Mysterious Gus

Mysterious Gus
#44. Tiam Meet Farel


__ADS_3

..."Tak ada kata yang bisa mewakili betapa aku merindukanmu. Hanya air mata yang bisa aku keluarkan untuk mengungkapkannya," ...


...Altiam...


Pemandangan indah yang dimiliki Paris saat ini sedang menemani sosok pria yang tampak kesepian. Terlihat dari wajah dan tatapan kosongnya. Rambut lebat abu-abunya dibiarkan tertiup angin. Entah sengaja atau tidak, angin yang ia biarkan membuat dirinya berlipat-lipat lebih tampan.


Pria itu adalah Alfarel, sosok yang sudah setahun lebih meninggalkan tanah kelahirannya untukĀ  ke Korea dan memilih menetap di Paris. Tak banyak yang berubah dari Farel, bedanya ia hanya bertambah tampan, terlebih dengan kemeja hitam yang dikenakannya.


"Entah apa yang sedang terjadi di sana. Apa Umma baik-baik saja? Dan dia?" Farel hanya membatin sambil terus menatap kosong pemandangan Paris dari atas gedungnya.


Hampir setahun dia pergi, Farel memilih akselerasi dan memulai usaha sesuai bidangnya. Usahanya bergerak di bidang intelijen. Kecerdasan, keberanian, kekayaan dan kecerdikan yang ia miliki memang sangat berguna.


"Tuan?"


Panggilan itu membuat Farel membatu. Suara itu, suara yang ia tunggu sedari tadi. Suara itu pun sangat ia rindukan. Sosok yang selalu menemani dan mendukung keputusannya.


Farel berbalik dengan senyum tipisnya. Netranya dapat melihat sosok Tiam yang berdiri di hadapannya dengan mata berkaca-kaca.


"Tiam," sebuah pelukan langsung Farel dapat dari Tiam. Orang kepercayaannya itu memeluk sangat erat hingga bernapas saja rasanya sulit.


Farel diam, namun membalas pelukan itu. Mengusap punggung tegap Tiam, menenangkan Tiam yang menangis lirih dalam pelukannya.


"Saya merindukan Tuan," lirih Tiam.


"Nado," balas Farel dalam bahasa Korea.


"Apa Tuan baik-baik saja?" Tanya Tiam setelah melepaskan pelukannya.


"Aku selalu baik, Tiam. Kau tidak perlu khawatir. Kau yang terlihat tidak baik-baik saja," wajah tirus Tiam membuat hati Farel sakit. Pria yang bersamanya sejak kecil itu selalu ia urus dengan baik bersama Xander. Namun sekarang Tiam terlihat sangat kurus seperti tak terurus.


"Apa Kakek tidak mengurusmu dan menelantarkanmu, Tiam?" Sambung Farel.


"Tidak, Tuan Xander yang selalu heboh saat saya tidak nafsu makan. Tuan Xander masih mengurusku,"


"Baguslah kalau begitu. Aku tidak mau melihatmu seperti ini lagi. Aku tidak suka,"


"Baik, Tuan," Farel tersenyum mendengarnya dan kembali menghadap pemandangan, begitu pula Tiam yang mengikuti.


"Ternyata Paris yang menjadi titik akhir Tuan. Apa gedung ini milik Tuan?" Tiam memulai percakapan.


"Untuk sekarang aku masih memutuskan menetap di Paris. Gedung ini akan aku jual dan membeli gedung yang lebih luas. Pekerjaku akan lebih banyak setelah kau bawa berkas yang aku minta tempo lalu," Farel tersenyum misterius.


"Ah, iya, saya membawanya. Ada di mobil. Saya ambilka--"


"Nanti saja. Aku masih ingin menghabiskan waktu bersamamu, Tiam," respon Tiam hanya mengangguk.


"Saat Tuan Xander tau, pasti ia akan kembali menghajarku. Mungkin sekarang ia mencari keberadaanku," ujar Tiam.


