
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Hari ini adalah hari perayaan ulang tahun SMA Khatulistiwa yang ke-17 tahun. Hal itu tentu saja akan dirayakan dengan sangat meriah. Perjuangan Hutama, Abah Farel, dalam mendirikan sekolah itu tidaklah mudah, dan sekarang sekolah itu sudah berjaya makmur hingga terkenal di jajaran sekolah Internasional.
Acara sudah dimulai sejak jam sembilan pagi tadi. Acara akan berlangsung hingga jam tiga sore dan akan berlanjut lagi jam sembilan malam sampai tengah malam.
Kini, di lapangan outdorr terlihat sangat ramai dan meriah. Terlebih lagi saat ini mereka sedang berjoget ria saat Deny Caknan dan Dipha Barus berkoloborasi menyanyikan lagu LOS DOL yang tentunya sangat dikenal dari kalangan muda maupun tua.
Bahkan RANDA juga sangat menikmatinya dengan heboh. Kecuali Farel dan Afnan yang menikamti dengan cara kalem dan cool khas mereka.
Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane yen entek tak tukokne
Tenan, dek, elingo, yen mantan nakokno-
Kabarmu, tandane iku ora rindu
Nanging kangen keringet bareng awakmu
Tak gawe los dol, blas aku ra rewel
Nyanding sliramu sing angel disetel
Tutuk-tutukno chattingan karo wong liyo
Rapopo, aku ra gelo
Kok tutup-tutupi? Nomere mbok ganti
Firasat ati angel diapusi
Senajan mbok ganti tukang las
Bakul sayur lan tukang gas
Titeni, bakale ngerti (oh-ah-oh-eh)
Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane yen entek tak tukokne
Tenan, dek, elingo, yen mantan nakokno-
Kabarmu, tandane iku ora rindu
Nanging kangen keringet bareng awakmu
Kok tutup-tutupi? Nomere mbok ganti
Firasat ati angel diapusi
Senajan mbok ganti tukang las
Bakul sayur lan tukang gas
Titeni, bakale ngerti (oh-ah-oh-eh)
Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane yen entek tak tukokne
Tenan, dek, elingo, yen mantan nakokno-
Kabarmu, tandane iku ora rindu
Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane yen entek tak tukokne
__ADS_1
Tenan, dek, elingo, yen mantan nakokno-
Kabarmu, tandane iku ora rindu
Nanging kangen keringet bareng awakmu
Nanging kangen keringet bareng awakmu
Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane yen entek tak tukokne
Tenan, dek, elingo, yen mantan nakokno-
Kabarmu, tandane iku ora rindu
Nanging kangen keringet bareng awakmu
Suara lagu bersahutan dengan suara siswa yang mengikuti lirik begitu semangatnya.
Acara berlangsung dengan sangat meriah dan menyenangkan hingga waktu menunjukkan jam tiga sore.
Lapangan sekolah pun mulai sepi karena banyak yang memilih langsung pulang untuk istirahat sebelum acara berlanjut malam nanti.
Tapi berbeda dengan anak OSIS dan RANDA. Para OSIS sibuk membersihkan lapangan dan RANDA sibuk di ruang latihan dance untuk penampilan mereka malam nanti.
***
Hari sudah menunjukkan jam delapan malam. Farel sedang berada di apartemennya dan asik dengan layar monitor.
Farel mengerutkan dahinya tak suka dan tangannya mengepal kuat dengan wajah memerah. Entah apa yang membuatnya jadi seperti itu.
Farel bergegas mengambil kunci motor dan keluar apartemen. Membawa laju motornya di atas kecepatan rata-rata menuju istana Pramayudha.
Setelah sampai, Farel memarkirkan motornya asal dan langsung berlari masuk. Para bodyguard menatap heran dan takut melihat Tuan mudanya yang tampak marah.
"Abang? Kenapa? Kok kayak marah gitu mukanya?" Tanya Nia menghampiri Farel.
"Abah sama Umma?" Tanya Farel menghiraukan pertanyaan Nia.
"Di kamar, masih siap-siap," Farel mengangguk mendengar jawaban itu dan langsung bergegas menuju kamar orang tuanya.
Katakanlah bahwa Farel tidak sopan karena masuk ke kamar orang tua tanpa izin dan sekarang Farel harus menerima akibatnya. Di depannya, dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat orang tuanya sedang bercumbu mesra.
"Abah! Umma!" Panggil Farel membuat orang tuanya itu menghentikan kegiatannya dan menoleh kaget melihat anak sulungnya sudah di dalam kamar mereka.
"Ngapain kamu? Masuk gak ketuk pintu! Gak sopan! Ganggu kamu!" Gerutu Hutama yang tak dihiraukan putranya itu.
Farel menggeser paksa abah-nya itu agar memberikan ruang untuk ia berbicara pada sang Umma.
Farel duduk berlutut di bawah Raima dan menggenggam tangan umma-nya dengan lembut. Membuat Hutama dan Raima bingung.
"Ada apa, Sayang? Anak Umma kenapa, hm?" Tanya Raima mengusap rambut putra kesayangannya itu.
"Umma ikut ke sekolah?"
