
..."Ada banyak hal yang bisa terjadi kapan saja tanpa kita duga,"...
...Nafisha...
...***...
"Assalamu'alaikum, Clara cantik datang bertandang ke rumah pengantin baru, sekalian mau apel sama mas jodoh!!!"
Melihat kegilaan Clara, Fisha hanya mampu menghela napasnya. Sepertinya, menyetujui Clara untuk ikut adalah sebuah keputusan salah dan fatal.
"Wa'alaikumussalam,"
"Eonni, ada apa dengan wajah Oppa Tiam? Bentuknya sungguh mengganggu," pertanyaan tak ada akhlak itu tentu saja berasal dari Ae Ri, si gadis yang kini wajahnya ditempeli banyak kertas. Mungkin ia kalah bermain uno bersama Farel dan Jong.
Tiam tak marah atas pertanyaan Ae Ri, ia hanya menjatuhkan tubuhnya pada sofa dan menghela napas sepanjang mungkin.
Clara tertawa melihat keadaan Tiam. Di satu sisi ia kasihan, tapi di sisi satu lagi ia juga merasa lucu melihatnya. Pria itu benar-benar tampak frustasi dan hilang arah.
"Pujaannya hatinya, alias si Ermira, udah dinikahin sama bokapnya tadi. Makanya auto gila dia," jelas Clara di sela tawanya, bahkan gadis itu kini sudah duduk menempel di samping Jong tanpa ijin.
Mendengar penjelasan Clara, Farel langsung menoleh pada Fisha, meminta penjelasan lebih lanjut.
Fisha yang mengertipun hanya menjawab dengan anggukan dan helaan napas. Ia masih belum tahu harus bagaimana dan berkata apa.
"Mas udah makan? Ae Ri sama Tuan Jong?" Fisha lebih memilih mengalihkan pembicaraan terlebih dahulu.
"Belum, kita nungguin Eonni sama Oppa pulang. Belum makan juga, kan?"
"Belum. Ya udah, Eonni masak dulu,"
Baru saja hendak bergerak menuju dapur, tapi suaminya sudah lebih dulu mencegah dengan mencekal tangannya.
"Mandi! Jong yang masak," Farel dengan tidak sopannya langsung menarik Fisha menuju kamar mereka dan menyuruh Jong memasak tanpa persetujuan dari yang bersangkutan.
"Loh, itu suaminya si Fisha kok bisa jalan?!" Clara bertanya dengan begitu hebohnya.
"Terapi beberapa bulan membuat Oppa bisa jalan lagi. Beberapa hari terapi di Indo, kondisi kaki Oppa jauh lebih baik. Mungkin karena ada Eonni Fisha, jadi Oppa punya banyak semangat,"
Clara mengangguk paham, "Gue bisa liat kalo mereka emang saling cinta. Kayak aku sama kamu, kan?" Clara menatap genit pada Jong yang tampak canggung.
"Tuan Jong terlalu awam untuk mengetahui cinta," ejek Ae Ri.
Tak mau semakin dijadikan lelucon, Jong memilih bangkit menuju dapur. Ia harus masak untuk makan malam mereka, jika tidak, ia bisa diamuk oleh tuannya, Farel.
"Eh, kamu mau ke mana?" Clara ikut bangkit, sepertinya ia memang memiliki tekad penuh untuk mendapatkan Jong, pria 32 tahun itu.
"Saya harus memasak," jelas Jong singkat dan berlalu pergi tanpa peduli pada Clara.
"Aku mau hot pot super pedas!!" Jong hanya mendengar permintaan Tiam, namun tak menyahut.
Beralih dari ruang depan ke kamar pemilik apartemen, si pengantin baru, Farel dan Fisha. Bukannya bergegas, pasangan itu justru asik berpelukan.
"Maaf, tadi Fisha gak jadi nemenin terapi,"
"Hm," Farel ya tetap Farel, si pria yang minim kosa kata.
Meski minim kosa kata, Farel itu benar-benar mencintai Fisha. Meski hanya menjawab dengan dua huruf, ia tak mau melepas pelukannya. Wajahnya asik bersembunyi di leher jenjang sang istri, bahkan Fisha merinding sendiri dibuatnya.
"Mas, Fisha bauk. Mau mandi,"
"Sebentar lagi,"
"Udah lama, ih. Nanti kakinya capek berdiri lama-lama,"
"Biarin!"
Fisha tak habis pikir dengan tingkah suaminya itu. Sekejap dingin, sekejap acuh, sekejap perhatian dan sekejap manja. Persis sekali jelmaan bunglon. Ia yakin, jika mereka sekarang belum menikah, sudah dipastikan Fisha akan menjadi overthinking dibuatnya.
"Manja banget, sih?! Kerasukan apa, nih?"
