Mysterious Gus

Mysterious Gus
#88. The Secret


__ADS_3

..."Semua memang butuh proses, tapi proses tidak akan pernah berjalan tanpa ada tindakan yang nyata,"...


...Altiam...


Ini sudah tiga hari lamanya seorang Tiam menikmati masa patah hatinya ditinggal nikah oleh Ermira.


Tak ada air mata yang menghiasi patah hati Tiam, justru pria itu kini sedang asik tertawa di kamar apartemennya Hyeon dengan sebuah laptop di pangkuannya.


"Tiam, kau baik-baik saja? Kenapa kau tertawa sendiri?" Suara Hyeon dari luar menghentikan tawa Tiam.


"Aku baik-baik saja dan aku akan kembali ke Jakarta," Tiam menyahut dari dalam, tak berniat membukakan pintu.


"Kau akan pulang?" Terkejut dengan pernyataan Tiam, Hyeon langsung masuk ke dalam kamar. Untung saja Tiam tak menguncinya, itu pertanda siapa saja boleh masuk.


"Hm, mungkin lusa baru kembali lagi,"


"Ada hal mendesak? Farel juga ikut?"


"Tidak, ini urusanku sendiri. Bang Asz akan aku kabari nanti,"


"Oke, baiklah. Kau hati-hati dan cepat kembali,"


"Hm, aku pergi," Tiam tersenyum lebar sambil menepuk pundak Hyeon sebelum pergi meninggalkan apartemennya.


Hyeon menatap aneh pada Tiam yang perlahan menjauh. Rasa aneh semakin menyerang Hyeon saat melihat Tiam tetap tertawa hingga bahunya bergetar.


"Apa patah hati membuatnya gila?"


***


Tiam tak langsung kembali ke Jakarta, ia kini justru berada di rumah sakit tempat Fisha koas dan tentunya tempat papa dari gadisnya dirawat. Entah apa yang akan dilakukan sad boy satu itu, terlebih lagi ia membawa beberapa tentengan di tangannya.


"Woy, Gembel!" Tiam berbalik saat suara dan panggilan tak asing itu menyapanya. Meski baru beberapa hari kenal, Tiam sudah tahu kalau itu adalah suara Clara.


"Ciee, yang ngaku gembel," ejek Clara saat sudah sampai di hadapan Tiam.


Tiam berdecak kesal, yang dibilang Clara ada benarnya juga. Kenapa ia harus menoleh saat Clara berteriak 'gembel'?!


"Mau ngapain lo di rumah sakit? Fisha? Itu apaan? Buat gue?" Clara sungguh berisik dan percaya diri.


"Kepo. Enggak. Barang. Sungguh pede,"


"Diih, nyebelin lo! Terus, cari siapa? Si Ermira itu?"


Tiam kembali melanjutkan langkahnya, membiarkan Clara juga mengikutinya, "Hm,"


"Ckckck, dia udah punya suami, Mbel. Ya, meskipun nanti dia bakal pisah, tapi lo harus sabar, Mbel. Ada prosesnya,"


"Proses hanya ada jika kita bergerak. Lebih baik kamu lanjutkan kegiatanmu, jangan mengikutiku lagi. Kau terlihat seperti anak ayam kelaparan,"


"Ck, gue kan cuma nasehatin. Sensian lo! Ya udah, gue balik keliling lagi. Semoga berhasil," Clara dengan berani menepuk pundak Tiam. Benar jika pelan, tapi ia menepuk dengan kuat hingga Tiam melangkah mundur.


"Kasihan Fisha punya sahabat seperti dia,"


Setelah sampai di ruang rawat papa Ermira, Tiam mengetok pelan dan langsung masuk. Ternyata di kamar itu hanya ada Ermira bersama papanya.


Tiam tersenyum tipis dan berjalan semakin dekat, "Assalamu'alaikum," sapanya.


"Wa'alaikumussalam,"


"Kamu teman Mira yang kemarin sempat lihat akad nikah Mira, kan?" Tanya papa Ermira, Abdillah.

__ADS_1


"Iya, saya Tiam, Tuan,"


"Ooh, saya Abdillah. Panggil Om saja,"


Tiam hanya mengangguk dan meletakkan barang bawaannya di atas nakas, "Sedikit buah tangan dari Saya, semoga Anda lekas sembuh,"


"Terima kasih,"


"Kamu ngapain ke sini, Tiam?" Ermira bersuara. Meski senyum tipis Tiam menawan, tapi Ermira sangat tahu, bahwa senyum tipis itu bermakna lain.


"Kamu ini, Mir! Sama teman judes sekali," tegur Abdillah.


"Tidak masalah, Tuan," bela Tiam kemudian menghadap Ermira.


"Aku akan kembali ke Jakarta untuk beberapa hari. Takut tidak sempat bertemu lagi setelah aku kembali, makanya aku datang hari ini,"


"Berapa hari? Ngapain? Sama siapa?"


Tiam terkekeh saat Ermira dengan refleks bertanya demikian. Sedangkan Ermira terbungkam. Meski sudah bertahun-tahun, kebiasaan Ermira tak pernah berubah untuk mewawancarai Tiam jika pria itu hendak pergi.


"Tiga hari paling cepat dan seminggu paling lama. Mengurus kepindahan kantor pusat dari NY ke Indonesia, Jakarta tepatnya. Bersama Jong dan beberapa pihak kita," dan tentu saja Tiam menjawab dengan penjelasan yang begitu jelas. Ia merasa bahagia, Ermiranya tak pernah berubah untuknya, selalu posesif.


