
..."Tak hanya membawamu dalam lukaku, tapi aku juga menyeretmu dalam masalahku,"...
...Farel...
Angin Paris berhembus dengan tenang di musim gugur kali ini. Angin tenang itu dinikmati banyak orang, termasuk Farel salah satunya.
Sekarang Farel sedang berdiri di atas gedungnya, menikmati hembusan angin yang menerpa kulitnya.
Farel kerap sekali menghabiskan waktunya di atas gedung. Ia bisa berdiri di sana hampir berjam-jam untuk sekedar melepas penatnya. Semoga saja pikiran Farel masih bisa dikuasai agar tidak terjun bebas dari sana.
Setiap berdiri di sana pun, Farel pasti sering sekali menghela napas, sama seperti yang ia lakukan sekarang, menatap jalanan dengan pikiran melayang dan berakhir dengan menghela napas.
"Apa yang udah Abang lakuin di sana?! Kita kembali diikuti,"
"Apa maksudmu?"
"Semalam saat aku dan yang lainnya bersama Fisha, ada seseorang yang memperhatikan kami. Aku yakin itu bukan ulah Abang!"
"Aku tidak pernah mengirim orang dan aku sedang tidak dalam masalah,"
"Abang yakin?"
"Hm,"
"Tahu apa yang lebih parahnya lagi?!"
"Hm?"
"Fisha melihat sosok itu dan mengira kalau itu Abang!"
Percakapan Farel dan Tiam beberapa hari yang lalu selalu memenuhi isi kepala Farel. Ada rasa tidak tenang, sedih, dan marah dalam dirinya.
Ting
Ting
Merasa mendapat pesan, Farel segera membuka ponselnya. Ternyata ada dua pesan dari Tiam. Satu sebuah rekaman dan satunya pesan suara.
"Fisha harus ke psikiatri karena Abang,"
Rasa khawatir tak bisa Farel sembunyikan. Dengan segera ia memutar rekaman yang Tiam kirim saat Fisha sedang konsultasi.
Tubuh Farel menegang, menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan keluhan Fisha.
"Rasa rindu ini benar-benar menyebalkan dan menyiksa saya. Saya hanya bisa membayangkannya ada di dekat saya dan menghajarnya habis-habisan!"
Suara itu benar-benar menyayat hati Farel hingga akhirnya ia memilih untuk tidak melanjutkannya.
"Semua memang salahku. Maaf karena saya membuat kamu juga harus menanggung lukanya," Farel terduduk, memeluk kakinya sendiri, menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba saja dibasahi air mata.
"Kamu bisa menyerah, Nafisha. Jangan tunggu saya lagi! Saya terlalu pengecut untukmu, saya terlalu bodoh untukmu," lirih Farel.
"Tuan!" Panggilan dari Arno membuat Farel lekas bangkit dan menghapus air matanya. Tangan kanannya itu terdengar seperti memiliki keperluan mendesak.
"Ada apa?"
"Rumah Tuan akan diserang oleh Jimmie,"
"Jimmie?" Farel merasa tidak pernah berurusan dengan orang yang bernama Jimmie.
"Iya, dia adalah orang yang pernah meminta jasa kita, namun kita tolak karena dia memanipulasi,"
Wajah Farel yang tadinya heran berubah menjadi menggeram marah, "Aish ****! Jinjja?!" Geram Farel dan lekas meninggalkan gedung dengan Arno yang setia di belakangnya.
__ADS_1
"Adikku dan Hyeon di mana sekarang?" Tanya Farel saat mereka menuju perjalanan pulang.
"Di rumah,"
Semakin banyaklah umpatan yang Farel keluarkan saat tahu kedua manusia itu sedang berada di rumah.
"Ae Ri! Hyeon! Ayo kita pergi!" Farel berteriak lantang saat memasuki rumah dan mendapati keduanya sedang makan.
"Hah? Kita akan pergi ke mana, Oppa?" Tanya Ae Ri polos.
"Kita akan cari hiburan. Ayo!"
"Aku ganti ba-"
"Tidak perlu, ayo!" Farel dengan segera menggandeng Ae Ri dan meminta Hyeon mengikuti.
"Sebenarnya ada apa? Kau tampak gelisah," tanya Hyeon masih tetap mengikuti Farel.
"Akan kujelaskan nan-- ****!!" Kalimat Farel harus berakhir dengan umpatan saat mendapati beberapa mobil mengitari rumahnya. Ia terlambat untuk membawa Ae Ri dan Hyeon pergi.
"Ada apa ini, Oppa? Kenapa mereka mengepung kita?" Heran Ae Ri.
"Oppa terlambat membawa kalian pergi. Gunakan pistolmu dengan baik, Ae Ri!" Farel memberikan sebuah pistol pada Ae Ri.
Ae Ri tersenyum manis, "Tentu, akan kugunakan pistol ini dengan baik,"
"Hyung, Karaya, apa yang kalian lakukan?!" Panik Hyeon saat kakak beradik itu memegang senjata api.
"Lekas masuk ke mobil, Hyeon! Jangan keluar, apapun yang terjadi!" Farel membawa Hyeon masuk ke dalam mobil dan menguncinya.
