengan santainya dan masuk ke bangku kemudi. Afnan pun tanpa banyak protes masuk ke mobil, menduduki jok belakang yang tadi ditempati Fisha.


Fisha membuka kaca mobil dan menyembulkan kepalanya, "Kita pulang duluan, yah! Awas ntar digondol wewe gombel!" Ejek Fisha lalu kembali menutup kaca mobil.


Setelah membunyikan klakson sebanyak tiga kali, gadis muslimah itu dengan santai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, membuat manusia BRATA berdesakan untuk menghindar. Tak hanya itu, Fisha juga menerobos barisan motor anggota BRATA hingga beberapa motor terjatuh dan ada yang ikut terseret.


Fisha kembali membuka kaca mobil dan menoleh ke belakang, "Ups! Sorry, aku sengaja," ujar Fisha dan langsung melanjutkan perjalanan pulang menuju kediaman Pramayudha.


Manusia BRATA bersorak tak terima, umpatan bersahutan dari mulut mereka.


"CEWEK SIA*AN LO! LIAT AJA, GUE BAKAL BALES PERBUATAN LO!" Teriak Sam yang padahal tak mampu lagi Fisha dengar.


Fisha terkekeh sambil menyetir, puas dengan apa yang sudah dia lakukan pada BRATA.


"Lo tadi keren banget sih, Sha," ungkap Monika yang diangguki Nia.


"Zira baru tau Kakak galak juga,"


"Lama-lama eneg liat mereka," balas Fisha.


"Lo yang baru ketemu dua kali aja udah eneg. Apa lagi gue yang hampir tiap hari," keluh Monika.


"Setelahnya lo gak bisa pergi sendiri, Sha," Afnan akhirnya membuka suara.


"Mereka pasti ada niat jahat yang lebih ke lo, setelah apa yang lo lakuin tadi,"


"Aku tau, dan gak masalah. Toh aku lebih sering ada di pondok. It's okay,"


Setelahnya hanya ada keheningan yang menemani mereka hingga sampai di kediaman Pramayudha.


Mereka dapat melihat Hutama dan Raima yang sudah menunggu di depan pintu. Bahkan ada Abilash di gendongan Hutama. Bocah laki-laki itu wajahnya tampak segar meski sudah tengah malam.


"Assalamu'alaikum," sapa mereka.


"Wa'alaikumussalam,"


"Umma apa kabar?" Tanya Fisha setelah mencium tangan Raima.


Raima langsung membawa Fisha ke pelukannya dan menangis lirih, "Umma tidak baik-baik saja," ungkap Raima.


Fisha semakin mengeratkan pelukannya sambil menahan air mata yang kapan saja siap membasahi pipi mulusnya.


"It's okay to not be okay, Ma. Umma harus yakin, Gus Farel pasti akan pulang, baik itu cepat atau lama," Fisha menguatkan sosok ibu yang sangat merindukan anaknya itu.


Raima tersenyum sambil melepaskan pelukannya. Tangan Fisha terangkat untuk menghapus air mata wanita di hadapannya itu.


"Jangan nangis terus, Fisha ikut sedih,"


"Kak Sha!" Suara nyaring itu membuat Fisha menoleh. Netranya melihat Abilash yang melihatnya dengan wajah berbinar.

__ADS_1


"Abil," Fisha tersenyum girang dan mengambil alih bocil itu dari sang abah.


"Udah malam kok Abil belum bobo?" Fisha memulai percakapannya pada Abilash.


"Ma iyang, atak au ce cini. Abil ungguin deh," seolah mengerti, bocil umur satu tahunan itu menjawab dengan bahasanya yang kurang jelas.


"Jadi Abil nungguin Kak Fisha?" Tanya Fisha yang diangguki polos oleh Abilash.


"Sudah malam, lanjut ngobrolnya di dalam aja," Hutama berujar dan membawa mereka berkumpul di ruang keluarga.


"Kalian udah makan?" Tanya Raima.


"Udah, Ma,"


"Ya udah, bersih-bersih dulu, terus istirahat," titah Hutama.


"Afnan langsung pulang, Bah, Ma," ujar Afnan.


"Loh?! Gak nginap?"


"Enggak dulu, Bah. Mau lanjutin tugas biar besok bisa ikut ke ponpes,"


"Tidak lelah, Nan?"


"Enggak papa, Ma. Kalau gitu Afnan pulang, assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati,"


Afnan mengangguk dan beralih pada Zira, "Aku pulang, kamu langsung istirahat," pesan Afnan pada pujaan hatinya.


"Iya, Abang hati-hati,"


"Hm," setelahnya Afnan langsung pergi dari rumah mewah itu.


"Udah, jangan bengong-bengong. Tidur sana!" Titah baginda raja, Hutama.


"Iya,"


Keempat gadis itu bangkit dari posisi duduknya. Namun langkah Fisha harus terhenti saat tangan mungil menggenggam jarinya.


"Au bobo Tak Sha," ujar Abil dengan wajah polosnya.


"Mau bobo sama Kakak? Emang gak nangis kalau gak sama Umma, hm?" Tanya Fisha yang dijawab gelengan oleh Abilash.


"Boleh, Ma?" Tanya Fisha pada Raima yang diangguki Raima.


"Kalau Abil nangis, antar aja ke kamar,"


"Okey," Fisha berujar senang dan membawa Abil ke gendongannya, membawa bocah itu menuju kamar Nia, tempat mereka tidur malam ini.


Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2