"O-oh, pergi aja! Ngapain pamit sama aku?!"


Tiam dengan lancang mengusap kepala Ermira, "Nanti kamu nyariin,"


"Enggak!"


"Baiklah, aku harus pergi. Ini adalah vitamin untuk papamu, baik untuk pasca operasi," Tiam meletakkan sebuah botol obat di nakas.


"Obat dari dokter sudah a--"


"Tenang saja, obat itu aman. Bahkan sangat aman," Tiam memberikan senyum smirknya.


Langkah Tiam harus terhenti saat sosok pria berstatus suami Ermira ternyata berdiri di depan pintu, bersiap untuk membuka pintu.


"Kamu?" Irfan menatap Tiam penuh tanya.


"Hanya sebentar," ujar Tiam terkesan sombong dan pergi begitu saja. Entah didikan siapa, tapi Tiam sangat lihai memerankan peran angkuh dan dominan.


"Mas Jodoh udah makan?"


Tiam menghela napasnya dengan kepala menggeleng heran. Matanya kembali melihat Clara. Kali ini ia bersama Jong dan asik bergelayut di lengan Jong, persis layaknya anak monyet.


"Tuan, saya terlambat," Jong sedikit membungkuk, mengabaikan Clara yang masih asik dengan lengannya.


"Bukan masalah, aku mengerti kalau kau tadi menemukan anak monyet di sekitaran rumah sakit,"


"Gembel sia*an!" Maki Clara sambil menendang tulang kering Tiam.


Tiam terkekeh, "Anak monyet ini harus dilestarikan, Jong,"


"Okey, makasih buat lo. Seenggaknya berarti lo dukung gue sama Mas Jong,"


Tiam berdecih, "Semoga Jong tidak menderita bersamamu,"


"Lo!" Geram Clara hendak memukul Tiam, namun Jong lebih dulu menahannya.


"Jangan kasar," tegur Jong yang membuat Clara tersenyum manis.


"Okey, Mas Jodoh,"

__ADS_1


"Sudah, aku tidak bercanda lagi. Bagaimana Jong?" Tiam kembali pada mode serius, langkahnya kini kembali tegap dan percaya diri, berbeda dengan tadi yang lebih santai.


Jong mengikuti, membiarkan Clara menempelinya. Seharusnya gadis itu nanti akan lelah sendiri, "Semua sudah siap, Tuan. Termasuk rencana tambahan, seharusnya sudah sesuai dengan yang sudah direncakan,"


"Bagus, kau sudah melapor pada Tuan Asz?"


"Sudah, Tuan. Termasuk rencana tambahan. Beliau mendukung dan memberi pesan," Jong tampak ragu untuk menyampaikannya karena ada Clara.


"Katakan saja! Anak Monyet itu tidak akan mengerti,"


"Gue bukan Anak Monyet!"


"Tuan Asz berkata, "Semoga usahamu berhasil dan kau harus siap menerima konsekuensinya nanti," seperti itu, Tuan,"


"Baiklah, aku mengerti. Di mana mobil?"


"Parkiran sebelah barat, tidak jauh dari pintu keluar,"


"Ayo!"


"Clara, saya harus pergi, tolong lepaskan saya!" Pinta Jong saat Clara masih setia menempelinya meskipun tak banyak bersuara.


"Mau ke Jakarta, kan? Lama, kan? Kalau aku nanti kangen gimana?"


"Kamu tidak pantas untuk bertingkah manja, Clara," hina Tiam.


"Bodo amat! Pokoknya gak boleh pergi sebelum cium kening aku!"


"Saya tidak bisa,"


"Ya udah, gak boleh pergi!"


Tiam terkekeh, lumayan senang dengan interaksi Jong dan Clara. Ia seperti melihat kenangannya bersama Ermira dulu.


"Beri saja apa yang ia minta, Jong! Kita akan terlambat nanti,"


Jong menghela napasnya, tampak ragu dengan pengabulan permintaan Clara.


"Cieeh, Mas Jodoh malu-malunya lucu banget, sih,"


Jong menempelkan jari telunjuk dan jari tengahnya di kening Calara dan menciumnya singkat, "Saya pergi," pamitnya dan berlalu pergi, meninggalkan Clara yang terkaku dan Tiam yang tertawa ngakak.


"Mas Jong, tunggu!" Cegah Clara berlari mengejar Jong.


"Ke--"


Cup


Gantian Jong yang membeku. Clara dengan berani mencium pipinya. Gadis itu sungguh-sungguh membuatnya jantungan.


"Hati-hati, aku tunggu kamu pulang," ujar Clara dan berlari masuk ke rumah sakit.


"Tuhan, dia kebahagiaan yang sudah aku nantikan selama hidupku. Jangan ambil dia, Tuhan!" Clara, si gadis berisik itu, menyembunyikan air matanya yang maknanya tak jelas.


"Bagaimana rasanya? Apa jantungmu menggila? Di perutmu seperti ada kupu-kupu?" Ledek Tiam membuat Jong kembali tersadar dari lamunannya.


"Maaf Tuan, saya lalai,"


"Tidak masalah, aku mengerti bagaimana rasanya kepulangan kita dinantikan," Tiam masuk ke mobil bagian penumpang, membiarkan Jong sebagai pengemudi.


Kini tujuannya hanya satu, merebut kembali kebahagiaannya.

__ADS_1


Tbc...


^^^#as.zey^^^


__ADS_2