
..."Benar, kita tidak mungkin ditakdirkan bersama. Kamu terlalu memiliki banyak kebahagiaan untukku yang penuh luka ini,"...
...Farel...
Seminggu sudah berlalu dengan kebahagiaan yang mengiringi Farel, Tiam, Karaya dan Hyeon. Selama seminggu ini, keadaan Farel meningkat drastis. Sejak bangun dari koma pun, Farel tampak lebih bersemangat menjalani hidup, meskipun tak terlalu dinampakkannya.
Farel pun sekarang sedang menjalani terapi ditemani Tiam. Kaki jenjang Farel yang sekarang nampak ringkih itu sedang berjalan dengan perlahan.
"Jangan dipaksa! Pelan-pelan saja," peringatan itu Farel dapat saat ia memaksakan langkahnya hingga akhirnya ia terjatuh.
"Jangan memaksakan diri! Kita masih punya banyak waktu," gantian Tiam yang memberikan peringatan. Tiam dengan telaten membantu Farel untuk kembali duduk di kursi roda.
"Pantatku akan panas kalau terlalu lama duduk di kursi roda," sinis Farel membuat Tiam tertawa mengejek, menambah kedongkolan di hati Farel.
"Seperti biasa, jangan mencoba untuk berjalan selain saat sedang terapi atau kau akan lumpuh total nanti,"
Mata Farel berotasi saat dokter terapinya berujar demikian. Ia sudah bosan mendengar kalimat itu dalam waktu satu minggu ini.
"Jangan lupa untuk terapi dengan alat yang sudah kuberi kemarin," ujar sang dokter sambil memberikan resep obat yang baru untuk Farel.
Tiam menerima resep tersebut, "Terima kasih, Dokter," sang dokter hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban.
Setelah berpamitan, Tiam langsung mendorong kursi roda Farel. Mereka akan pulang ke apartemen yang sudah Tiam beli. Letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
"Hyeon masih di museum?" Tanya Farel saat tak mendapati Hyeon di apartemen.
"Mungkin. Dia akan lupa waktu kalau jalan-jalan bersama Karaya,"
Tiba-tiba Farel menghela napas, "Bagaimana pendidikan Ae Ri selama aku koma?"
"Dia baik dan tetap lancar setahun saat Abang masih koma. Tapi setelah lulus dari sekolah melukisnya, Karaya memilih tidak kuliah dulu,"
"Sudah carikan universitas untuknya?"
"Sudah, aku merekomendasikan beberapa universitas yang bagus dan aman untuknya. Tapi ia menolak, katanya tunggu keadaan Abang benar-benar baik," Tiam menjelaskan sambil melihat layar ponselnya yang sedang mendapatkan panggilan masuk dari Arno.
"Arno menelpon. Apa terjadi sesuatu?" Tentang Arno sendiri, Farel mengirimnya ke Indonesia untuk menggantikan Tiam menjaga Fisha.
"Angkat saja,"
Tiam mengangguk dan menerima panggilan dari Arno, tak lupa menghidupkan loudspeaker.
"Ada apa? Terjadi sesuatu?" Serobot Tiam tak sabaran.
"Nona Fisha akan menikah seminggu lagi,"
"WHAT?!" Tiam tanpa sadar memekik kaget.
"Iya, dia akan menikah de--"
"Pantau terus! Kirimkan data lengkap pria itu!" Farel menyela dan langsung memutuskan panggilan tersebut.
__ADS_1
Tubuh Tiam meluruh, "Kalau Abang biarin Fisha nikah, sia-sia aku jagain. Mending aku aja yang nikahin," kesal Tiam.
"Kau suka Nafisha? Ermira?"
"Mana mungkin aku suka Fisha! Tapi hampir 24 jam aku bareng dia, jaga dia buat Abang, tapi Abang malah kayak gini! Kan, lebih baik aku yang nikahin!"
"Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Ermira. Jangan salahkan aku, salahkan diri Abang yang tertidur dan tidak mendengarkan aku bercerita," lanjut Tiam dengan santainya.
"Mungkin pria itu lebih baik dariku. Lagi pula, keadaanku tidak memungkinkan untuk bersamanya,"
"Hey! Abang hanya lumpuh sementara!" Tiam hampir mengamuk dibuat Farel.
Farel acuh dan mendorong kursi rodanya sendiri menuju kamar.
"Carikan aku orang yang bisa membuat tatto!" Titah Farel sebelum menghilang di balik pintu kamar.
***
Beralih ke Indonesia, tepatnya Bandung.
Sekarang Fisha sedang berada di kamar para koas seorang diri. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu, tepatnya saat ia ditarik paksa oleh orang tak dikenal menuju taman rumah sakit.
"Tidak buruk, kau cantik,"
"Kamu siapa?" Suara Fisha terdengar tidak menyukai pria di hadapannya.