"Lawan saja jika ia menyakitimu," hasut Farel sambil terkekeh.


"Tidak seru jika aku melawan. Ia akan menyesal nanti setelah memukulku saat aku tidak memberi perlawanan. Itu lebih seru," mereka berdua terkekeh bersama.


"Aku tau selama ini kita salah, Tiam. Kita tidak bisa terus-menerus mempertahankan mafia kita. Lagi pula, setelah aku menanda tanangi surat itu, Mafia Almighty akan menjadi milikku,"


"Kadang aku merasa kasian pada Tuan Xander. Ia terlalu menyayangi Tuan hingga mau membuat surat penyerahan untukmu begitu saja. Dan lihatlah sekarang! Tuan Xander akan benar-benar mengamuk padaku,"


"Bertahanlah, Tiam! Ini untuk kebaikan kita semua. Kita sudah terlalu lama berada di dunia mafia. Sekarang saatnya mafia kita lebih berguna dari sebelumnya,"

__ADS_1


"Lantas, apakah Tuan masih menjadi pembunuh bayaran?"


"Lagi pula, mafia kita sangat berguna,"


"Masih, aku masih berat melepaskan pekerjaan yang sangat kusenangi itu," balas Farel setelah terdiam beberapa saat.


"Perlahan, Tuan,"


Sejak masuk ke jenjang Sekolah Menengah Atas, Farel memang menjadi sosok pembunuh bayaran. Tentu saja pekerjaan itu ia lakukan dengan memilih-milih klien, memilih orang mana yang berhak untuk ia musnahkan.


Merasa berdosa? Sangat. Farel sangat merasa berdosa. Namun bodohnya, ia menyukai pekerjaan itu hingga membiarkan dirinya terus terjerumus dalam jurang neraka.


Begitulah manusia, sebaik apa pun ia, pasti akan ada perbuatan buruk yang tak disangka-sangka.


Begitulah manusia, sudah tahu dosa, tapi tetap melakukannya demi memenuhi nafsu dunia.


"Bagaimana kabar Umma dan Abahku?" Farel mengalihkan pembicaraan.


"Mereka baik, begitu pula dengan adik dan sahabat Tuan. Hanya terkadang tidak bisa mengontrol emosinya lalu menangis berjamaah. Namun, saya lebih sering melihat Dylan menangis sendirian. Tuan Abilash pun tumbuh dengan baik, ia mirip dengan Tuan,"


"Abilash? Adikku?"


"Berarti foto yang selalu kukirim lewat Jong tidak pernah Tuan lihat," sinis Tiam.


"Aku melarang Jong mengirimnya padaku. Kau tau tujuanku pergi, Tiam. Jika aku melihat mereka, aku tidak bisa bertahan di sini,"


"Abilash Shaquille Pramayudha. Nama Abilash tentu saja nama yang Tuan beri waktu itu,"


"Apa ia akan mengenaliku, Tiam?"


"Tentu saja. Saat itu, tidak sengaja saya lihat rekaman CCTV kamar utama. Tuan Abilash menggenggam foto Tuan dan bertanya siapa yang ada di foto itu. Tuan Hutama dan Nyonya Raima mengatakan bahwa Tuan sedang menempuh pendidikan,"


"Tentu saja. Tapi Tuan tenang saja, Nyonya Raima dalam kondisi berhijab. Saya tidak akan melihat CCTV jika ada peringatan bahwa Nyonya sedang dalam keadaan terbuka khimarnya,"


"Dylan baik-baik saja?"


"Bisa dibilang tidak, tapi juga bisa dibilang iya. Cowok cerewet itu jadi agak pendiam sekarang. Sahabat Tuan yang lain juga,"


"GREXDA?"


"Juga baik. Beberapa waktu yang lalu, saya dapat informasi kalau Nona Fisha mengunjungi GREXDA dan mereka menghabiskan waktu bersama seharian penuh,"


"Belum mempunyai Leader baru?"


"Belum, mereka menunggu Tuan,"


"Padahal mereka tidak perlu menungguku," gumam Farel.


