
Kelima motor milik RANDA sudah terparkir rapi dalam bagasi kediaman Pramayudha.
Pintu utama rumah besar itu terbuka yang membuat mereka langsung masuk danĀ mendapati Hutama.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam,"
"Belum tidur?" Tanya Farel.
"Nungguin kalian,"
"Bah, bener besok kita ikutan ke Bandung?" Tanya Dylan antusias.
"Benerlah. Udah sana kalian istirahat! Besok kita berangkat pagi,"
"Iya," mereka berlima pun segera menuju kamar Farel untuk beristirahat. Sudah biasa mereka menginap di rumah Farel tanpa tahu malu.
Setelah beberes, lima sekawan itu mencari tempatnya masing-masing untuk tidur. Farel, Afnan, dan Dylan di atas ranjang. Yusuf di sofa dan Adam di karpet berbulu.
"Woy!! Geseran napa?! Gue sempit, nih!" Kesal Dylan saat Afnan dengan santai menimpa perutnya dengan kaki dan Farel menimpa keningnya dengan lengan.
"Ck, makanya lo di bawah aja! Lo, tuh, nyempil," decak Afnan.
"Lo aja yang lasak! Kalo kata Emak gue celamis karena gak mau bagi-bagi,"
"Elah!! Ribut amat lo betiga!" Kesal Yusuf.
"Mereka berdua, nih, yang nimpa-nimpa gue," Dylan mengajukan pembelaan yang langsung mendapat jitakan dari Farel.
"Ngoceh mulu!" Sinis Farel turun dari ranjang dan ikut bersama Adam tidur di karpet berbulu.
"Cih, si Dylan! Yang punya kamar masa tidur di karpet," komentar Yusuf.
"Lah?! Gue gak suruh dia tidur di karpet. Toh, emang seharusnya Farel ngalah sebagai pemilik kamar," bela Dylan.
"Ya, Farel ngalahlah! Gak kayak lo, gak ada sadar dirinya jadi orang," sarkas Afnan.
"Salah mulu gue!"
"Ck, tidur!" Suruh Farel yang membuat mereka semua terdiam dan kembali mencari posisi nyamannya. Tak lama kemudian mereka pun sudah memasuki alam mimpinya tepat pukul tiga dini hari.
Farel menggeliat dari tidurnya hingga matanya terbuka sempurna. Tenggorokannya terasa kering. Melirik jam yang sudah menunjukkan pukul empat dan melirik teman-temannya yang sudah tidur dengan posisi tak karuan. Mereka baru tertidur satu jam.
Afnan dan Dylan yang tidur berpelukan membuat Farel berdecih jijik. Yusuf yang tidur terlentang dengan mulut menganga. Adam yang kepalanya di bawah dan badan di atas sofa. Alias jungkir balik.
Farel menggelengkan kepalanya, "Gak punya malu," kekeh Farel pelan dan segera keluar kamar untuk mengambil minum.
Farel mengerutkan dahinya heran melihat lampu dapur yang menyala terang. Pasti ada orang lain yang juga terbangun. Farel memilih tak peduli dan terus berjalan semakin mendekat.
Netranya melihat sosok gadis dengan piyama tidur panjang bermotif doraemon dan hijab instan warna hitam.
Farel mengenali pakaian itu. Piyama itu milik adiknya, Nia.
"Dek?" Panggil Farel membuat gadis itu menoleh dengan wajah kaget.
"Eh?! Astaghfirullah. Gus?!" Kaget gadis itu yang ternyata adalah Fisha bukan Nia.
Farel hanya menanggapi dengan anggukan. Ternyata hanya baju yang sama.
"Ngapain?" Tanya Farel duduk di kursi.
"Kebangun karena haus, Gus. Gus sendiri?" jawab Fisha dengan pertanyaan di akhir kalimatnya.
