Mysterious Gus

Mysterious Gus
#52. Hutama Flashback III


__ADS_3

..."Tanpa diminta, hati saya tergerak begitu saja untuk melindungi kamu dan Farel," ...


...Hutama...


...


...


Hampir setengah jam Farel duduk manis di pangkuan Hutama hingga akhirnya ia tertidur dengan botol susu yang masih menggantung apik di mulutnya.


Demamnya pun sudah turun yang membuat Raima merasa lega. Sebenarnya, Farel kecil sering demam, tapi biasanya hanya malam karena bocah malang itu hampir tiap malamnya bermimpi buruk. Raima tidak tahu kenapa siang begini Farel bisa demam.


"Farel tadi tidur, May?" Tidak ada yang bisa membuat Farel sakit kecuali ia bermimpi buruk. Sebab itu Raima bertanya untuk memastikan.


"Iya, dia ketiduran habis aku ajak main di taman,"


Benar dugaan Raima. Tak ada yang bisa Raima lakukan selain menghela napas. Raima sungguh mengkhawatirkan psikis sang anak. Merasa sedih karena untuk tidur nyenyak saja anaknya tidak bisa. Mungkin memang mereka sudah terbebas dari Adji, tapi tidak dengan rasa sakit yang Adji berikan.


"Kenapa, Ma? Aku salah?" Tanya Mayang melihat ekspresi lain dari Raima.


"Enggak, May, kamu gak ngelakuin kesalahan apa pun," Raima tersenyum sambil mengusap lengan Mayang.


"Terus kenapa kamu hela napas gitu?"


"Farel gak bisa tidur nyenyak, May. Setiap tidur dia selalu ngigau dan bangun dalam keadaan demam. Tidurnya gak pernah nyenyak," jelas Raima menatap sendu putranya yang masih tertidur di pangkuan Hutama.


"Kenapa?" Hutama bertanya heran.


Senyum sendu terlihat jelas di wajah Raima, "Hanya keadaan yang berubah, tapi tidak dengan lukanya," jawab Raima tak jelas, sedangkan Hutama hanya mengangguk mencoba mengerti.


"Tidak mau bawa ke psikiater?"


"Sudah saya coba, tapi Farel tidak mau bersama dokternya. Dia akan menangis kencang dalam pelukan saya,"


Hutama diam, tidak mau bertanya lebih jauh lagi. Takut ia akan salah ucap dan membuat wanita di hadapannya itu semakin tersakiti.


"Di mana kamarnya? Biar Farel nyaman tidurnya," Hutama mengalihkan pembicaraan.


"Ini, Pak," Raima bangkit dari duduknya dan menunjuk kamarnya.


"Saya boleh masuk?"


"Silakan, Pak! Farel direbahin di ranjang aja,"


Hutama mengangguk dan masuk ke dalam kamar itu setelah mendapatkan izin dari si pemilik kamar.


"Papa able banget gak sih, Ma?" Bisik Mayang yang mendapat delikan dari Raima.


"Ma, Ma," rengekan kecil terdengar dari Farel saat Hutama merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Panasnya naik lagi," ujar Hutama kembali menggendong Farel saat merasakan tangan mungil itu memanas.


"Aku harus apa, May? Aku gak sanggup lihat anakku menderita," lirih Raima membelakangi Hutama agar pria itu tak melihat air matanya.


"Kamu dan Farel pasti kuat, Ma. Aku yakin, Allah akan mempermudah kalian. Jangan lupa, May, Allah selalu bersama kita! Allah cinta sama kamu dan Farel," Mayang merengkuh tubuh rapuh Raima. Membiarkan sosok ibu itu menumpahkan rasa sakitnya.

__ADS_1


Hutama tak mau mengganggu kedua wanita itu. Yang ia lakukan hanya terus mengusap punggung Farel kecil sambil bershalawat, berharap bocah malang itu sedikit tenang.


"Ma," lirih Farel kecil.


Raima mampu mendengar lirihan itu dan melepaskan diri dari pelukan Mayang. Mengusap kasar air matanya dan menghampiri sang anak.


"Umma di sini. Anak Umma mau apa?" Tanya Raima menggendong Farel.


Tangan hangat Farel menangkup wajah sang umma. Mata bulat jernihnya menyusuri wajah cinta pertamanya.


"Umma gak papa, gak ada yang sakit lagi kok. Gak ada yang jahat sama Umma," Raima mengerti maksud Farel. Anaknya itu melihat, apakah di wajahnya ada luka seperti saat-saat lalu. Bagi Farel kecil, mimpi itu sangat nyata dan ia berpikir sang umma benar-benar disakiti.


"Akut," gumam Farel memeluk erat Raima. Raima pun membalasnya tak kalah erat. Untuk Raima, Farel adalah segalanya. Farel merasakan trauma yang jauh lebih sakit dibanding dirinya. Karena Farel, Raima mampu berada di titik saat ini.


Entah kenapa, Hutama ikut merasakan sakit ibu dan anak itu. Tanpa permisi, Hutama keluar dari kamar untuk menghubungi seseorang. Hanya Mayang yang menyadari kepergiannya


"Ke mana tuh orang? Kek di rumah sendiri aja," gumam Mayang heran.


"Saya pergi ke musholla dulu," Hutama kembali masuk saat mendengar suara azan.