"Kabar Ibu bagaimana? Kau sedari tadi hanya mengoceh tentang Kakek tanpa menyematkan nama istrinya,"


"Keluarga Tuan Xander semuanya baik. Semua yang ada di sana baik, termasuk pujaan hati Tuan, Nona Fisha,"


"Aku belum mau membicarakan Fisha, Tiam,"


"Baiklah. Aku punya satu informasi lagi,"


"Hm?"

__ADS_1


"Tuan Xander dan Nyonya Mayang juga sudah mempunyai anak. Namanya Nashville Xama Atmaja, panggilannya Eil,"


"Berarti adikku bertambah dua?"


"Iya?"


Setelahnya mereka terdiam lumayan lama. Hanya keheningan dengan mereka yang sibuk menatap keindahan Menara Eifel.


"Saya punya informasi juga tentang Nona Fisha. Tidak mau mendengar?"


"Katakan!"


"Saat acara milad pesantren, Nona Fisha sempat menangis kejer,"


"Kenapa?" Farel tak mampu menyembunyikan raut khawatirnya.


"Dia kehilangan gelang. Yang saya dengar, gelang itu dari Tuan,"


Gelang itu, Farel mengingatnya, bahkan sangat ingat. Ia juga masih memakainya hingga sekarang.


"Apa gelang itu benar-benar hilang?"


"Tidak, seseorang yang bernama Azam menemukannya. Orang pesantren juga,"


"Aku tidak mengenalnya,"


"Dia baru saja pulang dari Kairo. Tapi---" Tiam menggantung ucapannya.


"Jangan setengah-setengah, Altiam!"


"Waktu saya memantau ke pesantren, saya bisa melihat tatapan tertariknya pada Nona Fisha," jelas Tiam ragu.


"Setelah ini selalu berikan kabar tentang Fisha dan pria itu melalui Jong! Aku tidak mau ada yang terlewatkan sedikit pun!" Titah Farel tegas, membuat Tiam tersenyum tipis. Ia dapat melihat raut cemburu dari wajah Farel.


"Tuan tidak mau tau keadaan Tuan Abdullah dan istri? Kenapa hanya peduli pada Nona Fisha?" Tanya Tiam agak kesal. Semua orang terdekat Farel ia jaga, namun di antaranya masih ada yang belum ditanya keadaannya.


"Aku yakin Kakek dan Nenek baik-baik saja bersama Fisha,"


"Lalu yang lain saat bersamaku tidak baik-baik saja hingga Tuan menanyakannya?" Marah Tiam.


"Tentu tidak. Aku hanya tidak mau tenggorokanmu kering karena terus berceloteh tentang mereka," jawab Farel menenangkan. Tiam memang agak cemburuan kalau Farel membanggakan orang lain, bukan dirinya. Farel tahu betul itu.


"Tuan pandai sekali beralasan,"


"Tidak percaya sekali padaku. Menginaplah dua hari, kau akan tau di mana aku hidup sekarang," Farel berujar dan lebih dulu berjalan meninggalkan Tiam.


"Sungguh? Aku akan bisa menemui Tuan kapan saja nanti?" Tanya Tiam menyusul Farel dengan semangat.


"Tentu saja, selagi kau menjalankan tugas dengan baik,"


"Aku tidak pernah mengecewakan,"


Kedua pria itu berjalan meninggalkan atas gedung sambil saling merangkul dan tersenyum. Rasa rindu mereka baru saja terluap meski yang dibicarakan adalah orang lain, bukan tentang kehidupan sehari-hari mereka.


Memang terkadang tak perlu bertanya kabar saat bertemu. Bisa melihat senyumnya saja, kita bisa melihat bahwa ia dalam kondisi baik. Bisa melihat senyumnya saja sudah bisa mengobati rindu kita, terlebih saat berada dalam pelukannya.


Tbc...

__ADS_1


Sebagian rahasia Farel udah tau, kan:)


^^^#as.zey^^^


__ADS_2