
..."Pergi bukanlah keinginanku, tapi bila aku tetap berada di sini, aku akan semakin menjadi sosok yang menyeramkan."...
...Farel...
Matahari sudah menampakkan cahayanya di langit yang membentang indah. Suara ayam yang seharusnya menghiasi pagi berganti dengan suara bisingnya kendaraan di ibu kota. Pagi yang tenang milik Farel pun juga harus terganggu karena ramainya rumah.
Farel menapaki tangga menuju ruang depan dengan celana jeans dan hoodie putih miliknya. Tak lupa dengan sebuah ponsel yang menjadi titik fokusnya saat ini, menghiraukan suara bising yang mulai ia dekati.
Entah apa yang pria itu lihat di ponsel, tapi senyum getir terukir di bibirnya yang jarang membentuk senyuman itu.
"Kenapa lo? Pagi-pagi kusut begitu mukanya," pertanyaan itu mengalihkan fokus Farel dari ponselnya, dia tidak sadar kakinya sudah membawa tubuhnya ke ruang depan.
"Pagi," Farel tak menjawab pertanyaan Dylan dan justru menyapa.
"Pagi juga,"
"Lo gak sekolah?"
Farel menggeleng, "Gue mau pergi, sebentar,"
"Mau ke mana? Kita ikut!" Seru Yusuf yang dijawab gelengan tegas oleh Farel.
"Sekolah!" Telak Farel membuat keempat temannya mendelik.
"Mau ke mana, Rel?" Kini berganti sang umma yang bertanya.
"Kakek Xander,"
"Sendiri?"
"Si Farel kayak anak kecil aja ditanyain begitu, Om," ejek Adam.
"Ck, dia tuh kalau gak ditanya gak bakal bilang. Bisa gak pulang seharian," decak Hutama.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi," suara itu mengalihkan atensi mereka dan mendapati Tiam yang menundukkan kepalanya pada Farel.
"Wa'alaikumussalam, selamat pagi juga,"
"Kamu mau pergi sama Farel?" Tanya Raima yang hanya dijawab anggukan oleh Tiam. Tidak sopan memang, tapi kepribadian pria itu memang sesukanya saja.
"Oh, ya udah, sarapan dulu sini!" Tiam melirik Farel, meminta persetujuan dari tuannya itu, sedangkan yang ditatap hanya mengangguk.
"Tadi kata Bik Imar, nasi goreng kamu masih dibuat," Farel mengangguk dan tanpa banyak bicara langsung menuju dapur yang ternyata Tiam mengikuti.
"Cowok itu kayaknya buntut mulu ke mana Farel pergi, ngalah-ngalahin kita aja," Dylan berujar sewot.
"Kenapa? Cemburu ya, Bang?" Ejek Monika yang membuat Dylan berdecih.
"Dia itu siapa?"
"Kita juga kurang tau. Pertama kali kita lihat juga pas kejadian di pesantren. Sama kayak Xander. Cuma Xander bilang, Tiam itu kepercayaannya," jelas Hutama.
"Xander itu juga! Sebenarnya mereka itu siapa?!"
"Entah lah. Farel gak pernah cerita," Hutama kembali menjawab, namun dengan raut sedihnya. Ada rasa sakit di hatinya saat pikiran bahwa dia tidak mengerti sepenuhnya tentang sang putra.
"Siapa saya dan Tuan Xander itu tidak penting. Yang terpenting Tuan Asz aman bersama kami," Tiam datang dengan sepiring nasi gorang di tangannya dan duduk di samping Milea, karena di situlah tempat kosong yang tersisa.
"Kenapa lo manggil Farel dengan nama aneh itu?"
"Saya ingin," jawab Tiam yang ingin sekali membuat Adam menonjok wajah kaku Tiam.
"Menjauh dari Milea gue!" Dylan berujar kesal dan memaksa duduk di antara Milea dan Tiam.
Tiam melirik sinis dan bergeser, "Saya juga tidak akan mau dekat-dekat,"
__ADS_1
"Terus ngapain duduk deket Milea gue, hah?!"
"Saya rasa, anda bisa melihat bahwa tidak ada lagi tempat kosong selain di sampingnya," sarkas Tiam yang membuat mereka tergelak, terlebih melihat wajah masam Dylan.
"Kenapa?" Tanya Farel datang bersama Bik Imar dan duduk di tengah-tengah dengan santainya.
"Dia siapa sih, Rel?! Nyeselin banget," adu Dylan.
"Tiam," Farel menegur seolah mengerti sahabatnya itu memiliki rasa cemburu dengan kedekatannya dan Tiam.
Tiam menunduk sedikit, "Maaf," ucapnya yang disambut delikan kesal oleh Dylan.
"Kita harus berangkat sepuluh menit lagi, Tuan," ucap Tiam melirik jam tangannya.
"Hm," jawab Farel acuh dan makan dengan santai.
"Kalian mau ngapain tempat Xander?"
"Main,'
"Bohong lo!" Farel hanya melirik dan kembali acuh.
"Tuan, saya sudah siap. Ada barang yang harus dibawa?" Tiam bangkit dari posisi duduknya.
"Barangku, ada di kamar,"
"Baik, akan saya ambil," pria jakung itu menuju kamar Farel, sedangkan Farel cuek sambil meneguk susunya.
"Bawa apa lo ke tempat Om Xander?"
"Kepo banget," ledek Farel.
"Gue tuh penasaran, bukan kepo," meng'iya'kan ucapan Dylan adalah solusi untuk Farel.
"Hm, ayo!"
"Baik,"
"Bah, Ma, Farel pergi," pamit Farel.