Mendapat pertanyaan demikian, Farel langsung melepas pelukannya dengan wajah berkerut tak senang, "Sana, mandi!"
Fisha melongo dibuatnya. Suaminya marah? Di mana salahnya? Mengapa suaminya sekarang begitu sensitif? Fisha tak habis thinking dibuatnya.
"Mas marah?" Tanya Fisha ragu.
__ADS_1
"Gak," Fisha tak mampu lagi menahan tawanya dengan respon yang ditunjukkan oleh suaminya itu. Katanya saja tidak marah, tapi wajahnya sungguh jutek, bahkan kini dengan kekanakannya ia berbaring di atas ranjang.
"Fisha mandi dulu, kalau kelamaan nanti kasian mereka nungguin. Jangan marah, Mas," bujuk Fisha lembut, bahkan dengan picik memberi ciuman di kening Farel agar pria itu tak lanjut merajuk.
Bujukan kecil Fisha ternyata berhasil bagi Farel, terlihat dari senyum tipis pria itu. Melihat senyum manis itu, Fisha pun ikut tersenyum dibuatnya. Senyuman suaminya itu sungguh mempesona dan menular.
"Kurang. Di sini?" Farel memang tidak tahu diri, kini ia malah menunjuk bibirnya.
Fisha tentu malu dengan pengajuan yang Farel berikan. Dengan kesal Fisha memukul lengan Farel dan berlalu menuju kamar mandi, meninggalkan suaminya yang kini sudah terkekeh puas.
"Naf, kamu berat sebelah ngasihnya," teriak Farel masih terkekeh.
"Dasar modus!"
"Lucu banget istri gue," gumam Farel dengan mata terpejam dan senyuman puas berhasil menggoda istrinya.
"Perasaan baru ditinggal sebentar deh. Ini tidur beneran?" Fisha yang baru saja selesai membersihkan tubuh langsung mendapati Farel yang tampak pulas di atas ranjang.
"Mas? Tidur beneran, nih?" Fisha mengguncang pelan badan Farel, dan ternyata ada pergerakan pertanda suaminya masih hidup.
"Hampir," jawab Farel sambil menarik Fisha duduk dan menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Ih, kok malah pewe, sih?! Ayo keluar, nanti kelamaan,"
"Kamu gak kangen sama saya?"
Fisha tertawa kecil, "Mas kangen sama Fisha?"
"Hm," dengan jujur Farel menjawab dan merubah posisinya menjadi duduk untuk berhadapan langsung dengan wajah Fisha.
"Jujur banget, sih," Fisha sungguh-sungguh gemas dengan kepribadian Farel yang sekarang, sangking gemasnya ia dengan refleks mengusap rambut Farel.
Farel tersenyum, bahagia melihat wajah berseri dari perempuan yang dicintainya itu. Bahkan ia sangat menikmati usapan di kepalanya.
"Maaf, Fisha refleks," tiba-tiba saja Fisha merasa canggung. Ia belum terbiasa begitu intim dengan Farel.
"Kenapa? Saya suka kamu sentuh," Farel bersuara pelan, semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Fisha, membuat istrinya semakin jantungan tak karuan dengan tingkahnya.
"M-mas, ngapain?" Gagu Fisha dengan gerak tubuh mundur guna menghindar.
"BANG! FISHA! BURUAN KELUAR, JONG UDAH SIAP MASAK! KALIAN NGAPAIN, SIH?! JANGAN LUPA KALO DI APART GAK CUMA ADA KALIAN!"
"****!" Umpat Farel kesal, gagal sudah rencananya.
Saat patah hati Tiam memang sangat menyebalkan dan tak akan membiarkannya tenang sebentar saja. Meski ini pertama kalinya Tiam patah hati, Farel tahu bahwa hati adiknya itu sedang gundah gulana.
"Tuh kan, ditungguin! Ayo keluar!" Fisha dengan kesal menarik suaminya untuk turun dari ranjang dan berkumpul di ruang makan.
"Kamu kesel karena gak jadi saya cium?"
"Enggak, jangan ledekin Fisha, deh!"
"Gue tau kalian itu pengantin baru, tapi tolong dikondisikan! Kalian lagi ada tamu cantik kayak gue, nih!" Sambutan itu mereka dapat dari Clara.
"Gak ada yang nyuruh kamu ikut, Ra. Kamu aja yang ngeyel pengen ikut,"
"Gak ada akhlak ya, lo! Giliran udah punya suami, gue diduain. Untung gue udah nemu sama jodoh gue," Clara menatap Jong yang ada di sampingnya dengan penuh puja, sedang yang ditatap tampak canggung dan tak enak hati.
"Kayak Tuan Jong mau aja sama kamu yang bar-bar, Ra,"
"Jangan salah lo, Sha! Jodoh gue ini siap gue ajak nikah kapanpun! Kita udah sepakat tadi,"
Fisha tertawa mengejek, "Bener Tuan Jong?"