"Iya, temani Abah. Ada apa? Cerita sama Umma,"
"Umma jangan pergi! Gak usah ikut. Biar Abah aja yang pergi!"
"Loh?! Kenapa? Ada apa, hm?"
Farel menyembunyikan wajahnya di pangkuan Raima. "Jangan pergi!" Ucap Farel lirih.
Hutama dan Raima kaget melihat bahu putranya yang naik turun menandakan bahwa putra mereka menangis.
Hutama mengangkat wajah putranya itu dan menghapus air matanya.
__ADS_1
"Kenapa putra Abah ini menangis? Ke mana perginya putra Abah yang kuat, hm? Ada apa? Cerita sama Abah dan Umma!" Ucap Hutama penuh pengertian.
Meski Farel bukanlah anak kandungnya, Hutama sangat menyayangi Farel. Karena Farel, hidupnya lebih berwarna.
"Umma jangan pergi! Di rumah aja!" Ucap Farel semakin menangis.
"Sstt iya, Umma gak jadi pergi. Umma di rumah aja. Jangan nangis, Umma sedih jadinya," jawab Raima mengusap air mata Farel.
Farel langsung memeluk Raima begitu erat. Menyembunyikan wajahnya di leher Raima dan mencari ketenangan dalam pelukan sang ibu.
"Farel gak mau Umma kenapa-kenapa," lirihnya dalam pelukan Raima.
"Iya, Umma gak akan kenapa-kenapa," balas Hutama yang mendengarnya dan mengusap rambut sang putra.
"Sana gih, cuci muka dulu! Liat nih bekas air matanya! Masa anak Umma nangis udah gede," kekeh Umma.
Farel tersenyum tipis dan mengangguk. Dirinya pun memilih pergi setelah mencium kening Raima.
"Mas, ada apa sama Farel? Kenapa Farel nangis tadi?" Tanya Raima khawatir pada Hutama.
"Mas gak tau, Dek. Tapi Farel cuma bisa nangis kalau kamu......" jawab Hutama menggantung ucapannya.
"Adji? Apa mungkin karena Adji?" Tanya Raima khawatir dan mulai menangis.
"Sst tenang, okey?! Mas akan cari tau. Adji gak mungkin mengenali Farel. Farel itu anak Mas," ucap Hutama menghapus air mata istrinya itu dan membawanya kepelukan.
"Ima takut dia ambil Farel dari Ima. Ima gak mau, Mas. Ima gak mau Farel kenapa-kenapa,"
"Farel itu anak Mas. Putra kesayangan dan kebanggaan Mas. Mas gak akan pernah biarin Farel tersakiti lagi. Mas pasti akan jaga Farel. Jaga Adek dan anak-anak. Gak akan ada yang pernah bisa ambil Farel dari Mas dan kamu. Tenang ya, Sayang?! Percaya sama Mas," ucap Hutama dan diangguki Raima. Hatinya jadi lebih tenang sekarang.
"Ya udah, Mas mau siap-siap," ucap Hutama lagi yang membuat pelukan mereka terlepas.
Raima mengangguk dan membantu suaminya itu bersiap. Seharusnya hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Hutama bersiap. Namun Hutama ya Hutama. Pria yang sangat mencintai Raima dan mengambil ciuman di saat istrinya itu membantu memasangkan dasi, membuat dirinya jadi lama untuk bersiap.
"Udah Mas, ih! Anak-anak kelamaan nunggu nanti," kesal Raima menjauhkan wajah Hutama.
"Iya iya. Ya udah, ayo!" Jawab Hutama dan menggandeng Raima keluar kamar.
"Loh?! Umma kok belum siap-siap?" Tanya Zira.
"Umma gak jadi ikut. Mau tiduran aja," jawab Raima.
"Ooh gitu. Tapi Umma gak papa, kan?"
"Gak papa, Dek," jawab Raima lagi.
"Ayo berangkat! Nanti kita telat," ajak Hutama
"Abah tuh yang buat telat. Ngapain aja sih tadi sama Umma? Kita udah nungguin dari tadi. Make up kita sampe mau luntur, nih," gerutu Nia yang membuat Hutama terkekeh.
"Urusan orang dewasa," jawabnya dan bergegas keluar rumah.
"Abah kok bawa motor? Gak pake mobil?" Tanya Zira melihat abah-nya itu sudah naik ke atas motor sport yang sudah lama tak ia pakai.
"Kangen masa muda. Abah mau balapan sama Abang kamu. Iya kan, Bang?"
"Iyain," jawab Farel memasang helmnya.
"Kalian hati-hati. Bang, nanti langsung pulang ke apart, ya?! Istirahat!" Pasan Raima.
"Iya,"
"Assalamu'alaikum," ucap mereka dan bergegas pergi setelah mendapat jawaban dari Raima.
Raima menatap kepergian mereka dengan senyum merekah. Mesti hatinya gundah, tapi Raima tetap akan baik-baik saja. Dia percaya pada Hutama, suaminya yang amat pengertian itu.
"Ya Allah, lundungi lah suami dan anak-anak hamba. Mereka adalah kebahagiaan hamba, Ya Allah. Jauhkanlah kami dari orang-orang yang ingin menyakiti kami,"
__ADS_1
Tbc...