Mysterious Gus

Mysterious Gus
#26. Couple


__ADS_3

..."Tak peduli babi atau apapun itu, yang terpenting saat melihat merah muda, itu mengingatkanku padamu saat kita pertama kali bertemu,"...


...Farel...


Farel sudah selesai dengan ritual mandinya dan kembali segar setelah debu-debu yang menempel pada tubuhnya sudah bersih.


Kini Farel hanya menggunakan kaos oblong putih dan celana selutut. Pakaian rumah yang memang biasa ia kenakan.


Kakinya melangkah keluar untuk kembali bergabung bersama yang lain. Ponsel di genggaman pun turut menemani langkahnya.


Langkahnya terhenti saat hendak menuruni anak tangga kala dia berpapasan dengan Fisha. Netra tajamnya daat melihat dengan jelas bahwa mata Fisha sembab seperti sehabis nangis.


"Lo nangis?" Tanya Farel memastikan.


"Enggak, kok. Emang Fisha nangis kenapa?" Jawab Fisha yang justru semakin membuat Farel yakin kalau gadis itu selesai menangis, terdengar dari suaranya yang sengau.


"Tunggu!" Ucap Farel berlalu dari hadapan Fisha untuk kembali ke kamarnya.


Fisha menurut dan memilih duduk di gundukan tangga untuk menunggu sang Gus.


Tak lama setelahnya, Farel datang dengan dua paper bag di tangannya. Pria tinggi itu berdiri di hadapan Fisha.


Tanpa bersuara Farel memberikan paper bag itu pada Fisha.


"Buat Fisha?" Tanya Fisha yang diangguki Farel. Tangan Fisha pun tergerak untuk menerimanya.


"Ini apa?"


"Buka!"


Lagi-lagi Fisha menurut dan membuka paper bag itu. Paper bag pertama adalah gaun gamis berwarna merah muda.


"Fisha beneran kayak babi, ya, Gus, sampe dibeliin yang warna pink juga?" Tanya Fisha berusaha untuk tidak kesal, sedangkan Farel berusaha menahan tawanya saat melihat wajah kesal Fisha yang sebenarnya tidak bisa ditutupi lagi.


"Warnanya bukan orangnya," jelas Farel.


"Fisha gak ngerti,"


"Lo inget? Waktu kita pertama kali ketemu, ootd lo warna pink. Waktu itu lo nangis karena alergi gue kambuh," jelas Farel yang justru membuat Fisha bungkam karena malu.


Saat mengingat kejadian itu, Fisha merasa bodoh. Kenapa juga dia harus menangisi Farel. Begitulah pikirannya bertanya-tanya.


"Fisha gak bisa nerima ini. Ini pasti mahal,"


"Gue beli buat lo. Buka yang satu lagi!"


Fisha mengangguk sebagai jawaban dan segera membuka paper bag yang satunya. Kali ini isinya adalah baju gamis sederhana berwarna hitam dengan jilbab cokelat.


"Hitam? Kali ini Fisha mirip apa?" Tanya Fisha masih dengan kekesalannya tentang babi.


"Babi hitam?" Tanya Farel semakin gencar membuat Fisha bertambah kesal.


"GUS!" Kesal Fisha yang membuat Farel tak mampu lagi menahan tawanya.


Fisha tertegun mendengar suara tawa itu. Ini adalah untuk pertama kalinya Fisha mendengar suara tawa dari Gus-nya. Padahal, biasanya indra pendengarannya hanya mendengar sang Gus berbicara dingin, ketus, sinis dan kesal. Suara tawa pelan itu benar-benar membuatnya tertegun.


"Gue suka bajunya. Lo pake buat ntar malam," suara Farel mengembalikan kesadaran Fisha dari keterdiamannya.


"Mau ke mana nanti malam?"