"Haus," balas Farel singkat. Dirinya memang mau minum. Tapi Fisha berdiri di depan kulkas yang membuatnya tak bisa mengambil minum.
"Eh?! Gus mau minum air dingin?"
__ADS_1
"Hm,"
"Fisha ambilin aja. Gak enak jadinya udah halangi Gus lewat," Fisha mengambil gelas lain dan mengisinya dengan air dingin lalu menyerahkannya pada Farel.
Tanpa banyak bicara Farel pun langsung menenggak air itu hingga habis.
"Fisha mau ucapin terima kasih karena Gus udah ngundang Zico. Fisha gak tau apa yang buat Zico memenuhi undangan Gus, intinya Fisha makasih banget," ujar Fisha yang hanya diangguki Farel.
"Jangan panggil 'Gus'!" Ucap Farel dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Fisha yang terdiam bengong di meja pantry.
"Dari mana lo?" Pertanyaan itu Farel dapat setelah memasuki kamar. Ternyata Yusuf juga terbangun.
"Minum,"
"Susah tidur gue," lirih Yusuf membuat Farel berdecih sinis.
"Ileran gitu susah tidur," ejek Farel membuat Yusuf tersenyum malu.
Farel berjalan menuju sofa untuk membangunkan Adam. Mereka akan sholat tahajjud.
"Bangun!" Suruh Farel mencubit hidung Adam yang membuat sang empu tak dapat bernafas dan kembali terbangun dari alam mimpinya.
"Engh, iya," balas Adam masih setengah terpejam.
"Buset dah, ni, dua orang!" Kaget Yusuf saat melihat Afnan dan Dylan tidur berpelukan. Adam juga ikut menoleh dan terkekeh.
"Jijik gue. Padahal tadi mau tidur saling punggung," kekeh Adam.
"Gue foto bagus, nih. Apalagi kalo gue posting. Auto viral," kekeh Yusuf mengambil ponselnya dan memotret kedua temannya yang tidur berpelukan itu.
Farel menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah usil teman-temannya dan bergegas membangunkan Afnan beserta Dylan.
"Bangun!" Suruh Farel memukul brutal keduanya dengan bantal yang membuat mereka terusik.
"KYAAAA!!! SETAN!!" Teriak Dylan saat mendapati wajah Afnan dan melihat posisi mereka.
"DYLANJING BABI!! NGAPAIN LO PELUK-PELUK GUE?!" Teriak Afnan tak kalah kaget dan mendorong Dylan hingga terjatuh jungkir balik ke lantai.
"Syialan lo semua! Apa lagi lo, Nan! Lo yang peluk-peluk gue!" Kesal Dylan.
"Buruan wudhu!" Suruh Farel memukul kuat pantat Dylan yang masih dalam keadaan terbalik. Pukulan Farel sukses membuat Dylan kembali tersungkur dan mengundang tawa yang lebih kuat.
"ASTAGHFIRULLAH!! YA ALLAH, BEGINI SEKALI UJIAN DINI HARI!!" Teriak Dylan mengiba yang tak mereka hiraukan.
"Udah sana, buruan!"
"Iye-iye," jawab Dylan dongkol dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah membereskan tempat tidur dan beberapa bantal yabg berserakan, mereka pun melaksanakan sholat tahajjud berjamaah dengan Afnan yang menjadi imam kali ini.
Azan subuh berkumandang saat mereka selesai mengaji. Sudah kebiasaan mereka setelah selesai sholat tahajjud akan mengaji.
"Mandi dululah," ucap Adam membuka suara. Mereka memang tak sempat mandi tadi karena takut waktu tahajjud habis.
"Gue mandi di kamar ini," ucap Dylan memonopoli.
"Sok kuasa lo! Yang mandi di sini yang punya kamarlah," sarkas Afnan berjalan menuju kamar mandi.
"Eh-eh!! Ngapain lo?! Gue yang mandi di sini," cegah Dylan.
