Mysterious Gus

Mysterious Gus
#47. Lukanya


__ADS_3

..."Tugasku bukan menyembuhkan lukanya, tapi terbiasa dengan sakit dari luka itu,"...


...Farel...


Farel duduk di atas kap mobil yang disusul oleh Tiam. Tangan keduanya sama-sama bersedekap dengan pandangan lurus. Tak ada yang mereka bicarakan untuk beberapa waktu. Hanya diam dengan sesekali menghela napas.


Tiam menoleh ke arah Farel, melihat mimik wajah pria itu untuk memastikan hal apa yang sekiranya akan disampaikan hingga pria itu terdiam cukup lama dan sering menghela napas.


"Ada sesuatu yang mengganggumu?" Tiam akhirnya buka suara.


"Tidak juga. Aku hanya bingung harus bertanya dari mana. Aku juga enggan menanyakannya,"


"Siapa?"


"Adji,"


Sekarang gantian Tiam yang menghela napas, "Dia baik-baik saja dan sering menemui Ayah Xander juga Tuan Hutama. Dia mencari keberadaanmu,"


Farel mengalihkan atensinya pada Tiam saat mendengar penjelasan Tiam, "Bagaimana keadaan Ummaku?" Hanya sang umma lah yang paling Farel khawatirkan. Trauma masa kecilnya tak bisa terobati saat mengetahui sang ayah kandung menghampiri sang umma.


"Nyonya Raima baik-baik saja. Saya rasa, perlahan Nyonya Raima mulai memaafkan pria brengsek itu," penjelasan Tiam membuat Farel kembali menghela napas, antara bersyukur umma-nya baik-baik saja dan kegelisahannya takut sang umma berdekatan lagi dengan pria yang sayangnya berstatus sebagai ayah kandungnya itu.


"Aku tidak bisa memaafkannya. Dia menyakiti Umma-ku, Tiam," Farel berujar lirih.


"Abang bukan tidak bisa memaafkan, hanya belum bisa menyembuhkan. Abang pergi untuk menyembuhkan dan menerima semuanya, bukan? Perlahan tapi pasti, aku yakin Abang akan sembuh," Tiam mengusap bahu Farel guna menguatkan.


"Selama satu tahun ini aku terus menemui psikiatri, tapi tidak ada perubahan signifikan. Mimpi buruk itu terus menghantuiku. Bukan sembuh, tapi semakin sakit yang aku rasakan," Farel menundukkan kepalanya, menyembunyikan matanya yang sudah memerah siap mengeluarkan air mata. Kenangan masa lalu itu benar-benar menggerogoti jiwa dan pikirannya.


Memang selama setahun di Paris ini Farel rutin mengunjungi psikiatri tanpa sepengetahuan Hyeon dan Ae Ri. Namun bukannya membaik, kondisinya semakin memburuk.


"Aku harus bagaimana? Andai aku bisa menyembuhkannya, atau bahkan menggantikan, maka akan aku lakukan," Tiam menatap sendu sosok Farel yang sudah seperti abangnya itu dengan tatapan sedih.


Farel tersenyum tipis dan mengusap kasar rambut Tiam, "Aku baik-baik saja. Tugasku bukan menyembuhkan, tapi harus terbiasa dengan lukanya. Luka ini sudah tak bisa lagi disembuhkan. Lukanya adalah aku," ujar Farel menenangkan.


"Aku tidak mau Abang semakin terluka,"


Farel terkekeh kecil dan membawa Tiam bersandar di bahunya. Biarlah bagaimana anggapan orang, tapi Farel rasa mereka sama-sama butuh sandaran. Tiam sudah seperti adik baginya. Karena Tiam pula ia bisa bertahan, Tiam adalah orang yang selalu menguatkannya, tentu saja juga bersama Xander.


"Aku baik-baik saja,"


"Jangan mengatakan itu jika faktanya berbeda dengan apa yang Abang rasakan!" Tiam berujar kesal dan melepaskan diri dari rangkulan Farel.


