Mysterious Gus

Mysterious Gus
#58. With Ben


__ADS_3

..."Satu hal yang aku syukuri dalam hidupku yang penuh masalah ini, yaitu orang-orang yang mendengarkanku dengan tulus, bukan hanya sekedar penasaran,"...


...Alfarel...


Duduk di kursi kebesarannya dengan kaki yang bertumpu pada kaki kiri. Tubuh yang tampak luruh dengan gurat wajah lelah, namun segaris senyuman menghiasi wajah tampannya. Ia adalah Alfarel. Pria itu sedang fokus menatap layar ponselnya.


"Kamu tidak berubah," lirih Farel menatap lekat sebuah vidio yang menampakkan wajah Fisha. Vidio itu Tiam kirim siang tadi, namun baru sempat ia buka saat malam karena urusan pekerjaannya yang amat mendesak sedari semalam.


"Untuk orang terakhir, Gus Farel. Fisha gak tau Gus ada di mana. Tapi Fisha mohon, cepat pulang. Kami semua menunggu Gus pulang,"


Wajah Farel yang tadi tampak berbinar berubah menjadi sendu saat mendengar kalimat itu dari Fisha.


"Termasuk kamu?" Gumam Farel lirih.


"Aku akan pulang, tapi akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Mungkin itu akan membuatmu lelah,"


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Farel. Membenarkan posisi duduk dan menyimpan ponselnya, Farel bersuara mempersilakan orang itu untuk masuk.


"Permisi Tuan," seorang pria berwajah Prancis masuk dengan bahasanya.


"Ada apa?" Sebenarnya Farel paham maksud kedatangan tangan kanannya itu, pasti ada tawaran untuk kegiatan malamnya, yaitu sebagai pembunuh bayaran.


"Seorang klien yang sepertinya licik," pria bernama Arno itu memberikan sebuah berkas pada Farel.


"Ia meminta kita untuk membunuh seseorang yang tidak pantas untuk mati, tapi ia memanipulasi, membuat seolah-olah orang itu layak untuk mati,"


Farel tersenyum sinis, "Kalau begitu seharusnya dia yang layak mati," gumam Farel kesal sendiri.


Seperti yang sudah diketahui, Farel adalah pembunuh bayaran yang bukan sembarangan. Ia akan dengan teliti menyelidiki calon korbannya. Farel hanya akan membunuh orang yang menurutnya pantas mati.


"Acuhkan saja! Lain kali jangan beri tahu aku jika ada yang begini! Langsung tolak!" Sabda Farel yang diangguki Arno.


"Jadi, siapa yang akan menemaniku malam ini?" Tanya Farel dengan smirk yang menyeramkan. Arno pun tampak merinding melihatnya.


"Kosong, Tuan," jawab Arno yang disambut helaan napas oleh Farel.


"Tampaknya malam ini adalah malam yang tenang untukku," Farel menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.


"Tuan butuh sesuatu?"


"Tidak perlu, aku akan pulang. Kau juga, lekaslah pulang setelah menemukan orang untukku," Farel bangkit dari kursi kebesarannya dan berlalu meninggalkan Arno.


"Sungguh malam yang tenang," senyum tipis terukir manis di bibir Farel.


Ia memutuskan untuk tidak langsung pulang dan lebih memilih berjalan kaki menuju taman kota, masih lengkap dengan pakaian kantornya.


Meski suasana sudah larut malam, kota Paris tetap terlihat amat ramai dengan orang yang berlalu lalang dan hiasan lampu warna-warni.

__ADS_1


Farel mendaratkan tubuhnya di salah satu bangku taman, kedua tangannya terlipat di depan dada dan matanya asik menyaksikan keramaian meski pikirannya melayang.


Menghela napas adalah hal yang sering Farel lakukan sekarang. Banyak hal yang singgah di otaknya, tapi ia tak tahu apa yang harus ia pikirkan lebih dahulu.


"Umma, Farel kangen Umma," ujar Farel lirih.


"Farel harus gimana, Ma?" Farel berucap dengan lumayan keras sambil mengusap kasar rambutnya yang memang sudah berantakan.


"Ck, si*l!" Umpat Farel dengan kasar bangkit dari duduknya dan berlalu, pilihan satu-satunya saat ini adalah menemui psikiatrinya.


***


Farel menatap jengah bangunan di hadapannya saat ini. Ia sudah bosan mengunjungi rumah sakit tempat ia konsultasi.


"Al?" Farel menoleh saat melihat sosok pria yang memanggil dan berjalan menuju ke arahnya. Ia adalah Ben, dokter psikiatri Farel selama ia di Prancis, mereka sudah kenal dekat dan Farel rasa, Ben harus selalu dekat dengannya sebagai dokternya. Istilahnya, Farel terlanjur nyaman berkonsultasi dengan Ben meskipun harus sering ke rumah sakit.


"Kau sakit?" Tanya Ben saat sudah berdiri di hadapan Farel.


"Mencarimu,"


Ben mengangguk, ia paham jika sekarang Farel tidak dalam kondisi baik, karena Farel tidak pernah mengunjunginya selain jadwal pertemuan yang sudah ditetapkan.


"Mau di ruanganku saja?" Tawar Ben.


Farel menggeleng, "Sambil jalan," ajak Farel berjalan lebih dulu.


"Aku tidak tahu apa yang tidak aku ketahui. Aku lelah, gusar, kacau,"


Ben mengangguk, Farel selalu bercerita tidak jelas seperti ini. Kadang membuat Ben kesal sendiri jadinya. Tapi Ben paham, kondisi Farel memang sulit.


"Merindukan Ummamu?" Tebak Ben yang diangguki Farel.


