Mysterious Gus

Mysterious Gus
#89. Not Believe


__ADS_3

..."Ternyata, kisah kita menjadi semakin rumit. Sakit rasanya saat tak ada rasa percayamu untukku,"...


...Altiam...


...***...


"Telah terjadi kecelakaan maut antara sebuah truk dan mobil pribadi. Diketahui korban adalah seorang pengusaha terkenal dari Bandung. Kecelakaan terjadi karena supir truk yang dalam keadaan mabuk dan pengusaha tersebut sedang menelpon sambil menyetir,"


"Dari kecelakaan maut tersebut, sang pengusaha dan supir truk dinyatakan meninggal dunia di tem--"


Tiam tersenyum puas melihat layar tv yang sudah ia matikan. Langkah keduanya berhasil dan ia semakin dekat dengan tujuannya.


"Tuan, sudah dipastikan bahwa korban tersebut adalah tawanan kita dan Irfan Singgih. Semua rencana berjalan sesuai dengan rencana kita," itu suara Jong yang muncul dari arah belakang.


"Bagaimana jasadnya? Ermira?"


"Jasadnya akan dipulangkan, Nona Ermira sepertinya belum tahu kabar ini,"


Senyum Tiam semakin lebar, "Bagus sekali. Tidak sia-sia aku begadang. Kerja bagus, Jong,"


"Terima kasih, Tuan,"


"Kita sudah boleh pulang, tidak perlu di sini lagi," Tiam bangkit dari duduknya meninggalkan ruangan penuh alat-alat teknologi itu.


"Hah, aku sudah merindukan kasur baruku," desah Tiam saat duduk di jok belakang, membiarkan Jong menyetir.


Sebenarnya Tiam sudah berada di Bandung, namun ia tak langsung pulang dan memilih menghilang dari Ermira selama empat hari. Selama empat hari itu, Tiam habiskan untuk di ruang teknologi tadi, sebuah tempat yang menjadi lokasi mereka untuk melacak atau menghack.


Baru saja mata Tiam terpejam, namun suara panggilan dari ponselnya membuat ia kembali terjaga.


"Kenapa Bang?" Tanya Tiam penasaran karena Farel menelponnya.


"Papa Ermira koma,"


"Sial, aku kecolongan!" Umpat Tiam memutuskan panggilannya begitu saja.


"Langsung ke rumah sakit, Jong!" Sabda Tiam tak mau dibantah.


"Baik, Tuan!"


Dan dalam hitungan detik, mobil yang Tiam tumpangi sudah melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa peduli makian dari pengguna jalan lainnya.


Tak perlu waktu lama, Tiam dan Jong sudah sampai di rumah sakit. Tiam tanpa banyak bicara lagi langsung lari ke dalam menuju ICU, tempat papa Ermira dirawat. Ia sudah mengetahuinya dari Farel melalui pesan tadi.


"Ermira! Gimana kea--"


PLAAK!!

__ADS_1


Belum selesai bicara, tamparan keras sudah menyapa lebih dudu di pipi mulusnya. Tentu pelakunya adalah Ermira.


Terlihat wajah Ermira yang penuh emosi, kesedihan dan kebencian dalam satu waktu.


"PASTI SEMUANYA ULAH KAMU, TIAM!" Pekik Ermira.


"Memangnya apa yang sudah aku perbuat?"


"Kamu, Tiam! KAMU! Obat yang kamu kasih waktu itu sebenarnya racun, kan?! Papa minum itu tadi, dan gak lama kemudian Papa kejang-kejang sampai akhirnya dinyatakan koma!"


Tiam terkekeh sinis, tak mau menjawab dan hanya mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena tamparan telak dari pujaan hatinya.


"Kamu juga, kan, yang udah rencanain kecelakaan suami aku sampai akhirnya dia meninggal?! KAMU GILA, TIAM! KAMU UDAH BU*UH TIGA NYAWA ORANG SEKALIGUS! PAPA AKU, SUAMI AKU DAN SUPIR TRUK ITU!"


Tangan Tiam mengepal, ada emosi yang tak bisa ia salurkan saat pujaan hatinya menyebut Irfan dengan sebutan 'suami'.


"Iya, aku yang udah lakuin itu semua! Aku memang gila, Ermira!"


"Aku benci sama kamu, Tiam! KAMU UDAH HANCURIN HIDUP AKU! AKU BENCI KAMU, ALTIAM!!"


Tiam kembali terkekeh, matanya memerah menahan tangis. Memang siapa yang tidak sakit hatinya saat orang yang dicintai membenci kita?