Farel lagi-lagi hanya bisa terkekeh dan mengusap rambut Tiam. Bagi Farel, tak ada gunanya mengatakan bahwa ia sedang tidak baik-baik saja, karena semua akan tetap sama buruk, atau bahkan bertambah buruk. Maka hanya kalimat "aku baik" sajalah yang bisa Farel lontarkan.


"Oppa Tiam!" Ae Ri datang membawa ponsel Tiam, membuat kedua pria itu menoleh.


"Ada apa?"


"Ada yang menelpon. Saat aku jawab, panggilannya langsung dimatikan," jelas Ae Ri.


"Siapa? Kakek Xander? Tapi aku sedang memblokir nom--"


"Namanya Crazy Girl dengan emoji <3," potong Ae Ri membuat Tiam membola dan Farel tersenyum menggoda.


"Siapa dia? Kau menyukai seorang gadis hingga ada simbol seperti itu di kontaknya?" Goda Farel, wajah Tiam memerah seketika.

__ADS_1


"Aku bertemu dengannya di taman saat malam Abang pergi. Dia mengomeliku habis-habisan karena aku menangis," jelas Tiam tanpa menyembunyikan apa pun.


"Padahal aku sudah bilang jangan menangis," Tiam hanya menyengir polos yang seperti anak kecil bagi Farel. Usapan di kepala pun kembali Farel berikan.


"Hubungi kembali! Bisa jadi di sana dia sedang memakimu karena Ae Ri yang mengangkat,"


"Iya, Oppa. Aku tidak mau dia salah paham. Dia kan calon eonni-ku," celetuk Ae Ri ikut menggoda Tiam.


Tiam bersemu malu dan kembali menghubungi kontak atas nama Crazy Girl<3 itu di hadapan Farel juga Ae Ri.


"Assalamu'alaikum," sapa Tiam saat panggilan sudah terhubung.


"Ke mana aja lo? Selingkuh? Iya? Makanya dari pagi gak bisa dihubungi? Ngapain nelpon? Lanjut aja sana sama selingkuhan lo! Puas-puasin! Gak usah nemuin gue la--"


"Dia adik saya, Ermira," potong Tiam sebelum gadis itu semakin mengoceh yang memekakkan telinga.


Ae Ri terkikik geli mendengar ocehan gadis yang dipanggil Ermira oleh oppa-nya itu. Farel pun hanya tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, heran, Tiam yang kaku dipertemukan dengan gadis yang sepertinya sangat bar-bar.


"Lo gak pernah bilang punya adek! Bohong kan, lo?!"


"Saya tidak bohong. Sekarang saya sedang tidak di tanah air untuk menemui abang dan adik saya,"


"Di mana?"


Tiam mematikan panggilannya dan mengganti menjadi panggilan vidio. Terpampang gadis cantik dengan rambut hitam legamnya. Wajah gadis cantik itu nampak kusut karena kesal.


"Berjanjilah tidak mengatakan pada siapa pun di mana saya berada!" Ucap Tiam yang diangguki Ermira.


"Saya sedang di Paris untuk menemui abang dan adik saya,"


"Abang saya, Farel," Tiam mengarahkan layar ponselnya pada Farel. Tampak gadis itu tersenyum kikuk.


Seperti biasa, hanya wajah datar yang Farel tunjukkan, "Dia tidak sedang selingkuh," ujar Farel membuat Ermira semakin malu.


"Saya Ermira, Kak," cicit Ermira.


"Farel,"


"Dia adik saya, Karaya," Tiam bergantian ke wajah Ae Ri.


Ae Ri tersenyum manis sambil melambaikan tangannya, "Hai, Eonni! Aku Ae Ri Karaya. Panggil saja aku Karaya. Aku adik Oppa Tiam. Yang mengangkat panggilan tadi adalah aku karena ponsel Oppa sedang aku pakai. Maaf, Eonni," oceh Ae Ri membuat Ermira speechless di sana. Ketimbang dengan ocehan Ae Ri, dia lebih salpok sama wajah cantik nan mulus gadis itu.