"Party. Jilbabnya gak usah dipakai. Kependekan, ganti yang lain aja,"


"Iya," jawab Fisha kembali melihat isi paper bag yang ternyata masih ada sebuah kotak.


"Ini apa lagi?"


"Buka!"


"Gelang?" Heran Fisha saat melihat isinya adalah sebuah gelang.


"Hm, aksesoris kalung baju itu gue ganti gelang,"


"Kenapa Gus beliin ini semua buat Fisha? Terlalu berlebih,"


Farel acuh dan merebut gelang itu, hendak memakaikannya pada tangan Fisha, namun gadis itu malah menyembunyikan tangannya.


"Gus mau ngapain?" Tanya Fisha dengan wajah marah, takut-takut Farel akan menyentuhnya.


"Pakein. Sini! Gak bakal gue sentuh,"

__ADS_1


"Bener, ya?"


"Hm," acuh Farel yang membuat Fisha menyodorkan tangannya.


"Sorry," ucap Farel dan memakaikan gelang itu dengan hati-hati agar tak menyentuh Fisha.


"Gelangnya cantik, terima kasih, Gus,"


"Jaga baik-baik!" Pesan Farel yang hanya diangguki Fisha tanpa tahu kalimat itu ada makna tersirat.


"Cantik," girang Fisha menunjukkan gelang yang ada di tangannya pada Farel, padahal Farel sudah tahu bahwa gelang itu memang cantik dan semakin cantik digunakan di tangan Fisha.


"Gue juga punya,"


"Mana?"


Farel menjulurkan tangannya, dan benar saja, dia menggunakan gelang yang sama seperti Fisha.


"Couple?"


"Hm,"



Fisha tersenyum, wajah bahagianya tak bisa ia sembunyikan, "Cantik," lagi-lagi pujian itu terlontar dari bibirnya.


"Lo lebih cantik," ucap Farel teramat lirih, hampir tak mampu Fisha dengar.


"Apa Gus? Gus bilang apa tadi?"


"Simpanlah!" Suruh Farel dan segera berlalu dari hadapan Fisha. Dirinya sudah terlalu lama berdua dengan Fisha dan ia tahu, itu bukanlah hal yang baik.


"Ngapain lo lama banget?" Tanya Adam saat Farel duduk di sampingnya.


"Gak usah ikut campur!" Sinis Farel sambil mencomot minuman soda di atas meja dan meneguknya.


"Fisha juga, kok, lama banget?" Tanya Lea saat Fisha ikut bergabung.


"Kok, kepo?" Tanya Fisha dengan kekehannya.


"Gitu kamu, yah, sekarang?" Kesal Lea yang hanya ditanggapi kekehan oleh Fisha.


"Gelang baru, Sha?" Tanya Lea lagi.


"Iya,"


"Kamu kayak reporter, ya, Ya'?!" Kekeh Fisha.


"Bahagia banget lo kayaknya. Karena habis dapat boneka babi?" Tanya Yusuf yang membuat mereka tertawa.


"Rusuh banget," kesal Fisha.


"Malam pergi, jam sembilan," ucap Farel menghentikan tawa itu.


"Ke party-kan?"


"Hm,"


"Abah sama Umma gak perlu ikut, kan?"


"Gak,"


"Oke, bolehlah pacaran sama Umma," girang Hutama yang langsung mendapat sorakan dari mereka.


"Permisi, Tuan muda, ada paket untuk Tuan," ucap seorang bodyguard masuk dengan membawa beberapa kotak.


"Hm," jawab Farel mengambil alih kotak itu. Sang bodyguard pun langsung pergi setelah mendapat anggukan dari Farel.


"Apaan, tuh?"


"Satu-satu!" Jawab Farel membuka kotak itu, yang ternyata isinya adalah hoodie berwarna putih.


"WIH!! KEREN! Seragam baru, nih," seru Dylan menatap hoodie miliknya dengan binar.


"Beneran baru, nih," kekek Yusuf ikut senang.