"Gue! Lo aja sana, cari kamar mandi lain!"
"Gak mau! Lo sendiri yang bilang, yang mandi yang punya kamar. Tapi malah lo yang mandi di sini," cerocos Dylan.
"Bodo amat!"
"Oh, ya udah, gue numpang mandi di kamar Zira aja," putus Dylan hendak keluar kamar.
__ADS_1
"Sialan lo, DYLANJING!" Murka Afnan segera keluar kamar lebih dulu sebelum Dylan benar-benar menumpang mandi di kamar pujaan hatinya.
Tawa mereka pecah melihat Afnan yang sangat posesif terhadap Zira, adik bungsu Farel.
"Dah ah, mau mandi. Rel, gue pakai kamar mandi lo, ya?!" Ucap Adam yang diangguki Farel.
"ADAM KAMPRET! KAN TADI GUE YANG MAU PAKE KAMAR MANDINYA!!" Teriak Dylan murka.
"SIAPA CEPAT DIA DAPAT!" Teriak Adam dari kamar mandi.
"ASTAGHFIRULLAH berdosa banget," kesal Dylan mengusap dadanya.
"Gue kamar mandi bawah," ucap Yusuf dan langsung pergi.
"Gue mandi kamar kosong," serobot Dylan dan berlari keluar tak mau Farel yang memakainya lebih dulu.
Farel pasrah dan menuju kamar utama. Kamar milik orangtuanya.
Kebiasaan Farel saat masuk kamar orang tuanya tak mengetuk pintu dan harus berakhir melihat adegan mesra orangtuanya.
Kali ini dia melihat adegan pasutri berpelukan dan berciuman mesra. Farel banyak-banyak mengucapkan istighfar saat melihat abah-nya yang begitu brutal.
"EKHEM!!" Dehem Farel kencang yang membuat Hutama dan Raima menoleh kaget.
"Abang!! Kebiasaan, ya, kamu! Kan Abah bilang, kalau masuk ketuk dulu!" Omel Hutama.
"Kebiasaan," jawab Farel acuh.
"Kebiisiin," menye-menye Hutama.
"Kenapa Bang?" Tanya Raima menengahi. Agak malu sebenarnya dipergoki sang putra.
"Numpang kamar mandi,"
"Nah, ini, nih, akibat masuk gak ketuk pintu. Gak barokah, kan?! Kamar mandi sini rusak. Besok baru diperbaiki. Cari kamar mandi lain sana! Mandi jangan lama-lama! Langsung ke musholla ntar kita jamaah," corocos Hutama.
"Iya," balas Farel dan pergi begitu saja.
"Astaghfirullah anak kesasar! Bapak-nya ngoceh cuma jawab 'iya' doang," kesal Hutama.
Farel beralih ke kamar Nia. Terpaksa dia harus mandi di kamar adiknya itu yang pastinya akan ada Fisha dan Milea.
"Dek?!" Panggil Farel seraya mengetuk pintu.
"Kenapa Bang?" Tanya Nia membuka pintu dengan pakaian sholatnya.
"Numpang mandi,"
"Oh, oke, bentar!"
"Hm,"
"FISHA! MILEA! AYO BURUAN KE MUSHOLLA RUMAH! ABANG GUE MAU MASUK NUMPANG MANDI!" Teriak Nia.
"Jangan teriak-teriak!"
"Hehehe mereka lagi di walk in closet, Bang,"
"Nia, sajadah aku mana? Tadi kamu yang pakai, kan?" Tanya Fisha.
"Iya, nih, sama gue. Udah, ayo keluar! Abang mau mandi di sini,"
"Iya,"
Ketiga gadis itu pun keluar dari kamar meninggalkan Farel yang juga sudah memasuki kamar mandi.
"Mau mandi aja ribet amat," gerutu Farel dan mandi dengan segera.
__ADS_1
Tbc...
^^^#as.zey^^^