"Sebenarnya, aku kehilangan arah tanpa Umma. Tanpa Umma, aku tidak tahu siapa aku,"


Ben mengusap pundak Farel, "Kau tidak kehilangan arah, kau memang hanya sedang merindukannya. Kau tetaplah Alfarel,"


"Kadang aku bertanya-tanya, apa pilihanku untuk datang ke negara ini adalah benar?"


"Tujuanmu untuk pergi tidak salah, tapi caramu pergi yang salah. Kau begini karena caramu dari awal sudah salah. Ada rasa khawatir, menyesal dan bersalah pada dirimu, tapi kau tidak mau mengakuinya,"


"Oleh karena itu, sekarang yang harus kau lakukan adalah merubahnya, jangan biarkan dirimu terus menerus merasa salah. Buat cara yang salah itu menjadi hasil yang tetap sempurna," sambung Ben kemudian menatap Farel yang tampak mencerna perkataannya.


"Kau tidak sepenuhnya salah, Al. Kau hebat, karena kau mencintai dirimu, karena kau memikirkan dirimu, dan karena cintamu pada diri sendirilah yang mengantarkanmu ke tempat ini. Kau ingin sembuh, karena kau mencintai dirimu. Tak banyak orang yang bisa mencintai dirinya sendiri,"


"Apa aku masih bisa disebut mencintai diri sendiri, padahal aku masih melukai tubuhku sendiri,"


"Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam mencintai dirinya, meskipun caranya salah. Kau menyakitinya agar sakitnya hilang, bukankah itu tujuan karena mencintai diri sendiri?"


Farel diam, tak menjawab kalimat akhir yang Ben ajukan.

__ADS_1


"Tapi caramu tak sepenuhnya bisa dibenarkan, Al. Perlahan, kau, aku, kita, pasti akan bisa merubahnya. Kita pasti bisa merubah cara kita mencintai dengan cara yang lebih baik," Ben kembali menepuk pundak Farel.


"Apa aku terlalu jahat membuat seseorang menanti? Aku memang tidak memintanya untuk menungguku, tapi aku seperti memaksanya untuk menunggu,"


Ben tersenyum, kali ini ada cerita baru yang akan Farel ceritakan. Dan Ben yakin, kali ini tentang sosok gadis yang Farel cintai. Ben sudah tahu kalau Farel mencintai seseorang, tapi Ben belum tahu pasti.


"Kau memang jahat, Al," balas Ben terkekeh. Mungkin memang kasar, tapi begitulah Ben, ia akan menyadarkan dengan cara yang agak nyelekit, atau bahkan sangat nyelekit.


"Tapi kau melakukan semuanya karena memiliki alasan. Dan alasanmu sangat kuat. Kau memang harus lebih mencintai diri sendiri," sambung Ben.


"Namanya Nafisha, dia cantik. Setiap aku melihatnya, sesuatu yang aneh itu muncul. Seperti rasa ingin memiliki,"


Ben tertawa pelan, "Itulah cinta,"


"Hari ini adalah hari kelulusannya, ia tampak cantik dengan gaun gamis yang pernah aku berikan untuknya. Rasanya aku tidak bisa menahan diri,"


"Senyum yang manis, mata yang berbinar penuh sirat, perkataan yang bijak, tapi amat polos di hadapanku. Aku ingin memeluknya,"


"Lalu, kau ingin pulang?"


"Sangat ingin. Tapi aku sadar, aku belum pantas untuknya. Dia sempurna, dia sehat. Ia akan menderita jika bersamaku. Tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bisa saja aku menyakitinya dengan tanganku sendiri,"


Ben menghela napasnya, jengah sendiri dengan tingkah pasien yang juga merangkap menjadi temannya itu.


"Kau salah besar, Al. Ia pasti tidak sesempurna itu. Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan bukan? Kekuranganmu akan ia lengkapi, dan kekurangannya akan kau yang melengkapi. Justru karena dia sehatlah dia bisa bersamamu. Memangnya kau mau bersama orang yang bermasalah pula? Tentu tidak, bukan? Jangan menjadi bodoh dengan rasamu, Al," sarkas Ben kesal.


"Kau hanya menyakiti dirimu, bukan menyakiti orang lain. Selama ini kau bersama Karaya dan Hyeon, apa kau pernah melukai mereka dengan tanganmu? Tidak, kan?! Selama ini bersamaku, apa kau pernah melukaiku? Tidak! Kurasa bukan mentalmu yang bermasalah, tapi otakmu," lanjut Ben jadi kesal sendiri.


Ben menghela napasnya saat mereka sudah terdiam cukup lama. Kakinya hanya mengikuti ke mana Farel melangkah.


"Jangan berpikiran dangkal, Al! Fokuslah untuk menyembuhkan diri dan membiasakan diri. Kau yang bilang, meski tidak sembuh, setidaknya kau membaik dengan merasa terbiasa dengan sakitnya,"


"Jangan merasa sendiri, Al. Kau punya aku dan yang lainnya,"


"Terima kasih, Ben. Kau dokter dan teman yang baik,"


"Sama-sama. Tidak perlu sungkan padaku. Sekarang pulanglah, istirahat. Habiskan waktu untuk me time, ia butuh dirimu manjakan,"


Farel mengangguk, "Kau juga pulanglah. Maaf aku menunda jam pulangmu,"


"Kau tidak menunda ataupun menggangguku. Aku senang kau mencariku, aku merasa menjadi teman yang berguna. Jika perlu sesuatu, cari saja aku, tidak perlu berpikir dua kali,"


Farel tersenyum tipis dan mengangguk sebelum Ben benar-benar pergi ke arah yang berlawanan menuju tempat tinggalnya.


"Ma, doain Farel bisa membaik, biar Farel bisa ketemu Umma lagi,"


Tbc...


^^^#as.zey^^^

__ADS_1


__ADS_2