"G-DXA. Bener-bener baru. Kita belum ada, kan, yang tulisannya ini?"


"Hm,"

__ADS_1


"G-DXA itu apa?"


"GREXDA RANDA," Jawab RANDA serentak, minus Farel yang hanya tersenyum tipis.


"Ada topinya sekalian, nih," info Afnan mengambil topi berwarna putih untuk miliknya.


"Beda tulisannya sama topi-topi yang biasanya. Apaan, nih, arti one?"


"Satu," jelas Farel singkat, padat dan tidak jelas.


"Oh," balas Dylan acuh, tak mau bertanya lagi, dirinya kesal.


"Gue CO, nih, tulisannya," ucap Afnan.


"Lah?! Iya, bener. Beda sendiri lo?"


"Tauk, tuh, gada bilang,"


"Gue custom sesuai tanggung jawab kalian. Anak-anak yang lain juga dapet,"


"Oh, gitu, toh, bilang, kek! Berarti lo leader?"


"Hm," jawab Farel menunjukkan topinya yang warna hitam dengan tulisan 'Leader'.


"Keren-keren!" Puji Dylan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Sisanya buat siapa? Juga masih ada yang item satu lagi," heran Adam.


Farel meraih kotak yang masih berisi beberapa topi itu. Tangannya tergerak untuk memberikan topi berwarna putih dengan tulisan 'Bad' pada Azlan dan Farras. Tak lupa juga memberikan hoodie yang bertuliskan 'GX-New'.


"Makasih,"


"Em," jawab Farel lanjut memberikan kedua adiknya dan Lea.


Topi putih yang manis khas perempuan bertuliskan 'Cute Girl' dan hoodie navy bertuliskan 'GX Girls'.


"Woaahhh!! Makasih, Bang,"


"Hm. Buat lo," jawab Farel sambil memberikan sebuah topi hitam bertuliskan 'အဖော်ခေါင်းဆောင်' pada Fisha.


"Bahasa alien dari mana, tuh?!" Tanya Yusuf.


"Lo alien," ketus Farel dan dengan bertanggung jawabnya membersihkan kardus-kardus yang sudah kosong.


"Hoodie buat Fisha engga, Rel?"  Tanya Dylan.


Farel menggeleng, "Duit habis," jawab Farel yang langsung mendapat lemparan bantal dari Afnan.


"Gak usah sok miskin!"


"Ck, rusuh!"


"Ohhh,, atau jangan-jangan---"


"Jangan-jangan apa?"


"Jangan-jangan kau tolak cintaku! Jangan-jangan kau ragukan cintaku!" Jawab Dylan dengan bernyanyi dan membuat dirinya mendapat banyak lemparan bantal.


"Gue kirain lo tau!"


"Iya, gue tau,"


"Tau kalau Lea adalah jodoh gue!" Sambung Dylan.


"MIMPI!" Hina RANDA pada Dylan.


"Jahat lo semua!"


"Bodo amat!" Lagi-lagi mereka berempat menyoraki Dylan.


"Lea, masa calon imam kamu dikucilkan! Bales mereka, Ya'!" adu Dylan pada Milea.


"Lea mau ambil minum," ucap Milea berusaha acuh dan segera pergi.  Perlakuan Milea terhadap Dylan tentunya membuat mereka semua tertawa puas, sedangkan yang ditertawakan sudah bersungut kesal sambil menyusul Milea.


"Abah bahagia melihat senyummu, Farel. Abah berdoa semoga senyummu yang akan datang, tidak akan ada lagi rasa berat dan kepedihan yang kamu pendam. Untuk hari ini Abah bersyukur kamu lebih relax dan Abah tenang mendengarmu banyak berbicara. Abah menyayangimu, Farel," batin Hutama menghangat.


Tbc...


Note :

__ADS_1


*Gambar hanya ilustrasi


^^^#as.zey^^^


__ADS_2