"Tampaknya rencana kaburmu gagal, Tuan Laszlo Atmaja a," suara itu terdengar menyebalkan bagi Farel.
Farel, Arno dan Ae Ri langsung berdiri saling membelakangi saat mereka dikepung. Pihak Farel dengan pistol dan pihak Jimmie dengan pisau dan tampaknya pisau itu beracun.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Farel berbahasa Prancis.
"Membunuhmu tentu saja! Akan aku buktikan, aku juga bisa membunuhmu!"
Farel berdecih sinis, "Kuakui, kuasamu lumayan juga untuk bisa menemukanku secepat ini,"
"Tentu saja, bahkan aku sudah menemukan orangmu yang ada di Indonesia,"
"Kau hebat sekali, tapi sepertinya kau salah mengambil langkah,"
Dor!!
Tanpa aba-aba Farel langsung membidik kaki Jimmie hingga pria itu jatuh terduduk.
"Tanganku tergelincir sampai tidak sadar sudah menarik pelatuknya," tatapan remeh Farel berikan dan berakhir terjadinya perkelahian hebat antara dua kubu.
Jimmie tidak melemah meski kakinya sudah tertembak. Ia dengan lihai bermain pisau dengan Farel.
"Entah apa yang terjadi, tapi gadismu mengira orangku adalah dirimu," fokus Farel langsung buyar saat mendapat pernyataan seperti itu. Ternyata Jimmie lah pelakunya.
Jllebb!!
"Akhh!!" Pisau Jimmie tiba-tiba saja sudah bertancap di dadanya. Perkelahian itu tiba-tiba saja terhenti.
"Oppa!!" Ae Ri segera menghampiri Farel, membiarkan Arno menghabisi pengikut Jimmie.
Farel terkekeh sinis meski terbatuk darah. Matanya membalas tatapan remeh dari Jimmie.
"Bersiaplah menerima kehancuranmu, Jimmie. Kau melukaiku di siang hari," ujar Farel sambil terbatuk darah.
__ADS_1
Dor
Dor
Jimmie langsung tersungkur saat anak buah Farel datang dan menembak kaki Jimmie.
"Nikmatilah masa pengampunanmu!" Ejek Farel saat Jimmie berteriak kesakitan, racun dalam pelurunya sudah beraksi. Hal paling ringan, mungkin Jimmie akan lumpuh.
"Hyung, apa yang terjadi?!" Hyeon tiba-tiba keluar saat merasa perkelahian telah usai.
"Tidak apa, hanya terluka sedikit,"
"Paman Jong, cepat bawa Oppa ke rumah sakit!!" Ae Ri memberi titah saat melihat sosok Jong menghampiri mereka.
Jong dan Hyeon dengan sigap membawa Farel masuk ke mobil.
"Oppa menyuruhku agar tidak terluka, tapi Oppa sendiri yang terluka!" Kesal Ae Ri.
Farel tersenyum tipis, mengabaikan rasa sakit yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Sepertinya racun itu mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
"Tidak apa Oppa yang terluka, asal itu bukan dirimu,"
"Kalau begini seharusnya Oppa yang tidak boleh lagi menggunakan senjata!"
"Kalau aku tidak menggunakan senjata, dengan apa aku melindungimu? Kau satu-satunya yang harus kujaga dengan alat itu,"
"Diamlah! Darahmu akan semakin banyak nanti!" Kesal Hyeon menghentikan percakapan adik kakak yang tampak menyedihkan itu.
***
Mereka sampai di rumah sakit dengan cepat karena Arno yang melajukan mobil bak dikejar setan.
Arno memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk hingga akhirnya Farel cepat ditangani.
"Ck, lama sekali!" Gerutu Ae Ri, padahal mereka baru menunggu lima belas menit.
"Sabarlah sedikit, Nona. Aku akan mengabari Tuan Tiam dulu," ujar Jong dan menjauh untuk menghubungi Tiam.
Ae Ri tak peduli apa yang dilakukan oleh Jong, ia hanya mondar-mandir menunggu sang dokter keluar.
"Duduklah Karaya, kau akan lelah," Hyeon membawa Ae Ri duduk di sampingnya dan menenangkannya.
Beberapa perawat tiba-tiba berlarian masuk sambil membawa sebuah kantung yang mereka yakini adalah darah.
"Suster, ada apa?" Tanya Arno menjadi panik.
"Racun dalam tubuh pasien sudah berhenti menyebar. Lukanya harus dijahit dan akhirnya pasien kurang darah," jelas sang perawat.
"Sekarang bagaimana kondisinya? Akan baik-baik saja, kan?"
"Saat ini kondisinya belum menjamin," sang suster lekas kembali masuk untuk menyerahkan kantung darah.
"Bagaimana Oppaku?" Tangis Ae Ri.
"Ada apa, Nona?" Tanya Jong bersimpuh di hadapan Ae Ri.
"Oppa kekurangan darah. Mereka bilang kondisi Oppa belum memungkinkan,"
"Tenanglah, Tuan Tiam akan segera menyusul,"
Tbc...
^^^#as.zey^^^
__ADS_1