"Iya, masjidnya ada di ujung jalan. Gak jauh dari sini, Pak,"


Hutama mengangguk, "Ada yang jual makanan?" Tanya Hutama.


"Ada, kalau dari sini sebelum musholla ada rumah makan kecil,"


Lagi-lagi Hutama hanya mengangguk, "Farel mau apa? Nanti dibelikan," tangan besar Hutama tergerak mengusap kepala Farel.


"Andy,"


"Candy. Permen, Pak," jelas Raima yang membuat Hutama mengerti. Ternyata bocah itu tahu bahasa Inggris permen.


"Nanti saya bawakan. Tapi saat saya pulang, kamu sudah tidak panas lagi, ya?"


Seolah mengerti, Farel kecil mengangguk dengan semangat. Senyum kecil terpatri jelas pada Hutama. Hatinya menghangat melihat wajah berbinar Farel kecil.


"Saya pergi dulu. Nanti kalau ada orang datang, itu teman saya. Dia akan periksa Farel nanti. Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumussalam,"


Hutama memberanikan diri mencium kening Farel dan melangkah pergi. Dalam langkah menjauhnya, Hutama dapat mendengar tawa kecil dari Farel. Dan suara tawa itu ikut membuat Hutama bahagia.


"Gila! Asli bapak able tuh orang," kagum Mayang.


"Apaan sih, May?! Sholat sana, gantian jaga Farel,"


"Iya deh," ujar Mayang segera mengambil wudhu dan melaksanakan sholat zuhur.


Lumayan lama Hutama pergi, hampir sejam dan akhirnya mobil miliknya kembali terparkir apik di depan kontrakan. Di waktu bersamaan pula ada sebuah sedan yang berhenti.


Pengendaranya keluar bersamaan dan saling tos ala pria. Entah apa yang mereka bincangkan, Raima tak mendengarnya. Tapi Raima yakin, pria dengan mobil sedan itu adalah teman Hutama yang akan memeriksa Farel.


"Assalamu'alaikum," kedua pria itu masuk yang tentu saja disambut baik oleh Raima.


"Wa'alaikumussalam,"

__ADS_1


"Dia sahabat saya, Syam," Hutama memperkenalkan pria itu.


"Saya Raima," ujar Raima terus menundukkan kepalanya.


"Saya Syam, sahabat Hutama. Katanya, anak kamu butuh psikiatri," Raima hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Di mana Farel?" Tanya Hutama sambil menaruh bawaannya di karpet berbulu.


"Sama Mayang main di kamar,"


Tanpa banyak bicara dan izin lagi, Hutama langsung masuk ke kamar untuk menemui Farel. Baru sebentar, dan Hutama merasa berat meninggalkan bocah itu.


"Nyelonong seenaknya aja itu orang," Syam menatap tak enak pada Raima, sedangkan Raima hanya tersenyum tipis dalam tunduknya.


"Ma, itu makan siangnya. Siapin piringnya!" Hutama keluar sambil menggendong Farel.


"Udah kayak di rumah sendiri aja ya, lo, Tam?!" Sindir Syam yang tak ditanggapi Hutama.


"Hu?" Farel bertanya saat melihat Syam.


"Om Syam, teman saya," jelas Hutama mengerti dengan pertanyaan Farel.


"Waah!! Kamu bisa bahasa Inggris?" Syam menatap kagum Farel.


"Farel sering belajar dari YouTube Kids, jadi lumayan bisa dengan beberapa kosa kata bahasa Inggris," Raima datang dari arah dapur dengan piring di tangannya, sedangkan Mayang dengan air minum di tangannya.


"Bagus itu, tontonan yang berguna," puji Syam mengusap kepala Farel, namun langsung ditepis pelan oleh Farel, pertanda ia tak mau disentuh Syam.


"Eh?! Kamu gak mau disentuh sama Om?"


Farel tak menjawab, ia hanya melengos dan kembali bersandar nyaman di dada Hutama.


"Dia gak mau sama kamu," ujar Mayang terkekeh pelan, membuat Syam sangat kesal.


"Maaf, Pak. Farel kadang memang begitu," Raima berucap tak enak hati.


"It's okay. Wajar untuk anak-anak menjaga jarak dengan orang baru. Tapi sepertinya terkecuali untuk Tama," Syam melirik jahil sahabatnya itu.


"Whele my andy?" Farel bersuara lucu sambil menatap lugu Hutama.


"Ada, tapi makan dulu, baru permennya dikasih,"


"Saya tadi beli bubur bayi untuk Farel. Boleh makan bubur, kan?" Tanya Hutama pada Raima.


"Boleh. Farel sama Umma sini! Umma suapin," Raima hendak menggapai putranya, namun penolakan yang lagi-lagi ia terima.


"Saya aja," Hutama mengambil tempat bubur bayi itu dan mulai menyuapkan Farel. Untung saja anak itu mau makan dengan lahap.


"Pakai pelet apa lo, Tam? Farel lengket bener sama lo," heran Syam yang hanya disambut tatapan sinis oleh Hutama.


Mereka makan dengan nikmat dan sangat khidmat. Hanya sesekali ada rengekan dari Farel yang untung saja Hutama bersabar menghadapinya.


"Saya periksa Farel sekarang aja, ya? Satu jam lagi saya harus kembali ke rumah sakit," Syam memecahkan keheningan setelah acara makan siang usai.


Tbc...

__ADS_1


^^^#as.zey^^^


__ADS_2