"Bertingkah baiklah, Nona. Atau nasibmu akan sama seperti pria yang ada di gang seminggu lalu,"
Mata Fisha membola. Panik melanda dirinya begitu saja. Dengan perlahan kakinya bergerak mundur.
"Apa?"
"Menikah denganku agar aku mudah untuk memastikan mulutmu tetap bungkam, atau aku akan membunuhmu,"
"Bunuh saja aku!" Jawab Fisha tanpa pikir panjang. Rasanya lebih baik dia mati ketimbang harus menikahi pria psikopat di hadapannya saat ini.
Pria itu terkekeh sinis, "Kau punya nyali juga ternyata. Baiklah, aku ubah pilihannya. Menikah denganku atau kau dan seluruh orang terdekatmu akan aku bunuh?!" Senyum smirk pria itu terlihat menjengkelkan bagi Fisha.
"Kau mau aku mulai dari mana? Papamu? Mamamu? Sahabat-sahabatmu? Atau orang yang menyelamatkanmu malam itu?"
"Aku tidak akan memilih keduanya! Kamu tenang saja, aku tidak akan buka suara atas tingkah bejatmu!"
Pria itu tampak menggeleng, "Aku tidak menerima negosiasi. Waktumu hanya lima menit dari sekarang! Menikah denganku atau kalian semua lenyap?"
Fisha terdiam. Ia tidak mungkin bersedia menikahi pria gila itu, tapi lebih tidak mungkin lagi kalau dia mengorbankan orang-orang terdekatnya. Jelas mereka tidak tahu apa-apa.
"Kau terlalu lama mengambil keputusan! Sudah lebih satu menit,"
Fisha menghela napas amat berat. Kepalanya tiba-tiba terasa akan pecah.
"Baik, aku akan menikah denganmu!"
__ADS_1
Akhirnya keputusan itulah yang bisa Fisha ambil. Sebisa mungkin dia menerima semuanya dan penantiannya terhadap Farel akan sia-sia.
Pria tersebut tersenyum puas, "Pilihan yang tepat. Kebetulan aku sedang butuh istri untuk memberikanku keturunan,"
Fisha melirik sinis, "Gila!"
"Pria yang kau bilang gila ini akan menjadi suamimu nanti!" Ujar si pria dengan kekehan mengejek.
"Nanti malam aku akan ke rumahmu membicarakan pernikahan kita yang akan dilaksanakan seminggu lagi," ucapnya lagi.
Mendengar kata 'kita' dari pria itu membuat Fisha merasa aneh.
"Seminggu lagi?!" Suara Fisha terdengar seperti tidak setuju, sedangkan Aiden hanya acuh dan mengangguk. Tangannya terangkat tanda tidak menerima suara penolakan dari Fisha.
"Namaku Aiden Aslen. Dan kau Nafisha,"
"Tau dari mana namaku?"
"Sebelum menemukanmu, tentu aku harus mengetahui identitasmu. Aku calon suami yang baik bukan, Ay?"
"Ay?" Beo Fisha.
"Hem, Ay panggilanku untukmu. Diambil dari kata 'sayang'. Sudah begini, apa aku masih belum menjadi kriteriamu?"
Fisha mendelik, "Kau psikopat! Aku bisa saja mati di tanganmu!"
Aiden terkekeh, "Selagi kau menikah denganku dan bungkam, aku tidak akan melukaimu, Ay,"
Fisha menampakkan wajah jijiknya, geli sendiri dengan panggilan Aiden untuknya.
"Aku akan pergi. Sampai jumpa, Ay!" Aiden melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.
Fisha menatap kepergian Aiden dengan bahu meluruh. Aiden itu tampan, murah senyum, tapi psikopat. Tapi di sisi lain, Fisha agak baper saat Aiden memanggilnya dengan panggilan 'Ay'.
Fisha menepuk pelan pipinya, "Ini bukan waktunya untuk baper, Fisha!" Kesal Fisha pada dirinya sendiri.
"NAFISHA ALMAIR ZALSA!!!"
"ASTAGHFIRULLAH!!"
Suara lengkingan itu memenuhi kamar koas. Untung saja hanya ada Fisha dan Clara yang entah kapan masuknya.
"Kamu kapan masuk?" Tanya Fisha setelah mengatur rasa kagetnya.
Clara berdecak, "Gue udah manggil lo dari tadi. Mikirin apa sih, Sha? Lo melamun untung aja setan rumah sakit gak ngerasukin lo,"
"Gak papa, cuma kecapean aja,"
Clara mengangguk, tidak mau memaksa Fisha bercerita. Selalu begitu, Clara akan selalu memberi ruang untuk Fisha.
"Ya Allah, tolong Fisha,"
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^