"Dari semua yang terjadi hari ini, kamu hanya perlu tahu satu hal, Ermira. Aku cinta sama aku. Tidak peduli benar atau salah, kamu hanya akan jadi milikku, Ermira Ulani," usai berujar demikian, Tiam langsung angkat kaki dari hadapan Ermira dengan Jong yang setia mengikutinya.


"Jangan ikutin emosi kamu, Mir. Kita belum denger penjelasan dari Tiam," Fisha menasehati sahabatnya itu sambil membawanya duduk.


"Penjelasan apa lagi, Sha?! Bahkan dia aja udah bilang kalau itu semua ulah dia!"


"Kamu terlalu menyalahkan adik saya, Ermira," Farel yang sejak tadi diam akhirnya buka suara.


Sebagai seorang abang, tentu saja Farel tidak akan diam. Ia lebih tahu siapa adiknya dan apa yang dilakukan adiknya. Tentu saja Ermira tak ada hak untuk menghakimi adiknya.


"Dia mencintai kamu, tapi kamu? Dia berkorban untuk kamu, sedangkan kamu?"


"Jadi menurut kamu, cinta aku cuma main-main buat Tiam?!"


"Kamu mencintainya, tapi tidak percaya dengannya,"


"Kamu percaya begitu saja bahwa semua yang terjadi adalah ulahnya? Lalu jika ia berkata kalau dia baik-baik saja, kamu percaya? Padahal dari sirat matanya, jelas ia terluka,"


"Saya tahu kamu terluka, tapi jangan merasa bahwa kamu yang paling terluka di kisah ini," usai dengan kalimat sarkas itu, Farel langsung melenggang pergi dengan bantuan tongkatnya, ia harus menyusul Tiam yang keadaannya sangat kacau.


"Mas, Fisha mau te--"


"Pulang!" Farel menyela tanpa berbalik, hanya langkahnya yang terhenti.


"Tapi Er--"

__ADS_1


"Kamu lebih peduli dengan dia dibanding adik kamu?" Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Farel kembali melangkah.


Ternyata, tak hanya Ermira yang menerima ungkapan pedas dari Farel, tapi Fisha yang selaku istrinya juga terkena semprot.


"Lo pulang aja deh, Sha. Mira biar sama gue. Muka suami lo keruh banget," ujar Clara.


"Ya udah, aku pulang dulu. Kalau butuh sesuatu bisa kabarin aku. Assalamu'alaikum," tanpa menunggu balasan dari salamnya, Fisha langsung bergegas pergi menyusul suaminya.


Fisha masuk ke lift dengan ragu, lumayan takut dengan aura yang dikeluarkan suaminya.


"Maaf, jangan marah sama Fisha," Fisha bersuara pelan dengan kepala tertunduk.


"Kamu gak salah,"


"Tapi Mas marah sama Fi-- kyaa!!" Fisha tak bisa menyelesaikan kalimatnya karena terkejut saat Farel menariknya untuk mendekat ke tubuh pria itu.


"Saya tidak marah. Saya tidak terima wanita itu menyalahkan adik saya. Benar salahnya adik saya, saya lebih tahu dibanding dia,"


"Iya, Fisha paham,"


"Masalah mereka jangan memengaruhi hubungan kita, kamu cukup percaya sama saya. Jangan seperti wanita itu!"


Fisha terkekeh pelan dan mengangguk pelan dalam pelukan suaminya, "Iya,"


Ting


Pintu lift terbuka, menampakkan beberapa staff yang ingin menggunakan lift.


Fisha melepas pelukan suaminya dengan canggung, wajahnya sudah bersemu begitu merah.


"Pengantin baru romantis banget sih, Dokter Fisha,"


"Iya, jadi pengen nikah juga, deh,"


"Bapver iiiihhh!!"


Wajah Fisha semakin bersemu, "Maaf, saya permisi dulu. Hari ini saya shift malam, ya," ujar Fisha sambil menarik pelan suaminya untuk keluar dari lift.


"Oke, Dok. Telat dikit karena kelon juga gak papa, kok," suara itu adalah teriakan terakhir yang Fisha dengar sebelum lift naik ke atas membawa teman-teman seperjuangannya.


"Beneran gak masalah telat karena kelon?" Tanya Farel menggoda.


"Apaan, sih?! Kelon-kelon!" Jawab Fisha ketus untuk menyembunyikan rasa malunya.


Farel terkekeh pelan melihat wajah bersemu istrinya. Bahkan sangking malunya, istrinya itu sampai berjalan duluan meninggalkannya.


"Gak sabar buat kelon,"

__ADS_1


Tbc...


^^^#as.zey^^^


__ADS_2