"Tidak, Nona. Sama sekali tidak benar,"
Tak hanya Fisha yang tertawa untuk Clara, tapi semua yang ada di sana.
"Jong gak bakal mau sama yang mulut lemes kayak kamu," hina Tiam.
"Dih, yang penting gue masih ada kesempatan, gak kayak lo yang ditinggal kawin,"
"Sialan! Aku tidak akan merestui kau jika bersamanya, Jong,"
"Heh, jangan gitu dong, lo! Gue santet juga lo, ntar,"
__ADS_1
"HYUNG! AKU LAPAR, INGIN MAKAN!" Tak perlu penasaran, suara menggema tak tahu diri itu tentu berasal dari mulut Hyeon, si pelukis Korea terkenal yang kini sedang vakum karena mengikuti Farel.
"Oppa datang tepat waktu, kami baru saja akan mulai makan malam," Ae Ri membawa Hyeon untuk duduk di sampingnya, hanya karena itu kursi yang tersisa.
"Wow, hot pot! Aku memang sedang beruntung,"
"Bagaimana harimu?" Tanya Farel sambil memberikan sepotong daging untuk Hyeon. Sudah rutinitas mereka untuk bercerita di makan malam.
"Sangat baik. Aku akan jadi dosen seni di universitas tempat Karaya kuliah,"
"Ternyata kita tak bisa dipisahkan," senang Ae Ri.
Hyeon memberikan usapan kecil di kepala gadis itu, "Tentu saja, itu akan memudahkanku untuk memantaumu agar tidak nakal,"
"Aku tidak nakal, huh,"
"Siapa, Sha? Asli Korea kayaknya," tanya Clara.
"Dia Baek Hyeon, punya hubungan deket sama suami aku dan Ae Ri,"
"Oh. Salken, gue Clara. Bestay Fisha yang paling cakhep,"
Hyeon tampak tak mengerti dengan ucapan Clara, "Salken? Gue? Bestay? Cakhep?" Beo Hyeon.
"Salken singkatan salam kenal, gue bahasa gaul aku atau saya, bestay adalah besti atau sahabat, cakhep itu cantik atau tampan," Jong yang bertugas mentranslet ucapan Clara.
"Yeah, benar sekali yang dibilang jodoh gue,"
"Oh, aku Hyeon," hanya itu tanggapan yang Hyeon berikan. Ia terlalu kaget dan tidak tahu harus bagaimana merespon Clara yang super aktif.
"Kau menyukainya, Jong? Kenapa dia bilang kalau kau jodohnya?" Tanya Hyeon santai, namun respon yang diberikan Jong jauh dari kata santai, pria itu sempat tersedak makanannya.
"Santai aja kalik, Mas Jodoh," goda Clara menyerahkan minum pada JongĀ dan menepuk pelan pundaknya
"Tidak, Tuan," Jong menjawab setelah rasa tersedaknya reda.
"Sekarang enggak, awas kamu kalo nanti jadi bucin sama aku!"
"Aku menunggu kau menjadi pemuja cinta, Jong," kekeh Hyeon.
"Ke mana?" Suara Farel mengalihkan atensi mereka semua. Terlihat Fisha hendak bangkit dari duduknya.
"Mau ambil sendok, Fisha gak bisa makan pakai sumpit,"
"Hei, Nona! Makan hot pot itu lebih nikmat pakai sumpit," ledek Hyeon.
"Kalau aku tidak bisa mau bagaimana lagi?! Lebih gampang pakai sendok, bisa masuk banyak," kesal Fisha.
"Duduk! Saya suapin," Farel menarik Fisha untuk kembali duduk dan tanpa segan hendak menyuapi Fisha.
"Fisha bisa sendiri pakai sendok. Malu diliatin mereka,"
"Mereka gak ada! Saya suap," Farel tetap teguh ingin menyuapi Fisha hingga istrinya itu hanya bisa pasrah dan menerima suapannya.
"Ck, memang tidak memiliki hati nurani," kesal Hyeon.
"Mas Jodoh, aku juga mau disuap,"
"Kamu bisa makan sendiri. Kalau tidak bisa pakai sumpit, saya akan ambilkan sendok," Clara hanya mampu berdecak dan merengut kesal dengan jawaban Jong.
Tiam berdecih, "Kalian memang tidak mengerti perasaanku," kesal Tiam sambil mengambil makanannya dan pergi dari ruang makan.
"Lah, ngambek tuh, Gembel?"
"Oppa mau ke mana?"
"Apart sebelah,"
"Hey! Kau masuk tanpa ijinku!" Hyeon ikut teriak.
"Itu juga apart-ku kalau kau lupa!"
Tbc...
^^^#as.zey^^^
__ADS_1