"Iya, kalian hati-hati. Pulangnya jangan larut,"
"Iya. Bik, Farel pergi,"
"Iya, Den. Kayak mau pergi jauh aja sampe peluk-peluk Bibi,"
Farel tersenyum tipis dalam dekapan itu, "Nanti Bibi kangen loh, Farel pulangnya malem,"
"Iya-iya, hati-hati,"
"Hm, Dek, Abang pergi dulu. Jangan nakal!" Pesan Farel pada kedua adiknya.
"Kita gak nakal," jawab keduanya kesal, Farel terkekeh mendengarnya.
"Gue pergi bentar, jagain adek gue!" kini Farel berganti memberi amanah pada sahabatnya.
"Ck, kebiasaan lo buat gue parnoan! Biasanya juga kita jagain! Udah, sana, pergi lo! Horror gue denger pamitannya lo," Dylan mendorong tubuh Farel untuk pergi.
"Cih, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
Tiam menunduk sopan dan mengikuti langkah Farel tanpa banyak bicara, tanpa peduli dengan tatapan bertanya mereka.
"Apa Tuan yakin dengan pilihan ini?" Tanya Tiam sambil membukakan pintu mobil untuk Farel.
__ADS_1
"Aku tidak punya pilihan lain, Tiam. Di sana Ae Ri butuh aku. Aku pun butuh waktu untuk melanjutkan semua ini,"
"Tuan tidak sendiri. Saya akan selalu bersama dengan Tuan,"
"Aku bisa sendiri nanti di sana. Kau hanya perlu mempersiapkan semuanya dan beberapa orang. Tugasmu selanjutnya adalah menjaga mereka selama aku pergi,"
"Tentu, Tuan. Tapi, bagaimana dengan Tuan Xander?"
"Hal ini cukup kita yang tau. Kakek Xander pun jangan sampai tau. Sebisa mungkin kau memanipulasi kepergianku darinya,"
"Baik, Tuan. Lalu, bagaimana dengan Nona Fisha?"
"Semua aku serahkan padamu, Tiam. Termasuk Fisha. Jangan hubungi aku apa pun yang terjadi! Cukup berikan informasi pada orang suruhan di sana. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Ae Ri,'
"Baik, Tuan bisa serahkan semuanya pada saya,"
Mobil yang mereka naiki berhenti di sebuah airport internasional. Ada banyak orang di sana, baik dari luar mau pun dalam negeri. Bawaan mereka pun banyaknya bukan main.
Tiam membukakan pintu untuk Farel. Ada rasa sedih dalam hati pria berwajah kaku itu. Tuannya itu sudah banyak melewati hal sulit dan kini harus bersiap menghadapi semua kemungkinan yang lebih sulit.
"Apa saya perlu mengantar hingga sampai tujuan?" Tawar Tiam.
"Tidak perlu. Sampai sini saja. Nanti malam, tolong berikan surat ini pada mereka," Farel menyerahkan sebuah amplop hitam.
"Baik. Tuan baik-baik di sana. Hubungi saya jika perlu sesuatu,"
Farel mengangguk dengan senyum tipisnya dan memeluk orang kepercayannya itu, "Aku percaya padamu, Tiam,"
"Saya akan merindukan Tuan,"
"Kau tau aku di mana, Tiam. Aku akan baik-baik saja. Jaga dirimu baik-baik dari Xander,"
"Aku tidak takut dengannya," Tiam menjawab dengan kekehan, namun matanya memerah.
"Kau tidak boleh menangis karenaku. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam. Kabari saya jika sudah sampai,"
"Hm," Farel menjawab singkat dan keduanya berpisah di pintu masuk bandara.
Tiam menatap sendu punggung tegap Farel. Air mata yang sejak tadi ditahannya, akhirnya terjatuh juga.
"Nyatanya, saya tidak bisa menahan air mata ini, Tuan. Semoga kehidupan anda lebih baik di sana," gumam Tiam kembali ke parkiran dengan pikiran bergelut ria.
Dua puluh menit sudah berlalu sejak Tiam berpisah dengan Farel. Tiam masih setia berdiri di sisi mobil merahnya dengan pandangan ke langit dan mata memerah.
Tak berselang lama, pesawat melintas di langit yang indah, namun tidak bagi Tiam. Langit hari ini sangat menyedihkan untuknya.
"Saya akan merindukan Tuan," lirih Tiam dan masuk ke mobilnya, meninggalakan bandara itu.
Tiam menghela napasnya, "Tugasmu hanya sampai sini mobil kesayanganku. Tugas terakhirmu adalah mengantarkan Tuan kita," ucap Tiam membawa membawa mobil kesayangannya ke sebuah tempat luas dan sepi.
Pria itu mengambil bensin dari bagasi mobil, tak lupa ada mancis di tangannya. Tiam dengan perasaan campur aduk menyirami mobilnya dengan bensin itu. Air matanya pun tak kunjung mengering. Tak peduli dengan pesan Farel tadi, dia tetap ingin menangis. Dia tidak tahu kapan lagi bisa bertemu dengan orang tersayang yang menjadi perantara keselamatannya di masa lampau itu.
WUUSSHHH!!
Api langsung berkobar saat Tiam melempar mancisnya. Tiam berjongkok di hadapan api besar itu tanpa peduli ledakan yang bersahutan melahap mobilnya. Tangannya tergerak menjambak rambutnya sendiri.
"ARRGHHH!!!" Tiam berteriak frustrasi.
"Saya tidak ingin Tuan Lazlo semakin sakit, Tuhan,"
Tbc...
#as.zey
__ADS_1