"Kau tidak mau mengenalkan dirimu?" Tiam bersuara saat Ermira diam saja.


"Ah, iya, aku Ermira. Maaf, aku menuduh yang tidak-tidak," canggung Ermira.


"Tidak apa, itu hal yang wajar. Omong-omong, Eonni sangat cantik, wajar saja Oppa-ku jatuh hati pada Eonni,"


Ermira tersenyum malu, "Kamu juga cantik,"


"Sudah percaya, kan?" Tiam kembali menampakkan wajahnya.


"Maaf,"


"Tidak apa,"

__ADS_1


"Dia bisa bahasa Indonesia?" Tanya Ermira pelan yang padahal masih mampu Farel dan Ae Ri dengar.


"Aku asal Korea. Aku bisa lima bahasa, Korea, Indonesia, Mandarin, Inggris dan Prancis," Ae Ri langsung menjawab yang membuat Ermira semakin malu dan insecure.


"Hebat banget," gumam Ermira.


"Saya akan kembali dalam dua hari. Kamu mau dibawakan apa?" Tiam mengalihkan pembicaraan.


"Apa saja, yang penting enak untuk dimakan," Ermira bukan gadis yang suka barang mahal, ia lebih suka makanan enak. Bahkan ia rela menghabiskan banyak uang hanya untuk membeli kepuasan kampung tengah.


"Iya, saya tutup, ya?"


"Iya, hati-hati di sana. Titip salam buat abang dan adik kamu,"


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


"Ternyata kau sudah memiliki gadis," goda Farel membuat Tiam terkekeh.


"Aku tidak yakin. Bisa saja Allah mempertemukan untuk dipisahkan. Aku juga tidak tau kenapa bisa jatuh hati padanya,"


"Jangan melewati batas dalam perasaan,"


"Iya, aku selalu memegang teguh agama yang aku anut. Aku juga tidak mengikatnya dengan hubungan khusus. Dia saja yang mengaku sebagai kekasihku, dan bodohnya aku hanya iya-iya saja," jelas Tiam membuat Farel dan Ae Ri tertawa.


Sekedar informasi, Tiam adalah seorang mualaf sejak usianya 10 tahun, setelah dua bulan tinggal bersama Xander.


"Bagus kalau gitu,"


"Eonni tadi sangat cantik. Oppa hebat memilih gadis," gantian Ae Ri yang menggoda.


"Kalau dia tidak cantik, Oppa tidak mau jatuh hati padanya," canda Tiam membuat gadis manis itu tertawa.


"Bawa aku menemui Eonni-Eonni-ku! Eonni Fisha dan Eonni Ermira. Aku suka mereka,"


"Oppa pasti akan menemukanmu dengannya,"


"Kapan? Aku tidak sabar. Kita juga akan bertemu papa, kan?"


Farel berusaha untuk tetap tersenyum. Turun dari kap mobil dan memeluk gadis kesayangannya itu. Tiam pun turut dalam pelukan itu.


"Bersabarlah, Sayang. Setelah semuanya membaik, papa yang kamu inginkan akan Oppa pertemukan," bisik Farel lirih.


"Aku sayang Oppa,"


"Oppa juga menyayangimu," ujar kedua pria itu.


Bagi Farel dan Tiam, Ae Ri adalah ratu mereka. Ae Ri dibesarkan layaknya seorang tuan puteri. Tidak banyak bertemu orang, home schooling, sekolah khusus, tidak pernah dibentak dan segala keinginannya akan dipenuhi. Jangan lupakan segala kecantikan Ae Ri yang rutin dirawat oleh orang kecantikan khusus untuk Ae Ri seorang.


Bagi mereka, Ae Ri Karaya adalah segalanya.


Tbc...


<3 dibaca kurang dari tiga yaww!! Taulah artinya wkwkwk

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2